25 February 2015

Ilmu Hewan, Ilmu Hayat, Ilmu Bumi, Ilmu Tanah

Pak Bos, Dahlan Iskan, dalam kolom tetapnya di Jawa Pos edisi Senin, 23 Februari 2015, menghidupkan lagi istilah ILMU HEWAN. Salah satu mata pelajaran di sekolah yang kemudian lebih dikenal dengan biologi atau zoologi. Begini tulisan Pak Dahlan saat membahas pencurian sapi yang luar biasa di Pulau Sumba, NTT:

"Saya ingat, setiap terjadi gejolak harga daging, pembahasannya selalu sangat ilmiah. Ilmu supply and demand, ilmu dagang, ilmu hewan, ilmu logistik, serta segala macam ilmu diperdebatkan."

Aha, ilmu hewan! Saya jadi ingat buku-buku pelajaran atau kuliah lawas yang menumpuk di lapak buku-buku bekas Jalan Semarang, Surabaya. Istilah yang dipakai memang sangat sederhana, merakyat, begitu mudah dipahami. Termasuk orang awam yang tak makan sekolah tinggi.

Ada ilmu hewan. Ilmu hayat. Ilmu bumi. Ilmu antariksa. Ilmu tumbuhan. Ilmu bumi. Ilmu jiwa. Ilmu dagang. Ilmu hukum. Ilmu pesawat. Ilmu pasti. Ilmu serangga. Ilmu sosial.

Para intelektual, ahli, tempo doeloe, rupanya bekerja keras dan cerdas untuk menerjemahkan istilah-istilah ilmiah dari bahasa Inggris atau Belanda ke dalam bahasa nasional. Mereka tidak cari gampang dengan menyerap begitu saja istilah bahasa Inggris. Biology jadi biologi. Climatology dijadikan ilmu iklim, bukan klimatologi. Zoologi jadi ilmu hewan, bukan zoologi. Psycologi jadi ilmu jiwa, bukan psikologi.

Saya ingat masa kecil saat sekolah dasar di pelosok NTT. Bapak Guru Paulus selalu mengatakan bahwa di Yunani itu banyak ahli pikir. Apa pula ahli pikir itu? Ahli-ahli yang berpikir mendalam tentang hakikat kehidupan. Setelah dewasa baru saya paham. Oh, ahli pikir itu ternyata filsuf atau filosof. Ilmu pikir itu tak lain filsafat.

Saat kuliah, ada satu mata kuliah dasar yang SKS-nya banyak, praktikumnya lama, biasa menginap di laboratorium, sering gagal, bahan kimianya banyak dan sangat berbahaya. Mata kuliah itu namanya ILMU TANAH. Ilmu tanah itu sangat berbeda dengan ilmu bumi meskipun tanah dan bumi mirip-mirip artinya. Ilmu tanah membahas jenis tanah, struktur, kandungan kimia, pupuk apa yang cocok, tanaman yang cocok, penyerapan air, dsb. Rumus-rumusnya juga banyak.

Mahasiswa-mahasiswi umumnya jengah mengikuti kuliah ilmu tanah ini. Selain lama, banyak praktikum, dosennya juga mahal kasih nilai. Setahu saya tidak ada nilai A. Yang dapat B juga sedikit. Padahal, kami sudah membaca buku-buku ilmu tanah yang sangat tebal. Karena itu, ketika membaca berita banyak sarjana sekarang IP-nya kebanyakan di atas 3,3; bahkan mendekati 4,0; saya jadi heran. Betapa mudahnya si dosen sekarang kasih nilai!

Nah, ilmu tanah ya ilmu tanah. Istilah asing seperti soil science atau pedology tak pernah dipakai di kampus-kampus Indonesia. Nggak tahu sekarang. Begitu membuminya istilah ilmu pengetahuan itu. Sama dengan ilmu bumi (istilah lawas) yang kini lebih dikenal dengan geografi.

Setelah pemikir-pemikir lawas menua dan jadi almarhum, Indonesia memasuki era baru: nginggris! Sedikit-sedikit pakai istilah Inggris. Britis-britisan! Slogan-slogan di kota, bahkan kampung, pakai English. Nama-nama mata pelajaran atau mata kuliah pun ikutan nginggris. Setidaknya pakai serapan dari bahasa Inggris.

