06 March 2015

Gereja Kini di Tangan Romo Projo

Keuskupan Surabaya yang tempo doeloe dikenal sebagai wilayahnya romo-romo Lazaris atau CM (Congregatio Missionis) kini berubah wajah. Data terakhir pada Februari 2015 menunjukkan romo-romo CM yang bertugas di paroki tinggal 37 orang atau 23 persen.

Dari total 157 pastor yang ada di paroki-paroki seluruh Keuskupan Surabaya (tidak termasuk romo-romo di biara, pensiun, kategorial), romo diosesan atau projo mencapai 94 orang alias 60 persen. Mungkin inilah rekor romo terbanyak dalam sejarah Keuskupan Surabaya. Jumlah paroki pun terus bertambah. Stasi-stasi lama sekarang sudah jadi paroki yang mandiri.

Di bawah CM, kongregasi SVD menyumbang 18 pastor yang berkarya di paroki. Kemudian 4 romo Dominikan (OP) yang melayani di Paroki Redemptor Mundi, Dukuh Kupang, Surabaya, dan 4 romo Selesian (SDB) di Paroki Santo Mikael, Tanjungsadari, Perak, Surabaya.

Komposisi pastor yang dominan projo ini memang sesuai dengan visi para misionaris perintis gereja di tanah air sejak dulu. Bahwa gereja akan kokoh, punya akar, jika dilayani oleh gembala-gembala pribumi. Gereja akan lemah, rentan, bila imam-imamnya warga negara asing. Apalagi misionarisnya dari Belanda, bekas penjajah Indonesia.

Transisi dari imam-imam religius ke diosesan ini berlangsung perlahan tapi pasti. Bahkan belakangan ini berlangsung begitu cepat. Kita yang lama tidak ikut ekaristi di Gereja Santo Paulus, Juanda, Sidoarjo, misalnya akan kaget ketika tahu pastornya bukan lagi SVD, melainkan projo Keuskupan Surabaya. Kelihatannya beberapa paroki asuhan SVD lain pun akan diserahkan ke projo.

Umat di paroki-paroki yang selama bertahun-tahun dilayani imam-imam SVD biasanya kaget dengan perubahan langgam romo-romo projo. Tapi biasanya seiring perjalanan waktu lama-lama juga terbiasa. Itu juga yang dulu terjadi di Flores, khususnya Keuskupan Larantuka.

Di Surabaya masih lumayan. Imam-imam diosesan baru memegang 60 persen paroki. Di Kabupaten Lembata, NTT, daerah asal saya, romo-romo projo bahkan menguasai hampir 100 persen paroki. Setahu saya tinggal satu paroki yang dilayani SVD di Lembata. Kondisi ini terbalik dibandingkan era 1980an dan 1990an. Waktu itu SVD menguasai hampir semua paroki di Kabupaten Lembata.

Inilah dinamika gereja yang harus terjadi di abad internet. Gereja menghadapi era yang sama sekali baru dengan tantangan yang jauh lebih pelik. Imam-imam projo, yang dianggap lebih sekuler, menanggung beban sangat berat menghadapi gelombang sekularisasi dan bahkan ateisme yang semakin meluas ini.
Sent from my BlackBerry

No comments:

Post a Comment