06 February 2015

Kantin Katedral tanpa bacaan

Setengah jam lalu saya mampir di kantin Gereja Katedral Surabaya. Ngopi. Ramai banget suasananya. Ruangan menjadi terlalu sempit untuk memuat pengunjung. Belasan anak SMA terpaksa ngalah. Semua kursi terisi.

Lama benar saya tidak singgah di kantin yang dulu jadi tempat mangkal saya ini. Maka saya pun pangling dengan suasana baru. Kantinnya berubah seperti kafe di mal atau hotel. Bersih, terawat, sistem bayar di muka. Karakter pengunjung pun jadi beda dengan dulu.

Mana tempat majalah Time, Newsweek, Tempo, Hidup, Jubileum, Gatra? Mana koran Jawa Pos, Kompas, Surya? Mana buku-buku filsafat, teologi, humaniora, katekismus, liturgi, ASG (ajaran sosial gereja)? Nggak ada lagi. Ruangan di pojok itu tidak ada lagi. Ditaruh meja, kursi, buat pengunjung.

Maka suasana kantin gereja terkenal di Surabaya ini tak lagi mirip taman bacaan atau perpustakaan. Saya tak lagi mendengar obrolan mahasiswa, mudika, aktivis ormas, tentang Gramsci, teologi pembebasan, option for the poor, ASG, ansos (analisis sosial), gereja diaspora, dan sejenisnya. Tema obrolan yang saya dengar pun hampir tidak ada yang berhubungan dengan kekatolikan atau kristianitas.

Para pengunjung kantin sibuk main HP sendiri-sendiri. Diskusi yang rada berat kayak masa lalu sepertinya hilang dari kantin yang jaraknya cuma 50an meter dari Katedral Hati Kudus Yesus itu.

Dunia literasi memang berubah drastis sejak adanya revolusi ponsel pintar. Media sosial jadi jembatan komunikasi. Kita pun ngopi sendiri-sendiri tanpa membaca majalah atau buku atau sekadar menyapa orang di sebelah kita yang sama-sama Katolik. Ya, semua informasi tentang apa saja, termasuk liturgi, katekismus, filsafat, ensiklik... bukankah sudah ada di internet? Buat apa ada buku-buku dan media cetak?

Pukul 12.00 siang tepat. Suasana kantin Katolik ini pun tak berubah. Pengunjung sibuk dengan HP-nya, ngobrol, asyik sendiri. Tak ada lagi doa angelus bersama seperti tradisi umat Katolik tempo doeloe. Padahal lonceng tanda waktunya sembahyang angelus atau malaikat Tuhan terdengar begitu keras dari Gereja Katedral.

Lama-lama manusia modern di kota besar ini lupa berdoa karena toh sudah ada jutaan macam doa di... internet!

No comments:

Post a Comment