21 February 2015

Syukurlah, Lion Air akhirnya kualat

Semua orang yang biasa terbang dengan Lion Air, khususnya ke rute Indonesia timur, macam Kupang, NTT, pasti sangat paham bahwa Lion Air itu rajanya delay. Semua calon penumpang Lion Air sangat maklum bahwa pesawat milik Rusdi Kirana itu tidak mungkin on time. Mengharapkan Lion Air on time itu ibarat mengharapkan seorang wanita melahirkan anak kembar lima.

Kalau Lion Air telat terbang satu jam itu sama dengan on time. Terlambat dua jam mah sudah biasa. Calon penumpang masih asyik guyon, cerita, main-main HP. Telat tiga jam sih sering. Penumpang asyik lihat TV atau jalan-jalan keliling ruang tunggu. Telat empat jam, nah, penumpang-penumpang, yang sebetulnya sudah sangat terlatih kesabarannya, mulai gerah. Ada beberapa yang ngamuk seperti pernah saya lihat di Bandara Juanda tahun lalu.

Biasanya, yang mengamuk ini bukan karena delayed, yang sudah memang tabiat Lion Air, tapi penumpang-penumpang yang kehilangan uang banyak karena tiket connecting flight-nya hangus. Misalnya, Lion Air dijadwalkan tiba di Bandara Eltari, Kupang, pukul 08.00. Anggap saja delayed tiga jam sehingga baru landing di Kupang molor tiga jam. Padahal, si John sudah membeli tiket SusiAir ke Pulau Komodo. Hanguslah tiket itu! Sebab, SusiAir, Wings, atau TransNusa tidak akan menunggu Lion Air dari Surabaya.

"Naik Lion Air itu seperti berjudi. Kalau menang ya syukur, kalah sudah pasti," kata Frans, teman asal Lembata, NTT.

Penumpang yang ratusan, bahkan ribuan itu, pasti kalah sama Lion Air. Mau telat berapa jam pun, kita hanya bisa marah-marah di ruang tunggu tanpa solusi. Tak akan ada pengurus resmi Lion Air yang menjelaskan secara jujur, apa adanya, penyebab delayed, kapan pesawat tiba, solusi apa jika telatnya di atas 4-5 jam.

Karena itu, jujur aja, sejak dulu para penumpang Lion Air rute Indonesia timur yang kecewa berat selalu mendoakan agar suatu saat Lion Air beroleh kesulitan. Kualat! Kena batunya gara-gara manajemennya yang tak mampu mengatasi krisis dalam waktu cepat.

"Saya jengkel karena tiket saya hangus gara-gara telat check-in lima menit. Uang tidak bisa kembali. Sebaliknya, Lion Air telat tiga jam, empat jam, no problem," kata Frans yang dua kali tiketnya hangus. Gara-gara sepeda motor ojek di Kupang pecah ban saat hendak ke bandara di kawasan Penfui itu.

"Saya dalam hati berdoa agar Tuhan kasih pelajaran kepada manajemen Lion Air. Supaya sadar bahwa ribuan, bahkan jutaan penumpang, sudah dikecewakan," kata Frans.

Kalau jengkel sama Lion Air, mengapa tidak pilih maskapai lain? Bukankah manajemennya bobrok? Pramugarinya ketus, tidak ramah?

"Sulit Bung! Kita tidak punya banyak pilihan. Lion Air punya jadwal paling banyak. Airline yang lain sedikit, bahkan sudah banyak yang mati, kayak Batavia Air, StarAir, Awair, dan sebagainya. Suka tidak suka, bae sonde bae (baik tidak baik), kita terpaksa pakai Lion Air," katanya seraya tersenyum.

Semua orang NTT macam Bung Frans justru menganggap Lion Air ini sebagai pahlawan meskipun raja delayed, manajemen brengsek, pramugari cakep tapi ketus. Bukan apa-apa. Lion Air yang membuat penerbangan dari/ke Kupang, NTT, menjadi sangat lancar. Lion Air membuat orang NTT di perantauan bisa pulang cuti ke kampung halaman dengan mudah dan terkalkulasi.

