12 February 2015

Siapa suruh pilih Jokowi?

Siapa suruh pilih Jokowi?
Sendiri suka sendiri rasa....
Edo e sayang....

Syair pelesetan dari lagu Manado lawas, Siapa Suruh Datang Jakarta, ini disenandungkan Tante Sri setiap kali saya mampir di warungnya di kawasan Pucangsewu, Surabaya. Tante ini istri pensiunan TNI AL, pendukung berat Prabowo saat pilpres lalu. Sejak kampanye pilpres, tante mengingatkan betapa bahayanya jika Jokowi yang jadi presiden.

"Prabowo itu jenderal TNI. Beliau pasti kuat. Ojo milih Jokowi, pasti gak kuat. Presiden itu harus kuat," kata wanita asal Malang ini layaknya analis politik.

"Prabowo punya banyak masalah lho. HAM dan sebagainya," pancing saya di sela menikmati gulai kambingnya yang memang wuenaak.

"HAM iku opo? Wis lah, presidennya Prabowo pasti lebih kuat dan aman. Jokowi iku gak meyakinkan. Aku gak yakin blas. Dadi presiden ya kayak wayang aja," kata sang jurkam Prabowo kelas kaki lima ini.

Gak nyangka ramalan ibu warung ini terbukti benar. Belum sampai 100 hari jadi presiden, Jokowi sudah bikin banyak masalah. Sudah tahu Komjen Budi Gunawan punya rekam jejak seperti itu malah diajukan sebagai calon kapolri. Bikin gol bunuh diri. Jokowi main api dan akhirnya bingung sendiri bagaimana memadamkannya. Api sudah telanjur merembet ke mana-mana.

Semua komisioner KPK dijadikan tersangka dan calon tersangka. Penyidik-penyidik KPK juga diancam teror pembunuhan. KPK tak lagi direken oleh para saksi dan tersangka. Polri seperti di atas angin karena merasa didukung dalam permainan cicak buaya yang gak lucu ini. Presiden Jokowi bahkan belum bisa membuat keputusan segera untuk menghentikan permainan yang tak jelas ujungnya ini.

Tante Sri bilang rakyat Indonesia yang pada 9 Juli 2014 memilih Jokowi akhirnya hanya bisa menyesal. Ngelus dada. Tapi kerusakan sudah terjadi. Nasi sudah jadi bubur. "Siapa suruh milih Jokowi? Dia itu lemah. Bukan militer. Jelas aja gak berani melawan jenderal polisi," kata tante yang pikirannya kental nuansa Orde Baru.

Seandainya Jokowi itu militer, bintang empat, kayak SBY atau Prabowo situasinya tidak seperti ini. Jenderal SBY bisa tegas menghadapi polisi karena beliau memang bintang empat TNI AD. Mana berani polisi macam-macam sama tentara, kata tante. Lha, sekarang Jokowi malah takut sama polisi!

Akankah Jokowi mendengar suara wong cilik di pasar macam ini? Sepertinya petugas partai PDIP itu cuek saja. Jokowi malah blusukan ke Malaysia, diajak jalan-jalan ke pabrik Proton, dibohongi pedagang mobil yang ingin menjadikan Proton mobil nasional Indonesia! Lha, Proton itu mobil nasional Malaysia kok dibilang mobil nasional Indonesia??? Kepriye!

Blusukan Jokowi makin garing, gak ada gunanya, selama kisruh KPK vs Polri ini dibiarkan menggantung lama tak terselesaikan. Blusukan pun sia-sia bila Jakarta makin terendam banjir. Jangan salahkan Ahok, gubernur Jakarta sebelumnya siapa?

No comments:

Post a Comment