30 March 2015

Minggu Palma masuk pekan suci

Ekaristi Minggu tadi berbeda dari biasanya. Saya sengaja bawa palem ke gereja. Takut kehabisan seperti tahun lalu. Ternyata kali ini stok daun palem di depan gereja lebih dari cukup. Maka saya pun menukar daun palem yang lebih bagus.

Bagi orang NTT, khususnya Flores, yang mayoritas Katolik, minggu palma ini sangat istimewa. Perarakannya panjang dan lama tapi asyik. Orang-orang desa memang larut dalam devosi dan tradisi gerejawi yang sudah berjalan turun-temurun. Termasuk menyanyikan lagu-lagu khas minggu palma seperti Hormat Puji, Hosana Putera Daud, Anak-anak Hibrani Membawa Ranting-Ranting Zaitun, hingga passio.

Tentu saja ekaristi di kota besar kayak Surabaya ini pun ada lagu-lagu macam itu. Bahkan kualitas kornya jauh lebih bagus daripada paduan suara kampung di pelosok NTT. Cuma tidak ada perarakan, pawai di jalan raya, bawa daun palma, mengenang Yesus masuk kota Yerusalem. Jangankan pawai di jalan raya, sekadar perarakan di halaman gereja pun tak ada.

Namanya juga minoritas. Ekaristi di Jawa Timur memang sangat minimalis. Cukup inti-intinya saja. Perarakan panjang yang bukan inti sengaja ditiadakan karena sikon: situasi dan kondisi. Ini juga yang membuat orang yang bukan Katolik di Jawa hampir tidak tahu tradisi pekan suci, minggu palma, kamis putih, jumat agung, malam paskah, atau rabu abu. Jangankan umat Islam, orang Protestan atau Pentakosta atau Advent di Jawa sangat minim pengetahuannya tentang liturgi Katolik.

Misa minggu palma tahun ini di Paroki Wonokromo (Yohanes Pemandi), Surabaya, terkesan darurat. Gerejanya sedang diperbaiki sehingga umat terpaksa misa di gedung pertemuan. Seadanya. Tak ada tempat berlutut. Anehnya rasanya mengikuti ekaristi tanpa berlutut. Mirip kebaktian orang Kristen Protestan atau Pentakosta saja.

Syukurlah, paduan suaranya cukup semangat dan lumayan bagus. Lagu Yerusalem Lihatlah Rajamu yang terkenal itu dibawakan dengan semangat dan keras. Sayang, tak ada solis buat variasi. Semua bagian disikat kor. Ini mengurangi keindahan dan bobot seni dari lagu lawas yang dimuat di Madah Bakti itu.

Begitu juga ordinarium misa bahasa Latin tanpa variasi solis dan kor. Aneh, padahal setahu saya para dirigen di Keuskupan Surabaya ini sering ditatar komisi liturgi. Sebagai bekas aktivis paduan suara, saya sering merasakan keanehan kor-kor gereja yang kurang memperhatikan detail-detail seperti ini. Belum lagi mazmur tanggapan yang kurang penjiwaan.

Ssttt... Jangan terlalu keras mengkritik kor atau petugas liturgi. Bisa dimarahi ibu-ibu WK atau bapak-bapak di lingkungan. "Kamu gak pernah aktif kok banyak kritik? Kalau cuma kritik, ngomong, semua orang juga bisa," kata Bapak FX suatu ketika.

Selepas misa yang dipimpin Romo Wayan Eka SVD, saya periksa ponsel. Wow, Agnes Rini kirim pesan. "Akhirnya kami sampai di Maumere," tulisnya.

Rini bersama rombongan umat Katolik dari Surabaya memang sudah lama berencana mengikuti pekan suci di Flores. Khususnya Semana Santa di Larantuka, ibukota Kabupaten Flores Timur. Tradisi perarakan di jalan raya saat Jumat Agung sejak zaman Portugis dulu. Perarakan atau prosesi ini kemudian tersebar ke seluruh Flores dan sekitarnya dalam liturgi Katolik.

Inilah yang sering membuat orang Flores di rantau, yang Katoliknya sangat minoritas, sering kesepian karena liturgi gereja dirasa terlalu singkat dan kering. Bahkan perarakan minggu palma ditiadakan karena sikon itu tadi. Cukup mengangkat daun palma di tempat duduk masing-masing sambil membayangkan kita sedang perarakan di jalan raya.

Selamat memasuki pekan suci!


Sent from my BlackBerry

29 March 2015

Pak Dirjen kunjungi SDN Pucukan Sidoarjo



Dulu saya sering blusukan bersama Eyang Thelo (almarhum) ke Pucukan. Kampung tambak paling terpencil di Kabupaten Sidoarjo. Tak ada listrik. Jalan setapak. Tanpa sinyal seluler. Rumah-rumah warga di pematang tambak selalu terendam setiap air pasang.

Saya dan Eyang Thelo (nama aslinya Haryadji Bambang Subagyo) bahkan nyaris hanyut saat jalan kaki di makam umum menuju SDN Gebang 2 alias SDN Pucukan. Air memenuhi ruangan kelas yang berlantai papan. Sudah dibuat tinggi tapi ya tetap saja tergenang kalau lagi pasang plus hujan deras.

Aneh, pikir saya. Kampung Pucukan itu terletak di Kecamatan Sidoarjo Kota, tetangganya Kota Surabaya. Sidoarjo begitu maju, makin modern, penuh perumahan, pabrik, gudang, stadion internasional, tapi Pucukan seperti itu? "Itulah dua sisi kehidupan. Ada yang modern tapi ada juga yang terbelakang. Itulah asyiknya Sidoarjo," kata eyang yang juga penjinak ular.

Kemarin SDN Pucukan dikunjungi beberapa orang penting di Jawa Timur, bahkan nasional. Yakni Dirjen Kebudayaan Kacung Marijan, Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Dr Harun, bersama pejabat-pejabat lain. Mereka jadi terbuka mata melihat kondisi kampung tambak di pesisir timur Kabupaten Sidoarjo itu.

"Di Jatim ini hanya ada dua kabupaten yang punya sekolah terpencil: Kabupaten Sumenep dan Kabupaten Sidoarjo," kata Pak Harun.

Sudah terpencil, hanya bisa dijangkau lewat perahu selama hampir satu jam, tak ada listrik pula. Fasilitas air minum pun terbatas. Jarang ada warga Pucukan yang datang di Sidoarjo atau Surabaya sehingga wawasan mereka sangat terbatas. Mereka asyik dengan dunianya sebagai penjaga tambak atau pencari ikan dan hasil laut di perairan Selat Madura.

Kalau Sumenep punya sekolah/kampung terpencil itu wajar. Sebab banyak pulau kecil yang jauh dari kota Sumenep atau Pulau Madura. Tapi Sidoarjo punya kampung terisolir? Yang jaraknya tak begitu jauh dari Bandara Internasional Juanda?

Pak Dirjen, Kacung Marijan, yang mantan dosen Universitas Airlangga, pun geleng-geleng kepala melihat Pucukan. Lebih-lebih lagi melihat bangunan sekolah yang sudah lama bobrok itu. Ada 16 murid yang terdiri dari empat kelas hanya punya dua ruangan yang layak untuk belajar mengajar. Oh ya, tahun ini SDN Pucukan tak punya murid kelas 2 dan kelas 4.

"Nantinya kita perhatikan," kata Pak Dirjen. Program sarjana mengajar di daerah tertinggal bakal melayani Pucukan yang antik ini.

Baguslah kalau pemerintah pusat dan pemprov mau turun tangan. Tapi sebetulnya Pemkab Sidoarjo sendiri sangat mampu membiayai gedung sekolah, bikin jalan, aliran listrik, jaringan air, dan sebagainya. Sidoarjo itu salah satu kabupaten kaya di Jatim. Di kecamatan kota yang di dekat lingkar timur ada banyak sekali perumahan.

Pengembang-pengembang properti ini bisa dimintai CSR untuk mengembangkan kampung Pucukan dan beberapa dusun terpencil lain. Kita, warga Sidoarjo, akan malu kalau membangun dusun tambak itu harus menunggu bantuan pusat dan provinsi.


Sent from my BlackBerry

27 March 2015

Jokowi dan Wibawa Xi Jinping



Koran-koran pagi ini memuat foto Presiden Indonesia Joko Widodo dan Presiden Tiongkok Xi Jinping di Beijing, Tiongkok. Kedua kepala negara memerksa pasukan Zhongguo bersenjata. Keduanya terlihat berwibawa.

Sayang, retorika bahwa Indonesia menjadi kekuatan baru ekonomi dunia, selain Tiongkok, tidak begitu bergema di sini. Waktu kita habis untuk bahas ISIS, Ahok, kisruh Golkar, KPK vs Polri, harga bensin yang naik turun, dan sebagainya. Makin banyak orang yang ragu dengan kompetensi Jokowi sebagai presiden.

Kayaknya baru kali ini ada presiden RI yang instruksinya tidak dipatuhi Polri. Diminta Jokowi stop kriminalisasi, dua pimpinan KPK malah dijadikan tersangka. Kemudian diberhentikan dari KPK. Hakim praperadilan malah memenangkan Komjen Budi Gunawan. Dan Jokowi, presiden yang instruksinya diabaikan, malah tenang-tenang saja.

"Jokowi ini presiden yang tidak punya wibawa. Omong apa saja gak akan diikuti kalau ngurus KPK vs Polri saja gak bisa," kata seorang pelukis senior di Sidoarjo yang dulu getol kampanye mendukung Jokowi saat pilpres.

Belakangan terjadi kisruh di Bandara Juanda antara PT Angkasa Pura 1 dan TNI Angkatan Laut selaku pemilik lahan bandara, khususnya terminal 2. Sudah dua minggu ini tentara menutup jalan kargo. Layanan pengiriman kargo pun kacau. "Harus diselesaikan di Jakarta," kata beberapa petinggi di kawasan Bandara Juanda.

"Tidak usah ke Jokowi. Percuma! Nanti juga tidak akan ditaati sama mabes TNI AL," kata beberapa orang yang skeptis.

Kisruh ini kemudian ditangani Wapres Jusuf Kalla karena Jokowi ke Tiongkok dan beberapa negara lain. Hasilnya juga sama aja. TNI AL tetap menutup jalan dengan alasan Angkasa Pura melanggar banyak butir perjanjian kerja sama.

Betapa kontrasnya Jokowi di Indonesia dan Xi Jinping di Tiongkok. Tuan Xi ini luar biasa berwibawa di dalam negeri dan membuat gentar hampir semua negara di dunia. Xi Jinping bikin manuver kecil-kecilan yang membuat banyak negara ketakutan. Khususnya negara-negara yang berbatasan langsung dengan Tiongkok.

Xi Jinping juga makin keras membersihkan pejabat-pejabat korup. Tidak ada kompromi kalau sudah menyangkut pencolengan uang negara. Tidak ada pelemahan KPK di Tiongkok. Tidak ada kriminalisasi atau cari-cari perkara untuk menangkap orang yang getol membela korupsi. Tidak ada yang namanya istilah pelaksana tugas kepala kepolisian.

Xi Jinping memang dimusuhi banyak orang, khususnya di luar Tiongkok, tapi dianggap sebagai presiden yang sangat efekti. Hemat bicara, langsung bertindak. Tidak membiarkan sebuah kasus ngambang lamaaa seperti KPK vs Polri di Indonesia.

Mudah-mudahan sepulang dari Tiongkok Presiden Jokowi benar-benar jadi kepala negara plus kepala pemerintahan yang berwibawa. Bukan petugas partai yang sebentar-sebentar minta petunjuk dari mama yang punya partai. Bukan presiden boneka yang cuma jadi mainan partai-partai koalisi.

26 March 2015

Kolom Slamet Abdul Sjukur: Sepeda Motor di Surabaya

Suatu ketika saya meminta Bapak Slamet Abdul Sjukur untuk membahas kemacetan lalu lintas di Kota Surabaya. Beliau langsung menyanggupi. "Saya sudah lama punya uneg-uneg dengan sepeda motor di kampung saya," katanya. Maka, lahirlah tulisan yang kemudian saya muatkan di Radar Surabaya. "Tulisan Mas Slamet bagus, tapi honornya sedikit lho," kata saya. "Nggak masalah. Yang penting, Pemkot Surabaya mau membaca dan bertindak," katanya. Berikut ini tulisan Slamet Abdul Sjukur yang tutup usia pada 23 Maret 2015 lalu.


