01 March 2015

Dr Siobhan Campbell Indonesianis dari Sydney



Sidoarjo sudah menjadi kampung kedua bagi Dr Siobhan L Campbell. Wanita asal Australia ini sudah berkali-kali mengunjungi Sidoarjo dan suka blusukan ke kampung-kampung tua seperti sentra batik di Jetis, pabrik sarung lawas, lokasi semburan lumpur Lapindo di Porong, hingga Kepetingan.
Maklum, indonesianis yang murah senyum ini tak lain istri Jumaadi, seniman asal Sekardangan, Sidoarjo, yang berdomisili di Sydney, Australia. Setiap kali Jumaadi berlibur ke Sekardangan, Siobhan berusaha untuk menemani suaminya. "Kecuali kalau saya sedang sangat sibuk," tutur Siobhan dalam bahasa Indonesia yang fasih.

Jauh sebelum menjadi Nyonya Jumaadi, Siobhan Campbell sudah belajar bahasa dan budaya Indonesia di University of New South Wales. Tak heran, dia berteman akrab dengan warga negara Indonesia di negeri kanguru itu. Selain belajar bahasa Indonesia, memperkaya kosa kata, dia ingin mengetahui lebih banyak tentang Indonesia. "Sebab, Indonesia itu tetangga Malaysia yang sangat menarik. Kebudayaannya sangat kaya," kata dosen University of Sydney ini.

Di antara sekian banyak orang Indonesia di Sydney, Siobhan merasa paling dekat dan cocok dengan Jumaadi. Sebab, keduanya sama-sama gandrung kesenian. Jumaadi aktif berkarya, melukis, bikin patung, menggelar seni tradisional, sementara Siobhan jadi kurator dan penghubung dengan sejumlah galeri. Singkat cerita, kedua insan berbeda kebangsaan ini pun akhirnya menjadi pasangan suami istri.

Nah, biasanya menjelang Idul Fitri, Jumaadi selalu mengajak Siobhan untuk mudik ke rumah orang tua Jumaadi di kawasan Pecantingan, Sekardangan. "Jadi, saya bisa melihat perkembangan Sidoarjo sejak beberapa tahun lalu. Sekardangan sekarang sudah padat, banyak berdiri perumahan, sawah-sawah hampir tidak ada lagi," bebernya.

Bagi Siobhan, perubahan wajah Sidoarjo menjadi seperti sekarang memang sulit dihindari mengingat posisinya sebagai penyangga Kota Surabaya. Begitu banyak warga urban atau pendatang yang tinggal dan bekerja di Surabaya dan Sidoarjo. Di satu sisi, perekonomian atau perputaran uang meningkat sangat cepat, tapi di sisi lain membuat budaya setempat makin tergusur. Saat ini Siobhan tak lagi melihat anak-anak kampung Sekardangan menikmati permainan tradisional seperti dulu. "Suasananya makin kota," katanya.

Sebelum berlibur bersama suaminya di Sidoarjo, Siobhan melakukan penelitian di kawasan Kamasan, Klungkung, Bali. Kebetulan dosen sejumlah perguruan tinggi di Australia ini sedang fokus mendalami transformasi sosial budaya masyarakat Bali di tengah booming bisnis pariwisata. Tak hanya sekadar wawancara dengan warga setempat, Siobhan pun tinggal lama di kampung tradisional itu.



Setiap berkunjung ke Sidoarjo, Dr Siobhan L Campbell mengaku menemukan sisi lain kehidupan yang tak dia rasakan di kota asalnya, Sydney, Australia. Suasana kekeluargaan begitu kental, bercengkerama dengan para keponakan dan anak-anak Sekardangan, hingga mencicipi makanan khas seperti lontong kupang dan es degan.

Setiap pagi Siobhan Campbell sarapan dan menikmati kopi bersama Mak Sarmiah di Rumah Budaya Pecantingan, Kelurahan Sekardangan, Kecamatan Sidoarjo. Pusat seni budaya itu dibangun suaminya, Jumaadi, seniman asli Sekardangan, yang rutin mengajaknya mudik ke Sidoarjo. Mak Sarmiah tak lain ibunda Jumaadi alias mertua Siobhan.

"Kami ngobrol ringan tentang apa saja. Sekaligus saya memperdalam bahasa Jawa dari Mak Sarmiah," kata Siobhan Campbell, dosen University of Sydney, Australia, di Rumah Budaya Pecantingan, Sidoarjo, pekan lalu.

Tak ada kendala komunikasi antara Siobhan dengan mertua dan para keponakannya di Sekardangan. Maklum, sejak duduk di bangku sekolah menengah atas (high school) di Sydney, Siobhan Campbell sudah belajar bahasa Indonesia di kelas. Belakangan dia juga belajar bahasa Jawa, bahkan bahasa halus (kromo inggil). Kecintaannya pada bahasa, budaya, dan orang Indonesia itulah yang kemudian mempertemukan Siobhan dengan Jumaadi, sang suami asli Sekardangan.

Selama berada di Sidoarjo, Siobhan bersama Jumaadi melihat berbagai tempat yang dianggap menarik dan punya nilai seni budaya. Candi-candi peninggalan Kerajaan Majapahit di Trowulan dan sekitarnya jadi jujukan utama. Tak ketinggalan menengok lumpur Lapindo yang terus menyembur selama hampir sembilan tahun. "Saya sempat foto-foto di patung survivor karya Mas Dadang," katanya.

