25 February 2015

19 TKI Jatim dihukum mati

Masih terkait hukuman mati, saat ini 19 tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Jawa Timur menghadapi hukuman mati. Ada kasus narkoba, pemerkosaan, pembunuhan. Para pahlawan devisa itu, julukan TKI, tinggal menunggu eksekusi.

"Kita tidak bisa berbuat banyak. Itu kewenangan pemerintah pusat," kata Edy Purwinarto, kepala dinas tenaga kerja Jatim. Para TKI yang menunggu eksekusi mati itu kebanyakan dari Madura, Ponorogo, dan Madiun.

19 warga Indonesia bukan jumlah yang sedikit. Nasib mereka sama dengan Bali Nine asal Australia dan Marco dari Brasil yang belakangan ini beritanya mengisi surat kabar, televisi, dan internet.

Brasil sampai mempermalukan dubes RI demi membela Marco, bandar narkoba, yang barusan dieksekusi di Nusakambangan. Australia juga bikin tekanan dan pernyataan keras agar Indonesia membatalkan eksekusi Bali Nine. Termasuk mengungkit-ungkit jasanya dalam membantu korban tsunami di Aceh dsb.

Bagaimana dengan sikap pemerintah Indonesia atas rencana eksekusi mati 19 TKI itu? Kalau ditambah TKI dari provinsi-provinsi lain niscaya jumlahnya lebih banyak lagi. Mereka semua manusia yang punya hak hidup meskipun sudah divonis mati di negara orang.

"Kami akan usahakan melobi lewat sejumlah tokoh," kata Nusron Wahid, kepala BNP2 TKI.

Kita belum mendengar suara Presiden Jokowi untuk menyelamatkan nyawa para pahlawan devisa yang terancam eksekusi mati itu. Yang ramai di tanah air saat ini adalah koin untuk Australia dan blow-up berita soal dubes kita yang dipermalukan di Brasil.

Betapa kontrasnya sikap Indonesia dan negara-negara asing yang warganya terancam (dan sudah menjalani) eksekusi mati di Indonesia. Dan, sekali lagi, itu tak lepas dari kebijakan negara terhadap hukuman mati. Negara-negara yang menolak hukuman mati pasti melakukan apa saja demi menyelamatkan satu nyawa manusianya. Termasuk mengorbankan hubungan diplomati. Termasuk jadi bahan ledekan kayak Australia itu.

Sebaliknya, Indonesia yang sangat pro hukuman mati, bahkan ada usulan agar koruptor pun ditembak mati, terkesan biasa-biasa saja. Sembilan belas nyawa, 20 atau 30 TKI terancam mati, sepertinya adem ayem aja pemerintahnya. Gak ada SAVE TKI di media sosial.

"Kami bingung kalau diminta uang diyat. Pakai uangnya siapa? Kan nggak mungkin pakai APBN," kata Nusron.

Nyumbang buku tetap didenda

Saya tercatat sebagai anggota beberapa perpustakaan di Surabaya dan Sidoarjo. Ada yang perpustakaan umum kelas daerah, rumah baca, taman bacaan milik gereja, perpustakaan spesialis buku-buku lawas, hingga perpustakaan Londo semacam pusat kebudayaan Belanda.

Karena satu dan lain hal, saya selalu terlambat mengembalikan buku. Tentu saja harus bayar denda. Gak banyak sih. Cuma kalau telatnya lama, dikalikan tiga buku, ya jadinya banyak. Makanya jangan suka terlambat bayar pajak, ngurus STNK dsb.

Biasanya saya berusaha mengambil hati pengelola perpustakaan dengan menyumbang buku-buku lama. Ketimbang tidak dibaca. Ketimbang dijadikan bungkus kacang kalau jatuh ke tukang loak. Hitung-hitung ikut menambah koleksi perpustakaan. Gak pinjam tok tapi juga nyumbang. Tangan di atas lebih baik, kata orang.

Setelah menyumbang buku, saya pikir, denda keterlambatan buku itu dihapus. Bukankah nilai buku sumbangan saya jauh lebih mahal ketimbang besaran denda? "Terima kasih sudah nyumbang buku. Gak usah bayar denda segala," begitu kata-kata yang saya bayangkan dari mulut pengurus perpustakaan.