SEPEDA MOTOR DI SURABAYA

Oleh Slamet Abdul Sjukur


Sepeda motor merupakan kemandirian sarana transportasi. Orang bisa langsung ke tempat yang dituju. Berbeda dari transportasi-umum yang sudah ditetapkan jurusan dan rutenya, sehingga untuk ke tempat tertentu, kita terkadang harus ganti kendaraan beberapa kali.

Sepeda motor lebih dari itu, merupakan simbol kemandirian rakyat untuk mengatasi persoalan yang dihadapinya.

Di Tunisia, sudah lama sekali pemerintahnya membatasi masuknya kendaraan bermotor dengan pajak yang sangat tinggi. Dengan aturan pajak seperti itu, tidak banyak yang punya kemampuan membeli kendaraan. Tapi pemerintahnya yang visioner, dengan pandangan yang jauh ke depan, mengimbanginya dengan kebijaksanaan menyediakan sarana transportasi umum yang memadai: murah, bersih, aman, banyak dan tepat waktu.

Ada sistim kartu-langganan, bisa untuk bulanan, mingguan dan bahkan sekalipun hanya untuk beberapa hari (untuk turis). Sekali anda beli kartu langganan seperti itu, anda boleh naik kendaraan-umum berapakall saja sesuka hati anda tanpa harus bayar lagi. Di tempat-tempat pemberhentian ada jadwal datang dan perginya kendaraan-umum, dan 98% tepat waktu.

Akibatnya, yang terlihat di jalan seringnya lewat kendaraan-umum yang tidak perlu sampai penuh. Juga jarang terjadi kemacetan sekalipun jalan yang untuk kendaraan lebih sempit dari trotoar yang sangat nyaman untuk pejalan kaki.

Itu juga menyiratkan sikap pemerintahnya yang melindungi mayoritas yang lemah, yang tidak punya kendaraan pribadi, dan tidak memanjakan minoritas yang bisa beli kendaraan sendiri.

Di negeri kita, untung ada upaya-swasta yang memungkinkan orang bisa membeli sepeda motor yang harganya terjangkau dan masih boleh membayarnya secara kredit dengan uang muka tidak terlalu mahal. Sehingga rakyat yang sudah biasa “tahan bantingan” pintar memperhitungkan untung-ruginya membeli sepeda motor. Membeli dengan kredit, jauh lebih menguntungkan dan lebih murah dari menunggu lama kendaraan umum yang selalu padat dan sering terpaksa pindah kendaraan jurusan lain.

Itu solusi yang paling rasional bagi mayoritas yang terjepit ekonominya. Dengan dampak sampingan kemacetan lalu-lintas, yang tidak pernah menjadi “pelajaran bermutu” bagi yang bewajib. Kita punya budaya-berpikir mewah, boros dan menyalahkan keadaan. Macet? Lebarkan jalan! Macet lagi? Lebarkan lagi, habis perkara! Biar tidak tabrakan? Nyalakan lampu sepeda motor! …sekalipun kita di negeri yang dikarunia cahaya matahari yang terang benderang, bukan seperti ‘negeri sana’ yang hampir selalu berkabut… Dan masabodoh terhadap masalah pemanasan global dan hemat energi.

Dengan budaya-berpikir seperti itu, dijamin kemacetan akan berlangsung terus sampai kiamat sekalipun seandainya seluruh kota bangunannya dirobohkan semua demi pelebaran jalan.

Sepeda motor juga “simbol anarki” yang mengerikan. Sebagai akibat tidak digubrisnya kebutuhan masyarakat untuk bergerak dengan mudah, nyaman dan aman, maka sudah betul kalau masyarakat cari akal sendiri sebisa-bisanya. Akibat lainnya dari sebab yang sama, ialah masyarakat jadi tidak peduli sama sekali pada apa saja yang bukan untuk kepentingannya sendiri.

Mereka tidak mau tahu bahwa trotoar bukan pelebaran jalan. Mereka sering semena-mena lewat di trotoar yang bukan haknya. Tidak jarang terjadi tabrak lari di trotoar, padahal trotoar dibuat agar pejalan kaki juga punya wilayahnya sendiri untuk mereka, seperti halnya jalan raya khusus untuk kendaraan.

Sepeda motor tidak saja merajai jalan raya dan sering menyusup di trotoar, mereka juga tidak peduli bahwa kampung bukan jalan raya. Tanda-tanda HARAP TURUN yang dipasang di muka kampung, tidak saja dianggap tidak ada, mereka sering tidak segan membunyikan klakson agar pejalan kaki minggir.

Bukan main kesombongan sepeda motor di negeri kita ini termasuk di Surabaya yang baru saja mensyukuri hari-jadinya.

Sikap kesemena-menaan ini persis sama dengan mentalitas koruptor yang menganggap hanya dirinya yang penting dan yang lainnya itu anjing, harus minggir.

Ini menunjukkan sudah demikian parahnya mentalitas bangsa kita. Kalau awalnya rakyat menengadah melihat ketidak becusan yang di atas, sekarang ini anarkisme sudah menular seperti penyakit aids keseluruh tubuh Indonesia yang dengan susah payah, dengan darah dan nyawa kita rebut kembali dari penjajah.

Dulu kita dijajah, oleh bangsa lain, kemudian oleh bangsa sendiri, yaitu mereka yang sebenarnya kita percayai sepenuhnya untuk mengangkat derajat kita sebagai bangsa dan sebagai manusia. Sekarang lebih celaka lagi, kita malah dijajah oleh kita-kita sendiri yang di bawah.

Tapi "tidak perlu sedu sedan", kata Chairil Anwar. Nasib sudah membuat kita menjadi bangsa yang tahan bantingan. Bagi yang sudah biasa tercekik, kesulitan bukan lagi hambatan, justru setiap kesulitan itu merupakan tantangan untuk segera diatasi secara nyata dengan kemampuan kreatif kita. (*)

25 March 2015

Melepas Maestro Slamet Abdul Sjukur



Seakan tidak percaya Slamet Abdul Sjukur sudah kembali ke pangkuan Sang Pencipta. Saya tahu kondisi sang komponis, embahnya guru-guru musik di Indonesia ini, makin memburuk. Tapi beberapa jam sebelumnya saya masih sempat memegang tangan kirinya yang hangat sambil bercakap-cakap. Obrolan ringan campur guyon khas arek Surabaya.

Pak Slamet sempat tertawa kecil (atau senyum lebar) ketika saya guyoni. "Mas Slamet (beliau lebih suka disapa Mas daripada Pak atau Eyang atau Embah atau Mister), selama ini sampeyan sangat sulit ditemui. Sibuk ngajar, bikin komposisi, kasih seminar, ke Jakarta, Jogja, Bandung, luar negeri," begitu umpan pembukaan dari saya.

"Kalaupun ada di Surabaya, Mas Slamet pun tetap sulit dicari. Kadang di Yamaha Music, pindah lagi ke Kilang Music, ngajar di Unesa, diskusi di C20.... dan entah di mana lagi. Tapi sekarang ini Mas Slamet sangat mudah dicari. Cukup datang ke kamar 608 Graha Amerta!" kata saya.

Slamet Abdul Sjukur pun tertawa halus. Pria 80 tahun (kurang tiga bulan) ini kemudian membetulkan posisi badannya di bed. Agak kesakitan. Gema dan Jeanny ikut senyum mendengar gojlokan saya. Bu Marti, anak angkat yang merawat Pak Slamet di Jakarta sejak 1993, ikut senyum. Tapi sejatinya kondisi Slamet Abdul Sjukur makin buruk ketimbang Rabu pekan lalu saat saya besuk.

"Omongannya mulai aneh-aneh sejak Jumat lalu. Perasaan saya gak enak," kata Mbak Marti. Sama. Saya pun merasakan suasana yang demikian. Padahal beliau sudah siap mental untuk operasi tulang paha kanan yang patah yang membuatnya masuk Graha Amerta RSUD dr Soetomo sejak 9 Maret 2015.

Oh, musik piano terdengar lamat-lamat di kamar pasien lantai 6 itu. Komposisi yang belum pernah saya dengarkan. Karya siapa itu? "Bach," jawab Mas Slamet cepat. Rupanya karya-karya piano dari Johan Sebastian Bach itulah yang menemani sang komponis, budayawan, penulis, praktisi astrologi Yijing dari Tiongkok, manusia multidimensi itu hingga akhir hayatnya.

Dalam suasana begini, obrolan dengan pasien tidak bisa fokus dan panjang. Saya lalu bilang di Youtube ada beberapa karya Slamet Abdul Sjukur tapi masih terlalu sedikit untuk dinikmati masyarakat. Kalah banyak dibandingkan seorang pianis dan komponis muda Indonesia yang sangat digandrungi guru-guru piano dan penggemar musik klasik.

"Biar saja orang lain suka publikasi (karyanya) di internet. Saya sih tetap begini saja. Yang penting tetap mengarang," katanya. Slamet mengulang lagi kata-katanya bahwa komposisi yang dia buat berdasar puisi-puisi Nirwan Dewanto belum rampung. Padahal sudah dikerjakan selama 4 tahun.

Slamet Abdul Sjukur itu sangat paham dengan siapa dia bicara. Dengan pianis dia bicara soal karya-karya piano, teknik main, dan sebagainya. Bahas orkestrasi untuk komponis dan arranger. Bahas makanan Jawa yang enak atau telur mata sapi dengan penyuka makanan enak. Dengan wartawan koran dia bertanya soal berita dan perkembangan bisnis media cetak.

"Oplah media cetak bagaimana?" tanya Slamet Abdul Sjukur. Lho, pertanyaan yang kena tapi juga sensitif dari kacamata bisnis. "Naik turun Mas Slamet. Kadang naiknya cepat sekali, lalu turun banyak, naik lagi, dst. Tergantung materi berita yang dimuat," jawab saya singkat.

Slamet juga kaget ketika diberi tahu bahwa majalah Panjebar Semangat dan Jaya Baya, yang berbahasa Jawa, masih terbit di Surabaya. "Oh ya? Saya kira PS sudah gak terbit. Dulu saya pembaca setia PS. Tapi sudah lama saya gak baca," katanya dengan suara halus nyaris berbisik khas SAS.

Obrolan tidak bisa diteruskan karena Pak Slamet harus istirahat. Dia butuh ketenangan menikmati musik Bach sembari menunggu tindakan medis selanjutnya. Saya makin erat memegang tangan kirinya. "Terima kasih Mas Hurek sudah ke sini," katanya perlahan. Tak ada lagi suara selain musik Bach. Saya pulang.

Esok paginya, Selasa 24 Maret 2015, saya baca SMS: Slamet Abdul Sjukur meninggal dunia! Selamat jalan sang maestro! Beristirahatlah dengan tenang bersama sang komponis agung di atas sana!

Saya pun lekas ke Keputran, rumah almarhum Slamet Abdul Sjukur di tengah kampung itu. Ada bendera simbol kematian di gang tak jauh dari masjid. Seorang bapak mengaku sudah dengar kabar kematian Slamet Abdul Sjukur tapi tidak tahu disemayamkan dan dimakamkan di mana. "Gak ada jenazahnya di sini," kata bapak asli Keputran.

Lalu di mana? Beberapa laki-laki dekat masjid pun tak tahu. Bahkan ada yang tak kenal nama Slamet Abdul Sjukur. "Slamet iku sopo," bisik seseorang yang mengira saya tak paham bahasa Jawa.

Saya pun menghubungi Jeanny via ponsel. Tiga kali baru nyambung. Katanya, jenazah disemayamkan di Jalan Pirngadi 3 Bubutan, dekat belokan gereja. Di rumah keluarga dekat almarhum, rumahnya dokter. Suwun, Jeanny.

Benar saja. Begitu banyak pelayat sudah berada di sana. Begitu banyak karangan bunga, termasuk dari Bu Risma, wali kota Surabaya. Gema terus menangis, sangat terpukul dengan kepergian sang maestro. Jeanny hanya termenung di dekat jenazah Slamet Abdul Sjukur bersama keluarga, kerabat, kenalan, murid almarhum.

Saya pun mendekati jenazah Slamet Abdul Sjukur yang ditutupi kain batik. Tak ada lagi musik Bach, tak ada lagi guyonan ringan, tak senyum lebar dari musisi berenggot yang tak henti bekerja hingga tutup usia itu. Visi Slamet Abdul Sjukur sejak 1957, Kujadikan Rakyatku Cinta Musik, harus dilanjutkan!