Karena itu, anak-anak sekarang pasti bingung (mungkin geli) mendengar istilah ilmu hewan, ilmu bumi, ilmu tanah, ilmu pasti, ilmu jiwa, ilmu serangga, dan sebagainya.

8 comments:

  1. Waktu saya SMP di tahun 80-an, itu masa transisi. Guru-guru lama masih menggunakan istilah Ilmu Alam untuk Fisika, Ilmu Hayat untuk Biologi, Ilmu Bumi dan Antariksa (bagian dari Fisika), dan Ilmu Bumi untuk Geografi. Tetapi, buku-buku paket dari pusat sudah menggunakan istilah-istilah baru tersebut. Tetapi memang serba salah Bung Hurek. Kalau sudah mendalam sekali, susah mencari padanan kata Latin atau Yunani yang digunakan di dalam ilmu pengetahuan. Itu karena bahasa ilmu pengetahuan (sains) ialah Latin dan Yunani, sedangkan bahasa Indonesia merujuk kepada Sansekerta dan Arab sebagai bahasa klasik.

    ReplyDelete
  2. Kamsia Bung Hurek, saya baru pertama kali membaca kata ilmu antariksa,
    opo iku mas ? opo podo karo ilmu falak yang pernah saya diajarkan disekolah rakyat ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. kamsia xiangshen. ilmu antariksa = ilmu falak. dulu ada IPBA: ilmu pengetahuan bumi dan antariksa. pelajaran di sekolah yg membahas planet2, bulan, bintang, tata surya, dsb. istilah kerennya: astronomi, kalo gak salah.

      Delete
    2. Kamsia, tak lama lagi saya harus absent nyerocos di Blog Anda, sebab tanggal 4 Maret saya harus pulang ke Tiongkok. Waktu Sincia saya jalan2 ke Holland dan Jerman selama 10 hari, mengunjungi family dan teman2 sekolah. Di Holland saya ketemu seorang cewek Indonesia. Saya tanya; kamu lahir dimana dan tahun berapa ?
      Dia bilang; lahir di Rampal-Malang tahun 1949. Lho, Rampal kan tangsi tentara ? Ya, bapak-ku seorang tentara KNIL. Kok bisa tahun 1949 masih ada tentara Belanda di Malang ?
      Saya baru ingat sejarah, Indonesia de facto merdeka 17.8.1945, tetapi
      de jure setelah Konferensi Medja Bundar, tanggal 27 Desember 1949 Belanda menyerahkan Kedaulatan kepada Bangsa Indonesia.
      Itulah sejarah terbentuknya Republik Indonesia Serikat, sehingga ada istilah Provensi Kepulauan Sunda Ketjil.
      Cewek2 Indo-Belanda ayu2, kelihatannya cucu-cucu tentara KNIL betah dan sangat bahagia hidup dinegeri orang. Wajah mereka ceria, celana jengki-nya ngepres2.
      Saya betah hidup di Tiongkok, sedangkan bojoku lebih betah di Eropa,
      jadi setelah pulang Tiongkok, entah kapan aku, seorang suami yang tercocok hidung, ditarik ke Eropa kembali. Pokoknya kalau lebih lama dari dua bulan di Eropa, pasti aku akan minggat pulang Tiongkok dewean.

      Delete
    3. kamsia dan salam capgomeh untuk xiangshen yg akan pulang ke cungkuo. titip salam untuk tuan Xi Jinping dan nyonyanya yg cantik dan pintar nyanyi. Nyonya Peng Liyuan suaranya luar biasa menggetarkan, bikin bulu kuduk merinding. Minta tuan Xi tidak sensor internet lagi lah. selamat minum jamu tenglang.

