29 March 2015

Pak Dirjen kunjungi SDN Pucukan Sidoarjo



Dulu saya sering blusukan bersama Eyang Thelo (almarhum) ke Pucukan. Kampung tambak paling terpencil di Kabupaten Sidoarjo. Tak ada listrik. Jalan setapak. Tanpa sinyal seluler. Rumah-rumah warga di pematang tambak selalu terendam setiap air pasang.

Saya dan Eyang Thelo (nama aslinya Haryadji Bambang Subagyo) bahkan nyaris hanyut saat jalan kaki di makam umum menuju SDN Gebang 2 alias SDN Pucukan. Air memenuhi ruangan kelas yang berlantai papan. Sudah dibuat tinggi tapi ya tetap saja tergenang kalau lagi pasang plus hujan deras.

Aneh, pikir saya. Kampung Pucukan itu terletak di Kecamatan Sidoarjo Kota, tetangganya Kota Surabaya. Sidoarjo begitu maju, makin modern, penuh perumahan, pabrik, gudang, stadion internasional, tapi Pucukan seperti itu? "Itulah dua sisi kehidupan. Ada yang modern tapi ada juga yang terbelakang. Itulah asyiknya Sidoarjo," kata eyang yang juga penjinak ular.

Kemarin SDN Pucukan dikunjungi beberapa orang penting di Jawa Timur, bahkan nasional. Yakni Dirjen Kebudayaan Kacung Marijan, Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Dr Harun, bersama pejabat-pejabat lain. Mereka jadi terbuka mata melihat kondisi kampung tambak di pesisir timur Kabupaten Sidoarjo itu.

"Di Jatim ini hanya ada dua kabupaten yang punya sekolah terpencil: Kabupaten Sumenep dan Kabupaten Sidoarjo," kata Pak Harun.

Sudah terpencil, hanya bisa dijangkau lewat perahu selama hampir satu jam, tak ada listrik pula. Fasilitas air minum pun terbatas. Jarang ada warga Pucukan yang datang di Sidoarjo atau Surabaya sehingga wawasan mereka sangat terbatas. Mereka asyik dengan dunianya sebagai penjaga tambak atau pencari ikan dan hasil laut di perairan Selat Madura.

Kalau Sumenep punya sekolah/kampung terpencil itu wajar. Sebab banyak pulau kecil yang jauh dari kota Sumenep atau Pulau Madura. Tapi Sidoarjo punya kampung terisolir? Yang jaraknya tak begitu jauh dari Bandara Internasional Juanda?

Pak Dirjen, Kacung Marijan, yang mantan dosen Universitas Airlangga, pun geleng-geleng kepala melihat Pucukan. Lebih-lebih lagi melihat bangunan sekolah yang sudah lama bobrok itu. Ada 16 murid yang terdiri dari empat kelas hanya punya dua ruangan yang layak untuk belajar mengajar. Oh ya, tahun ini SDN Pucukan tak punya murid kelas 2 dan kelas 4.

"Nantinya kita perhatikan," kata Pak Dirjen. Program sarjana mengajar di daerah tertinggal bakal melayani Pucukan yang antik ini.

Baguslah kalau pemerintah pusat dan pemprov mau turun tangan. Tapi sebetulnya Pemkab Sidoarjo sendiri sangat mampu membiayai gedung sekolah, bikin jalan, aliran listrik, jaringan air, dan sebagainya. Sidoarjo itu salah satu kabupaten kaya di Jatim. Di kecamatan kota yang di dekat lingkar timur ada banyak sekali perumahan.

Pengembang-pengembang properti ini bisa dimintai CSR untuk mengembangkan kampung Pucukan dan beberapa dusun terpencil lain. Kita, warga Sidoarjo, akan malu kalau membangun dusun tambak itu harus menunggu bantuan pusat dan provinsi.


Sent from my BlackBerry

2 comments:

  1. Bupati Sidoarjo dan jajarannya perlu baca tulisan ini, dan perlu merasa malu jika tidak bisa membuar Pucukan jadi lebih maju!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul sekali Pak Lutfy. Sidoarjo harusnya sangat malu karena didatangi Pak Harun dan Pak Kacung Marijan. Padahal pemkab sidoarjo pasti bisa membiayai sendiri akses jalan dan perbaikan kampung + sekolah di Sawohan dan Kepetingan. Matur nuwun sudah baca dan kasih komentar.

      Delete