24 February 2015

Hobi memecah kabupaten di NTT

Pagi tadi ada berita kecil di koran terbitan Jakarta yang menggelitik saya. Judulnya: Sumba Timur Usulkan Tiga Kabupaten Baru. Wow, luar biasa! Satu kabupaten ditambah tiga kabupaten lagi? Di daerah yang penduduknya sedikit itu? Yang secara ekonomi masih belum mapan?

Bupati Gideon bilang penambahan tiga kabupaten baru itu demi peningkatan pembangunan. "Ini bukan dorongan atau tekanan dari elite politik," katanya.

Aneh tapi nyata! Begitulah yang sudah lama terjadi di NTT sejak reformasi. Provinsi yang aslinya hanya punya 12 kabupaten ini sekarang jadi 22 kabupaten. Mungkin 23. Sebab, usulan dari NTT biasanya diloloskan di Senayan, Jakarta. Kecuali usulan Provinsi Flores yang sampai sekarang selalu kandas. Juga Kabupaten Adonara!

Orang NTT yang terlalu lama merantau, tidak pulang kampung tujuh atau delapan tahun, misalnya, pasti pangling saat mudik ke kampung asalnya. Ternyata data di kartu identitas atau ijazah atau surat-surat penting lain sudah gak cocok. Saya yang pakai identitas lahir di Flores Timur, sekarang harus minta revisi menjadi Lembata. Sebab Lembata sudah jadi kabupaten sendiri. Bukan lagi Kabupaten Flores Timur.

"Kabupaten Adonara tinggal menunggu waktu saja," kata Adrianus, rohaniwan asal Adonara. Saat ini Adonara masih gabung Flores Timur. Sepuluh tahun mendatang ceritanya mungkin lain.

Teman-teman di Jawa Timur tentu heran, campur geli, membaca berita pemekaran kabupaten yang penduduknya di bawah satu juta itu. Kalau dibagi empat, populasinya berapa? Maklum, Jawa Timur yang punya 44 juta penduduk sejak dulu tetap 38 kabupaten/kota. Tetap satu provinsi. Bahkan tak ada pikiran sedikit pun untuk menambah provinsi atau kabupaten.

Pulau Madura sebetulnya layak jadi provinsi sendiri. Penduduknya jauh lebih banyak dari Provinsi Gorontalo. Infrastruktur jalan raya, pelabuhan, dsb jauh lebih bagus daripada di NTT atau kawasan lain di luar Jawa. Dengan adanya Jembatan Suramadu, Pulau Madura sejak 2009 sudah terhubung dengan Pulau Jawa. Jaraknya cuma 5,4 kilometer. Tapi kenapa Madura tidak ngotot jadi provinsi kayak Flores?

"Karena orang Madura pintar," kata teman saya Ahmad, orang Bangkalan. Jadi satu dengan Jatim jauh lebih menguntungkan. Berdiri sendiri malah tambah sulit maju.

Cara berpikir orang NTT, khususnya politisi dan birokrat, beda. Populasi sama sekali tidak dipertimbangkan. Maka banyak kabupaten yang penduduknya kurang dari 300 ribu jiwa. Itu di Flores, pulau terbesar di NTT. Di Sumba yang daratannya kosong itu penduduknya jelas lebih sedikit lagi. Bandingkan dengan Kabupaten Sidoarjo di Jawa Timur yang penduduknya 2,5 juta. Belum termasuk pendatang atau penduduk musiman.

Di NTT, seperti dikatakan Bupati Sumba Timur Gideon tadi, pemekaran kabupaten perlu untuk peningkatan pembangunan. Logika sederhana. Semakin banyak kabupaten, maka alokasi dana dari pusat semakin banyak. Kalau biasanya cuma satu kabupaten, sekarang jadi empat. Proyek-proyek makin banyak. Makin banyak pula lowongan PNS yang tersedia. Jangan lupa, PNS merupakan profesi yang paling diidamkan dan dihargai di NTT.