Sejelek-jeleknya Lion Air, setelat-telatnya Lion Air, masih lebih cepat daripada naik kapal laut! Naik kapal laut Pelni dari Surabaya ke Kupang paling cepat dua hari. Normalnya tiga hari. Harus putar ke Makassar, singgah dulu di pelabuhan-pelabuhan kecil. Terbang dengan Lion Air Surabaya-Kupang cuma makan waktu 100 menit saja!

"Jangan lupa, Bung, orang tua kita dulu ke Surabaya butuh waktu lima hari atau satu minggu. Masak, telat empat jam saja sama Lion Air kita marah-marah," begitu kata-kata penghiburan khas orang NTT. Orang yang sudah lumayan mampu, apalagi kaya, sering lupa betapa beratnya penderitaan di masa lalu. Kemudian bersumpah serapah, ngamuk, hanya karena terlambat pesawat tiga empat jam. Padahal ruang tunggu di bandara sejuk, nyaman, ada TV, camilan, wanita cantik, dsb.

Sejelek-jeleknya Lion Air, maskapai inilah yang berjasa membuat tiket penerbangan Surabaya-Kupang menjadi sangat terjangkau. Dulu, harga tiket di atas Rp 2,5 juta. Sampai sekarang pun Garuda masih jual tiket Surabaya-Kupang Rp 3 juta. Ketika masih dalam masa promosi, pengenalan rute baru, Lion Air berani jual tiket Rp 300 ribu. Bisnis penerbangan kemudian menjadi sangat hidup di NTT.

Tebih murah ke Kupang daripada Jakarta. Sejak itulah, orang-orang NTT yang lama tidak mudik ke kampung mulai mengunjungi kampung halamannya yang ditinggal sangat lama. Tiket dinaikkan pelan-pelan. Saat ini tiket Surabaya-Kupang sekitar Rp 600 ribu. Itu pun setelah tragedi AirAsia.

Karena itu, tugas manajemen Lion Air sebetulnya hanya membenahi jadwal penerbangan, layanan konsumen, keterbukaan informasi. Dengan armada pesawat yang ratusan, paling banyak di Indonesia, Lion Air sulit disaingi maskapai mana pun. Wong berstatus raja delayed saja tetap dirindukan penumpang, khususnya ke Indonesia timur, apalagi tidak delayed.

Kita sih tidak menuntut on time schedule standar internasional. Telat satu jam saja, buat Lion Air, saya anggap tepat waktu. Telat dua jam masih okelah. Tapi jangan lagi terlambat tiga jam! Dan, kalau sudah telat tiga jam lebih, silakan manajemen menyampaikan informasi yang jujur, apa adanya. Kalau memang mesin rusak, gangguan serius, siapa pun pasti menerima dengan ikhlas. Ketimbang ada apa-apa di perjalanan.

Orang Jawa punya pepatah bagus: Tega larane ora tega patine! Kita ingin manajemen Lion Air mendapat pelajaran dan sanksi berat dari pemerintah, dimaki-maki orang, citranya hancur, raja delayed, tapi jangan sampai dibunuh. Jangan sampai izin Lion Air dicabut. Berikan kesempatan kepada Rusdi Kirana dan manajemennya untuk memperbaiki diri.

2 comments:

  1. memang ngeselin lion air, masa telat checkin aja gga ada toleransi sama sekali. tiket hangus!!!!!! ngeselin. tobat!!!! ga bakal pakai maskapai ini lagi gw!

    ReplyDelete
  2. benar juga, naik kapal dari Indonesia Timur ke Jawa Timur bisa semingguan.

    zaman sekolah dulu saya pernah jadi panitia acara Legio Maria di Prigen (kalo ga salah), acaranya terbuka se-Indonesia Timur. acara tsb 3 hari. pada hari ke-2 ada beberapa rombongan dari Papua dan sekitarnya datang sewaktu jam makan siang. mereka terlambat karena perjalanan naik kapal makan waktu 1 minggu (molor juga). wah, luar biasa sungguh semangat mereka! saya kasihan sebenernya waktu itu, karena yaaa perjalanan yang ditempuh jauh lebih lama daripada acaranya. berada di kapal yang dterombang-ambing ombak selama berhari-hari @@ tapi beneran salut deh! (y)

    ReplyDelete