08 February 2015

Lamanya Perjalanan Kapal dari NTT ke Surabaya

Betapa lamanya naik kapal laut, yang tergolong bagus, milik PT Pelni, dari NTT ke Jawa Timur atau Jakarta. Bung Lewa tiba-tiba menghubungi saya karena sedang berlayar dengan KM Umsini dari Lewoleba, ibukota Kabupaten Lembata, NTT, ke Surabaya. "Tolong jemput di Tanjung Perak karena ada kiriman dari kampung," katanya lewat telepon.

Lalu, saya mengecek jadwal KM Umsini di situs PT Pelni. Situs yang sangat informatif, detail, dan selalu diperbarui. Wow, pelayaran kapal penumpang andalan orang Indonesia Timur ini mampir ke banyak pelabuhan kecil, sedang, besar.

Karena itu, waktu tempuh pun menjadi sangat lamaaaaa.... Pepatah "time is money" tidak berlaku jika kita naik kapal-kapal Pelni macam KM Umsini ini. Penumpang kapal-kapal macam ini wajib punya kesabaran ekstra. Santai, tidak buru-buru, dapat cuti panjang, tidak punya deadline. Paling bagus kalau punya usaha sendiri. Bukan karyawan atau pegawai perusahaan swasta atau PNS.

Bayangkan, KM Umsini yang bertolak dari Pelabuhan Lewoleba pada 6 Februari pukul 09.00 baru tiba di Pelabuhan Surabaya (Tanjung Perak) pada 8 Februari pukul 23.00. Artinya, butuh waktu 3 hari perjalanan. Itu pun jadwal di atas kertas atau perkiraan saja. Biasanya perjalanan selalu molor karena gangguan cuaca, teknik, adiminstrasi, koordinasi, dan sebagainya.

Mengapa begitu lama? KM Umsini harus mampir di Larantuka. Kemudian Maumere, sandar 5 jam. Kemudian mampir di Makassar. Setelah sandar 5 jam di Makassar baru bertolak ke Surabaya. Lama perjalanan 28 jam!

Meskipun lama, warga hampir semua warga NTT di perantauan lebih memilih naik kapal-kapal Pelni karena tarifnya yang terjangkau. Sekitar Rp 500 ribu, makan tiga kali, ada hiburan televisi dan (kadang-kadang) live music. Bandingkan dengan naik pesawat dari Surabaya (Bandara Juanda) ke Lembata yang rata-rata Rp 1,5 juta per orang.

Bagi yang ingin cepat, masa cuti terbatas, tentu angkutan udara jauh lebih efektif. Bayar Rp 1,5 juta, tapi lama perjalanan hanya sekitar 2,5 jam. Ketimbang menghabiskan waktu di laut selama 3 hari. "Pergi pulang butuh tujuh hari. Masa cuti kita habis di perjalanan," kata Bung Anton.

Mumpung Presiden Jokowi lagi getol bicara tol laut, maritim, kelautan, perikanan, ada baiknya transportasi laut di Nusantara ini dibenahi. Kalau bisa kapal-kapal penumpang diperbanyak agar kapal-kapal tidak mampir di begitu banyak pelabuhan. Dan menginap sangat lamaaaa.... Syukur-syukur ada kapal cepat yang bisa mempercepat lama perjalanan di laut.

2 comments:

  1. Membaca artikel diatas, saya melihat lagi peta bumi Nusa Tenggara. Jaraknya jauh amat, dari Lembata ke Surabaya. Yang saya ingin tahu adalah jaraknya, bukan letak-nya. Kita anak2 Indonesia yang lulusan sekolah rakyat, hampir semuanya hafal ilmu bumi Indonesia, sebab diujian negeri SR selalu ada pertanyaan peta buta.
    Terbesit dikepala saya, apakah bedanya geografi dan topografi. Saya cari di mbah google, oh jadi yang saya pelajari di sekolah Indonesia adalah geografi,
    sedangkan yang saya pelajari di militer adalah topografi.
    Peta geografi berbeda dengan peta topografi. Ketika jadi tentara, kita diberi peta yang aneh dan kompas spesial untuk tentara yang ada koordinatnya. Pada suatu hari kita diperintahkan membawa seluruh perlengkapan : isinya macam2, pakaian dinas musim panas dan musim dingin, selimut, kasur tipis dari busa, tenda, sekop-pacul, sikat sepatu, semir, senjata laras panjang inklusiv magazin2 peluru, topi baja rangkap dua, alat makan, dll. tetek bengek. Semuanya ditata dalam ransel tentara yang besar, cara menatanya juga harus rapi dan seragam. Berat ransel seluruhnya kira2 30 Kg plus senjata 5,4 Kg. Kita dibagi tiap regu 3 orang, diturunkan dari truck di-tempat2 yang berbeda, semak belukar, hutan, pada jam yang ditentukan, kita semua harus kumpul disuatu tempat untuk makan bersama. Sebelumnya saya bilang kepada dua kawan lainnya ; lu orang yang masih muda, perhatikan baik2 cara pakai kompas dan peta, supaya kita tidak nyasar, pokoknya gua ikut dibelakang kalian. Jarak yang harus ditempuh jalan kaki, memanggul ransel dan senjata adalah 26 Km. Dulu saya masih kuat, walaupun perokok. 20 tahun kemudian anak laki-saya, harus juga jadi tentara, ketika dia dipindah ke-kompani yang kebetulan tangsinya dikota kami, dia mampir kerumah, saya coba panggul ranselnya, waduh kok berat sekali, gua tanya, berapa beratnya ? 40 Kg pa !
    Di Kompi, hanya saya orang Asia, kepala kompi, seorang Mayor bertanya kepada saya, kamu dari mana ? Dari Indonesia pak mayor ! Dia tertawa ter-bahak2. Kenapa anda tertawa ? Aku jadi teringat akan rokok kalian yang enak diisap. Maksud bapak rokok kretek ? Ya, begitulah mungkin namanya ! Kok bisa anda mengisap rokok kretek ? Dulu waktu aku ikut tugas tentara PBB di Suez dan Sinai, tiap hari aku kumpul dengan tentara2 dari Indonesia, ngobrol dan ngisap rokok kretek, kalian orang Indonesia sangat ramah !
    Bapak mau rokok kretek, nanti saya pesankan dari Surabaya ? Boleh, terima kasih ! Selang 3 minggu, saya hadiahkan dia 2 bos rokok kretek.
    Bung Hurek, betulkah kita orang Indonesia masih Ramah ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebetulnya tidak jauh amat kalau kapalnya berlayar dari flores timur ke arah barat, komodo, bali, lalu jawa timur. KM umsini ini belok dulu ke utara, makassar, yg jauh banget, lalu menyilang ke arah surabaya. Kayak orang dari surabaya ke sidoarjo gak lurus lewat jalan a yani ke gedangan dst, tapi belok ke barat dulu ke sedati, juanda, lalu kembali ke buduran. Mbulet gak karuan! Tapi mau gimana lagi? Selamat mempersiapkan sincia... gonxi facai! tambak sukses, makmur dan sehat.

      Delete