07 February 2015

Banyak Makanan Haram di Flores Timur

Di mana-mana selalu ada makanan (dan minuman) yang pantang dikonsumsi. Haram! Bisa karena alasan keagamaan, kesukuan, atau kesehatan. Yang paling jelas, kita semua tahu, orang Islam haram makan daging babi dan minum minuman beralkohol. Ada juga beberapa makanan lain yang pantang dimakan kaum muslim, tapi yang paling jelas ya babi.

Di Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya etnis Lamaholot, yang tinggal di Kabupaten Flores Timur, Lembata, dan Alor, keharaman makanan ini berbeda-beda antara satu suku (semacam marga) dengan suku lain. Ada suku yang pantang makanan babi. Ada yang haram makan RW alias krengsengan daging anjing. Dan sebagainya.

Suku kami, Hurek, misalnya, diharamkan makan si RW. Padahal, krengsengan anjing ini tergolong makanan yang sangat populer di Indonesia timur. Betapa takutnya orang-orang kampung di Kabupaten Lembata melihat satu dua orang yang nekat melanggar pamali nenek moyang ini. 

"Kutukannya luar biasa kalau kamu sampai makan daging anjing. Sudah banyak contohnya," kata Kak Lina yang paling peduli berbagai aturan adat Lamaholot. 

Contohnya? Kak Lina dengan fasih menyebut beberapa orang bermarga Hurek yang pernah makan daging anjing. Penyakit kulit gatal dan aneh tidak sembuh-sembuh. Dibawa ke bidan tidak mempan. Obat-obatan dari dokter pun tak manjur. "Belara-belara," katanya. Maksudnya: sakit dan penderitaannya luar biasa!

Akhirnya, orang-orang yang melanggar ketetuan adat ini diurus secara adat pula. Penyakit mereka pun perlahan-lahan mereda. Maka, warga setempat turun-temurun sangat yakin akan keampuhan aturan adat yang mengharamkan daging anjing itu.

Pada 1 Januari 2015 lalu, saya mendapat kiriman daging domba (sejenis kambing yang berbulu tebal). Kelihatannya sangat enak, menerbitkan selera makan. Saya pun siap menyantap makanan yang dikirim keluarga Suster Ursula itu. Kak Lina naik pitam. "Wow... wow... jangan pernah engkau makan daging itu. Sangat diharamkan suku kita," katanya dengan nada tinggi.

Saya yang meninggalkan kampung halaman sejak usia 12 tahun pun terkaget-kaget. Apa yang salah dengan domba? Bukankah domba sudah lama diternakkan d kampung? Selama ini saya hanya tahu bahwa suku Hurek hanya diharamkan makan anjing dan ikan paus.

"Domba juga haram untuk kita. Kalau suku lain makan domba tidak apa-apa," kata Kak Lina, yang sangat ketat menjaga adat Lamaholot di kampung.

Kalau Kak Lina sudah bicara adat, kita tidak bisa apa-apa. Maka, saya pun tak jadi menikmati daging domba yang kelihatannya maknyus itu. Yois yang sukunya bukan Hurek tersenyum puas karena malam itu hanya dia seorang yang boleh makan daging domba. Sukunya si Yois, Langoday, juga punya makanan-makanan haram yang lain.

Malam itu akhirnya menjadi kesempatan bagi Kak Lina untuk menceritakan beberapa legenda adat tentang latar belakang mengapa makanan ini pantang dimakan. Mengapa suku Hurek tak boleh makan anjing. Mengapa suku Hurek tak boleh makan ikan paus alias TEMU (bahasa Lamaholot). Mengapa tak boleh makan daging domba. Berikut akibat-akibatnya bagi kami yang nekat menerabas aturan adat lawas ini.

"Temu nepe sare-sare. Nolo na tolong nenek moyang titen," tutur Kak Lina. Artinya, "Ikan paus itu sangat baik. Dulu ikan paus itulah yang menolong nenek moyang kita (ketika perahunya tenggelam di laut)."

Begitulah. Dalam adat Lamaholot, yang sangat dijunjung tinggi di Kabupaten Lembata, Flores Timur, dan Alor, pantangan adat semacam ini sangat keras. Jangan sekali-sekali melanggar, apalagi sampai ketahuan para sesepuh dan penjaga adat macam Kak Lina ini. Sebab, konsekuensinya kita harus membuat semacam upacara rekonsiliasi (pertobatan) di rumah adat yang panjang. Makan biaya besar dan sangat merepotkan orang banyak.