Hehehe.... Ternyata saya selalu kecele. Kata terima kasih sih ada tapi tetap harus bayar denda. Nyumbang ya nyumbang tapi kewajiban sebagai peminjam buku harus dijalankan. Peminjam yang telat diperlakukan sama. Baik yang menyumbang 10 buku, 20 buku, 2 buku, atau tidak pernah menyumbang sama sekali.

"Aneh sekali," pikir saya. Soalnya, pengalaman saya, ibu pemilik warung nasi selalu menggratiskan semua makanan dan minuman kalau sebelumnya saya kasihkan setumpuk koran bekas. Terima kasihnya berkali-kali. "Wis, gak usah bayar. Aku sing matur suwun sudah dikasih koran," katanya.

Belum lama ini saya mendaftar anggota sebuah perpustakaan terkenal yang sering masuk koran di Surabaya. Koleksi buku-bukunya memang bagus, langka, kualitas tinggi. Pinjamlah saya tiga buku. Seperti biasa, saya telat lagi. Pasti dapat sanksi denda nih!

Maka minggu lalu saya datang mengembalikan buku milik si perpus plus menyumbang tiga buku. Siapa tahu dibebaskan dari kewajiban bayar denda. "Anda bayar denda sekian," kata si nona manis penjaga perpus. Hehehe....

Tak lupa dia mengucapkan terima kasih atas sumbangan tiga buku itu. Kecele lagi saya. Rupanya ada kesamaan semua perpustakaan di kota buaya ini. Siapa pun yang menyumbang buku tidak akan lepas dari denda keterlambatan mengembalikan buku.

Hikmah: Menyumbang apa pun harus ikhlas. Jangan seperti saya yang menyumbang buku-buku lama dengan pamrih dibebaskan dari denda.

Ilmu Hewan, Ilmu Hayat, Ilmu Bumi, Ilmu Tanah

Pak Bos, Dahlan Iskan, dalam kolom tetapnya di Jawa Pos edisi Senin, 23 Februari 2015, menghidupkan lagi istilah ILMU HEWAN. Salah satu mata pelajaran di sekolah yang kemudian lebih dikenal dengan biologi atau zoologi. Begini tulisan Pak Dahlan saat membahas pencurian sapi yang luar biasa di Pulau Sumba, NTT:

"Saya ingat, setiap terjadi gejolak harga daging, pembahasannya selalu sangat ilmiah. Ilmu supply and demand, ilmu dagang, ilmu hewan, ilmu logistik, serta segala macam ilmu diperdebatkan."

Aha, ilmu hewan! Saya jadi ingat buku-buku pelajaran atau kuliah lawas yang menumpuk di lapak buku-buku bekas Jalan Semarang, Surabaya. Istilah yang dipakai memang sangat sederhana, merakyat, begitu mudah dipahami. Termasuk orang awam yang tak makan sekolah tinggi.

Ada ilmu hewan. Ilmu hayat. Ilmu bumi. Ilmu antariksa. Ilmu tumbuhan. Ilmu bumi. Ilmu jiwa. Ilmu dagang. Ilmu hukum. Ilmu pesawat. Ilmu pasti. Ilmu serangga. Ilmu sosial.

Para intelektual, ahli, tempo doeloe, rupanya bekerja keras dan cerdas untuk menerjemahkan istilah-istilah ilmiah dari bahasa Inggris atau Belanda ke dalam bahasa nasional. Mereka tidak cari gampang dengan menyerap begitu saja istilah bahasa Inggris. Biology jadi biologi. Climatology dijadikan ilmu iklim, bukan klimatologi. Zoologi jadi ilmu hewan, bukan zoologi. Psycologi jadi ilmu jiwa, bukan psikologi.

Saya ingat masa kecil saat sekolah dasar di pelosok NTT. Bapak Guru Paulus selalu mengatakan bahwa di Yunani itu banyak ahli pikir. Apa pula ahli pikir itu? Ahli-ahli yang berpikir mendalam tentang hakikat kehidupan. Setelah dewasa baru saya paham. Oh, ahli pikir itu ternyata filsuf atau filosof. Ilmu pikir itu tak lain filsafat.

