25 March 2015

Melepas Maestro Slamet Abdul Sjukur



Seakan tidak percaya Slamet Abdul Sjukur sudah kembali ke pangkuan Sang Pencipta. Saya tahu kondisi sang komponis, embahnya guru-guru musik di Indonesia ini, makin memburuk. Tapi beberapa jam sebelumnya saya masih sempat memegang tangan kirinya yang hangat sambil bercakap-cakap. Obrolan ringan campur guyon khas arek Surabaya.

Pak Slamet sempat tertawa kecil (atau senyum lebar) ketika saya guyoni. "Mas Slamet (beliau lebih suka disapa Mas daripada Pak atau Eyang atau Embah atau Mister), selama ini sampeyan sangat sulit ditemui. Sibuk ngajar, bikin komposisi, kasih seminar, ke Jakarta, Jogja, Bandung, luar negeri," begitu umpan pembukaan dari saya.

"Kalaupun ada di Surabaya, Mas Slamet pun tetap sulit dicari. Kadang di Yamaha Music, pindah lagi ke Kilang Music, ngajar di Unesa, diskusi di C20.... dan entah di mana lagi. Tapi sekarang ini Mas Slamet sangat mudah dicari. Cukup datang ke kamar 608 Graha Amerta!" kata saya.

Slamet Abdul Sjukur pun tertawa halus. Pria 80 tahun (kurang tiga bulan) ini kemudian membetulkan posisi badannya di bed. Agak kesakitan. Gema dan Jeanny ikut senyum mendengar gojlokan saya. Bu Marti, anak angkat yang merawat Pak Slamet di Jakarta sejak 1993, ikut senyum. Tapi sejatinya kondisi Slamet Abdul Sjukur makin buruk ketimbang Rabu pekan lalu saat saya besuk.

"Omongannya mulai aneh-aneh sejak Jumat lalu. Perasaan saya gak enak," kata Mbak Marti. Sama. Saya pun merasakan suasana yang demikian. Padahal beliau sudah siap mental untuk operasi tulang paha kanan yang patah yang membuatnya masuk Graha Amerta RSUD dr Soetomo sejak 9 Maret 2015.

Oh, musik piano terdengar lamat-lamat di kamar pasien lantai 6 itu. Komposisi yang belum pernah saya dengarkan. Karya siapa itu? "Bach," jawab Mas Slamet cepat. Rupanya karya-karya piano dari Johan Sebastian Bach itulah yang menemani sang komponis, budayawan, penulis, praktisi astrologi Yijing dari Tiongkok, manusia multidimensi itu hingga akhir hayatnya.

Dalam suasana begini, obrolan dengan pasien tidak bisa fokus dan panjang. Saya lalu bilang di Youtube ada beberapa karya Slamet Abdul Sjukur tapi masih terlalu sedikit untuk dinikmati masyarakat. Kalah banyak dibandingkan seorang pianis dan komponis muda Indonesia yang sangat digandrungi guru-guru piano dan penggemar musik klasik.

"Biar saja orang lain suka publikasi (karyanya) di internet. Saya sih tetap begini saja. Yang penting tetap mengarang," katanya. Slamet mengulang lagi kata-katanya bahwa komposisi yang dia buat berdasar puisi-puisi Nirwan Dewanto belum rampung. Padahal sudah dikerjakan selama 4 tahun.

Slamet Abdul Sjukur itu sangat paham dengan siapa dia bicara. Dengan pianis dia bicara soal karya-karya piano, teknik main, dan sebagainya. Bahas orkestrasi untuk komponis dan arranger. Bahas makanan Jawa yang enak atau telur mata sapi dengan penyuka makanan enak. Dengan wartawan koran dia bertanya soal berita dan perkembangan bisnis media cetak.

"Oplah media cetak bagaimana?" tanya Slamet Abdul Sjukur. Lho, pertanyaan yang kena tapi juga sensitif dari kacamata bisnis. "Naik turun Mas Slamet. Kadang naiknya cepat sekali, lalu turun banyak, naik lagi, dst. Tergantung materi berita yang dimuat," jawab saya singkat.

Slamet juga kaget ketika diberi tahu bahwa majalah Panjebar Semangat dan Jaya Baya, yang berbahasa Jawa, masih terbit di Surabaya. "Oh ya? Saya kira PS sudah gak terbit. Dulu saya pembaca setia PS. Tapi sudah lama saya gak baca," katanya dengan suara halus nyaris berbisik khas SAS.

Obrolan tidak bisa diteruskan karena Pak Slamet harus istirahat. Dia butuh ketenangan menikmati musik Bach sembari menunggu tindakan medis selanjutnya. Saya makin erat memegang tangan kirinya. "Terima kasih Mas Hurek sudah ke sini," katanya perlahan. Tak ada lagi suara selain musik Bach. Saya pulang.

Esok paginya, Selasa 24 Maret 2015, saya baca SMS: Slamet Abdul Sjukur meninggal dunia! Selamat jalan sang maestro! Beristirahatlah dengan tenang bersama sang komponis agung di atas sana!

Saya pun lekas ke Keputran, rumah almarhum Slamet Abdul Sjukur di tengah kampung itu. Ada bendera simbol kematian di gang tak jauh dari masjid. Seorang bapak mengaku sudah dengar kabar kematian Slamet Abdul Sjukur tapi tidak tahu disemayamkan dan dimakamkan di mana. "Gak ada jenazahnya di sini," kata bapak asli Keputran.

Lalu di mana? Beberapa laki-laki dekat masjid pun tak tahu. Bahkan ada yang tak kenal nama Slamet Abdul Sjukur. "Slamet iku sopo," bisik seseorang yang mengira saya tak paham bahasa Jawa.

Saya pun menghubungi Jeanny via ponsel. Tiga kali baru nyambung. Katanya, jenazah disemayamkan di Jalan Pirngadi 3 Bubutan, dekat belokan gereja. Di rumah keluarga dekat almarhum, rumahnya dokter. Suwun, Jeanny.

Benar saja. Begitu banyak pelayat sudah berada di sana. Begitu banyak karangan bunga, termasuk dari Bu Risma, wali kota Surabaya. Gema terus menangis, sangat terpukul dengan kepergian sang maestro. Jeanny hanya termenung di dekat jenazah Slamet Abdul Sjukur bersama keluarga, kerabat, kenalan, murid almarhum.

Saya pun mendekati jenazah Slamet Abdul Sjukur yang ditutupi kain batik. Tak ada lagi musik Bach, tak ada lagi guyonan ringan, tak senyum lebar dari musisi berenggot yang tak henti bekerja hingga tutup usia itu. Visi Slamet Abdul Sjukur sejak 1957, Kujadikan Rakyatku Cinta Musik, harus dilanjutkan!

2 comments:

  1. Almarhum SAS merupakan pemusik yg luar biasa yg pernah dilahirkan di negara kita. Beliau mengajarkan hal2 sederhana tapi serius tentang musik dan kehidupan.

    ReplyDelete
  2. sluman slumun slamet. selamat jalan bapak pelopor musik kontemporer Indonesia!!! matur nuwun atas semua pengajaran dan inspirasi yg pernah kami terima dari jenengan SAS.

    ReplyDelete