18 March 2015

Slamet Abdul Sjukur Dirawat di Graha Amerta



Pagi tadi, 18 Maret 2015, saya membesuk Pak Slamet Abdul Sjukur (SAS) di Karangmenjangan alias RSUD dr Soetomo Surabaya. Sang maestro musik klasik dan kontemporer Indonesia ini tergolek lemah di Graha Amerta kamar 608. Syukurlah, saya dapat informasi dari Gema, pianis dan komponis muda, muridnya SAS, meski telat seminggu lebih.

Pak Slamet yang 30 Juni nanti genap 80 tahun terjatuh di rumahnya. Sendirian. Tulang di pangkal pahanya tergeser. Beliau berusaha merangkak selama dua jam untuk menjangkau HP-nya. Agar bisa mengabarkan kondisinya yang tak berdaya. Syukurlah, SAS ditolong oleh beberapa muridnya dan segera dibawa ke Karangmenjangan. Selalu ada mukjizat di tengah ketidakberdayaan.

Sang maestro asli Surabaya ini selalu antusias, penuh gairah, kaya humor cerdas, tak pernah berhenti mengajar. Itulah yang membuat dia terlihat kuat di usia 80 tahun. Suka guyon sama murid-murid pianonya di Surabaya. Itu juga yang saya rasakan pagi tadi, jam 10an. Pak Slamet tersenyum menyapa saya. Seakan tak merasakan sakitnya kaki kanan yang teramat sangat itu.

Ada sekitar delapan orang di kamar 608 yang mirip hotel itu. Keluarga dekat, keponakan Pak Slamet. Saat saya guyon sama Pak Slamet, sambil pegang tangan kirinya, mereka ikut tertawa. "Saya belum lama ini membaca Virus Setan," kata saya.

"Oh ya! Itu buku sudah lama banget. Saya sendiri tahunya setelah jadi buku," kata SAS tentang buku kumpulan artikelnya yang disunting Mas Erie itu.

Buku kecil ini banyak humor dan kritikan SAS tentang musik, pendidikan, sosial budaya, hingga perilaku orang Indonesia. SAS dari dulu melawan arus, anti mainstream, dengan menyebarkan apa yang selalu dia sebut sebagai virus setan. Bahan-bahan di buku itu saya jadikan pemancing guyonan dengan SAS. Biar gak suntuk di rumah sakit meskipun mewah.

"Saya lagi bikin komposisi dari puisi-puisi Nirwan Dewanto. Sudah empat tahun tapi gak jadi-jadi," katanya dengan suara halus nyaris berbisik.

"Dari dulu saya memang begitu. Gak bisa mengarang cepat. Soalnya saya harus mengajar di mana-mana. Cari duit," SAS menambahkan. Beliau sudah sering bilang begitu.

Yang saya salut adalah SAS tetap asyik diajak bicara apa saja, khususnya musik, meskipun kaki kanannya dalam keadaan terkancing. Guyonannya pun tetap enak. Tiba-tiba datang pembesuk lain, pasutri pemilik sekolah musik Kilang Surabaya yang terkenal itu. Bawa roti dan makanan kesukaan SAS. Saya lihat SAS senyum gembira.

Kemudian muncul Gema. Murid kesayangan SAS ini membawa naskah artikel musik untuk dibaca SAS. SAS memberikan koreksi dan masukan seperlunya. "Gema ini salah satu murid yang saya harapkan bisa melanjutkan PMS," katanya kepada saya. PMS tak lain Pertemuan Musik Surabaya yang didirikan SAS tahun 1957. Setiap bulan ada kuliah bersama tentang musik, diskusi, apresiasi musik, nonton bareng film musik.

Obrolan plus guyonan terhenti saat seorang pria berbadan subur masuk. Petugas fisioterapis dari RSUD. Mas itu mirip tukang urut sangkal putung tapi lebih ilmiah. Ada ilmu soal otot, tulang, dsb. SAS tak bisa guyon lagi. Aduh, aduh... Beberapa kali SAS menjerit ketika latihan menggerakkan tulang dan otot. Sekitar 40 menit Pak Slamet dikerjain Mas Fisioterapis.

"Mungkin saya di sini sampai dua minggu lagi. Gak bisa lama-lama. Saya gak punya uang," katanya ketika saya pamitan.

Bagaimana kalau belum sembuh? "Kita bawa ke sangkal putung di Semarang," jawab salah satu kerabat sang maestro.

Kita doakan semoga Pak SAS cepat sembuh agar PMS bisa ciamik lagi.

PMS tanpa SAS pasti bukan PMS!

