25 February 2015

Nyumbang buku tetap didenda

Saya tercatat sebagai anggota beberapa perpustakaan di Surabaya dan Sidoarjo. Ada yang perpustakaan umum kelas daerah, rumah baca, taman bacaan milik gereja, perpustakaan spesialis buku-buku lawas, hingga perpustakaan Londo semacam pusat kebudayaan Belanda.

Karena satu dan lain hal, saya selalu terlambat mengembalikan buku. Tentu saja harus bayar denda. Gak banyak sih. Cuma kalau telatnya lama, dikalikan tiga buku, ya jadinya banyak. Makanya jangan suka terlambat bayar pajak, ngurus STNK dsb.

Biasanya saya berusaha mengambil hati pengelola perpustakaan dengan menyumbang buku-buku lama. Ketimbang tidak dibaca. Ketimbang dijadikan bungkus kacang kalau jatuh ke tukang loak. Hitung-hitung ikut menambah koleksi perpustakaan. Gak pinjam tok tapi juga nyumbang. Tangan di atas lebih baik, kata orang.

Setelah menyumbang buku, saya pikir, denda keterlambatan buku itu dihapus. Bukankah nilai buku sumbangan saya jauh lebih mahal ketimbang besaran denda? "Terima kasih sudah nyumbang buku. Gak usah bayar denda segala," begitu kata-kata yang saya bayangkan dari mulut pengurus perpustakaan.

Hehehe.... Ternyata saya selalu kecele. Kata terima kasih sih ada tapi tetap harus bayar denda. Nyumbang ya nyumbang tapi kewajiban sebagai peminjam buku harus dijalankan. Peminjam yang telat diperlakukan sama. Baik yang menyumbang 10 buku, 20 buku, 2 buku, atau tidak pernah menyumbang sama sekali.

"Aneh sekali," pikir saya. Soalnya, pengalaman saya, ibu pemilik warung nasi selalu menggratiskan semua makanan dan minuman kalau sebelumnya saya kasihkan setumpuk koran bekas. Terima kasihnya berkali-kali. "Wis, gak usah bayar. Aku sing matur suwun sudah dikasih koran," katanya.

Belum lama ini saya mendaftar anggota sebuah perpustakaan terkenal yang sering masuk koran di Surabaya. Koleksi buku-bukunya memang bagus, langka, kualitas tinggi. Pinjamlah saya tiga buku. Seperti biasa, saya telat lagi. Pasti dapat sanksi denda nih!

Maka minggu lalu saya datang mengembalikan buku milik si perpus plus menyumbang tiga buku. Siapa tahu dibebaskan dari kewajiban bayar denda. "Anda bayar denda sekian," kata si nona manis penjaga perpus. Hehehe....

Tak lupa dia mengucapkan terima kasih atas sumbangan tiga buku itu. Kecele lagi saya. Rupanya ada kesamaan semua perpustakaan di kota buaya ini. Siapa pun yang menyumbang buku tidak akan lepas dari denda keterlambatan mengembalikan buku.

Hikmah: Menyumbang apa pun harus ikhlas. Jangan seperti saya yang menyumbang buku-buku lama dengan pamrih dibebaskan dari denda.

5 comments:

  1. Suatu metafora yang cocok dengan suatu kemelut hubungan internasional yang tengah terjadi.

    ReplyDelete
  2. Ibu penjual nasi menganut budaya Jawa.
    Si-nona manis penjaga perpustakaan menganut budaya barat ; Peraturan harus
    tetap peraturan, ( Hiob 6:29 ) Kitab Injil Perjanjian Lama.
    Kedua-duanya benar. Susah dibilang mana yang lebih baik, tergantung situasi masing2. Budaya Jawa ; satu tangan mencuci tangan yang lain. Bahayanya sarat
    KKN, tetapi menyenangkan, terasa halus, saling kamsia-kamsia-an.
    Budaya Barat ; terasa kasar, tidak kenal kemanusiaan dan kamsia, tetapi cocok untuk memberantas KKN.

    ReplyDelete
    Replies
    1. dui dui xiangshen... memang beda unggah ungguh jawa dan barat (modern). kita prlu kawinkan biar bisa jalan seiring. sing penting KKN diberantas habis.

      Delete
  3. Bung Hurek, di perpustakaan milik kota tempat saya tinggal di California, mau sumbang buku langsung taruh sendiri di gudang, gak ada orangnya. Bikin kuitansi sendiri menurut sistem kehormatan. Tidak ada petugasnya. Nanti buku-buku tersebut dilelang setiap setengah tahun sekali. Sisanya didaur ulang. Apalagi sekarang jaman elektronik, buku-buku lama yang cetakan bisa lapuk kalau disimpan di perpustakaan.

    Kalau denda, nah ini tetap harus bayar di meja depan. Kalau tidak bayar, tidak boleh pinjam / check out buku atau CD atau film DVD.

    ReplyDelete
  4. pihak perpustakaan butuh duit untuk operasional, bayar gaji pegawai dsb. cash money ini yg dibutuhkan perpustakaan. coba nyumbang duit.. ya tetep bayar denda juga.

    ReplyDelete