12 February 2015

Makam Bunuh Diri Dikucilkan di Lembata

Dua hari lalu seorang imigran pencari suaka asal Afghanistan, Ali Muhammad, ditemukan tewas gantung diri di Rusun Puspa Agro, Jemundo, Kecamatan Taman, Sidoarjo. Pemuda 19 tahun ini diduga stres karena masa depannya gak jelas. Gak jelas kapan diberangkatkan ke Australia. Kembali ke negaranya pun nyawa terancam. Sekitar 200 imigran gelap yang ditampung di Puspa Agro memang full stres.

Melihat foto si Ali gantung diri, yang tak akan dimuat koran karena sangat mengerikan, saya jadi ingat kasus bunuh diri di Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya di Lembata. Dulu, sebelum 1990-an, gantung diri lumayan banyak di Lembata. Caranya pun pakai gantung diri macam si Ali van Afghan itu. Tapi belakangan hampir tak ada lagi orang di kampung saya, bahkan kecamatan saya, yang kendat.

Di Sidoarjo dan Surabaya, angka bunuh diri cukup tinggi. Tapi caranya tidak pakai tali gantungan, melainkan nekat jalan atau duduk di atas rel kereta api. Koran-koran sering menulis tabrakan sepur dengan korban Mr X. Saking biasanya, peristiwa bunuh diri semacam ini tidak begitu bikin geger warga. Apalagi orang-orang kota biasanya tidak mengenal pelaku bunuh diri yang disebut Mr X atau Mrs X tersebut.

Di Flores Timur dan Lembata, NTT, gantung diri selalu bikin geger seisi kampung, bahkan desa-desa lain. Maklum, warga di berbagai desa itu punya hubungan kekeluargaan melalui pernikahan. Saling kenal satu sama lain. Gantung diri selalu jadi bahan pembicaraan di mana-mana. 

Semua orang pasti mati, tapi jangan pernah mati dengan bunuh diri! Begitu prinsip adat Lamaholot yang berlaku di Flores Timur dan sekitarnya. Sebelum agama Katolik masuk, prinsip ini melekat sangat kuat di kampung halaman. Masuknya agama Katolik dan Islam (kebetulan hanya dua agama resmi ini di Lembata) membuat kepercayaan adat tentang pentingnya menghargai kehidupan makin kuat.

Saksi adat untuk pelaku gantung diri (atau bunuh diri umumnya, apa pun caranya) sangat berat. Jenazahnya tidak boleh dimakamkan di tempat makam desa. Harus disendirikan. Harus sangat jauh dari lokasi makam desa. Harus di tempat yang sulit dijangkau. Bahkan, sering dimakamkan sendiri di kebun atau lahan milik keluarga mendiang.

Dulu saya tidak habis pikir mengapa ada diskriminasi terhadap jenazah. Bukankah orang mati, apa pun caranya, sama-sama jasad tak bernyawa? Mengapa harus dibedakan? Mengapa ada diskriminasi mayat? 

"Matay beloloken. Mupul bisa hala," kata seorang tetua adat di kampung. Artinya, meninggal tidak wajar, bunuh diri, tidak bisa disatukan di makam umum desa. Itu sudah jadi ketetuan leluhur turun-temurun yang tak bisa digugat. Kita hanya bisa menjalankan ketentuan itu tanpa perdebatan. Tradisi adat Lamaholot memang tidak untuk diperdebatkan! Titik!

Sering terjadi orang-orang kampung yang lama merantau di Jawa, Malaysia, Batam, atau Papua, setelah pulang mempertanyakan sistem adat yang "mendiskriminasi" jenazah pelaku bunuh diri. Biasanya argumentasi yang dipakai mengutip ayat-ayat Alkitab atau kitab suci. Menurut para kritikus, setelah jadi Katolik (atau Islam), seharusnya kita tidak lagi mendiskriminasi jenazah. Biarlah Tuhan yang mengadili manusia yang hidup dan mati! Bukankah Tuhan maha pengampun, pengasih dan penyayang?

Argumentasi alkitabiah yang masuk akal ini sejak dulu sampai sekarang tak mempan untuk menjebol tembok tradisi adat leluhur. Warga di kampung malah balas mencibir. 

"Memangnya hanya kalian yang membaca Alkitab? Hanya kalian yang Katolik? Kami di sini Katolik semua. Beda dengan kalian yang merantau di tanah Jawa atau Malaysia. Katoliknya berapa persen sih? Kok mau ngajari kami?" begitu antara lain argumentasi balasan yang sengit.

Kalau dipikir-pikir, tradisi leluhur untuk punya pelajaran moral yang luar biasa. Bahwa manusia jangan sekali-kali bunuh diri. Bunuh diri, dengan alasan apa pun, tidak dibenarkan. Bunuh diri di Lembata tak hanya mengambil nyawa sendiri tapi juga menimbulkan aib besar bagi keluarga besar yang ditinggalkan. Sebab, makamnya terpisah jauh dari makam biasa. 

No comments:

Post a Comment