6 comments:

  1. Turut berduka cita atas meninggalnya Pak Slamet Abdul Sjukur, yang kegiatannya sering ditulis oleh Lambertus. Semoga karyanya dan semangatnya diteruskan oleh anak didiknya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener Mas. Saya sangat2 kehilangan Pak Slamet, sang maestro, sang guru, dan sahabat diskusi yg luar biasa. Manusia Indonesia yg dapat talenta khusus dari Tuhan, jenius, meskipun fisknya terbatas, kaki kirinya cacat sejak kecil. Tapi luar biasa... Bicara dengan Pak Slamet itu gak akan bosan2nnya. Beliau ini mirip Gus Dur di bidang musik. Sehari sebelum SAS meninggal, saya masih sempat guyon di kamar Graha Amerta... dan dia tertawa kecil. Saya beruntung pernah dekat dengan Pak Slamet meskipun saya bukan musisi.

      Saya selalu ingat konsep MINI MAX dalam semua karya dan kehidupannya. Manfaatkan apa saja, seminimal mungkin untuk menghasilkan sesuatu karya yg maksimal. Dia pernah melatih orang2 kampung di Trawas, Mojokerto, untuk pentas musik kelas internasional. Ngajak wanita desa biasa, wong gak ngerti musik, untuk konser di Jepang dan negara2 lain. Bikin komposisi hanya dengan 3 nada untuk perpisahan dengan Konjen Prancis di Surabaya. Bikin kursus kilat komposisi (ku ki ko) untuk anak2 SD dan masyarakat awam musik. "Bikin komposisi itu gampang kayak bikin telor mata sapi," begitu kata2 yang selalu dia ulang.
      Humor2nya luar biasa cerdas dan mengena. Saya sering ketawa sendiri mengingat kata2nya yg lucu, sering sinis, tapi sulit dibantah kebenarannya. Terlalu banyak untuk ditulis. Semoga Pak Slamet berbahagia di alam sana. RIP.

      Delete
    2. Lambertus, dari tulisan-tulisan anda, saya mengenal Slamet Abdul Sjukur. Sungguh Indonesia bersyukur mempunyai seorang putra seperti dia, yang berpandangan luas, cerdas, tidak picik dan tidak membeda-bedakan agama dan ras. Tentunya murid-murid beliau bisa meneruskan cita-citanya, jika tidak di bidang musik, tentunya semangat keragaman dan semangat pembaharuan beliau.

      Delete
  2. Salah satu legenda musik Indonesia, Slamet Abdul Sjukur alias SAS tutup usia Selasa (24/3/2015). Salah satu murid seninya, Gema Swaratyagita menuturkan pada CNN Indonesia, SAS meninggal pukul 06.00 pagi tadi di Rumah Sakit Graha Amerta Surabaya, Jawa Timur.

    SAS meninggal setelah dirawat selama dua minggu di rumah sakit. "Hari Minggu (8/3) waktu ada acara, dia sudah mengeluh tidak enak badan," ujar Gema saat dihubungi CNN Indonesia pagi ini. Sehari kemudian, SAS terjatuh di kamarnya.

    Ia langsung dilarikan ke rumah sakit pada Senin (9/3) dan masuk Unit Gawat Darurat. "Tulang pinggul kanannya patah," ujar Gema bercerita. Selama dua minggu dirawat, kondisi SAS naik turun. HB-nya sempat drop. Seharusnya hari ini SAS dioperasi. Namun, kondisinya memburuk.

    "Sejak Jumat itu sudah mulai mengigau. Kondisi makin buruk dan pagi tadi sudah enggak ada," Gema kembali menuturkan. Saat ini, ia mengurus beberapa hal teknis terkait kepergian SAS, sang maestro yang meninggal pada usia 79 tahun.

    ReplyDelete
  3. Composer and ethnomusicologist Jack Body, former professor in the New Zealand School of Music who studied the gamelan in Yogyakarta, said Slamet was a pre-eminent Indonesian composer with an international reputation.

    “More than this he was an extraordinary personality whose warm generosity, humility, and most especially, his wry, subtle humor attracted everyone who met him,” Professor Body said.

    “His passing is a great loss not only to the musical world, but to the many, many people who had the privilege to be his friend. He is irreplaceable.”

    ReplyDelete
  4. Mas Hurek, terima kasih atas semua tulisan2 indah ttg eyang Slamet Abdul Sjukur yang kita sayangi. Semoga kita semua ttp bisa melanjutkan perjuangan dan semangat almarhum, serta menjalankan amanah2 yang harus dijalankan. Kami tunggu kedatangannya untuk mampir di Pertemuan Musik Surabaya. Salam sukses slalu.

    ReplyDelete