05 February 2015

Babu dan Kuli di Malaysia

Banyak orang Indonesia, khususnya pengguna internet, marah lagi sama Malaysia. Gara-garanya perusahaan alat pembersih RoboVac yang memasang iklan bertulisan 'Fire Your Indonesian Maid Now!'. Kedutaan Besar Republik Indonesia kemudian meminta perusahaan itu meminta maaf kepada publik melalui media massa di Malaysia.

Mengapa harus minta maaf? Salahnya si pembuat iklan itu di mana? Kalau mau jujur, sebetulnya pihak Malaysia tidak salah. Si penulis kata-kata iklan itu cuma mengangkat realitas yang ada di Malaysia. Bahwa di sebagian besar rumah ada warga negara Indonesia yang bekerja sebagai pembantu alias MAID alias babu alias batur. 

Itu fakta. Kita di Indonesia pun sudah bertahun-tahun mahfum akan kenyataan ini. Bahwa tenaga kerja Indonesia (TKI) yang ada di Malaysia memang (hampir) semuanya bekerja sebagai tenaga kasar. Mulai dari babu, kuli bangunan, pemetik kelapa sawit, sopir, dan sebagainya. Tapi hampir semua TKI yang wanita alias TKW bekerja di rumah sebagai pembantu, baby sitter, atau apa pun namanya.

Karena itu, kita tidak perlu malu kalau orang Malaysia mengidentifikasi orang Indonesia sebagai babu. Memang fakta di rumah tangga warga Malaysia sejak dulu begitu. Kalau butuh pembantu, babi sitter, ya pakailah tenaga manusia Indonesia. Ini sejalan dengan istilah lawas yang sering dikutip Bung Karno: Een natie van koelias en een koelie onder da naties!

Bung Karno, sang proklamator, presiden pertama, jauh hari sebelum kemerdekaan, sudah berangan-angan agar Indonesia yang merdeka kelak janganlah menjadi bangsa kuli. Jadilah majikan di rumah sendiri. Apalagi menjadi kuli di Malaysia, negara tetangga yang mau diganyang oleh Bung Karno dengan program dwikora tahun 1960-an. Saya bayangkan betapa hancurnya hati Bung Karno bila melihat jutaan orang Indonesia ramai-ramai bekerja di Malaysia sebagai kuli dan babu di Malaysia.

Sayang, rupanya visi besar Bung Karno dan para bapak/ibu bangsa pada 1930-an itu gagal mewujud setelah kemerdekaan. Malaysia yang pada tahun 1970-an masih negara berkembang, bahkan banyak mahasiswanya kuliah di Indonesia, kini sudah maju pesat. Jadi negara maju. Jadi negara yang kekurangan tenaga kerja kasar kuli dan babu. Sementara Indonesia masih terseok-seok dengan keterbelakangannya.

Malaysia berkembang menjadi negara majikan, sementara orang Indonesia jadi kulinya jiran itu. Lantas, kita marah, cepat naik pitam, ketika orang Malaysia menyampaikan kenyataan di negaranya secara jujur, apa adanya. Kalau nggak mau digojlok sama wong Malaysia ya jangan lagi kirim kuli dan babu ke Malaysia atau negara mana pun. Bikinlah pekerjaan sebanyak-banyaknya di Indonesia. 

Janganlah pemerintah Indonesia, politisi, parlemen, media massa, rakyat umum, sibuk kisruh terus membahas kisruh KPK vs Polri, koalisi merah putih vs Indonesia hebat, perppu pilkada, dan isu-isu lain yang tak akan membuat negara ini maju. Kalau begini terus, ya, Indonesia tetap jadi bulan-bulanan Malaysia. Bukan Malaysia yang kita ganyang, seperti diinginkan Bung Karno, tapi Indonesia yang diganyang terus-menerus.

Saya ingat kata-kata Alkitab, Wulang Bebasan (Amsal) 11:29, versi bahasa Jawa: "Wong bodho kuwi dadi bature wong pinter."

Artinya, bagi yang tidak paham bahasa Jawa: "Orang bodoh itu jadi babunya (kulinya) orang pintar."

3 comments:

  1. Bravo Bung Hurek ! Kritiklah terus menerus, lampiaskan kedongkolan-anda !
    Lacurnya, apakah para pemimpin ndableg bisa berubah ? Wallau allam .
    Saya kuatir, perjuangan mulia anda hasilnya akan nihil belaka, seperti Sisyphos.
    Membaca Anda ngomel, saya terkenang kepada seorang teman, si-Flores dari Bajawa. Dia 45 tahun silam sudah begitu sering menggerutu, jengkel terhadap keadaan di Ibu Pertiwi, misalnya tentang bobroknya infra-struktur, sikap foya2 para pejabat dan istri2 mereka, ketidakadilan pembagian kekayaan, tumbuhnya raksasa2 konglomerasi berdasarkan KKN. 45 tahun adalah jangka waktu yang cukup lama untuk usia manusia, secara biologis sama dengan 2 generasi.
    Tahun 1970-an diseluruh benua Asia, hanya ada satu negara yang sudah maju, yaitu Jepang. Negara2 Asia lainnya terkategori sebagai developing country.
    Tahun 1980-an negara2 Asia, Korea Selatan, Hong Kong,Taiwan, Singapura, RRT, Thailand, mulai maju, bahkan ketika itu Indonesia diprediksikan sebagai macan yang siap meloncat melampaui negara2 Asia lainnya. Sekarang ramalannya menjadi kenyataan; kuli dan babu meloncat ke-negara2 lainnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe kamsia Xiangseng membaca omelan saya dan menulis komentar. begitulah indonesia yg makin kalah dari malaysia, termasuk sepakbolanya. orang2 kalah itu ya sukanya menggerutu dan marah. di dalam negeri biasanya tenglang2 yg jadi sasaran tembak.

      Delete
  2. Bung Hurek, kemarin Indonesia dipermalukan lagi oleh Komisi HAM PBB di Genf.
    Diberitakan secara resmi, bahwa di-sekolah2 beberapa negara sering terjadi penyerangan terhadap murid2 wanita dan guru, hanya karena mereka ingin emansipasi. Disebut tujuan para penyerang, agar kaum wanita tetap bodoh, sehingga mudah diexploitasi. Negara2 tsb. adalah : Nigeria, Kongo, Mali, Haiti, El Salvador, Indonesia, Irak, Myamar, Syria dan Philippina. Pengamatan dilakukan sejak tahun 2009 - 2014.
    Saya harap juru tulis dikantor PBB salah ketik. Ibu Menlu harus protes !
    Siapakah Presiden, Menteri Pendidikan, Kapolri, Jaksa Agung, masa itu ?

    ReplyDelete