22 March 2015

Bio Paulin Resmi WNI dan Tionghoa

Berita pendek di koran pagi ini berjudul Bio Paulin Resmi WNI. Sambil menikmati kopi yang gak enak saat hujan rintik, saya senyum sendiri. Betapa cepatnya orang Kamerun itu, pemain Persipura, jadi warga negara Indonesia. Bagi pemain-pemain sepak bola asing, yang merumput di ISL, mengurus surat pindah warga negara justru lebih cepat ketimbang kita, yang asli pribumi Indonesia, mengurus KTP.

Betapa sulitnya mengurus KTP di Surabaya. Maka biasanya para pendatang hanya bisa mendapatkan kipem alias kartu penduduk musiman. Lebih mudah mengurus KTP di Sidoarjo, tetangganya Surabaya. Tapi ya tetap saja harus melalui prosedur yang rada jelimet. Kecuali lewat makelar alias calo!

Bio Paulin menjadi pemain bola kesekian yang dapat tiket WNI. Sebelumnya ada beberapa pemain asing yang jadi WNI macam Gonzales atau Victor Igbonefo. Pemain-pemain naturalisasi ini kemudian memperkuat tim nasional Indonesia di turnamen internasional. Hasilnya? Sama saja. Prestasi timnas kita jalan di tempat. Malah cenderung menurun.

Kalau dibandingkan timnas era 1990an dan 1980an, atau lebih bawah lagi, kayaknya timnas sekarang yang pakai pemain-pemain naturalisasi sejatinya tidak lebih baik. Pemain-pemain bola zaman dulu yang 100 persen pribumi, tanpa naturalisasi, cukup berprestasi di Asia Tenggara. Bahkan nyaris lolos ke Piala Dunia ketika dilatih Om Sinyo Aliandoe.

Setelah jadi WNI, Bio Paulin bilang sangat siap memperkuat timnas Indonesia. Ingin memberikan yang terbaik untuk Indonesia. "Saya bangga kalau bisa memperkuat timnas Indonesia," katanya dikutip koran.

Bio Paulin jelas mustahil memperkuat timnas Kamerun. Mereka punya segudang pemain top yang bermain di klub-klub elite Eropa. Pemain macam Bio Paulin ini di Kamerun sama mungkin masuk level 3 atau 4. Di Indonesia Bio masuk level 1 alias kelas timnas.

Membaca berita Bio Paulin ini, saya teringat orang Tionghoa di Indonesia yang sejak ratusan tahun lalu sudah tinggal di nusantara. Sudah menyatu dengan alam dan manusia Indonesia. Sudah tidak tahu lagi negeri leluhurnya yang bernama Zhongguo alias Tiongkok. Tapi ada orang Tionghoa yang baru diakui sebagai WNI pada usia 60 tahun, 70 tahun, bahkan 80 tahun.

Betapa sulitnya Tionghoa jadi WNI. Betapa mudahnya Bio Paulin dan Gonzales jadi WNI. Betapa panjang dan berlikunya orang Tionghoa mengurus surat jadi WNI. Padahal mereka tak pernah tercatat sebagai warga negara Tiongkok atau negara lain. Lahir di Indonesia, kakek neneknya lahir di Indonesia, tak pernah ke Tiongkok.

Saya juga ingat Susi Susanti, Alan Budikusuma, dan banyak pemain badminton hebat yang mengharumkan nama Indonesia. Susi dan Alan meraih emas olimpiade. Tapi mereka malah dipersulit menjadi WNI. Prosesnya begitu rumit. Sebelum akhirnya dapat status WNI. Orang-orang Tionghoa bahkan harus punya SKBRI. Surat apa pula itu?

Bandingkan prestasi Bio Paulin, Gonzales, atau Victor dengan Susi Susanti, Alan Budikusuma, Hendrawan dsb. Pernahkan pemain-pemain bola naturalisasi ini membawa timnas juara Asia? Juara olimpiade? Lolos ke piala dunia? Juara Asia Tenggara? Ehmm.... Jangankan juara Asia, sampai sekarang timnas Indonesia sulit mengalahkan Malaysia, Singapura, atau Filipina.

Kebijakan negara terhadap Tionghoa di Indonesia memang ruwet sejak tahun-tahun awal kemerdekaan, orde lama, dan paling diskriminatif saat orde baru. Setelah reformasi, kebijakan pewarganegaraan mulai lebih ramah terhadap Tionghoa. Tapi tetap tidak semulus pemain-pemain sepak bola asing itu.
Sent from my BlackBerry

21 March 2015

Pengungsi Sudan di Sidoarjo



Namanya Mohammed Muchtar, asli Sudan. Namun, pria 30 tahun ini biasa dipanggil Mister Black. Maklum, kulitnya hitam legam layaknya orang Afrika. Bukannya marah, Muchtar malah senang disapa si Hitam alias Mr Black. "No problem. Saya memang hitam," ujar Muchtar saat berbincang dengan saya di sebuah warung di Puspa Agro, Jemundo, Kecamatan Taman, Sidoarjo kemarin.

"Orang hitam, putih, kuning, merah... sama saja di hadapan Tuhan. Kenapa kita harus marah dipanggil si Hitam?" katanya.

Saat ini Muchtar bersama 16 warga negara Sudan menjadi penghuni Rumah Susun Sewa (Rusunawa) Puspa Agro. Tak ada yang dikerjakan selain memasak, jalan-jalan di kompleks Puspa Agro, menonton televisi, khususnya siaran langsung sepak bola, dan menunaikan ibadah salat di masjid atau kamar masing-masing. Mr Black ini ternyata penggemar berat sepak bola Eropa. Dia hafal hampir semua pemain Afrika yang merumput di Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, atau Liga Prancis.

"Saya suka Samuel Etoo dan Didier Drogba. Tapi sekarang keduanya sudah tidak lincah lagi karena sudah tua," katanya seraya tersenyum. Dia juga mengaku mengetahui informasi kedatangan tim nasional Kamerun ke Sidoarjo pekan depan. Timnas Kamerun ini bakal berlaga melawan timnas Indonesia. "Mungkin saya nanti nonton di TV saja. Soalnya, kami nggak bisa keluar dari Puspa Agro. Saya juga tidak punya uang," katanya lantas tertawa kecil.

Muchtar mengaku heran karena selama ini pengunjung dan pedagang di Puspa Agro selalu menganggap dirinya warga negara Somalia. Padahal, letak kedua negara ini cukup jauh. Bahasa yang digunakan pun tidak sama. "Kami di Sudan pakai bahasa Arab, sedangkan orang Somalia punya bahasa nasional sendiri. Ada juga bahasa-bahasa lokal di Somalia."

Hanya saja, dia mengakui postur tubuh dan warna kulit mereka sama-sama hitam legam. Mereka juga sehari-hari lebih banyak makan jagung, bukan roti atau nasi. "Tapi saya sudah biasa makan nasi setelah berada di tempat pengungsian di Indonesia," katanya.

Berbeda dengan imigran pengungsi asal Vietnam atau Myanmar yang biasa nunut kapal-kapal kecil, Muchtar mengaku menggunakan pesawat terbang dari Sudan ke Asia Tenggara. Situasi politik dan keamanan yang tak menentu di negaranya, perang saudara berkepanjangan, membuat nyawanya
terancam. Maka, dia pun nekat pergi meninggalkan istri dan anak semata wayangnya. "Saya ingin mencari kehidupan yang lebih baik di Amerika Serikat atau Kanada," katanya.

Muchtar dan kawan-kawan menganggap Indonesia sebagai negara transit yang paling ideal menuju ke negeri impian di Amerika Utara itu. Tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, rombongan asal Sudan ini langsung digiring ke posko karantina imigran di kawasan Bogor. Tiga bulan di sana, mereka dikirim ke Tanjungpinang, Kepulauan Riau. "Satu tahun kami tinggal di Tanjungpinang sebelum dikirim ke Puspa Agro, Sidoarjo."

Dibandingkan tempat penampungan pengungsi di Tanjungpinang, Muchtar menilai kamar kosnya di Puspa Agro jauh lebih nyaman. Ada televisi, dapur, tempat tidur, lengkap layaknya di sebuah hotel melati. Mereka juga mendapat jatah bulanan dari IOM untuk membeli makanan, sabun, dan sebagainya. "Tapi tidak ada kejelasan kapan kami dikirim ke Kanada atau USA. Saya hanya bisa berdoa, minta kepada Allah, agar diberikan jalan yang terbaik," ujarnya perlahan.

Selama setahun lebih menjadi pengungsi di Indonesia, Muchtar mengagumi Indonesia sebagai negara yang aman, damai, dan harmonis. Begitu banyak perbedaan di Indonesia seperti warga Papua yang fisiknya sedikit banyak mirip Sudan, warga Riau atau Sumatera yang budayanya berbeda dengan Jawa Timur, atau Bali yang mayoritas beragama Hindu, tapi bisa hidup bersama dengan rukun. Sebaliknya, di negaranya, Sudan, terjadi perang saudara berkepanjangan meski sama-sama muslim, sama-sama kulit hitam, sama-sama makan jagung.

19 March 2015

Golkar, PPP, dan Akal Sehat Menkumham

Setiap malam kita melihat diskusi ata debat panas di tvOne soal Partai Golkar. Golkar versi Munas Bali memanfaatkan televisi milik ARB itu, yang juga ketua DPP Golkar versi Bali, untuk menyerang DPP Golkar versi Ancol yang dipimpin Agung Laksono. Suasana makin panas karena Yorrys dari kubu Ancol menangkis tudingan kubu ARB.

Bukan main si Yorrys ini. Jago debat dan jago berkelahi. Ngabalin yang biasanya jago koar-koar pun disikat si Yorrys di televisi. Tontonan yang lucu tapi menyebalkan buat rakyat Indonesia yang sedang susah karena harga-harga lagi naik. Termasuk harga beras yang naik tajam. Politisinya eker-ekeran cari posisi.

Kubu ARB tentu marah-marah sama Menkumham Yasonna Laoly asal Pulau Nias itu. Gugat sana sini, bahkan lapor ke mabes polri segala. "Menkumham itu bukannya membuat keputusan hukum tapi keputusan politis," kata ARB gusar. "Menkumham ini harus dievaluasi sama presiden. Malu dong kalau kalah dua kali di PTUN," kata Yusril, pengacara kubu ARB.

Begitulah. Hujatan demi hujatan juga dilancarkan pengurus pusat PPP versi muktamar Jakarta kepada menkumham. Sebab menkumham dinilai tergesa-gesa, dan ngawur, mengakui kubu muktamar Surabaya yang dipimpin Romi. Menkumham dianggap menyalahgunakan kekuasaan.

"Bagaimana pendapat Anda?" tanya seorang bapak di sebuah warung kopi di Pondok Mutiara Sidoarjo. "Golkar dan PPP kok dibuat kisruh seperti ini?"

Yang buat kisruh itu siapa? Yang bikin dua munas atau muktamar itu siapa? Yang bikin pengurus tandingan itu siapa? Apa menkumham? Saya balik bertanya. Orang Golkar dan PPP sendiri yang jadi biang kerok kekisruhan ini. Coba kalau munasnya tenang, sama-sama, kompak, solid... tentu menkumham tidak dibuat makan buah simalakama macam ini?

Makanya jangan salahkan menkumham atau pemerintah. Salahkan Golkar sendiri. Salahkah PPP. Kenapa kok mau pecah? Kenapa bikin dua muktamar? Bikin dua DPP? Kok menteri yang disalahkan.

Bapak asal Surabaya yang sudah karatan di Sidoarjo itu menyimak analisis politik saya yang enteng-entengan kelas warung kopi jalanan ini. Dulu ada pepatah bersatu kita teguh bercerai kita runtuh! Kalau partainya tidak bersatu, suka eker-ekeran, ya tidak akan bisa teguh. Bakal gembos.

Sang menteri yang juga politisi, Yasonna, sebetulnya hanya memanfaatkan bola liar yang diumpan sendiri oleh orang Golkar dan PPP. Ibarat main sepak bola, blunder itu begitu nyata. Kiper sudah salah posisi, gawang kosong, tinggal diceploskan sedikit saja dan... goool! Menteri Yasonna hanya tinggal smash bola tanggung lawan yang ngawur. Siapa pun menterinya saya yakin akan melakukan langkah yang sama dengan Yasonna.

Adalah sangat bodoh kalau menkumham memilih mengakui Golkar versi Bali yang jelas-jelas pimpinan koalisi merah putih yang oposan. Atau mengakui kubu muktamar PPP Jakarta yang juga anggota KMP. Menkumham tentu memilih pengurus partai yang jelas-jelas mendukung pemerintah. Akal sehatnya memang begitu.