Seperti kebanyakan orang di era media sosial ini, Siobhan pun langsung mengunggah fotonya di depan patung para korban lumpur Lapindo yang hampir tenggelam itu. Siobhan menulis di akun Facebook-nya: "Visiting Dadang Christanto at Lumpur Lapindo." Tak lama kemudian, seniman Dadang Christanto yang juga berdomisili di Australia membalas, "Makasih Siobhan Campbell untuk datang dan melihat SURVIVOR."

Bencana lumpur Lapindo yang menenggelamkan ratusan hektare lahan di kawasan Porong dan sekitarnya memang sudah tak asing lagi bagi Siobhan. Di awal bencana dia sudah melihat langsung kondisi di lapangan. Peneliti yang fokus mendalami perkembangan seni rupa Bali ini mengaku prihatin karena sampai sekarang persoalan lumpur di Porong ini belum selesai. Masih banyak warga korban lumpur yang belum mendapat ganti rugi. "Kasihan banget warga yang jadi korban," katanya.

Jumaadi mengaku tak mengalami kesulitan berarti menyesuaikan diri dengan sang istri bule yang berbeda latar belakang budaya. Sebab, Siobhan memiliki kecintaan yang besar terhadap Indonesia. “Dia membaca begitu banyak buku kajian tentang Indonesia. Dia juga suka blusukan ke mana-mana untuk wawancara langsung dengan orang Indonesia. Bahkan, mungkin pengetahuan dia tentang Indonesia justru lebih luas ketimbang kita yang asli Indonesia,” katanya.



Sejak dulu cukup banyak akademisi atau peneliti Australia yang fokus mengkaji berbagai hal tentang Indonesia. Namun, berbeda dengan para indonesianis lain dari negeri kanguru, Dr Siobhan L Campbell sering menjadi kurator sejumah pameran seni di Australia, khususnya Kota Sydney.

Pertengahan 2014, Siobhan sempat menyelenggarakan pameran seni lukis kain tradisional Bali di Sydney. Lukisan-lukisan klasik Bali yang langka dipamerkan di sebuah museum terkenal. Tak hanya itu. Dr Siobhan juga menjelaskan sejarah, latar belakang, corak lukisan, hingga perkembangan terakhir yang dia jumpai di daerah Kamasan, Klungkung, pulau dewata itu.

"Saya memang sejak dulu sangat tertarik dengan seni budaya tradisional Bali. Nilainya sangat tinggi," kata Siobhan.

Istri Jumaadi, seniman asli Sekardangan, ini memang sejak lama jatuh cinta pada bahasa dan seni budaya Indonesia. Karena itu, setelah belajar bahasa Indonesia sejak duduk di bangku high school (SMA), Siobhan terus mendalami kebudayaan Indonesia di bangku kuliah. Bahkan, tesis doktoralnya di University of Sydney pun masih terkait seni budaya Indonesia. "Sebelum ke Sidoarjo, saya melakukan riset lagi di Bali. Hasilnya saya bawa ke Sydney untuk ditulis sebagai kajian ilmiah," kata mantan penerjemah pasukan militer Australia di Timor Leste itu.

Saat berlibur di Sekardangan pun Siobhan tenggelam dalam keasyikannya membaca buku-buku yang berkaitan dengan Indonesia, khususnya Bali. "Saya rasa hampir semua buku kajian yang tebal-tebal tentang Bali sudah dia baca semua. Istri saya itu memang sangat fokus di dunia akademis dan penelitian," kata Jumaadi seraya tersenyum.

Sebagai perupa, dan belakangan menekuni seni pertunjukan, Jumaadi beruntung memiliki istri seorang akademisi sekaligus kurator seni rupa di Australia. Sebab, Siobhan bisa dengan mudah meyakinkan para pengelola galeri seni atau museum untuk memamerkan karya-karya Jumaadi. "Tapi tetap saja ada seleksi yang sangat ketat di Australia. Nggak bisa KKN karena kita punya hubungan dekat dengan orang galeri," katanya.

Jumaadi juga mengaku bersyukur karena sang istri yang asli Australia ini bukan tipe dosen yang selalu standby di kampus dari pagi sampai petang layaknya karyawan atau staf administrasi. Peneliti macam Siobhan Campbell ini diberi peluang untuk melakukan riset di lapangan dalam waktu yang sangat lama. Pemerintah federal juga siap mendanai riset-riset yang dianggap penting dan strategis. Itulah yang membuat para indonesianis asal Australia punya banyak waktu untuk menemui langsung para narasumber serta mengubek-ubek berbagai dokumen dan koleksi seni budaya kita.

"Di Indonesia dosen-dosen lebih asyik mengajar di kampus dari pagi sampai malam. Waktu untuk riset malah hampir nggak ada," kata Jumaadi yang sesekali diminta mengajar di kampus University of Sydney. "Kalau Siobhan ini mengajar dari pagi sampai malam, ya, nggak mungkin bisa jalan-jalan sama saya ke Sidoarjo seperti ini," katanya.

No comments:

Post a Comment