27 March 2015

Jokowi dan Wibawa Xi Jinping



Koran-koran pagi ini memuat foto Presiden Indonesia Joko Widodo dan Presiden Tiongkok Xi Jinping di Beijing, Tiongkok. Kedua kepala negara memerksa pasukan Zhongguo bersenjata. Keduanya terlihat berwibawa.

Sayang, retorika bahwa Indonesia menjadi kekuatan baru ekonomi dunia, selain Tiongkok, tidak begitu bergema di sini. Waktu kita habis untuk bahas ISIS, Ahok, kisruh Golkar, KPK vs Polri, harga bensin yang naik turun, dan sebagainya. Makin banyak orang yang ragu dengan kompetensi Jokowi sebagai presiden.

Kayaknya baru kali ini ada presiden RI yang instruksinya tidak dipatuhi Polri. Diminta Jokowi stop kriminalisasi, dua pimpinan KPK malah dijadikan tersangka. Kemudian diberhentikan dari KPK. Hakim praperadilan malah memenangkan Komjen Budi Gunawan. Dan Jokowi, presiden yang instruksinya diabaikan, malah tenang-tenang saja.

"Jokowi ini presiden yang tidak punya wibawa. Omong apa saja gak akan diikuti kalau ngurus KPK vs Polri saja gak bisa," kata seorang pelukis senior di Sidoarjo yang dulu getol kampanye mendukung Jokowi saat pilpres.

Belakangan terjadi kisruh di Bandara Juanda antara PT Angkasa Pura 1 dan TNI Angkatan Laut selaku pemilik lahan bandara, khususnya terminal 2. Sudah dua minggu ini tentara menutup jalan kargo. Layanan pengiriman kargo pun kacau. "Harus diselesaikan di Jakarta," kata beberapa petinggi di kawasan Bandara Juanda.

"Tidak usah ke Jokowi. Percuma! Nanti juga tidak akan ditaati sama mabes TNI AL," kata beberapa orang yang skeptis.

Kisruh ini kemudian ditangani Wapres Jusuf Kalla karena Jokowi ke Tiongkok dan beberapa negara lain. Hasilnya juga sama aja. TNI AL tetap menutup jalan dengan alasan Angkasa Pura melanggar banyak butir perjanjian kerja sama.

Betapa kontrasnya Jokowi di Indonesia dan Xi Jinping di Tiongkok. Tuan Xi ini luar biasa berwibawa di dalam negeri dan membuat gentar hampir semua negara di dunia. Xi Jinping bikin manuver kecil-kecilan yang membuat banyak negara ketakutan. Khususnya negara-negara yang berbatasan langsung dengan Tiongkok.

Xi Jinping juga makin keras membersihkan pejabat-pejabat korup. Tidak ada kompromi kalau sudah menyangkut pencolengan uang negara. Tidak ada pelemahan KPK di Tiongkok. Tidak ada kriminalisasi atau cari-cari perkara untuk menangkap orang yang getol membela korupsi. Tidak ada yang namanya istilah pelaksana tugas kepala kepolisian.

Xi Jinping memang dimusuhi banyak orang, khususnya di luar Tiongkok, tapi dianggap sebagai presiden yang sangat efekti. Hemat bicara, langsung bertindak. Tidak membiarkan sebuah kasus ngambang lamaaa seperti KPK vs Polri di Indonesia.

Mudah-mudahan sepulang dari Tiongkok Presiden Jokowi benar-benar jadi kepala negara plus kepala pemerintahan yang berwibawa. Bukan petugas partai yang sebentar-sebentar minta petunjuk dari mama yang punya partai. Bukan presiden boneka yang cuma jadi mainan partai-partai koalisi.

4 comments:

  1. Lain pak. Tiongkok itu negara autoriter. Satu partai. Seperti Pak Harto dulu. Tentara di bawah kendali Partai Komunis Tiongkok (yang komunis hanya namanya saja). Jadi TNI harus nurut. Kalau ada begundal yang macam-macam, disikat.

    ReplyDelete
  2. Saya suka anda menulis Zhongguo.

    Seharusnya memang kata "ZHONG GUO" bukan "CHINA" yang menemani kata “δΈ­ ε›½” di setiap punggung atlet Zhongguo Atau Tiongkok

    Seharusnya Made in Zhong Guo bukan Made in China 😊

    Kapan Sdr. Hurek bisa membahas ini, meluruskan orang orang di Tiongkok sana yang sudah membuat kekeliruan yang berkepanjangan.

    Sukses selalu untuk Sdr. Hurek

    Semoga blog anda semakin ramai ya 😊

    ReplyDelete
  3. Sebaiknya kota Surabaya memeliki bandara udara sendiri, agar tidak ada kesan nebeng atau numpang di bandara milik AL

    ReplyDelete
  4. Bung Hurek yang terhormat, setengah abad otak saya terkontaminasi oleh kemunafikan dan kesombongan orang kulit putih, terutama sifat Jerman yang sok nggurui ( schoolmaster ). Terlalu sering saya mendengar kritikan2 orang kulit putih terhadap Tiongkok. Apapun yang dilakukan, dibuat oleh Tiongkok selalu disalahkan, selalu dikritik. Setelah melihat berita YouTube " china in afrika ", saya pertama kali sadar, betapa welcome-nya orang2 China disambut dibenua Afrika.
    Ratusan tahun Afrika dijajah, dihina, diperbudak, dihisap oleh orang kulit putih, bahkan setelah mereka merdekapun masih dianggap sebagai bangsa pengemis, yang kadang2 diberi uang beberapa puluh million US$, tetapi dengan syaratnya ber-macam2. Sekarang Tiongkok datang kebenua Afrika membangun infrastruktur disana, berdasarkan win-win-solution, berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah.
    Tidak saling menggurui, tidak mencampuri urusan dalam negeri masing-masing.
    Pemimpin2 negara Afrika adalah orang2 cerdas, mana mungkin mereka mau dikibuli oleh orang Cina. Mereka berpedoman prinsip system dagang, sama2 puas tanpa paksaan. Tujuan Tiongkok bukan hanya cari untung, melainkan yang penting adalah geo-politik, mencari bolo dan teman. Sekarang orang kulit putih sadar, bahwa mereka telah ketinggalan spoor di Afrika. Mulailah lagu lama diputar kembali, menghasut orang2 yang tidak kebagian keuntungan.
    Maksud saya menulis ini, karena penduduk Indonesia selalu suudzon, jika pemerintah Tiongkok menawarkan proyek kerja sama kepada Indonesia.
    Syukur Alhamdulillah, Bapak Presiden Jokowi tidak pernah sekolah di Eropa dan di Amerika, sehingga keputusan2 yang Beliau ambil tidak terpengaruhi oleh mental kolonial.

    ReplyDelete