Bagaimana kalau menkumham kalah di pengadilan? Gak masalah. Yang jelas, PPP dan Golkar sudah tidak lagi sesolid dulu. KMP juga tidak akan segalak dulu. Pelajaran moral: bersatu kita teguh, bercerai kita jadi mainan menkumham!

18 March 2015

Slamet Abdul Sjukur Dirawat di Graha Amerta



Pagi tadi, 18 Maret 2015, saya membesuk Pak Slamet Abdul Sjukur (SAS) di Karangmenjangan alias RSUD dr Soetomo Surabaya. Sang maestro musik klasik dan kontemporer Indonesia ini tergolek lemah di Graha Amerta kamar 608. Syukurlah, saya dapat informasi dari Gema, pianis dan komponis muda, muridnya SAS, meski telat seminggu lebih.

Pak Slamet yang 30 Juni nanti genap 80 tahun terjatuh di rumahnya. Sendirian. Tulang di pangkal pahanya tergeser. Beliau berusaha merangkak selama dua jam untuk menjangkau HP-nya. Agar bisa mengabarkan kondisinya yang tak berdaya. Syukurlah, SAS ditolong oleh beberapa muridnya dan segera dibawa ke Karangmenjangan. Selalu ada mukjizat di tengah ketidakberdayaan.

Sang maestro asli Surabaya ini selalu antusias, penuh gairah, kaya humor cerdas, tak pernah berhenti mengajar. Itulah yang membuat dia terlihat kuat di usia 80 tahun. Suka guyon sama murid-murid pianonya di Surabaya. Itu juga yang saya rasakan pagi tadi, jam 10an. Pak Slamet tersenyum menyapa saya. Seakan tak merasakan sakitnya kaki kanan yang teramat sangat itu.

Ada sekitar delapan orang di kamar 608 yang mirip hotel itu. Keluarga dekat, keponakan Pak Slamet. Saat saya guyon sama Pak Slamet, sambil pegang tangan kirinya, mereka ikut tertawa. "Saya belum lama ini membaca Virus Setan," kata saya.

"Oh ya! Itu buku sudah lama banget. Saya sendiri tahunya setelah jadi buku," kata SAS tentang buku kumpulan artikelnya yang disunting Mas Erie itu.

Buku kecil ini banyak humor dan kritikan SAS tentang musik, pendidikan, sosial budaya, hingga perilaku orang Indonesia. SAS dari dulu melawan arus, anti mainstream, dengan menyebarkan apa yang selalu dia sebut sebagai virus setan. Bahan-bahan di buku itu saya jadikan pemancing guyonan dengan SAS. Biar gak suntuk di rumah sakit meskipun mewah.

"Saya lagi bikin komposisi dari puisi-puisi Nirwan Dewanto. Sudah empat tahun tapi gak jadi-jadi," katanya dengan suara halus nyaris berbisik.

"Dari dulu saya memang begitu. Gak bisa mengarang cepat. Soalnya saya harus mengajar di mana-mana. Cari duit," SAS menambahkan. Beliau sudah sering bilang begitu.

Yang saya salut adalah SAS tetap asyik diajak bicara apa saja, khususnya musik, meskipun kaki kanannya dalam keadaan terkancing. Guyonannya pun tetap enak. Tiba-tiba datang pembesuk lain, pasutri pemilik sekolah musik Kilang Surabaya yang terkenal itu. Bawa roti dan makanan kesukaan SAS. Saya lihat SAS senyum gembira.

Kemudian muncul Gema. Murid kesayangan SAS ini membawa naskah artikel musik untuk dibaca SAS. SAS memberikan koreksi dan masukan seperlunya. "Gema ini salah satu murid yang saya harapkan bisa melanjutkan PMS," katanya kepada saya. PMS tak lain Pertemuan Musik Surabaya yang didirikan SAS tahun 1957. Setiap bulan ada kuliah bersama tentang musik, diskusi, apresiasi musik, nonton bareng film musik.

Obrolan plus guyonan terhenti saat seorang pria berbadan subur masuk. Petugas fisioterapis dari RSUD. Mas itu mirip tukang urut sangkal putung tapi lebih ilmiah. Ada ilmu soal otot, tulang, dsb. SAS tak bisa guyon lagi. Aduh, aduh... Beberapa kali SAS menjerit ketika latihan menggerakkan tulang dan otot. Sekitar 40 menit Pak Slamet dikerjain Mas Fisioterapis.

"Mungkin saya di sini sampai dua minggu lagi. Gak bisa lama-lama. Saya gak punya uang," katanya ketika saya pamitan.

Bagaimana kalau belum sembuh? "Kita bawa ke sangkal putung di Semarang," jawab salah satu kerabat sang maestro.

Kita doakan semoga Pak SAS cepat sembuh agar PMS bisa ciamik lagi.

PMS tanpa SAS pasti bukan PMS!

15 March 2015

Ivana Supit Alumnus Heilongjiang



Sejak reformasi ribuan pelajar Indonesia berbondong-bondong ke Tiongkok untuk kuliah tingkat diploma, S-1, S-2, hingga S-3. Biasanya mahasiswa Indonesia itu belajar di provinsi-provinsi bagian selatan seperti Xiamen, Guangzhou, Chongqing, atau Beijing dan sekitarnya. Jarang ada mahasiswa yang memilih kuliah di Provinsi Heilongjian yang berbatasan dengan Rusia.

Salah satu dari sedikit orang Indonesia yang nekat kuliah di Provinsi Heilongjiang, Tiongkok, adalah Ivana Supit, 25. Saat ini Ivana menjadi koordinator guru bahasa Mandarin di Anugerah School Sidoarjo. "Saya dan seorang teman dari Surabaya menjadi mahasiswa asal Indonesia pertama di Heilongjiang University. Benar-benar pengalaman yang berkesan karena kami tidak punya senior dari Indonesia yang bisa berbagi pengalaman atau membimbing," kata Ivana Supit pekan lalu.

Gadis kelahiran Jayapura, Papua, 30 Agustus 1989, ini sejak SMA mengaku sangat tertarik belajar bahasa dan budaya Tionghoa. Kedua orang tuanya berdarah Manado, tak ada darah Tionghoa. Nah, begitu mendengar informasi ada beasiswa ke negeri Tiongkok, Ivana pun coba-coba melamar. "Puji Tuhan, ternyata saya diterima," tutur gadis yang murah senyum itu.

Disponsori paguyuban pengusaha Tionghoa Indonesia, Ivana dan sekitar 20 mahasiswa asal Jawa Timur itu awalnya kuliah di Huaqiao University di Kota Xiamen, Provinsi Fujian alias Hokkian. Provinsi di selatan Tiongkok ini dikenal sebagai tempat asal leluhur warga Tionghoa di Indonesia. Sehingga, Ivana dkk tak kesulitan menemukan mahasiswa dan warga Indonesia di sana.

"Saya dan teman-teman mempelajari bahasa Mandarin. Tujuan kami memang jadi laoshi (guru) bahasa Mandarin kalau nanti kembali ke Indonesia," katanya.

Meski sudah diberi sedikit pelajaran Mandarin di tanah air, Ivana mengaku tak mudah mengikuti bahasa Mandarin ala native speaker di Xiamen. Mereka ibaratnya harus belajar lagi dari nol. Mulai dari membedakan nada-nadanya yang aneh hingga aksara hanzhi yang ruwet itu. Tapi, berkat dispilin keras, Ivana berhasil lulus dengan nilai memuaskan.

"Bahasa Mandarin itu awalnya memang sangat sulit. Tapi lama-lama jadi terbiasa dan mudah," katanya.

Lulus dari Xiamen University, sebagian besar teman Ivana kembali ke tanah air. Jadi guru bahasa Mandarin, membantu bisnis orang tua, atau merintis bisnis baru. Ivana yang semakin enjoy dengan bahasa Mandarin tak ingin segera kembali ke Sidoarjo meski orang tuanya kangen. "Sebab, ada program beasiswa ke Heilongjian University," kenangnya.

Lagi-lagi gadis yang piawai membuat kerajinan ini mencoba bersaing mendapatkan beasiswa ke provinsi yang sangat jarang didatangi orang Indonesia itu. Betapa girangnya Ivana setelah dirinya dinyatakan berhak menerima beasiswa ke Heilongjian University alias Heilongjiang Daxue di Kota Harbin.

"Jadi, saya kuliah di Tiongkok dari Xiamen hingga S-2 di Heilongjiang University ini pakai beasiswa. Kalau harus bayar sendiri, wah, banyak banget biayanya," ujarnya seraya tersenyum.

Karena sudah pernah kuliah selama empat tahun di Xiamen University, Provinsi Fujian, Ivana mengaku tidak begitu kesulitan mengikuti perkuliahan di kawasan timur laut Tiongkok itu. Dia dan seorang temannya bisa berkomunikasi dalam bahasa Mandarin yang memang sudah cukup dikuasainya. "Yang berat itu adaptasi dengan cuaca yang ekstrem dingin," katanya.

Asal tahu saja, suhu di Heilongjiang selalu di bawah titik beku air. Ivana menyebut temperatur di kota tempat dia kuliah, Harbin, berkisar antara 10 sampai 35 derajat Celcius. Karena itu, provinsi itu setiap tahun selalu mengadakan festival es terbesar di dunia. Para seniman membuat aneka macam patung yang menarik dari bongkahan es yang terhampar luas di kota itu.

"Buat kita di Sidoarjo yang suhunya panas (24-27 derajat), suhu sampai minus 35 derajat itu benar-benar ekstrem," katanya.

Meski begitu, Ivana tak menyerah begitu saja. Dia bertekad menyelesaikan kuliahnya di Heilongjiang Daxue tepat waktu, dengan nilai yang tinggi. Ini penting agar beasiswanya tidak dicabut. "Syukurlah, saya akhirnya lulus dan kembali ke Sidoarjo," katanya.

Di Sidoarjo, Ivana tak lagi berhadapan dengan orang-orang Zhongguo (baca: Cungkuo) yang bahasanya sangat sukar itu. Kini dia dipercaya untuk menjadi laoshi di Anugerah School. Dengan telaten dia memperkenalkan kata-kata sederhana bahasa Mandarin kepada murid-muridnya dengan logat yang fasih layaknya nona dari Beijing. "Saya mau belajar lagi di Tiongkok kalau ada kesempatan. Belajar di Tiongkok itu sangat menyenangkan," katanya. (*)

Tiket Indonesia vs Kamerun di Kemahalan

Laga persahabatan tim nasional Indonesia vs Kamerun digelar di Stadion Gelora Delta Sidoarjo pada 25 Maret 2015. Mahalnya tiket yang dipatok badan tim nasional (BTN) membuat para penggemar sepak bola di Sidoarjo, Surabaya, dan sekitarnya menjerit.

"Kalau tiket termurahnya saja Rp 100 ribu, ya, sulit mendatangkan penonton di Sidoarjo. Suporter sepak bola di Sidoarjo itu bukan kalangan yang berduit. Wong banyak yang belum punya pekerjaan," kata Teguh, pendukung Deltras di Sidoarjo.

Seperti dirilis PSSI, tiket termurah Rp 100 ribu itu untuk penonton di tribun utara dan selatan yang membelakangi penjaga gawang. Tribun barat Rp 300 ribu. Tribun timur Rp 150 ribu. Adapun harga tanda masuk VIP Rp 500 ribu.

Menurut Teguh, para suporter bola di Sidoarjo dan kota-kota lain di Indonesia umumnya hanya mampu membeli tiket paling mahal Rp 50 ribu. Di Sidoarjo sekitar Rp 30 ribu. Itu pun sering kali para suporter masih meminta diskon lewat pengurus paguyuban suporter masing-masing. 

"Timnas Kamerun memang kualitasnya di atas rata-rata. Tapi Kamerun bukan Barcelona atau Real Madrid yang dihuni pemain-pemain bintang. Makanya, tiketnya tidak boleh terlalu mahal," katanya.

Wahyu Setiawan juga menilai tiket laga persahabatan timnas di Gelora Delta ini juga tidak realistis. PSSI dianggap kurang mempertimbangkan kemampuan para penonton sepak bola yang rata-rata kalangan menengah ke bawah. "HTM di tribun barat Rp 300 ribu itu jelas kemahalan. Begitu juga di tribun timur Rp 150 ribu pun nggak bisa dibilang murah untuk pertandingan uji coba," kata pria asal Buduran ini.

