21 March 2015

Pengungsi Sudan di Sidoarjo



Namanya Mohammed Muchtar, asli Sudan. Namun, pria 30 tahun ini biasa dipanggil Mister Black. Maklum, kulitnya hitam legam layaknya orang Afrika. Bukannya marah, Muchtar malah senang disapa si Hitam alias Mr Black. "No problem. Saya memang hitam," ujar Muchtar saat berbincang dengan saya di sebuah warung di Puspa Agro, Jemundo, Kecamatan Taman, Sidoarjo kemarin.

"Orang hitam, putih, kuning, merah... sama saja di hadapan Tuhan. Kenapa kita harus marah dipanggil si Hitam?" katanya.

Saat ini Muchtar bersama 16 warga negara Sudan menjadi penghuni Rumah Susun Sewa (Rusunawa) Puspa Agro. Tak ada yang dikerjakan selain memasak, jalan-jalan di kompleks Puspa Agro, menonton televisi, khususnya siaran langsung sepak bola, dan menunaikan ibadah salat di masjid atau kamar masing-masing. Mr Black ini ternyata penggemar berat sepak bola Eropa. Dia hafal hampir semua pemain Afrika yang merumput di Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, atau Liga Prancis.

"Saya suka Samuel Etoo dan Didier Drogba. Tapi sekarang keduanya sudah tidak lincah lagi karena sudah tua," katanya seraya tersenyum. Dia juga mengaku mengetahui informasi kedatangan tim nasional Kamerun ke Sidoarjo pekan depan. Timnas Kamerun ini bakal berlaga melawan timnas Indonesia. "Mungkin saya nanti nonton di TV saja. Soalnya, kami nggak bisa keluar dari Puspa Agro. Saya juga tidak punya uang," katanya lantas tertawa kecil.

Muchtar mengaku heran karena selama ini pengunjung dan pedagang di Puspa Agro selalu menganggap dirinya warga negara Somalia. Padahal, letak kedua negara ini cukup jauh. Bahasa yang digunakan pun tidak sama. "Kami di Sudan pakai bahasa Arab, sedangkan orang Somalia punya bahasa nasional sendiri. Ada juga bahasa-bahasa lokal di Somalia."

Hanya saja, dia mengakui postur tubuh dan warna kulit mereka sama-sama hitam legam. Mereka juga sehari-hari lebih banyak makan jagung, bukan roti atau nasi. "Tapi saya sudah biasa makan nasi setelah berada di tempat pengungsian di Indonesia," katanya.

Berbeda dengan imigran pengungsi asal Vietnam atau Myanmar yang biasa nunut kapal-kapal kecil, Muchtar mengaku menggunakan pesawat terbang dari Sudan ke Asia Tenggara. Situasi politik dan keamanan yang tak menentu di negaranya, perang saudara berkepanjangan, membuat nyawanya
terancam. Maka, dia pun nekat pergi meninggalkan istri dan anak semata wayangnya. "Saya ingin mencari kehidupan yang lebih baik di Amerika Serikat atau Kanada," katanya.

Muchtar dan kawan-kawan menganggap Indonesia sebagai negara transit yang paling ideal menuju ke negeri impian di Amerika Utara itu. Tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, rombongan asal Sudan ini langsung digiring ke posko karantina imigran di kawasan Bogor. Tiga bulan di sana, mereka dikirim ke Tanjungpinang, Kepulauan Riau. "Satu tahun kami tinggal di Tanjungpinang sebelum dikirim ke Puspa Agro, Sidoarjo."

Dibandingkan tempat penampungan pengungsi di Tanjungpinang, Muchtar menilai kamar kosnya di Puspa Agro jauh lebih nyaman. Ada televisi, dapur, tempat tidur, lengkap layaknya di sebuah hotel melati. Mereka juga mendapat jatah bulanan dari IOM untuk membeli makanan, sabun, dan sebagainya. "Tapi tidak ada kejelasan kapan kami dikirim ke Kanada atau USA. Saya hanya bisa berdoa, minta kepada Allah, agar diberikan jalan yang terbaik," ujarnya perlahan.

Selama setahun lebih menjadi pengungsi di Indonesia, Muchtar mengagumi Indonesia sebagai negara yang aman, damai, dan harmonis. Begitu banyak perbedaan di Indonesia seperti warga Papua yang fisiknya sedikit banyak mirip Sudan, warga Riau atau Sumatera yang budayanya berbeda dengan Jawa Timur, atau Bali yang mayoritas beragama Hindu, tapi bisa hidup bersama dengan rukun. Sebaliknya, di negaranya, Sudan, terjadi perang saudara berkepanjangan meski sama-sama muslim, sama-sama kulit hitam, sama-sama makan jagung.

1 comment:

  1. Bung Lambertus, yang benar Pak Muchtar ini dari Somalia atau dari Sudan? Di awal artikel, anda tulis dia dari Sudan, dan bukan dari Somalia. Tetapi di akhir artikel, anda tulis negara asal Pak Muchtar ialah Somalia. Wkwkwkwkwk, harap dikoreksi dan dijelaskan.

    ReplyDelete