26 March 2015

Kolom Slamet Abdul Sjukur: Sepeda Motor di Surabaya

Suatu ketika saya meminta Bapak Slamet Abdul Sjukur untuk membahas kemacetan lalu lintas di Kota Surabaya. Beliau langsung menyanggupi. "Saya sudah lama punya uneg-uneg dengan sepeda motor di kampung saya," katanya. Maka, lahirlah tulisan yang kemudian saya muatkan di Radar Surabaya. "Tulisan Mas Slamet bagus, tapi honornya sedikit lho," kata saya. "Nggak masalah. Yang penting, Pemkot Surabaya mau membaca dan bertindak," katanya. Berikut ini tulisan Slamet Abdul Sjukur yang tutup usia pada 23 Maret 2015 lalu.


SEPEDA MOTOR DI SURABAYA

Oleh Slamet Abdul Sjukur


Sepeda motor merupakan kemandirian sarana transportasi. Orang bisa langsung ke tempat yang dituju. Berbeda dari transportasi-umum yang sudah ditetapkan jurusan dan rutenya, sehingga untuk ke tempat tertentu, kita terkadang harus ganti kendaraan beberapa kali.

Sepeda motor lebih dari itu, merupakan simbol kemandirian rakyat untuk mengatasi persoalan yang dihadapinya.

Di Tunisia, sudah lama sekali pemerintahnya membatasi masuknya kendaraan bermotor dengan pajak yang sangat tinggi. Dengan aturan pajak seperti itu, tidak banyak yang punya kemampuan membeli kendaraan. Tapi pemerintahnya yang visioner, dengan pandangan yang jauh ke depan, mengimbanginya dengan kebijaksanaan menyediakan sarana transportasi umum yang memadai: murah, bersih, aman, banyak dan tepat waktu.

Ada sistim kartu-langganan, bisa untuk bulanan, mingguan dan bahkan sekalipun hanya untuk beberapa hari (untuk turis). Sekali anda beli kartu langganan seperti itu, anda boleh naik kendaraan-umum berapakall saja sesuka hati anda tanpa harus bayar lagi. Di tempat-tempat pemberhentian ada jadwal datang dan perginya kendaraan-umum, dan 98% tepat waktu.

Akibatnya, yang terlihat di jalan seringnya lewat kendaraan-umum yang tidak perlu sampai penuh. Juga jarang terjadi kemacetan sekalipun jalan yang untuk kendaraan lebih sempit dari trotoar yang sangat nyaman untuk pejalan kaki.

Itu juga menyiratkan sikap pemerintahnya yang melindungi mayoritas yang lemah, yang tidak punya kendaraan pribadi, dan tidak memanjakan minoritas yang bisa beli kendaraan sendiri.

Di negeri kita, untung ada upaya-swasta yang memungkinkan orang bisa membeli sepeda motor yang harganya terjangkau dan masih boleh membayarnya secara kredit dengan uang muka tidak terlalu mahal. Sehingga rakyat yang sudah biasa “tahan bantingan” pintar memperhitungkan untung-ruginya membeli sepeda motor. Membeli dengan kredit, jauh lebih menguntungkan dan lebih murah dari menunggu lama kendaraan umum yang selalu padat dan sering terpaksa pindah kendaraan jurusan lain.

Itu solusi yang paling rasional bagi mayoritas yang terjepit ekonominya. Dengan dampak sampingan kemacetan lalu-lintas, yang tidak pernah menjadi “pelajaran bermutu” bagi yang bewajib. Kita punya budaya-berpikir mewah, boros dan menyalahkan keadaan. Macet? Lebarkan jalan! Macet lagi? Lebarkan lagi, habis perkara! Biar tidak tabrakan? Nyalakan lampu sepeda motor! …sekalipun kita di negeri yang dikarunia cahaya matahari yang terang benderang, bukan seperti ‘negeri sana’ yang hampir selalu berkabut… Dan masabodoh terhadap masalah pemanasan global dan hemat energi.

Dengan budaya-berpikir seperti itu, dijamin kemacetan akan berlangsung terus sampai kiamat sekalipun seandainya seluruh kota bangunannya dirobohkan semua demi pelebaran jalan.

Sepeda motor juga “simbol anarki” yang mengerikan. Sebagai akibat tidak digubrisnya kebutuhan masyarakat untuk bergerak dengan mudah, nyaman dan aman, maka sudah betul kalau masyarakat cari akal sendiri sebisa-bisanya. Akibat lainnya dari sebab yang sama, ialah masyarakat jadi tidak peduli sama sekali pada apa saja yang bukan untuk kepentingannya sendiri.

Mereka tidak mau tahu bahwa trotoar bukan pelebaran jalan. Mereka sering semena-mena lewat di trotoar yang bukan haknya. Tidak jarang terjadi tabrak lari di trotoar, padahal trotoar dibuat agar pejalan kaki juga punya wilayahnya sendiri untuk mereka, seperti halnya jalan raya khusus untuk kendaraan.

Sepeda motor tidak saja merajai jalan raya dan sering menyusup di trotoar, mereka juga tidak peduli bahwa kampung bukan jalan raya. Tanda-tanda HARAP TURUN yang dipasang di muka kampung, tidak saja dianggap tidak ada, mereka sering tidak segan membunyikan klakson agar pejalan kaki minggir.

Bukan main kesombongan sepeda motor di negeri kita ini termasuk di Surabaya yang baru saja mensyukuri hari-jadinya.

Sikap kesemena-menaan ini persis sama dengan mentalitas koruptor yang menganggap hanya dirinya yang penting dan yang lainnya itu anjing, harus minggir.

Ini menunjukkan sudah demikian parahnya mentalitas bangsa kita. Kalau awalnya rakyat menengadah melihat ketidak becusan yang di atas, sekarang ini anarkisme sudah menular seperti penyakit aids keseluruh tubuh Indonesia yang dengan susah payah, dengan darah dan nyawa kita rebut kembali dari penjajah.

Dulu kita dijajah, oleh bangsa lain, kemudian oleh bangsa sendiri, yaitu mereka yang sebenarnya kita percayai sepenuhnya untuk mengangkat derajat kita sebagai bangsa dan sebagai manusia. Sekarang lebih celaka lagi, kita malah dijajah oleh kita-kita sendiri yang di bawah.

Tapi "tidak perlu sedu sedan", kata Chairil Anwar. Nasib sudah membuat kita menjadi bangsa yang tahan bantingan. Bagi yang sudah biasa tercekik, kesulitan bukan lagi hambatan, justru setiap kesulitan itu merupakan tantangan untuk segera diatasi secara nyata dengan kemampuan kreatif kita. (*)

No comments:

Post a Comment