Jika harga tanda masuk tidak diturunkan, Wahyu yakin para penggemar sepak bola lebih memilih menonton siaran langsung di televisi ketimbang ramai-ramai datang ke stadion. Toh, biasanya semua pertandingan timnas disiarkan di televisi. "Di satu sisi kita senang karena timnas main di Sidoarjo, tapi di sisi lain kita juga susah karena tiketnya terlalu mahal," katanya.

Senada dengan suporter lain, Saiful Baqirok dari Deltamania juga memprotes keras kebijakan PSSI yang menjual tiket pertandingan uji coba timnas dengan harga selangit. Dia tidak yakin penggemar bola di Sidoarjo datang ke stadion. "Ini kan cuma uji coba aja. Jadi, tiket kelas ekonomi pantasnya Rp 30 ribu dan VIP Rp 150 ribu," paparnya.

Sebagai pentolan Deltamania yang selalu mengikuti perilaku penonton di Sidoarjo selama belasan tahun, Saiful mengaku sangat memahamai daya beli penonton sepak bola. Ketika tiket atau HTM dijual mahal, otomatis stadion jadi sepi. "Masak pertandingan uji coba lawan Kamerun dijual semahal itu," katanya. (*)

Wartawan balita tanpa indepth reporting

Teknologi informasi, internet, gawai (gadget), membuat kita semua dipaksa berlari. Cepat cepat cepat! Tak ada lagi waktu untuk membaca buku tebal, novel berat, refleksi, menimbang sana sini sebelum melepasnya ke publik. Ungkapan alon-alon waton kelakon kayaknya tidak cocok lagi di era media sosial ini.

Wartawan-wartawan lawas pun sudah lama gundah dengan perubahan ini. Ada yang bisa adaptasi, tapi banyak juga yang gagap. Kalau dulu pekerja media atau wartawan bisa bertahan lama, bahkan sampai pensiun, sekarang cepat sekali datang dan pergi. Belum tiga bulan, Mas Rona sudah cabut kerja di tempat lain. Mas Bram entah kerja di mana meski belum enam bulan di surat kabar.

"Sekarang ini semua wartawan saya (reporter) adalah wartawan balita. Bahkan, batita," kata seorang pemimpin redaksi koran kecil. Wartawan balita maksudnya wartawan yang masa kerjanya di bawah lima tahun. Batita: di bawah tiga tahun.

Lalu apa yang bisa diharap dari balita dan batita? Sulit, katanya. Wong menulis berita sederhana saja gak becus. Belum bisa membedakan kata depan di dan awalan di. Masih suka copy paste (copas) online, kebiasaan buruk yang terbawa sejak mahasiswa dulu. Sulit membuat indepth news kalau wawasan, logika, dan passion kerjanya gitu-gitu aja.

Saya baca di Kompas hari ini, 15 Maret 2015, Bayu Widagdo, wakil pemimpin redaksi Bisnis Indonesia, koran terkenal di Jakarta, mengeluhkan wartawan-wartawan muda yang tidak mampu membuat berita-berita mendalam dan komprehensif. Beritanya selalu pendek-pendek, alur cerita loncat-loncat, tata bahasa masih sekelas SMP atau SMA. Padahal, media cetak dituntut menampilkan informasi yang mendalam.

Saat ini para batita itu juga kebanyakan sulit naik status ke balita. Kenapa? Cabut kerja di tempat lain. Muncul lagi muka-muka baru yang ingin merasakan petualangan di dunia jurnalistik. Kadang belum sampai setahun sudah cabut lagi. Kayak Mas Rona atau Bram tadi. Datang lagi muka baru.

Mas Bayu sendiri kaget ketika kembali ke kantor pusat Bisnis Indonesia di Jakarta setelah bertugas di Jateng selama empat tahun. Wartawan-wartawan di newsroom yang dipimpinnya hampir semuanya orang baru alias balita yang tak pernah dia kenal sebelumnya. Suasana guyub, akrab kayak keluarga, sudah tak lagi terasa.

Di televisi pun begitu. Bahkan lebih terasa karena masyarakat biasanya sangat familier dengan wajah presenter. Mbak C yang cakep yang dulu reporter lapangan di Surabaya naik status jadi presenter terkenal di televisi X. Kemudian muncul di televisi Y. Lama menghilang, si C kemarin saya lihat di televisi Z.

Wow, zaman yang bergegas. Betapa cepatnya perubahan itu.

14 March 2015

Ingrid Fernandez bangkitkan memori NTT di rantau



Saya tidak menyangka bahwa tulisan ringan di blog ini tentang beberapa artis lokal dari Nusa Tenggara Timur (NTT) mendapat respons yang luas. Ada yang menulis komentar, bertanya ini itu, minta kasetnya, atau merepublikasi di media lain.

Kemarin ada lagi orang NTT yang menulis komentar di artikel berjudul Ingrid Fernandez Penyanyi Legendaris NTT. Artikel lamaaa banget yang saya tulis pada 18 Februari 2008 di Kota Malang. Saat itu saya mampir ke lapak kaset-kaset bekas di luar Stadion Gajayana yang terkenal itu. Secara tak sengaja ketemu kaset Ingris Fernandez.

Ternyata tidak bisa diputar karena pitanya sudah mbulet tak karuan. Tapi sampul album Putus Cinta itu menambah referensi saya tentang artis lokal asal Larantuka, Flores Timur, yang sangat terkenal itu. Oh, Ingris ternyata pernah bikin album pop dengan garapan musik Bartje van Houten, gitaris grup The Lloyd yang juga sangat beken di masanya. Selama ini orang NTT macam saya hanya tahu kalau Ingrid itu spesialis membawakan lagu-lagu daerah dan pop NTT. Album paling terkenal tentulah Flobamora bersama De Rozen Group.

Ingrid Fernandez muncul ketika NTT masih jauh dari maju. Elektrifikasi sangat rendah. Saya masih ingat Lewoleba yang sekarang ibu kota Kabupaten Lembata pun belum ada listrik PLN. Suasananya mirip desa-desa pelosok di NTT. Nah, karena tak ada listrik, sulit menghidupkan yang namanya tape recorder. Kalau tidak pakai aki ya baterai. Sudah pasti tidak bisa tahan lama.

Maka, orang-orang kampung hanya bisa mendengar lagu-lagu dari tape recorder yang sangat langka itu. Kaset-kaset pun terbatas. Karena itu, suara Ingrid Fernandez benar-benar nempel di kepala masyarakat. Ingrid ini bahkan jauh lebih populer ketimbang penyanyi pop paling terkenal di Jakarta.

Kini, setelah listrik sudah masuk kampung, televisi masuk rumah, parabola ada di mana-mana, memori bersama macam era Ingrid ini tak ada lagi. Album pop daerah di NTT jadi lebih beragam. Tiap daerah punya artis dan album sendiri. Bahkan, dalam satu kabupaten pun ada artis-artis lokal yang bikin album. Masa ketika Ingrid membawakan lagu-lagu daerah NTT dari semua kabupaten tak ada lagi.

Karena itu, orang-orang NTT yang mengalami masa remaja pada era 1980an dan 1990an punya kenangan mendalam sama Bu Ingrid yang bersuara merdu plus vibrasi halus itu. Banyak yang berselancar di Google untuk bernostalgia. Dan ketemulah tulisan saya yang dipicu oleh pengalaman membeli kaset bekas di Malang itu.

Nanik yang tinggal di Seattle, USA, menulis komentar:

"Waktu beta masih SD suka pi nonton lomba Pop Singer di halaman RRI
Kupang, Juaranya selalu Ingrid Fernandez, lalu baiko deng Emmy
Saherian juara 2 (sekarang pendeta di Kupang) itu sekitar taon 73/74.
Waktu itu Ing masih SMA di Giovanni. Suara mereka berdua2 memang bagus."

Minggu lalu ada komentar dari orang NTT yang juga di rantau:

"Saya remaja STM di Kupang persis dengan Inrid Fernandez sangat
populer. Sampai sekarang suara Ingrid Fernandez masih mengiang dalam ingatanku. Lagu memang alat paling efektif untuk memutar kembali
memori ketika zaman remaja akhir 70-an hingga 80-an di Kupang.

Lagu-lagu Ingrid Fernandez adalah alat ampuh bagi saya untuk mengenang masa lalu di NTT. Ingrid Fernandez adalah sosok yang membuat aku bisa merasa dekat dengaan tanah kelahiranku NTT. Tentu saja saya sangat rindu kabar tentang Ingrid dan semoga sesewaktu bisa menyaksikan lagi Ingrid menyanyi, terutama lagu FLOBAMORA yang sangat khas dari pita suara Ingrid. Salam...!"

13 March 2015

Yuk Sidoarjo 1995 Jadi Juragan Kue



Dancing, modeling, culinary. Tiga hal ini sulit dipisahkan dari Afrisia Syarah Devi. Pemegang gelar Yuk Sidoarjo 1995 ini bahkan menjadikan tiga hobi sejak masa kecilnya ini menjadi sumber nafkahnya.

"Sekarang ini saya lebih berat di kulinernya. Saya itu memang hobi memasak sejak kecil. Alhamdulillah, banyak orang yang memesan kue dan masakan saya," ujar Devi, sapaan akrab Afrisia Syarah Devi.

Gara-gara sangat serius di dunia kuliner, wanita berdarah Aceh ini aktif di komunitas Kuliner Sidoarjo. Nama bekennya Devi Klappie. Sebab, sang mantan duta wisata Kabupaten Sidoarjo ini gencar mengunggah foto-foto kue buatannya di media sosial.

"Kuliner Sidoarjo ini punya member seribu orang lebih. Kami juga aktif mengadakan acara kopi darat sesama bakul kuliner," ujar wanita 36 tahun ini seraya tersenyum.

Lantas, bagaimana dengan sanggar tari miliknya di Gedangan? "Tetap jalan. Murid-murid saya juga masih banyak. Tapi aktivitasnya tidak sepadat beberapa tahun lalu," ujar Devi yang membuka kelas tari di pendapa Kecamatan Gedangan.

Kalau dulu Devi lebih sibuk melatih tari untuk anak-anak, sekarang justru banyak orang dewasa yang memintanya memberikan les privat. Beberapa istri pejabat dan pengusaha pun memanfaatkan jasa Devi. Salah satunya istri seorang pimpinan badan usaha milik negara (BUMN). Setelah sang nyonya itu merasa sudah piawai berlenggak-lenggok, sang istri pejabat tampil di sebuah acara kesenian di Jakarta.

"Ibu itu bahagia banget bisa menari di depan banyak tamu. Saya pun ikut senang," tutur penggemar musik rock ini.

Sejumlah sekolah, instansi pemerintah dan swasta, bahkan rumah sakit tak ketinggalan memanfaatkan jasa Yuk Devi sebagai instruktur tari. Segala macam tarian, mulai tradisional, modern, kreasi baru, dilayani Devi. Itu sebabnya, mobilitas ibu tiga anak ini sangat tinggi. Dan itu bisa dipantau via akun media sosialnya.

"Kalau mau order kue ya bisa lewat BBM atau Facebook," katanya seraya tersenyum.

Bagaimana dengan modeling? Yuk Devi belum lama ini bahkan masih sempat mengisi perayaan ulang tahun SBO TV di Graha Pena, Surabaya, bersama beberapa model senior. Tentu saja Dewi yang makin religius ini tidak lagi bebas memeragakan sembarang busana, tapi khusus busana muslim. "Itu cuma acara kangen-kangenan aja. Spontan," kata wanita kelahiran 24 April 1979 ini.

Namun, Yuk Devi tetap setia membagikan ilmu modeling-nya, juga teknik berpose di depan kamera, kepada para murid dancing di Sanggar Clarissa, Gedangan. Sesekali dia juga diajak menjadi juri fashion show di Surabaya dan Sidoarjo. Tiga dunia itu--modeling, dancing, kuliner--benar-benar membuat hidup Devi selalu ceria dan berwarna. Bisnis kulinernya pun lancar jaya. (*)

12 March 2015

Chelsea pantas tersisih

Nonton siaran langsung sepak bola itu ibarat berjudi. Jarang kita dapat suguhan pertandingan yang bagus, seimbang, asyik. Lebih banyak pertandingan yang mengecewakan. Maksudnya jauh di bawah harapan besar kita sebelum melekan sampai subuh itu. Tapi, kayak judi, kita tetap kecanduan nonton.

Begitulah. Saya sengaja tidak nonton Real Madrid vs Schalke karena saya anggap tidak menarik. Madrid pasti menang mudah, pikir saya. Kualitas Schalke tentu di bawah Real Madrid, juara bertahan Champions League. Maka saya tidur nyaman sampai pagi. Eh, ketika saya periksa skor di internet, wuih... bukan main. Tujuh gol. Madrid kalah tapi menang agregat gol.