Saat kuliah, ada satu mata kuliah dasar yang SKS-nya banyak, praktikumnya lama, biasa menginap di laboratorium, sering gagal, bahan kimianya banyak dan sangat berbahaya. Mata kuliah itu namanya ILMU TANAH. Ilmu tanah itu sangat berbeda dengan ilmu bumi meskipun tanah dan bumi mirip-mirip artinya. Ilmu tanah membahas jenis tanah, struktur, kandungan kimia, pupuk apa yang cocok, tanaman yang cocok, penyerapan air, dsb. Rumus-rumusnya juga banyak.

Mahasiswa-mahasiswi umumnya jengah mengikuti kuliah ilmu tanah ini. Selain lama, banyak praktikum, dosennya juga mahal kasih nilai. Setahu saya tidak ada nilai A. Yang dapat B juga sedikit. Padahal, kami sudah membaca buku-buku ilmu tanah yang sangat tebal. Karena itu, ketika membaca berita banyak sarjana sekarang IP-nya kebanyakan di atas 3,3; bahkan mendekati 4,0; saya jadi heran. Betapa mudahnya si dosen sekarang kasih nilai!

Nah, ilmu tanah ya ilmu tanah. Istilah asing seperti soil science atau pedology tak pernah dipakai di kampus-kampus Indonesia. Nggak tahu sekarang. Begitu membuminya istilah ilmu pengetahuan itu. Sama dengan ilmu bumi (istilah lawas) yang kini lebih dikenal dengan geografi.

Setelah pemikir-pemikir lawas menua dan jadi almarhum, Indonesia memasuki era baru: nginggris! Sedikit-sedikit pakai istilah Inggris. Britis-britisan! Slogan-slogan di kota, bahkan kampung, pakai English. Nama-nama mata pelajaran atau mata kuliah pun ikutan nginggris. Setidaknya pakai serapan dari bahasa Inggris.

Karena itu, anak-anak sekarang pasti bingung (mungkin geli) mendengar istilah ilmu hewan, ilmu bumi, ilmu tanah, ilmu pasti, ilmu jiwa, ilmu serangga, dan sebagainya.

24 February 2015

Hobi memecah kabupaten di NTT

Pagi tadi ada berita kecil di koran terbitan Jakarta yang menggelitik saya. Judulnya: Sumba Timur Usulkan Tiga Kabupaten Baru. Wow, luar biasa! Satu kabupaten ditambah tiga kabupaten lagi? Di daerah yang penduduknya sedikit itu? Yang secara ekonomi masih belum mapan?

Bupati Gideon bilang penambahan tiga kabupaten baru itu demi peningkatan pembangunan. "Ini bukan dorongan atau tekanan dari elite politik," katanya.

Aneh tapi nyata! Begitulah yang sudah lama terjadi di NTT sejak reformasi. Provinsi yang aslinya hanya punya 12 kabupaten ini sekarang jadi 22 kabupaten. Mungkin 23. Sebab, usulan dari NTT biasanya diloloskan di Senayan, Jakarta. Kecuali usulan Provinsi Flores yang sampai sekarang selalu kandas. Juga Kabupaten Adonara!

Orang NTT yang terlalu lama merantau, tidak pulang kampung tujuh atau delapan tahun, misalnya, pasti pangling saat mudik ke kampung asalnya. Ternyata data di kartu identitas atau ijazah atau surat-surat penting lain sudah gak cocok. Saya yang pakai identitas lahir di Flores Timur, sekarang harus minta revisi menjadi Lembata. Sebab Lembata sudah jadi kabupaten sendiri. Bukan lagi Kabupaten Flores Timur.

"Kabupaten Adonara tinggal menunggu waktu saja," kata Adrianus, rohaniwan asal Adonara. Saat ini Adonara masih gabung Flores Timur. Sepuluh tahun mendatang ceritanya mungkin lain.

