15 March 2015

Ivana Supit Alumnus Heilongjiang



Sejak reformasi ribuan pelajar Indonesia berbondong-bondong ke Tiongkok untuk kuliah tingkat diploma, S-1, S-2, hingga S-3. Biasanya mahasiswa Indonesia itu belajar di provinsi-provinsi bagian selatan seperti Xiamen, Guangzhou, Chongqing, atau Beijing dan sekitarnya. Jarang ada mahasiswa yang memilih kuliah di Provinsi Heilongjian yang berbatasan dengan Rusia.

Salah satu dari sedikit orang Indonesia yang nekat kuliah di Provinsi Heilongjiang, Tiongkok, adalah Ivana Supit, 25. Saat ini Ivana menjadi koordinator guru bahasa Mandarin di Anugerah School Sidoarjo. "Saya dan seorang teman dari Surabaya menjadi mahasiswa asal Indonesia pertama di Heilongjiang University. Benar-benar pengalaman yang berkesan karena kami tidak punya senior dari Indonesia yang bisa berbagi pengalaman atau membimbing," kata Ivana Supit pekan lalu.

Gadis kelahiran Jayapura, Papua, 30 Agustus 1989, ini sejak SMA mengaku sangat tertarik belajar bahasa dan budaya Tionghoa. Kedua orang tuanya berdarah Manado, tak ada darah Tionghoa. Nah, begitu mendengar informasi ada beasiswa ke negeri Tiongkok, Ivana pun coba-coba melamar. "Puji Tuhan, ternyata saya diterima," tutur gadis yang murah senyum itu.

Disponsori paguyuban pengusaha Tionghoa Indonesia, Ivana dan sekitar 20 mahasiswa asal Jawa Timur itu awalnya kuliah di Huaqiao University di Kota Xiamen, Provinsi Fujian alias Hokkian. Provinsi di selatan Tiongkok ini dikenal sebagai tempat asal leluhur warga Tionghoa di Indonesia. Sehingga, Ivana dkk tak kesulitan menemukan mahasiswa dan warga Indonesia di sana.

"Saya dan teman-teman mempelajari bahasa Mandarin. Tujuan kami memang jadi laoshi (guru) bahasa Mandarin kalau nanti kembali ke Indonesia," katanya.

Meski sudah diberi sedikit pelajaran Mandarin di tanah air, Ivana mengaku tak mudah mengikuti bahasa Mandarin ala native speaker di Xiamen. Mereka ibaratnya harus belajar lagi dari nol. Mulai dari membedakan nada-nadanya yang aneh hingga aksara hanzhi yang ruwet itu. Tapi, berkat dispilin keras, Ivana berhasil lulus dengan nilai memuaskan.

"Bahasa Mandarin itu awalnya memang sangat sulit. Tapi lama-lama jadi terbiasa dan mudah," katanya.

Lulus dari Xiamen University, sebagian besar teman Ivana kembali ke tanah air. Jadi guru bahasa Mandarin, membantu bisnis orang tua, atau merintis bisnis baru. Ivana yang semakin enjoy dengan bahasa Mandarin tak ingin segera kembali ke Sidoarjo meski orang tuanya kangen. "Sebab, ada program beasiswa ke Heilongjian University," kenangnya.

Lagi-lagi gadis yang piawai membuat kerajinan ini mencoba bersaing mendapatkan beasiswa ke provinsi yang sangat jarang didatangi orang Indonesia itu. Betapa girangnya Ivana setelah dirinya dinyatakan berhak menerima beasiswa ke Heilongjian University alias Heilongjiang Daxue di Kota Harbin.

"Jadi, saya kuliah di Tiongkok dari Xiamen hingga S-2 di Heilongjiang University ini pakai beasiswa. Kalau harus bayar sendiri, wah, banyak banget biayanya," ujarnya seraya tersenyum.

Karena sudah pernah kuliah selama empat tahun di Xiamen University, Provinsi Fujian, Ivana mengaku tidak begitu kesulitan mengikuti perkuliahan di kawasan timur laut Tiongkok itu. Dia dan seorang temannya bisa berkomunikasi dalam bahasa Mandarin yang memang sudah cukup dikuasainya. "Yang berat itu adaptasi dengan cuaca yang ekstrem dingin," katanya.

Asal tahu saja, suhu di Heilongjiang selalu di bawah titik beku air. Ivana menyebut temperatur di kota tempat dia kuliah, Harbin, berkisar antara 10 sampai 35 derajat Celcius. Karena itu, provinsi itu setiap tahun selalu mengadakan festival es terbesar di dunia. Para seniman membuat aneka macam patung yang menarik dari bongkahan es yang terhampar luas di kota itu.

"Buat kita di Sidoarjo yang suhunya panas (24-27 derajat), suhu sampai minus 35 derajat itu benar-benar ekstrem," katanya.

Meski begitu, Ivana tak menyerah begitu saja. Dia bertekad menyelesaikan kuliahnya di Heilongjiang Daxue tepat waktu, dengan nilai yang tinggi. Ini penting agar beasiswanya tidak dicabut. "Syukurlah, saya akhirnya lulus dan kembali ke Sidoarjo," katanya.

Di Sidoarjo, Ivana tak lagi berhadapan dengan orang-orang Zhongguo (baca: Cungkuo) yang bahasanya sangat sukar itu. Kini dia dipercaya untuk menjadi laoshi di Anugerah School. Dengan telaten dia memperkenalkan kata-kata sederhana bahasa Mandarin kepada murid-muridnya dengan logat yang fasih layaknya nona dari Beijing. "Saya mau belajar lagi di Tiongkok kalau ada kesempatan. Belajar di Tiongkok itu sangat menyenangkan," katanya. (*)

2 comments:

  1. Good good good, selamat buat Ivana, saya jadi pingin belajar zhong wen lagi
    Selamat menularkan ilmu berbahasa Mandarin yang benar dan baik
    Jangan seperti kita kita yang tua tua ini, ngomongnya sudah salah, ngotot lagi..hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wong Tji Lik, kalau anda ada di SF Bay Area, saya mau kontak. Tolong bagi emailnya.

      Delete