      Delete
  3. Bung Hurek, setelah membaca tulisan2 Anda, saya berkesimpulan, Anda banyak bergaul dengan warga Tenglang Jawa Timur. Apakah Anda sudah menyadari, bahwa engkoh2 Surabaya atau Jawa Timur, khususnya yang pernah sekolah Tionghoa, sifatnya jahil, suka guyonan. Jahil dalam arti ke-kanak2-an, suka menggoda temannya. Kalau tidak salah, istilahnya go-pi.
    Apropos jamu tenglang : Ketika kami 15 tahun silam ke Tiongkok, ingin membeli sebidang tanah untuk membangun rumah, kami disambut oleh para pejabat kabupaten China dengan sangat hormat, dikira kami Hoakiao-konglomerat yang ingin berinvestasi besar2-an. Maklumlah ketika itu Tiongkok belum sekaya sekarang. Kami diinapkan di-komplek Villa2 milik negara, ada restorant dengan koki ( juru masak ) yang pandai. Mereka engkoh2 China-kampung, mungkin belum pernah melihat perempuan Asia-Tenggara. Bojo-ku, Tionghoa peranakan,
    wajahnya lebih mirip mbak2-suroboyo daripada tacik China yang sipit.
    Kami dijamu makan malam. ditanyai ingin makan apa ? Saya bilang terserah !
    Engkoh2 pejabat ter-tawa2, ber-bisik2. Salah satunya menganjurkan sup-spesial untuk dihidangkan kepada kami. Saya yang tidak seberapa fasih berbahasa China, tidak ngerti apa yang dibicarakan. Hidangan2 yang terlesat disajikan.
    Mereka bertanya kepada saya, sup-nya enak ? 好吃, saya jawab.
    Setelah selesai makan, kami kembali ke villa untuk tidur. Jancuk, entah sup apa-an yang telah kami makan. Badanku terasa panas, ngaceng ora karuan, sampai
    bojoku sambat2 karena basah-kering-basah kering. Kami telah dijahili oleh engkoh2 tenglang cino2-kampung itu. Sekarang saya butuh sup itu, tetapi malu bertanya kepada mereka, apa namanya sup-spesial itu. Orang China, sejak 2000 tahun silam sudah tahu rempah2 mujijat.
    Sebelum pulang Tiongkok, sebetulnya saya ingin berinvestasi besar2-an di Jawa Timur, waktu itu masih zaman Pak Harto, Bapak Bupati Jawa terang2-an berkata:
    Aku oleh e opo ? Minta sogokan cash, dan juga minta saham 30 %. Katanya harus kasih upeti ke Gubernur, terus ke-instansi2 pusat Jakarta, istana, ada titipan2 para jendral purnawirawan, para alim ulama, ustatz, preman demi keamanan,...dll. Uang habis ratusan ribu US Dollar, ora ono juntrung e ! Itulah Ibu Pertiwi. Memang Indonesia perlu pemimpin seperti Xi Jin-ping, supaya korupsi dibabat habis. Jin-ping orangnya kalem, tetapi berwibawa dan tegas.
    Kalau si-Ahok, forget it ! Maksudnya baik, namun tidak punya wibawa. Para pengagum Ahok, tidak mengerti definisinya kata WIBAWA. Ngamuk2 dikira wibawa. Nantang bertinju dikira wibawa. Nantang duell dengan pistol dikira wibawa. Elek2 o ngene, aku yo pernah nyandang pistol Colt Government M1911,
    waktu masih wajib di militer.

    ReplyDelete
  4. Bener banget Xiangshen. Saya memang sering guyon sama tenglang2 lawas, bahkan dulu sering ikut rombongan baksos (bakti sosial) ke mana2. Bos2 itu kalau ketemu temannya, apalagi sesama alumni sekolah Tionghoa, guyon dan jahilnya luar biasa. Sisi lain dari laopan2 yg tak banyak orang tahu. Di sepanjang, Taman, Sidoarjo, ada tenglang sepuh yg kalau kita ajak ngobrol, guyonannya sangat enak.

    kalau mr Ahok ini dari Belitong, sehingga gayanya kenceng, keras, seperti marah2 terus. beda dengan tenglang2 senior di Jawa Timur yg gayanya halus, kritiknya dibungkus lewat guyon dan kamsia2an. mungkin karena jatim ini sejak jaman Londo dikenal sebagai pabrik ketoprak dan ludruk.
    kamsia dan selamat minum teh pahit zhongguo cha...

    ReplyDelete
  5. sains memang identik dgn bahasa inggris dan bahasa2 barat yg jauh lebih mapan. bahasa indonesia agak kedodoran. karena itulah, bahasa melayu di malaysia tidak dipakai untuk bahasa saintifik. mereka pake bahasa inggris.

    ReplyDelete