Pasti sangat seru. Hujan gol, apalagi ke gawang Madrid jelas tidak lazim. Kecuali lawan Barcelona. Saya bisa membayangkan betapa ketatnya pertandingan Madrid vs Schalke itu.

Sebaliknya, saya sudah lama berniat menonton Chelsea vs PSG karena saya asumsikan sangat menarik. Hasil laga pertama di Paris yang 1-1 jelas belum aman bagi Chelsea. Penampilan PSG di first leg pun sangat bagus. Rugi kalau tidak nonton. Maka saya pun nyetel alarm pukul 02.35 agar bisa mengikuti komentar pengamat Bung Kusnaini.

Sayang, begitu laga berjalan 10 menit, saya merasa pertandingannya tidak menarik. Bola terlalu sering mati. Pemain-pemain suka bikin pelanggar. Menit ke-30 kartu merah untuk Ibra, sang superstar. Rusaklah pertandingan bola kalau kartu merah jatuh pada babak pertama. Kartu merah bisa diterima kalau tim yang mendapat hukuman berat itu sudah unggul minimal dengan selisih 2 gol. Dan di babak kedua. Lebih bagus lagi kalau lagi tinggal 10 menit atau 5 menit.

Lha, ini baru setengah jam PSG sudah kena kartu merah! Laga yang sudah tidak flowing pasti tambah tidak menarik. Saya bayangkan Chelsea akan mudah menceploskan gol karena melawan 10 pemain. Eh, ternyata saya keliru. Permainan tim asuhan Mourinho ini malah sama saja. PSG bahkan tidak terkesan kalau kekurangan satu pemain. Tak ada kick on goal dari pemain Chelsea. Payah!

Akhirnya Cahil bikin gol dari bola muntah. PSG tidak patah semangat tapi membalas lewat David Luis dengan kopnya yang khas. Permainan tetap biasa saja hingga akhir babak kedua. Skor akhir 2-2. Selamat! PSG layak lolos ke delapan besar. Chelsea sangat tidak layak lolos.

Barusan saya baca di BBC, Jose Mourinho dengan legawa mengakui keunggulan PSG. Tim yang dua kali kebobolan lewat tendangan sudut tidak pantas lolos, kata Mourinho.
Sent from my BlackBerry

08 March 2015

Akurasi! Akurasi! Akurasi!

Tante Yuyun, pengurus Kelenteng Eng An Bio, Bangkalan, lagi sebel sama wartawan. Gara-gara dua angka yang dicetak di koran Radar Madura. Saat itu wartawan Radar Madura menulis berita tentang kegiatan kelenteng untuk menyambut dan memeriahkan tahun kambing 2015. Ibu Yuyun Kho ini jadi narasumber.

"Apa beritanya salah? Kan bisa diralat?" saya bertanya.

"Di koran, umur saya ditulis 48 tahun. Itu kan ngawur," tuturnya kepada saya kemarin (7/3/2015).

"Mungkin salah ketik. Tapi isi beritanya kan gak salah," kata saya.

"Tapi itu fatal. Saya bolak-balik ditelepon pengurus dan umat kelenteng. Saya dikira sengaja memudakan umur. Gak mau tua. Lha, wong umur saya di atas 60 kok ditulis 48," ujar wanita Tionghoa asal Salatiga ini gundah.

Tante yang juga seniman pelukis ini mengaku sudah menelepon wartawan tersebut. Marah-marah karena salah umur itu. "Wartawannya ngarang sendiri. Saya nggak pernah bilang umur karena memang nggak ditanya. Gimana sih si wartawan itu?"

Begitu jengkelnya Tante Yuyun, sejak itu dia bertekad tak akan lagi memberikan keterangan kepada wartawan. Ketika wartawan Global Times datang untuk wawancara, bikin liputan tentang Tionghoa di Madura, Yuyun pun ketus. Wartawan itu disuruh pulang. "Nggak ada wawancara," katanya.

Padahal, selama ini Tante Yuyun dikenal sebagai narasumber yang baik. Banyak cerita tentang kegiatan kelenteng berasal dari mulutnya. Sebab, dia menguasai tradisi, budaya, dan religi Tionghoa. Andai Tante Yuyun bungkam, wartawan-wartawan pribumi akan sulit mendapatkan informasi tentang masyarakat Tionghoa di Bangkalan.

"Pokoknya, saya kecewa berat sama wartawan itu. Kelihatannya sepele, tapi saya jadi nggak enak sama umat kelenteng di sini," katanya.

Setelah ngobrol lama, sembari menikmati srikaya madura, saya bisa memahami kekecewaan Tante Yuyun. Kerusakan sudah terjadi. Bisa saja salah cetak itu dikoreksi oleh redaksi. Tapi kalau narasumber sudah telanjur patah arang, betapa sulitnya membangun kembali hubungan baik dengan narasumber. Apalagi narasumber di kalangan Tionghoa yang selama 32 tahun sempat trauma dengan represi rezim Orde Baru.

Ada tiga hal penting yang wajib diperhatikan dalam menulis berita, kata para wartawan senior. Tiga hal itu: akurasi, akurasi, akurasi! Rupanya reporter muda dari pulau garam itu mengabaikan doktrin dasar jurnalisme itu. Dan efek dari ketidakakuratan itu malah melebar ke mana-mana. Bahkan, wartawan-wartawan lain yang tak tahu apa-apa pun kena getahnya.

Gereja Katolik di Bangkalan Makin Kinclong



Gereja Katolik Stasi Telang, Bangkalan, Madura.

Sejak ada Jembatan Suramadu, yang diresmikan 10 Juni 2009, saya tidak pernah lagi menggunakan kapal feri ke Madura. Terlalu lama. Bayarnya juga lebih mahal, hampir tiga kali lipat ketimbang bayar Tol Suramadu. Waktu tempuhnya juga setengah jam lebih. Belum ngetem menunggu penumpang.

Entah mengapa, tiba-tiba saya ingin menjajal kapal penyeberangan Ujung-Kamal yang dulu sangat terkenal itu. Tak ada lagi penumpang berjubelan. Layanan sangat memuaskan. Nyaman meski tetap lamaaa... dibandingkan Suramadu.

Dermaga Kamal, Bangkalan, pun sepi. "Masa kejayaannya sudah lewat. Makelar-makelar yang dulu mandi uang sekarang sudah lari ke luar Jawa," kata tukang cukur di dekat dermaga kepada saya. "Kapal-kapal feri sekarang tinggal sedikit," kata pria yang ternyata aktif mengamati perkembangan politik nasional itu.

Memang tidak efisien ke Madura menggunakan jalur laut. Tapi, di sisi lain, kita bisa bertemu lagi kenalan-kenalan lama di Telang dan beberapa perumahan di dekat Dermaga Kamal. Perumahan-perumahan di Madura memang didirikan di kawasan Kamal dan sekitarnya karena faktor feri itu. Sebagian besar penghuninya bekerja di Surabaya. Sampai sekarang pun mereka masih menggunakan jasa feri ke Surabaya. Pada 1980-an dan 1990-an tak pernah terbayang bakal ada jembatan yang menghubungkan Surabaya dan Madura.

Nah, berkat perumahan-perumahan di sekitar Kamal, Bangkalan, itulah muncullah beberapa gereja baru di Bangkalan. Sebab, penghuni perumahan yang datang dari Jawa atau luar Jawa ada yang nasrani. Merekalah yang merintis Gereja Katolik dan Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) di Telang. Dua gereja ini bertetangga di pinggir jalan raya sekitar tujuh atau delapan km dari dermaga.

Dulu, ketika belum ada Jembatan Suramadu, saya sering mampir dan ikut misa di Gereja Katolik Stasi Telang. Dibandingkan GKJW di sebelahnya, bangunan gereja stasi (bagian dari Paroki Bangkalan) itu sangat memprihatinkan. Mirip gudang tua yang kurang terurus. Tapi lahannya sangat luas untuk ukuran gereja stasi. Tidak kalah dengan gereja paroki di Surabaya.

"Gereja Telang ini mulai digunakan tanggal 5 Oktober 1986," ujar Pak Rafael, salah satu pengurus Stasi Telang, kepada saya sebelum ada Jembatan Suramadu.

Perayaan ekaristi dilayani romo karmelit dari Paroki Santa Maria Fatima, Bangkalan. Stasi Telang ini cukup hidup. Umatnya semangat. Malah lebih semangat daripada umat Katolik di Surabaya yang parokinya 20 lebih. Di Surabaya dan Sidoarjo, saya lihat umatnya memang rajin ekaristi, tapi jarang yang ikut kegiata lingkungan, wilayah, kategorial, paduan suara, dan sebagainya karena sibuk cari duit.

Nah, saat melintas dari Kamal ke Bangkalan Sabtu pagi (7/3/2015) tentu saja saya memperhatikan Gereja Katolik Telang. Wow, bukan main indahnya! Kinclong, arsitekturnya bagus, keren abis. Bangunan gereja yang dulunya kusam, mirip gudang tua itu, tampak sangat modern.

Mungkin inilah gereja stasi terbagus di Jawa Timur. Di mana-mana yang namanya gereja stasi, kecuali di Flores (NTT), dibuat seadanya. Bahkan, lebih sering menggunakan bangunan rumah yang dipinjam salah seorang umat. Saya benar-benar kaget, tak menyangka, sebuah gereja stasi di Pulau Madura, yang sangat islami (99 persen Islam), dibuat sebagus ini. Sayang, pagarnya terkunci sehingga saya tidak bisa blusukan ke dalam.

Sorenya, pukul 17.00, saya ikut misa di Bangkalan. Wow, lagi-lagi saya terkejut melihat bangunan gereja yang juga sangat indah dan kinclong. Sangat artistik. Umat Katolik di Bangkalan itu ternyata bisa membangun gereja dengan selera seni yang tinggi. Khotbah romo karmelit dari Malang yang membahas cerita Yesus mengusir para pedagang yang berjualan di bait Allah sepertinya lewat begitu saja. Saya lebih sibuk memperhatikan interior Gereja Katolik Santa Maria Fatima Bangkalan yang sangat indah.

Tentu saja renovasi Gereja Katolik di Bangkalan yang dirintis pada 29 Juli 1953 itu membutuhkan waktu lama. Umat gotong royong memberikan sumbangan. Ada yang nyumbang semen, material bangunan, sedikit demi sedikit, hingga jadilah bangunan gereja yang bagus di samping kompleks sekolah Katolik Bangkalan itu.

Dulu, sebelum ada Suramadu, saya sering mampir ke gereja itu. Sebab, di belakang gereja ada bangunan yang dihuni orang Flores. Mereka banyak cerita tentang kegiatan paroki dan perkembangan sosial politik di Madura. Bangunan gereja dan pastoran saat itu ya biasa-biasa saja. Cenderung suram. Belum kinclong seperti sekarang.

07 March 2015

Beda artis dan seniman

Ada sebuah kalimat di Kompas edisi hari ini (7/3/2015) yang bikin saya geli. Jadi ingat obrolan lama saya dengan pelukis senior Bambang Harryadjie, perokok berat yang sudah almarhum.

Kalimat di Kompas yang menulis berita Manda ditahan di Rutan Salemba itu begini:

"Kasus ini menjadi pelajaran bagi para artis dan seniman...."

Dulu saya sering iseng bertanya, lebih tepat ngetes, Pak Bambang yang saya tahu fasih bahasa Inggris, Jerman, dan Belanda. Dia cukup lama tinggal di Hamburg, Jerman.

"Pak Bambang, apa bedanya ARTIS dan SENIMAN?" tanya saya.

"Wah, iku pertanyaan lawas. Rokoknya dulu dong!" kata sang pelukis dengan gaya khasnya.

Setelah menyedot asap nikotin itu, yang katanya lebih nikmat ketimbang makanan apa pun, Pak Bambang menjawab, "Kalau sama orang Barat sih saya bilang saya ini artis. I'm an artist. Saya artis visual. Tapi kalau orang Indonesia saya bilang saya ini seniman."

"Artist dan artis kan sama saja? Satunya bahasa Inggris, satunya kata serapan dari bahasa Inggris juga," timpal saya.

"Betul. Tapi di Indonesia nuansa artis dan seniman itu beda. Artis itu kayak Inul, Luna Maya, Ariel, Ahmad Dhani, Dewi Perssik... yang tiap hari muncul di gosip televisi. Kalau seniman itu ya kayak saya yang pelukis. Pemain ludruk, teater, ketoprak... itu seniman," katanya.