Teman-teman di Jawa Timur tentu heran, campur geli, membaca berita pemekaran kabupaten yang penduduknya di bawah satu juta itu. Kalau dibagi empat, populasinya berapa? Maklum, Jawa Timur yang punya 44 juta penduduk sejak dulu tetap 38 kabupaten/kota. Tetap satu provinsi. Bahkan tak ada pikiran sedikit pun untuk menambah provinsi atau kabupaten.

Pulau Madura sebetulnya layak jadi provinsi sendiri. Penduduknya jauh lebih banyak dari Provinsi Gorontalo. Infrastruktur jalan raya, pelabuhan, dsb jauh lebih bagus daripada di NTT atau kawasan lain di luar Jawa. Dengan adanya Jembatan Suramadu, Pulau Madura sejak 2009 sudah terhubung dengan Pulau Jawa. Jaraknya cuma 5,4 kilometer. Tapi kenapa Madura tidak ngotot jadi provinsi kayak Flores?

"Karena orang Madura pintar," kata teman saya Ahmad, orang Bangkalan. Jadi satu dengan Jatim jauh lebih menguntungkan. Berdiri sendiri malah tambah sulit maju.

Cara berpikir orang NTT, khususnya politisi dan birokrat, beda. Populasi sama sekali tidak dipertimbangkan. Maka banyak kabupaten yang penduduknya kurang dari 300 ribu jiwa. Itu di Flores, pulau terbesar di NTT. Di Sumba yang daratannya kosong itu penduduknya jelas lebih sedikit lagi. Bandingkan dengan Kabupaten Sidoarjo di Jawa Timur yang penduduknya 2,5 juta. Belum termasuk pendatang atau penduduk musiman.

Di NTT, seperti dikatakan Bupati Sumba Timur Gideon tadi, pemekaran kabupaten perlu untuk peningkatan pembangunan. Logika sederhana. Semakin banyak kabupaten, maka alokasi dana dari pusat semakin banyak. Kalau biasanya cuma satu kabupaten, sekarang jadi empat. Proyek-proyek makin banyak. Makin banyak pula lowongan PNS yang tersedia. Jangan lupa, PNS merupakan profesi yang paling diidamkan dan dihargai di NTT.

Ada dampak ikutan yang luar biasa dari pemekaran kabupaten ini. Otomatis kecamatannya diperbanyak. Satu desa yang besar bisa dipecah jadi tiga atau empat desa. Bagi NTT yang sangat mengandalkan kucuran dana dari pusat, pemecahan desa-desa ini memang "meningkatkan pembangunan" seperti dikatakan Pak Bupati tadi. Kucuran dana besar untuk proyek pusat macam PNPM otomatis dibagi ke tiga atau empat desa.

"Jadi, kita bisa perbaiki jalan desa, bikin sumur, dan sebagainya. Kalau cuma satu desa ya PNPM-nya juga hanya untuk satu desa saja," kata petinggi di kampung saya di Kabupaten Flores Timur, eh Kabupaten Lembata.

Manfaat lain pemekaran kabupaten yang dirasakan di NTT, setidaknya bagi saya, adalah bisa melihat langsung wajah bupati, bersalaman, ngobrol, ngopi, bercanda. Dulu ketika Lembata masih ikut Kabupaten Flores Timur, saya tidak pernah melihat langsung wajah bupati. Namanya doang yang harus kami hafalkan di SD. Mengapa tidak bisa lihat bupati? Sebab sang bupati belum pernah sekalipun mengunjungi desa/kecamatan saya.

Sekarang setelah Lembata jadi kabupaten sendiri, setiap saat kita bisa melihat bupati atau wakil bupati. Bahkan selama 10 tahun pak bupati dan keluarga sangat sering blsukan ke kampung saya. Kita tahu persis siapa orang tuanya bupati, kakek neneknya, keluarga besarnya, makam leluhur, rumah adat dsb. Mengapa? Karena pak bupati itu tidak lain tetangga dekat di kampung.

Salut untuk Brasil dan Australia

Begitu banyak warga negara Indonesia yang terancam nyawanya di luar negeri. Kemarin ada berita kecil di koran Surabaya tentang seorang TKW asal Madura terancam hukuman mati di negara tetangga. Kasus pembunuhan. Beritanya cuma tiga atau empat alinea.

