30 March 2015

Minggu Palma masuk pekan suci

Ekaristi Minggu tadi berbeda dari biasanya. Saya sengaja bawa palem ke gereja. Takut kehabisan seperti tahun lalu. Ternyata kali ini stok daun palem di depan gereja lebih dari cukup. Maka saya pun menukar daun palem yang lebih bagus.

Bagi orang NTT, khususnya Flores, yang mayoritas Katolik, minggu palma ini sangat istimewa. Perarakannya panjang dan lama tapi asyik. Orang-orang desa memang larut dalam devosi dan tradisi gerejawi yang sudah berjalan turun-temurun. Termasuk menyanyikan lagu-lagu khas minggu palma seperti Hormat Puji, Hosana Putera Daud, Anak-anak Hibrani Membawa Ranting-Ranting Zaitun, hingga passio.

Tentu saja ekaristi di kota besar kayak Surabaya ini pun ada lagu-lagu macam itu. Bahkan kualitas kornya jauh lebih bagus daripada paduan suara kampung di pelosok NTT. Cuma tidak ada perarakan, pawai di jalan raya, bawa daun palma, mengenang Yesus masuk kota Yerusalem. Jangankan pawai di jalan raya, sekadar perarakan di halaman gereja pun tak ada.

Namanya juga minoritas. Ekaristi di Jawa Timur memang sangat minimalis. Cukup inti-intinya saja. Perarakan panjang yang bukan inti sengaja ditiadakan karena sikon: situasi dan kondisi. Ini juga yang membuat orang yang bukan Katolik di Jawa hampir tidak tahu tradisi pekan suci, minggu palma, kamis putih, jumat agung, malam paskah, atau rabu abu. Jangankan umat Islam, orang Protestan atau Pentakosta atau Advent di Jawa sangat minim pengetahuannya tentang liturgi Katolik.

Misa minggu palma tahun ini di Paroki Wonokromo (Yohanes Pemandi), Surabaya, terkesan darurat. Gerejanya sedang diperbaiki sehingga umat terpaksa misa di gedung pertemuan. Seadanya. Tak ada tempat berlutut. Anehnya rasanya mengikuti ekaristi tanpa berlutut. Mirip kebaktian orang Kristen Protestan atau Pentakosta saja.

Syukurlah, paduan suaranya cukup semangat dan lumayan bagus. Lagu Yerusalem Lihatlah Rajamu yang terkenal itu dibawakan dengan semangat dan keras. Sayang, tak ada solis buat variasi. Semua bagian disikat kor. Ini mengurangi keindahan dan bobot seni dari lagu lawas yang dimuat di Madah Bakti itu.

Begitu juga ordinarium misa bahasa Latin tanpa variasi solis dan kor. Aneh, padahal setahu saya para dirigen di Keuskupan Surabaya ini sering ditatar komisi liturgi. Sebagai bekas aktivis paduan suara, saya sering merasakan keanehan kor-kor gereja yang kurang memperhatikan detail-detail seperti ini. Belum lagi mazmur tanggapan yang kurang penjiwaan.

Ssttt... Jangan terlalu keras mengkritik kor atau petugas liturgi. Bisa dimarahi ibu-ibu WK atau bapak-bapak di lingkungan. "Kamu gak pernah aktif kok banyak kritik? Kalau cuma kritik, ngomong, semua orang juga bisa," kata Bapak FX suatu ketika.

Selepas misa yang dipimpin Romo Wayan Eka SVD, saya periksa ponsel. Wow, Agnes Rini kirim pesan. "Akhirnya kami sampai di Maumere," tulisnya.

Rini bersama rombongan umat Katolik dari Surabaya memang sudah lama berencana mengikuti pekan suci di Flores. Khususnya Semana Santa di Larantuka, ibukota Kabupaten Flores Timur. Tradisi perarakan di jalan raya saat Jumat Agung sejak zaman Portugis dulu. Perarakan atau prosesi ini kemudian tersebar ke seluruh Flores dan sekitarnya dalam liturgi Katolik.

Inilah yang sering membuat orang Flores di rantau, yang Katoliknya sangat minoritas, sering kesepian karena liturgi gereja dirasa terlalu singkat dan kering. Bahkan perarakan minggu palma ditiadakan karena sikon itu tadi. Cukup mengangkat daun palma di tempat duduk masing-masing sambil membayangkan kita sedang perarakan di jalan raya.

Selamat memasuki pekan suci!


Sent from my BlackBerry

1 comment:

  1. om hurek, di gereja kami (GKI) juga ada perayaan Minggu Palem, kami disuruh bawa daun palem ke gereja... di GKJ juga sama... gak tau kalo di gereja lain...

    sedangkan di HKBP (tempat aku dibaptis) namanya "Palmarum" (walaupun gak ada bawa2 daun palem) dan juga awal dari Minggu Sengsara (passion)... mulai malam kemarin atau malam ini digelar partangiangan passion (ibadah mengenang sengsara Yesus) setiap malam hingga Jumat Agung...

    btw saya juga pengen banget melihat perayaan Semana Santa di Larantuka, tapi dari Jakarta kejauhan sih... apalagi sama orang tua selalu diminta supaya merayakan Paskah bersama keluarga, jadi gak boleh jalan sendiri... huhuhu...

    ReplyDelete