"Kalau Luna Maya diajak main ludruk?"

"Ya, tetap artis."

Ini cuma obrolan rada konyol sama Pak Bambang saat mancing di tambak dulu. Kami memang sama-sama menertawakan kata yang sejatinya sinonim, tapi di Indonesia malah dibedakan. Artis itu cenderung ke seni populer, pelaku industri hiburan, sementara seniman praktisi kesenian di luar industri hiburan.

Saya sendiri sering diketawain pelajar dan mahasiswa ketika menyebut profesi Pak Bambang sebagai artis. "Betul. Beliau artis senior di bidang seni rupa. Visual art," kata saya serius.

Omongan saya ini tak cukup meyakinkan masyarakat umum di Surabaya dan Sidoarjo bahwa artis itu ya seniman, seniman itu ya artis. Artis itu dari kata ART yang artinya seni. Seniman (atau seniwati yang sering dipakai di kalangan pemain ludruk) juga berasal dari kata seni + man (wati). Pelajaran bahasa Indonesia tingkat dasar.

Rupanya pandangan masyarakat kebanyakan yang membedakan artis dan seniman benar-benar sudah merasuk di Indonesia. Sampai koran sekaliber Kompas, yang selama ini dijadikan rujukan bahasa jurnalistik, pun ikut membedakan artis dan seniman.

Hidup seniman!
Hidup artis!

06 March 2015

Tak ada koran berbahasa Inggris di Surabaya

Tak sengaja saya menemukan majalah lawas, Kidung, edisi Maret 1999 di gudang. Di belakang majalah terbitan Dewan Kesenian Jatim itu ada iklan satu halaman dari The Indonesian Daily News. Koran terbitan Surabaya yang disingkat IDN.

Saya jadi ingat beberapa teman eks IDN yang dulu ngantor di Graha Pena, Surabaya. Sebagian besar masih bekerja di media massa tapi yang berbahasa Indonesia. Bukan media berbahasa Inggris yang sejatinya lebih membutuhkan kemampuan written and spoken English mereka.

Ya, koran IDN memang sudah lama tutup. Sulit dapat pelanggan di Surabaya dan kota-kota lain di Jawa Timur. Dijual eceran pun sulit. "Orang kita itu sok berbahasa Inggris tapi nggak serius. Inggrisnya pun inggris-inggrisan aja," kata seorang wartawan senior.

Lihatlah begitu mewabahnya ungkapan-ungkapan bahasa Inggris di media sosial, percakapan sehari-hari, bahkan iklan di ruang publik. Tapi itu tidak berarti bahwa warga Suranaya (dan Jatim) sudah benar-benar serius berbahasa Inggris. Cuma nginggris atau sok english aja, begitu sindiran Remy Sylado.

Maka, ketika disodori surat kabar berbahasa Inggris, warga kita sebetulnya belum siap. Apalagi membaca berita-berita dari kantor berita macam Reuters, AFP, AP, atau Bloomberg yang ditulis oleh wartawan-wartawan bule yang sejak bayi sudah cas-cis-cus bahasa Inggris. Sulit sekali kita pahami karena begitu banyak kata-kata sulit. Beda kalau berita itu ditulis wartawan-wartawan pribumi yang cuma menjadi bahasa Inggris bahasa ketiga atau kelima.

Karena itu, setelah IDN ditutup, tidak ada lagi koran berbahasa Inggris di Surabaya. Kota yang disebut-sebut nomor dua (atau enam) setelah Jakarta. "Bikin koran itu gampang. Tapi apa bisa dijual koran yang berbahasa Inggris?" kata wartawan senior yang sudah almarhum suatu ketika.

Syukurlah, di Jakarta masih terbit koran berbahasa Inggris macam The Jakarta Post atau Jakarta Globe. Ini berarti pasarnya memang ada dan konsisten. The Jakarta Post malah bertahan selama 30 tahun lebih. "Oplah kami memang tidak besar. Tapi pelanggan kami sangat setia," kata Pak Raymond Toruan, bos The Jakarta Post.

Koran berbahasa Inggris memang perlu, bahkan wajib ada, di kota-kota besar. Ini sangat terasa ketika kita berada di negara-negara yang bahasanya sama sekali kita tak mengerti. Misalnya di Tiongkok, Iran, Lebanon, atau Rusia. Sudah pasti kita akan mencari koran-koran setempat yang berbahasa Inggris untuk mencari informasi lokal. Informasi di online atau blog berbahasa Inggris tentu berbeda nilainya dengan di surat kabar resmi.

Gereja Kini di Tangan Romo Projo

Keuskupan Surabaya yang tempo doeloe dikenal sebagai wilayahnya romo-romo Lazaris atau CM (Congregatio Missionis) kini berubah wajah. Data terakhir pada Februari 2015 menunjukkan romo-romo CM yang bertugas di paroki tinggal 37 orang atau 23 persen.

Dari total 157 pastor yang ada di paroki-paroki seluruh Keuskupan Surabaya (tidak termasuk romo-romo di biara, pensiun, kategorial), romo diosesan atau projo mencapai 94 orang alias 60 persen. Mungkin inilah rekor romo terbanyak dalam sejarah Keuskupan Surabaya. Jumlah paroki pun terus bertambah. Stasi-stasi lama sekarang sudah jadi paroki yang mandiri.

Di bawah CM, kongregasi SVD menyumbang 18 pastor yang berkarya di paroki. Kemudian 4 romo Dominikan (OP) yang melayani di Paroki Redemptor Mundi, Dukuh Kupang, Surabaya, dan 4 romo Selesian (SDB) di Paroki Santo Mikael, Tanjungsadari, Perak, Surabaya.

Komposisi pastor yang dominan projo ini memang sesuai dengan visi para misionaris perintis gereja di tanah air sejak dulu. Bahwa gereja akan kokoh, punya akar, jika dilayani oleh gembala-gembala pribumi. Gereja akan lemah, rentan, bila imam-imamnya warga negara asing. Apalagi misionarisnya dari Belanda, bekas penjajah Indonesia.

Transisi dari imam-imam religius ke diosesan ini berlangsung perlahan tapi pasti. Bahkan belakangan ini berlangsung begitu cepat. Kita yang lama tidak ikut ekaristi di Gereja Santo Paulus, Juanda, Sidoarjo, misalnya akan kaget ketika tahu pastornya bukan lagi SVD, melainkan projo Keuskupan Surabaya. Kelihatannya beberapa paroki asuhan SVD lain pun akan diserahkan ke projo.

Umat di paroki-paroki yang selama bertahun-tahun dilayani imam-imam SVD biasanya kaget dengan perubahan langgam romo-romo projo. Tapi biasanya seiring perjalanan waktu lama-lama juga terbiasa. Itu juga yang dulu terjadi di Flores, khususnya Keuskupan Larantuka.

Di Surabaya masih lumayan. Imam-imam diosesan baru memegang 60 persen paroki. Di Kabupaten Lembata, NTT, daerah asal saya, romo-romo projo bahkan menguasai hampir 100 persen paroki. Setahu saya tinggal satu paroki yang dilayani SVD di Lembata. Kondisi ini terbalik dibandingkan era 1980an dan 1990an. Waktu itu SVD menguasai hampir semua paroki di Kabupaten Lembata.

Inilah dinamika gereja yang harus terjadi di abad internet. Gereja menghadapi era yang sama sekali baru dengan tantangan yang jauh lebih pelik. Imam-imam projo, yang dianggap lebih sekuler, menanggung beban sangat berat menghadapi gelombang sekularisasi dan bahkan ateisme yang semakin meluas ini.
Sent from my BlackBerry

Pengungsi Myanmar di Sidoarjo

Dari sekitar 200 imigran pencari suaka politik yang ditampung di Rusunawa Puspa Agro, Jemundo, Kecamatan Taman, terdapat sekitar 20 orang warga negara Myanmar. Mereka terus bersabar menunggu keajaiban dari negara ketiga yang akan menampun dan memungkinan mereka bekerja.

Dilihat dari bentuk tubuh, warna kulit, tinggi badan, rambut, dan sebagainya para pengungsi Myanmar ini tak berbeda jauh dengan orang Jawa. Karena itu, ketika berada di pasar agrobisnis milik Pemprov Jatim itu, kita sulit membedakan mereka dengan para pedagang buah atau sayuran. Beda dengan pengungsi Somalia, Sudan, Iran, atau Afghanistan yang fisiknya beda dengan kebanyakan orang Indonesia.

"Banyak orang yang kecele sama pengungsi Myanmar. Diajak bicara bahasa Jawa atau bahasa Indonesia kok nggak nyambung. Biasanya mereka cuma senyum-senyum saja," ujar Mbak Sri kepada saya siang tadi (5/3/20145).

Salah satu pemilik warung nasi dan jus buah ini menjadi langganan pengungsi Myanmar di Puspa Agro. "Wong saya sendiri pernah kecele. Si Min itu saya kira orang Jawa," tambahnya lantas tertawa kecil.

Min yang dimaksud Sri ini tak lain Zow Min. Pria 38 tahun ini baru dua bulan menempati Rusunawa Puspa Agro setelah sebelumnya ditampung di lokasi pengungsian di Tanjungpinang, Kepulauan Riau. "Kami dari Myanmar ada sekitar 20 orang. Saya sendiri Buddhis, yang lainnya muslim," tutur Zow Min dalam bahasa Indonesia yang lumayan lancar, meski dengan logat Myanmar yang terkesan aneh.

Sebelum dikirim ke Puspa Agro, Jemundo, Zow Min dan kawan-kawan tinggal di Tanjungpinang selama dua tahun lebih. Di kota pesisir itulah mereka belajar bahasa Indonesia dari penduduk setempat sambil berharap segera diberangkatkan ke negara maju yang mau menampung mereka.

Betapa senangnya Min ketika tiba-tiba diminta berkemas-kemas untuk berangkat ke tempat yang jauh. "Ternyata kami dikirim ke Puspa Agro. Tadinya saya kira ke Australia atau Kanada," ujar pria yang murah senyum ini.

Menurut Min, para pengungsi asal Myanmar alias Burma ini sebenarnya melarikan diri dari negaranya secara bergelombang. Tidak ada koordinasi di antara mereka. Bahkan, sebagian besar dari mereka tidak saling mengenal sebelum dipertemukan pihak imigrasi di lokasi pengungsian.

"Saya berangkat dari Myanmar bersama istri, anak, orang tua, dan anak. Perahu kami tabrakan sehingga kami tercerai berai," tutur Min dengan mimik sedih. Karena itu, dia tidak tahu nasib keluarga dekatnya itu. "Apakah mereka masih hidup atau sudah tidak ada, saya tidak tahu," katanya.

Zow Min yang berusaha menyelamatkan diri dari pusaran arus laut akhirnya berhasil diselamatkan sebuah kapal nelayan. Singkat cerita, Min kemudian mendapat status resmi sebagai imigran pencari suaka dari IOM. Nah, di Tanjungpinang barulah dia bergabung dengan puluhan pengungsi Myanmar lain yang sudah lebih dulu berlayar mencari suaka.

"Kami terpaksa lari karena tidak aman. Nyawa kami terancam," katanya.

Min kemudian menceritakan perlakukan aparat keamanan di negaranya terhadap warga Myanmar yang berada di dekat perbatasan dengan Thailand. "Mungkin presiden atau menteri-menteri di Yangon (ibukota Myanmar) baik. Tapi petugas-petugas di bawah ini tidak mau tahu. Makanya, kami terpaksa ambil risiko dengan mencari suaka ke negara lain," ujarnya.

Saat hendak balik ke kamarnya di Rusunawa Puspa Agro, Min meminta bantuan agar dirinya segera dikirim ke Kanada atau USA. Kalau bisa jangan ke Australia, katanya. "Di sini kami memang tidak kelaparan. Makan minum dijamin IOM dan pemerintah Anda. Tapi status kami pengungsi. Kami nggak bisa kerja. Nggak bisa ke mana-mana," katanya.

01 March 2015

Dr Siobhan Campbell Indonesianis dari Sydney



Sidoarjo sudah menjadi kampung kedua bagi Dr Siobhan L Campbell. Wanita asal Australia ini sudah berkali-kali mengunjungi Sidoarjo dan suka blusukan ke kampung-kampung tua seperti sentra batik di Jetis, pabrik sarung lawas, lokasi semburan lumpur Lapindo di Porong, hingga Kepetingan.
Maklum, indonesianis yang murah senyum ini tak lain istri Jumaadi, seniman asal Sekardangan, Sidoarjo, yang berdomisili di Sydney, Australia. Setiap kali Jumaadi berlibur ke Sekardangan, Siobhan berusaha untuk menemani suaminya. "Kecuali kalau saya sedang sangat sibuk," tutur Siobhan dalam bahasa Indonesia yang fasih.