Ada dampak ikutan yang luar biasa dari pemekaran kabupaten ini. Otomatis kecamatannya diperbanyak. Satu desa yang besar bisa dipecah jadi tiga atau empat desa. Bagi NTT yang sangat mengandalkan kucuran dana dari pusat, pemecahan desa-desa ini memang "meningkatkan pembangunan" seperti dikatakan Pak Bupati tadi. Kucuran dana besar untuk proyek pusat macam PNPM otomatis dibagi ke tiga atau empat desa.

"Jadi, kita bisa perbaiki jalan desa, bikin sumur, dan sebagainya. Kalau cuma satu desa ya PNPM-nya juga hanya untuk satu desa saja," kata petinggi di kampung saya di Kabupaten Flores Timur, eh Kabupaten Lembata.

Manfaat lain pemekaran kabupaten yang dirasakan di NTT, setidaknya bagi saya, adalah bisa melihat langsung wajah bupati, bersalaman, ngobrol, ngopi, bercanda. Dulu ketika Lembata masih ikut Kabupaten Flores Timur, saya tidak pernah melihat langsung wajah bupati. Namanya doang yang harus kami hafalkan di SD. Mengapa tidak bisa lihat bupati? Sebab sang bupati belum pernah sekalipun mengunjungi desa/kecamatan saya.

Sekarang setelah Lembata jadi kabupaten sendiri, setiap saat kita bisa melihat bupati atau wakil bupati. Bahkan selama 10 tahun pak bupati dan keluarga sangat sering blsukan ke kampung saya. Kita tahu persis siapa orang tuanya bupati, kakek neneknya, keluarga besarnya, makam leluhur, rumah adat dsb. Mengapa? Karena pak bupati itu tidak lain tetangga dekat di kampung.

3 comments:

  1. Yah ini cara akal-akalan untuk mendapatkan dana dari pusat. Berarti sebenarnya kalau dananya cukup dan distribusinya benar, tidak perlu diperbanyak alat birokrasinya.

    ReplyDelete
  2. Jedes Volk verdient die Regierung, die es ertraegt ! Ungkapan ini sudah pernah saya tulis. Saya juga sudah pernah menulis, die Eropa justru jumlah kecamatan dan kabupaten dikurangi, dengan cara penggabungan. Tujuannya adalah penghematan biaya. Setiap warga maklum, bahwa Pejabat dan PNS adalah
    sumber penghamburan keuangan negara, kecuali pegawai pajak yang jujur.
    Ditinjau dari sudut ekonomi, PNS adalah pekerjaan yang tidak produktiv, sayangnya kita perlu pemerintahan dan birokrasi.
    Di era demokrasi, saya heran terhadap rakyat Indonesia. Mengapa mereka begitu gencarnya menghujat memaki kepala daerah, para anggota DPR dan DPRD. Jika para kepala daerah, anggota dewan, suka korupsi atau brengsek, siapakah yang memilih mereka waktu pilkada, pileg ?
    Jika politikusnya brengsek, maka si-pemilih ( rakyat ) lebih brengsek lagi dan bodoh ! Di era komputerisasi kita bisa menghemat PNS. Yang terpenting adalah tingkatkan SDM, budipekerti dan ganyang KKN. Di Eropa pemerintah dan politisi boleh digonta ganti, bagi rakyat, dalam kehidupan se-hari2, tidak ada pengaruhnya sama sekali, selama PNS-nya jujur dan mengabdi kepada masyarakat. Logika rakyat Indonesia sering bertolak belakang dengan logika masyarakat modern. Bo-fat, bo-fat !

    ReplyDelete
  3. Pemekaran juga menghadirkan atau melahirkan bupati baru

    Jadi tidak usah bertarung, bagi bagi wilayah sama sama jadi bupati

    Sama sama enaknya :)

    ReplyDelete