08 March 2015

Gereja Katolik di Bangkalan Makin Kinclong



Gereja Katolik Stasi Telang, Bangkalan, Madura.

Sejak ada Jembatan Suramadu, yang diresmikan 10 Juni 2009, saya tidak pernah lagi menggunakan kapal feri ke Madura. Terlalu lama. Bayarnya juga lebih mahal, hampir tiga kali lipat ketimbang bayar Tol Suramadu. Waktu tempuhnya juga setengah jam lebih. Belum ngetem menunggu penumpang.

Entah mengapa, tiba-tiba saya ingin menjajal kapal penyeberangan Ujung-Kamal yang dulu sangat terkenal itu. Tak ada lagi penumpang berjubelan. Layanan sangat memuaskan. Nyaman meski tetap lamaaa... dibandingkan Suramadu.

Dermaga Kamal, Bangkalan, pun sepi. "Masa kejayaannya sudah lewat. Makelar-makelar yang dulu mandi uang sekarang sudah lari ke luar Jawa," kata tukang cukur di dekat dermaga kepada saya. "Kapal-kapal feri sekarang tinggal sedikit," kata pria yang ternyata aktif mengamati perkembangan politik nasional itu.

Memang tidak efisien ke Madura menggunakan jalur laut. Tapi, di sisi lain, kita bisa bertemu lagi kenalan-kenalan lama di Telang dan beberapa perumahan di dekat Dermaga Kamal. Perumahan-perumahan di Madura memang didirikan di kawasan Kamal dan sekitarnya karena faktor feri itu. Sebagian besar penghuninya bekerja di Surabaya. Sampai sekarang pun mereka masih menggunakan jasa feri ke Surabaya. Pada 1980-an dan 1990-an tak pernah terbayang bakal ada jembatan yang menghubungkan Surabaya dan Madura.

Nah, berkat perumahan-perumahan di sekitar Kamal, Bangkalan, itulah muncullah beberapa gereja baru di Bangkalan. Sebab, penghuni perumahan yang datang dari Jawa atau luar Jawa ada yang nasrani. Merekalah yang merintis Gereja Katolik dan Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) di Telang. Dua gereja ini bertetangga di pinggir jalan raya sekitar tujuh atau delapan km dari dermaga.

Dulu, ketika belum ada Jembatan Suramadu, saya sering mampir dan ikut misa di Gereja Katolik Stasi Telang. Dibandingkan GKJW di sebelahnya, bangunan gereja stasi (bagian dari Paroki Bangkalan) itu sangat memprihatinkan. Mirip gudang tua yang kurang terurus. Tapi lahannya sangat luas untuk ukuran gereja stasi. Tidak kalah dengan gereja paroki di Surabaya.

"Gereja Telang ini mulai digunakan tanggal 5 Oktober 1986," ujar Pak Rafael, salah satu pengurus Stasi Telang, kepada saya sebelum ada Jembatan Suramadu.

Perayaan ekaristi dilayani romo karmelit dari Paroki Santa Maria Fatima, Bangkalan. Stasi Telang ini cukup hidup. Umatnya semangat. Malah lebih semangat daripada umat Katolik di Surabaya yang parokinya 20 lebih. Di Surabaya dan Sidoarjo, saya lihat umatnya memang rajin ekaristi, tapi jarang yang ikut kegiata lingkungan, wilayah, kategorial, paduan suara, dan sebagainya karena sibuk cari duit.

Nah, saat melintas dari Kamal ke Bangkalan Sabtu pagi (7/3/2015) tentu saja saya memperhatikan Gereja Katolik Telang. Wow, bukan main indahnya! Kinclong, arsitekturnya bagus, keren abis. Bangunan gereja yang dulunya kusam, mirip gudang tua itu, tampak sangat modern.

Mungkin inilah gereja stasi terbagus di Jawa Timur. Di mana-mana yang namanya gereja stasi, kecuali di Flores (NTT), dibuat seadanya. Bahkan, lebih sering menggunakan bangunan rumah yang dipinjam salah seorang umat. Saya benar-benar kaget, tak menyangka, sebuah gereja stasi di Pulau Madura, yang sangat islami (99 persen Islam), dibuat sebagus ini. Sayang, pagarnya terkunci sehingga saya tidak bisa blusukan ke dalam.

Sorenya, pukul 17.00, saya ikut misa di Bangkalan. Wow, lagi-lagi saya terkejut melihat bangunan gereja yang juga sangat indah dan kinclong. Sangat artistik. Umat Katolik di Bangkalan itu ternyata bisa membangun gereja dengan selera seni yang tinggi. Khotbah romo karmelit dari Malang yang membahas cerita Yesus mengusir para pedagang yang berjualan di bait Allah sepertinya lewat begitu saja. Saya lebih sibuk memperhatikan interior Gereja Katolik Santa Maria Fatima Bangkalan yang sangat indah.

Tentu saja renovasi Gereja Katolik di Bangkalan yang dirintis pada 29 Juli 1953 itu membutuhkan waktu lama. Umat gotong royong memberikan sumbangan. Ada yang nyumbang semen, material bangunan, sedikit demi sedikit, hingga jadilah bangunan gereja yang bagus di samping kompleks sekolah Katolik Bangkalan itu.

Dulu, sebelum ada Suramadu, saya sering mampir ke gereja itu. Sebab, di belakang gereja ada bangunan yang dihuni orang Flores. Mereka banyak cerita tentang kegiatan paroki dan perkembangan sosial politik di Madura. Bangunan gereja dan pastoran saat itu ya biasa-biasa saja. Cenderung suram. Belum kinclong seperti sekarang.

No comments:

Post a Comment