Jauh sebelum menjadi Nyonya Jumaadi, Siobhan Campbell sudah belajar bahasa dan budaya Indonesia di University of New South Wales. Tak heran, dia berteman akrab dengan warga negara Indonesia di negeri kanguru itu. Selain belajar bahasa Indonesia, memperkaya kosa kata, dia ingin mengetahui lebih banyak tentang Indonesia. "Sebab, Indonesia itu tetangga Malaysia yang sangat menarik. Kebudayaannya sangat kaya," kata dosen University of Sydney ini.

Di antara sekian banyak orang Indonesia di Sydney, Siobhan merasa paling dekat dan cocok dengan Jumaadi. Sebab, keduanya sama-sama gandrung kesenian. Jumaadi aktif berkarya, melukis, bikin patung, menggelar seni tradisional, sementara Siobhan jadi kurator dan penghubung dengan sejumlah galeri. Singkat cerita, kedua insan berbeda kebangsaan ini pun akhirnya menjadi pasangan suami istri.

Nah, biasanya menjelang Idul Fitri, Jumaadi selalu mengajak Siobhan untuk mudik ke rumah orang tua Jumaadi di kawasan Pecantingan, Sekardangan. "Jadi, saya bisa melihat perkembangan Sidoarjo sejak beberapa tahun lalu. Sekardangan sekarang sudah padat, banyak berdiri perumahan, sawah-sawah hampir tidak ada lagi," bebernya.

Bagi Siobhan, perubahan wajah Sidoarjo menjadi seperti sekarang memang sulit dihindari mengingat posisinya sebagai penyangga Kota Surabaya. Begitu banyak warga urban atau pendatang yang tinggal dan bekerja di Surabaya dan Sidoarjo. Di satu sisi, perekonomian atau perputaran uang meningkat sangat cepat, tapi di sisi lain membuat budaya setempat makin tergusur. Saat ini Siobhan tak lagi melihat anak-anak kampung Sekardangan menikmati permainan tradisional seperti dulu. "Suasananya makin kota," katanya.

Sebelum berlibur bersama suaminya di Sidoarjo, Siobhan melakukan penelitian di kawasan Kamasan, Klungkung, Bali. Kebetulan dosen sejumlah perguruan tinggi di Australia ini sedang fokus mendalami transformasi sosial budaya masyarakat Bali di tengah booming bisnis pariwisata. Tak hanya sekadar wawancara dengan warga setempat, Siobhan pun tinggal lama di kampung tradisional itu.



Setiap berkunjung ke Sidoarjo, Dr Siobhan L Campbell mengaku menemukan sisi lain kehidupan yang tak dia rasakan di kota asalnya, Sydney, Australia. Suasana kekeluargaan begitu kental, bercengkerama dengan para keponakan dan anak-anak Sekardangan, hingga mencicipi makanan khas seperti lontong kupang dan es degan.

Setiap pagi Siobhan Campbell sarapan dan menikmati kopi bersama Mak Sarmiah di Rumah Budaya Pecantingan, Kelurahan Sekardangan, Kecamatan Sidoarjo. Pusat seni budaya itu dibangun suaminya, Jumaadi, seniman asli Sekardangan, yang rutin mengajaknya mudik ke Sidoarjo. Mak Sarmiah tak lain ibunda Jumaadi alias mertua Siobhan.

"Kami ngobrol ringan tentang apa saja. Sekaligus saya memperdalam bahasa Jawa dari Mak Sarmiah," kata Siobhan Campbell, dosen University of Sydney, Australia, di Rumah Budaya Pecantingan, Sidoarjo, pekan lalu.

Tak ada kendala komunikasi antara Siobhan dengan mertua dan para keponakannya di Sekardangan. Maklum, sejak duduk di bangku sekolah menengah atas (high school) di Sydney, Siobhan Campbell sudah belajar bahasa Indonesia di kelas. Belakangan dia juga belajar bahasa Jawa, bahkan bahasa halus (kromo inggil). Kecintaannya pada bahasa, budaya, dan orang Indonesia itulah yang kemudian mempertemukan Siobhan dengan Jumaadi, sang suami asli Sekardangan.

Selama berada di Sidoarjo, Siobhan bersama Jumaadi melihat berbagai tempat yang dianggap menarik dan punya nilai seni budaya. Candi-candi peninggalan Kerajaan Majapahit di Trowulan dan sekitarnya jadi jujukan utama. Tak ketinggalan menengok lumpur Lapindo yang terus menyembur selama hampir sembilan tahun. "Saya sempat foto-foto di patung survivor karya Mas Dadang," katanya.

Seperti kebanyakan orang di era media sosial ini, Siobhan pun langsung mengunggah fotonya di depan patung para korban lumpur Lapindo yang hampir tenggelam itu. Siobhan menulis di akun Facebook-nya: "Visiting Dadang Christanto at Lumpur Lapindo." Tak lama kemudian, seniman Dadang Christanto yang juga berdomisili di Australia membalas, "Makasih Siobhan Campbell untuk datang dan melihat SURVIVOR."

Bencana lumpur Lapindo yang menenggelamkan ratusan hektare lahan di kawasan Porong dan sekitarnya memang sudah tak asing lagi bagi Siobhan. Di awal bencana dia sudah melihat langsung kondisi di lapangan. Peneliti yang fokus mendalami perkembangan seni rupa Bali ini mengaku prihatin karena sampai sekarang persoalan lumpur di Porong ini belum selesai. Masih banyak warga korban lumpur yang belum mendapat ganti rugi. "Kasihan banget warga yang jadi korban," katanya.

Jumaadi mengaku tak mengalami kesulitan berarti menyesuaikan diri dengan sang istri bule yang berbeda latar belakang budaya. Sebab, Siobhan memiliki kecintaan yang besar terhadap Indonesia. “Dia membaca begitu banyak buku kajian tentang Indonesia. Dia juga suka blusukan ke mana-mana untuk wawancara langsung dengan orang Indonesia. Bahkan, mungkin pengetahuan dia tentang Indonesia justru lebih luas ketimbang kita yang asli Indonesia,” katanya.



Sejak dulu cukup banyak akademisi atau peneliti Australia yang fokus mengkaji berbagai hal tentang Indonesia. Namun, berbeda dengan para indonesianis lain dari negeri kanguru, Dr Siobhan L Campbell sering menjadi kurator sejumah pameran seni di Australia, khususnya Kota Sydney.

Pertengahan 2014, Siobhan sempat menyelenggarakan pameran seni lukis kain tradisional Bali di Sydney. Lukisan-lukisan klasik Bali yang langka dipamerkan di sebuah museum terkenal. Tak hanya itu. Dr Siobhan juga menjelaskan sejarah, latar belakang, corak lukisan, hingga perkembangan terakhir yang dia jumpai di daerah Kamasan, Klungkung, pulau dewata itu.

"Saya memang sejak dulu sangat tertarik dengan seni budaya tradisional Bali. Nilainya sangat tinggi," kata Siobhan.

Istri Jumaadi, seniman asli Sekardangan, ini memang sejak lama jatuh cinta pada bahasa dan seni budaya Indonesia. Karena itu, setelah belajar bahasa Indonesia sejak duduk di bangku high school (SMA), Siobhan terus mendalami kebudayaan Indonesia di bangku kuliah. Bahkan, tesis doktoralnya di University of Sydney pun masih terkait seni budaya Indonesia. "Sebelum ke Sidoarjo, saya melakukan riset lagi di Bali. Hasilnya saya bawa ke Sydney untuk ditulis sebagai kajian ilmiah," kata mantan penerjemah pasukan militer Australia di Timor Leste itu.

Saat berlibur di Sekardangan pun Siobhan tenggelam dalam keasyikannya membaca buku-buku yang berkaitan dengan Indonesia, khususnya Bali. "Saya rasa hampir semua buku kajian yang tebal-tebal tentang Bali sudah dia baca semua. Istri saya itu memang sangat fokus di dunia akademis dan penelitian," kata Jumaadi seraya tersenyum.

Sebagai perupa, dan belakangan menekuni seni pertunjukan, Jumaadi beruntung memiliki istri seorang akademisi sekaligus kurator seni rupa di Australia. Sebab, Siobhan bisa dengan mudah meyakinkan para pengelola galeri seni atau museum untuk memamerkan karya-karya Jumaadi. "Tapi tetap saja ada seleksi yang sangat ketat di Australia. Nggak bisa KKN karena kita punya hubungan dekat dengan orang galeri," katanya.

Jumaadi juga mengaku bersyukur karena sang istri yang asli Australia ini bukan tipe dosen yang selalu standby di kampus dari pagi sampai petang layaknya karyawan atau staf administrasi. Peneliti macam Siobhan Campbell ini diberi peluang untuk melakukan riset di lapangan dalam waktu yang sangat lama. Pemerintah federal juga siap mendanai riset-riset yang dianggap penting dan strategis. Itulah yang membuat para indonesianis asal Australia punya banyak waktu untuk menemui langsung para narasumber serta mengubek-ubek berbagai dokumen dan koleksi seni budaya kita.

"Di Indonesia dosen-dosen lebih asyik mengajar di kampus dari pagi sampai malam. Waktu untuk riset malah hampir nggak ada," kata Jumaadi yang sesekali diminta mengajar di kampus University of Sydney. "Kalau Siobhan ini mengajar dari pagi sampai malam, ya, nggak mungkin bisa jalan-jalan sama saya ke Sidoarjo seperti ini," katanya.

Sinlui Choir juara lagi di Bandung

Begitu seringnya menang dalam festival paduan suara tingkat nasional, dan internasional, membuat orang bosan membahas Paduan Suara SMAK St Louis I Surabaya. Beritanya menjadi tidak menarik lagi. Saya yang dulu sering memantau perkembangan choir di Surabaya pun akhirnya kehilangan gairah.

Ini juga menunjukkan bahwa Sinlui Choir stabil dari masa ke masa. Dari zaman TV hitam putih hingga internet, smartphone, dan aneka gadget yang serbacanggih. Anak-anak Sinlui, yang digembleng para guru dengan displin keras, mampu menjaga standar mutu pendidikan di Sinlui. Termasuk paduan suaranya yang masih the best di Indonesia.

Belum lama ini, 1 Februari 2015, Sinlui Choir yang diperkuat 40 anggota keluar sebagai juara festival paduan suara nasional di ITB Bandung. Festival kor dengan standar kelas tinggi di Indonesia. "Sinlui mendapat nilai 80,09 atau gold. Sehingga berhak jadi juara satu
kategori SMA," kata Pak Arie Soeprapto, guru pembina paduan suara SMAK Sinlui Surabaya.

Sukses demi sukses Sinlui Choir memang tak lepas dari tangan dingin Pak Arie. Pria yang hobi fotografi ini sangat tegas dan piawai membentuk suara, meramunya jadi racikan yang indah dalam paduan suara. Saya sulit membayangkan bila Pak Arie tidak berada di Sinlui.

Meskipun sangat sering menang, sudah jadi tradisi, Pak Arie bilang perjuangan anak-anak Sinlui tidak mudah. Mereka harus menyisihkan banyak waktu untuk berlatih. Termasuk mengurangi porsi belajar untuk persiapan ujian nasional. "Anggota senior kali ini banyak yang absen. Kami harus memaksimalkan potensi siswa yang belum pernah ikut festival," katanya.

Pak Arie hanya ingin menyatakan bahwa sesungguhnya materi penyanyi yang dimiliki Sinlui sejatinya sama saja dengan SMA-SMA lain di Surabaya dan kota lain. Sama-sama baru belajar nyanyi, baca not, terlibat di paduan suara. Lalu, mengapa Sinlui selalu melejit jauh di depan?

"Perjuangan yang keras. Disiplin berlatih. Mengeluarkan semua potensi yang dimiliki," kata dirigen senior yang sering memimpin paduan suara saat ekaristi di Gereja Katedral HKY Surabaya itu.

Resep keberhasilan Sinlui yang disampaikan Pak Arie ini sudah biasa kita dengar. Semua dirigen atau pelatih dari dulu juga bilang begitu. Kok kor-kor yang lain sulit mengimbangi kedigdayaan Sinlui Choir? Inilah yang perlu dipelajari kor-kor lain di Jawa Timur.