Biasanya, tidak semua orang NTT yang merantau di Malaysia patuh pada ketentuan halal haramnya makanan ala adat suku Lamaholot itu. Malah aturan ini dianggap semacam guyonan saat temu kangen. "Saya sering makan RW (krengsengan anjing) tapi gak apa-apa. Kita harus kembali ke kitab suci kalau memang kita ini orang Katolik. Aturan di kitab suci itu lebih tinggi daripada aturan adat," kata Om Kornelis Hurek di Malang.

Paman yang satu ini memang paling rajin membaca Alkitab ketimbang orang-orang Flores lain yang pernah saya temui di Jawa Timur. Karena itu, beliau selalu menggunakan ayat-ayat suci ketika ada perdebatan soal aturan adat Lamaholot, khususnya halal haramnya makanan itu. 

"Percayalah, kita semua yang bermarga Hurek, kalau makan daging domba atau ikan paus atau RW, tidak akan sakit. Malah lebih sehat karena gizinya tinggi. Saya sudah buktikan sendiri kok," kata Sang Paman yang juga sesepuh orang Lamaholot di Kota Malang, Jawa Timur, itu.

Saya menahan senyum geli mendengar argumentasi Om Kor. Sangat masuk akal, sangat alkitabiah, sangat ilmiah, tapi pasti menimbulkan masalah besar kalau disampaikan di bumi Lamaholot di Lembata atau Flores Timur. Tapi saya yakin dia tidak akan berani makan tongseng asu, daging domba, atau ikan paus di Lembata. 

"Kalau di kampung ya kita harus menyesuaikan diri. Jangan membuat orang kampung tersinggung atau khawatir kita bakal kualat," katanya.

3 comments:

  1. Kita, manusia yang dilahirkan di Nusantara, sejak bayi sudah diselimuti dengan ber-macam2 TABU. Semua larangan itu melekat dibenak sampai ketemu ajal.
    Kita orang Bali tidak berani memanjat pohon atau tangga, jika dibawahnya kebetulan ada orang berkasta bangsawan sedang berdiri atau duduk.
    Bangsawan Bali tabu berjalan dibawah tali jemuran, sebab tali itu bekas menjemur celana dalam wanita, ( mungkin mereka dilahirkan melalui lubang telinga ). Tabu tidak boleh disangkal atau diolok dengan logika. Tabu adalah budaya, adat istiadat. Jangan sekali-kali bertanya, Why .
    Tabu duduk diatas penampah, nanti pantatmu berbisul.
    Tabu menggunting kuku diwaktu malam, nanti orangtua-mu mati.
    Kota tempat saya tinggal di Tiongkok, penduduk mayoritasnya adalah suku Khek,
    jadi ongsengan daging anjing banyak sekali dijual dipinggir jalan.
    Seorang teman bertanya kepada saya ; lu mau makan gou-rou ? Kamsia, tidak mau, gua seumur hidup belum pernah makan dan juga tidak ingin makan.
    Wah, sayang sekali lu belum pernah makan daging yang terlezat didunia.
    Dasar China ndableg, dia tetap membeli dan memaksa ku, untuk mencoba.
    Untuk basa-basi, ku coba makan 3 potong yang terkecil. Rasanya tidak ada yang istimewa. Hanya karena rasa begini, aku tak akan menyembelih anjingku.
    Jika anda jalan2 di-kota2 di Tiongkok, disetiap Hotel mewah diseberangnya selalu ada restoran spesial jualan daging anjing, kecuali itu disebelahnya selalu ada salon dan panti pijat. Menurut kepercayaan orang China, daging anjing bermanfaat menghangatkan badan dan menguatkan nafsu birahi. Ingin coba ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kamsia buat Xiangshen yg sudah membaca dan menulis komentar di sini. Wawasan kita jadi bertambah dengan banyak TABU di berbagai daerah. Soal daging anjing, banyak yg bilang begitu. Di Surabaya juga ada beberapa depot khusus RW yg peminatnya banyak, khususnya teman2 kita dari sumatera utara dan sulawesi utara.

      Delete
  2. di orang Batak juga ada beberapa marga yg punya pantangan misalnya dilarang makan daging kodok, daging rusa, dsb...

    saya juga punya saudara yg keturunan pahlawan nasional Sisingamangaraja XII... keturunannya ternyata dilarang untuk makan daging babi... yg saya tau sih penganut agama Parmalim (agamanya Sisingamangaraja) memang diharamkan untuk makan daging babi, anjing, dsb... kalo saudara saya dan keluarganya ini beragama Kristen Protestan... pernah sekali dia makan daging babi, dan betul, ada kejadian aneh... beberapa orang keluarganya yg iseng2 makan daging babi juga pernah mengalami kejadian, misalnya sakit demam seminggu, badan terasa kejang-kejang...

    btw om hurek, saya kok jarang lihat makanan khas NTT di luar NTT yah??? misalnya di Surabaya atau Jakarta...

    ReplyDelete