22 March 2015

Bio Paulin Resmi WNI dan Tionghoa

Berita pendek di koran pagi ini berjudul Bio Paulin Resmi WNI. Sambil menikmati kopi yang gak enak saat hujan rintik, saya senyum sendiri. Betapa cepatnya orang Kamerun itu, pemain Persipura, jadi warga negara Indonesia. Bagi pemain-pemain sepak bola asing, yang merumput di ISL, mengurus surat pindah warga negara justru lebih cepat ketimbang kita, yang asli pribumi Indonesia, mengurus KTP.

Betapa sulitnya mengurus KTP di Surabaya. Maka biasanya para pendatang hanya bisa mendapatkan kipem alias kartu penduduk musiman. Lebih mudah mengurus KTP di Sidoarjo, tetangganya Surabaya. Tapi ya tetap saja harus melalui prosedur yang rada jelimet. Kecuali lewat makelar alias calo!

Bio Paulin menjadi pemain bola kesekian yang dapat tiket WNI. Sebelumnya ada beberapa pemain asing yang jadi WNI macam Gonzales atau Victor Igbonefo. Pemain-pemain naturalisasi ini kemudian memperkuat tim nasional Indonesia di turnamen internasional. Hasilnya? Sama saja. Prestasi timnas kita jalan di tempat. Malah cenderung menurun.

Kalau dibandingkan timnas era 1990an dan 1980an, atau lebih bawah lagi, kayaknya timnas sekarang yang pakai pemain-pemain naturalisasi sejatinya tidak lebih baik. Pemain-pemain bola zaman dulu yang 100 persen pribumi, tanpa naturalisasi, cukup berprestasi di Asia Tenggara. Bahkan nyaris lolos ke Piala Dunia ketika dilatih Om Sinyo Aliandoe.

Setelah jadi WNI, Bio Paulin bilang sangat siap memperkuat timnas Indonesia. Ingin memberikan yang terbaik untuk Indonesia. "Saya bangga kalau bisa memperkuat timnas Indonesia," katanya dikutip koran.

Bio Paulin jelas mustahil memperkuat timnas Kamerun. Mereka punya segudang pemain top yang bermain di klub-klub elite Eropa. Pemain macam Bio Paulin ini di Kamerun sama mungkin masuk level 3 atau 4. Di Indonesia Bio masuk level 1 alias kelas timnas.

Membaca berita Bio Paulin ini, saya teringat orang Tionghoa di Indonesia yang sejak ratusan tahun lalu sudah tinggal di nusantara. Sudah menyatu dengan alam dan manusia Indonesia. Sudah tidak tahu lagi negeri leluhurnya yang bernama Zhongguo alias Tiongkok. Tapi ada orang Tionghoa yang baru diakui sebagai WNI pada usia 60 tahun, 70 tahun, bahkan 80 tahun.

Betapa sulitnya Tionghoa jadi WNI. Betapa mudahnya Bio Paulin dan Gonzales jadi WNI. Betapa panjang dan berlikunya orang Tionghoa mengurus surat jadi WNI. Padahal mereka tak pernah tercatat sebagai warga negara Tiongkok atau negara lain. Lahir di Indonesia, kakek neneknya lahir di Indonesia, tak pernah ke Tiongkok.

Saya juga ingat Susi Susanti, Alan Budikusuma, dan banyak pemain badminton hebat yang mengharumkan nama Indonesia. Susi dan Alan meraih emas olimpiade. Tapi mereka malah dipersulit menjadi WNI. Prosesnya begitu rumit. Sebelum akhirnya dapat status WNI. Orang-orang Tionghoa bahkan harus punya SKBRI. Surat apa pula itu?

Bandingkan prestasi Bio Paulin, Gonzales, atau Victor dengan Susi Susanti, Alan Budikusuma, Hendrawan dsb. Pernahkan pemain-pemain bola naturalisasi ini membawa timnas juara Asia? Juara olimpiade? Lolos ke piala dunia? Juara Asia Tenggara? Ehmm.... Jangankan juara Asia, sampai sekarang timnas Indonesia sulit mengalahkan Malaysia, Singapura, atau Filipina.

Kebijakan negara terhadap Tionghoa di Indonesia memang ruwet sejak tahun-tahun awal kemerdekaan, orde lama, dan paling diskriminatif saat orde baru. Setelah reformasi, kebijakan pewarganegaraan mulai lebih ramah terhadap Tionghoa. Tapi tetap tidak semulus pemain-pemain sepak bola asing itu.
Sent from my BlackBerry

5 comments:

  1. Susi Susanti saat meraih emas Olympiade statusnya masih WNA, jadi emas Olympiade itu punya Indonesia-kah?

    ReplyDelete
  2. Susi Susanti termasuk segelintir orang Indonesia yang mengharumkan negerinya dengan segudang prestasi, termasuk bersama suaminya, Alan Budikusuma, meraih medali emas di Olimpiade Barcelona 1992. Ia mengajukan permohonan tahun 1988, dan baru terbit pada 1996 ketika sedang mengurus pernikahannya. "Itu pun saat beritanya muncul di media massa, baru disahkan," kata Susi, perempuan asal Tasikmalaya, Jawa Barat, itu, seperti yang pernah dimuat di GATRA, 23 April 2004.

    ReplyDelete
    Replies
    1. sangat menarik. susi susanto mempersembahkan medali emas Olimpiade dengan status WNA, bukan warga negara Indonesia. kalau diramaikan bisa2 medali itu dibatalkan oleh IOC.

      Delete
  3. Terima kasih Sdr. Hurek
    Anda ini lebih Tionghoa dibanding kebanyakan orang Tionghoa di Indonesia 😊
    Wong tjilk

    ReplyDelete
  4. Goei Ren Fang memang hebat, ketika masih junior dahulu dia itu juara jatim atau apa gitu

    Ketika masuk pelatnas namanya jadi Alan Budikusuma

    Thank you Ren Fang eh Alan

    ReplyDelete