08 March 2015

Akurasi! Akurasi! Akurasi!

Tante Yuyun, pengurus Kelenteng Eng An Bio, Bangkalan, lagi sebel sama wartawan. Gara-gara dua angka yang dicetak di koran Radar Madura. Saat itu wartawan Radar Madura menulis berita tentang kegiatan kelenteng untuk menyambut dan memeriahkan tahun kambing 2015. Ibu Yuyun Kho ini jadi narasumber.

"Apa beritanya salah? Kan bisa diralat?" saya bertanya.

"Di koran, umur saya ditulis 48 tahun. Itu kan ngawur," tuturnya kepada saya kemarin (7/3/2015).

"Mungkin salah ketik. Tapi isi beritanya kan gak salah," kata saya.

"Tapi itu fatal. Saya bolak-balik ditelepon pengurus dan umat kelenteng. Saya dikira sengaja memudakan umur. Gak mau tua. Lha, wong umur saya di atas 60 kok ditulis 48," ujar wanita Tionghoa asal Salatiga ini gundah.

Tante yang juga seniman pelukis ini mengaku sudah menelepon wartawan tersebut. Marah-marah karena salah umur itu. "Wartawannya ngarang sendiri. Saya nggak pernah bilang umur karena memang nggak ditanya. Gimana sih si wartawan itu?"

Begitu jengkelnya Tante Yuyun, sejak itu dia bertekad tak akan lagi memberikan keterangan kepada wartawan. Ketika wartawan Global Times datang untuk wawancara, bikin liputan tentang Tionghoa di Madura, Yuyun pun ketus. Wartawan itu disuruh pulang. "Nggak ada wawancara," katanya.

Padahal, selama ini Tante Yuyun dikenal sebagai narasumber yang baik. Banyak cerita tentang kegiatan kelenteng berasal dari mulutnya. Sebab, dia menguasai tradisi, budaya, dan religi Tionghoa. Andai Tante Yuyun bungkam, wartawan-wartawan pribumi akan sulit mendapatkan informasi tentang masyarakat Tionghoa di Bangkalan.

"Pokoknya, saya kecewa berat sama wartawan itu. Kelihatannya sepele, tapi saya jadi nggak enak sama umat kelenteng di sini," katanya.

Setelah ngobrol lama, sembari menikmati srikaya madura, saya bisa memahami kekecewaan Tante Yuyun. Kerusakan sudah terjadi. Bisa saja salah cetak itu dikoreksi oleh redaksi. Tapi kalau narasumber sudah telanjur patah arang, betapa sulitnya membangun kembali hubungan baik dengan narasumber. Apalagi narasumber di kalangan Tionghoa yang selama 32 tahun sempat trauma dengan represi rezim Orde Baru.

Ada tiga hal penting yang wajib diperhatikan dalam menulis berita, kata para wartawan senior. Tiga hal itu: akurasi, akurasi, akurasi! Rupanya reporter muda dari pulau garam itu mengabaikan doktrin dasar jurnalisme itu. Dan efek dari ketidakakuratan itu malah melebar ke mana-mana. Bahkan, wartawan-wartawan lain yang tak tahu apa-apa pun kena getahnya.

No comments:

Post a Comment