13 February 2015

Wartawan Palsu Marak, Wartawan Asli Dicurigai



Ulah wartawan-wartawan gadungan yang memeras pejabat kian meresahkan. Pagi ini Jawa Pos memuat berita di halaman utama (back cover) tentang Didik Prasetyo yang mencatut nama Jawa Pos untuk minta uang ke pejabat BPN Probolinggo. Mengaku wartawan Jawa Pos, Didik minta duit untuk biaya perawatan anaknya. Untung saja sang pejabat mau klarifikasi sehingga tidak jadi korban penipuan.

Sebelumnya ada juga pria yang mengaku wartawan Memorandum mencoba memeras pengacara di Surabaya sebesar Rp 40 juta. Untung saja si pengacara cerdas. Akhirnya kedok si wartawan gadungan itu terungkap. Dimuat besar-besar di Jawa Pos. Sebagai informasi kepada masyarakat bahwa wartawan beneran tentu tidak akan memeras narasumber. Apalagi mengancam dan menakut-nakuti narasumber agar dapat uang.

Dua atau tiga minggu lalu koran Memorandum juga memuat foto dua orang yang "sudah tidak lagi bekerja di Memo". Ada apa dengan kedua laki-laki ini? Tentu saja manajemen Memo yang dipimpin Bung Koto yang paling tahu.

Yang jelas, sebelumnya Memo memuat ulah wartawan gadungan yang minta duit untuk iklan (advertorial) di Memo sebesar Rp 1 juta. Saat itu si pejabat cuma kasih Rp 500 ribu. Anggap saja uang muka atau DP. Tunggu punya tunggu, iklan itu tak kunjung tayang. Sementara si penerima DP hilang entah ke mana. HP-nya tidak aktif.

Masih banyak lagi kasus wartawan-wartawan gadungan yang termuat di media massa. Yang tidak dimuat pasti lebih banyak lagi. Sebab biasanya si pejabat atau pengusaha mendiamkan saja pemerasan yang nilainya dianggap recehan. Anggap saja buang sial.

Toh, banyaknya kasus wartawan gadungan di Jawa Timur ini bikin resah wartawan-wartawan beneran. Sebab banyak narasumber, khususnya yang belum kenal, jadi skeptis ketika didatangi wartawan. Jangan-jangan cuma ngaku wartawan untuk minta duit! Jangan-jangan si narasumber jadi korban!

Itulah yang sempat saya rasakan ketika menelepon Pak Puji, pengurus wushu. Kebetulan saya belum pernah ketemu dia face to face. Tapi saya sering membaca berita-berita yang narasumbernya Pak Puji. Saya terkesan karena dia sukses mengembangkan olahraga asal Tiongkok ini. Karena momennya dekat tahun baru Imlek, saya coba menelepon beliau.

"Anda siapa? Masa sih wartawan? Aku kok gak pernah lihat anda? Yang saya tahu wartawan di Sidoarjo itu ya A, B, C...," katanya. Suaranya di ujung telepon benar-benar meragukan saya sebagai wartawan.

"Saya yang ngedit berita-berita yang ditulis wartawan yang namanya anda sebut itu," kata saya mencoba meyakinkan Pak Puji.

"Oke, tapi akan saya cek dulu," katanya.

Obrolan pun tak asyik lagi. Tanpa saling percaya, trust, komunikasi tidak akan jalan. "Okelah, kita akan ketemuan lain waktu. Sekalian silaturahmi," kata saya.

Pepatah lama bilang nila setitik rusak susu sebelanga. Gara-gara ulah wartawan palsu, image para pekerja media pun makin kurang enak di mata narasumber, khususnya pengusaha dan pejabat. Ditelepon sekadar minta informasi, wawancara tentang isu tertentu, dikira ada udang di baliknya.
Selamat hari pers nasional!

No comments:

Post a Comment