Begitu seringnya kasus-kasus macam ini di luar negeri. Sikap pemerintah Indonesia pun tak jelas. Tak ada reaksi keras. Cuma pernyataan singkat KBRI atau konjen yang normatif. Rakyat Indonesia memang tak lagi sensitif dalam soal beginian. Padahal urusannya: nyawa manusia!

Karena itu, saya sangat salut dengan sikap tegas dan keras pemerintah Brasil dan Australia merespons eksekusi mati warganya di Indonesia. Presiden Brasil, wanita, menolak menerima dubes Indonesia untuk Brasil. Dia mewakili pemerintah dan warganya yang marah karena Marco baru saja dieksekusi mati di Indonesia. Kasus narkoba.

Pihak Brasil juga merasa dipermalukan karena sudah dua kali mengemis grasi tapi ditolak. Marco tetap ditembak mati di Nusakambangan. Betapa marahnya Brasil yang memang menenteng hukuman mati. Bandar narkoba, penjahat, punya hak hidup? Punya. Itulah yang dihayati di negara bola itu.

Sikap Australia juga tegas. Demi membela warganya yang akan ditembak mati di Nusakambangan, PM Abbot melakukan segala macam cara. Termasuk mengungkit-ungkit bantuan tsunami dan sebagainya. Juga mengancam boikot wisata ke Indonesia, khususnya Bali.

Gertakan yang dianggap kanak-kanak di tanah air. Kayak anak kecil yang ngambek minta perhatian. Tapi, begitulah, apa pun harus dilakukan demi membela nyawa manusia. Nyawa penjahat atau bandar narkotika sekalipun. Australia menghapus hukuman mati sejak 1980an. Sehingga ia harus sangat tegas berdiri di atas prinsip itu.

Indonesia boleh marah atau merasa terhina. Dipermalukan Brasil. Dipermalukan Australia. Tapi inti persoalannya adalah itu: hukuman mati! Sudah lama hukuman mati dianggap kuno di negara-negara maju. Meskipun USA masih ada. Hukuman mati, mengeksekusi para penjahat jalanan, pembunuh, koruptor, teroris, bandar narkoba, pemerkosa... tak akan pernah bikin jera.

Dengan mengeksekusi mati terpidana, Presiden Jokowi bisa menjamin tak ada lagi kejahatan narkoba? Terorisme hilang? Korupsi enyah?

Dave McRae, dosen Australian National University, menulis: "... dari berbagai penelitian ilmiah tidak ada bukti memadai yang menunjukkan bahwa efek jera yang ditimbulkan oleh eksekusi mati melebihi efek jera akibat pidana penjara."

Bahkan, Paus Fransiskus beberapa kali menegaskan bahwa hukuman penjara seumur hidup pun hakikatnya sama dengan hukuman mati yang diperpanjang. Indonesia masih menganut paham hukum besi masa prasejarah: mata ganti mata, gigi ganti gigi!

21 February 2015

Syukurlah, Lion Air akhirnya kualat

Semua orang yang biasa terbang dengan Lion Air, khususnya ke rute Indonesia timur, macam Kupang, NTT, pasti sangat paham bahwa Lion Air itu rajanya delay. Semua calon penumpang Lion Air sangat maklum bahwa pesawat milik Rusdi Kirana itu tidak mungkin on time. Mengharapkan Lion Air on time itu ibarat mengharapkan seorang wanita melahirkan anak kembar lima.

Kalau Lion Air telat terbang satu jam itu sama dengan on time. Terlambat dua jam mah sudah biasa. Calon penumpang masih asyik guyon, cerita, main-main HP. Telat tiga jam sih sering. Penumpang asyik lihat TV atau jalan-jalan keliling ruang tunggu. Telat empat jam, nah, penumpang-penumpang, yang sebetulnya sudah sangat terlatih kesabarannya, mulai gerah. Ada beberapa yang ngamuk seperti pernah saya lihat di Bandara Juanda tahun lalu.

Biasanya, yang mengamuk ini bukan karena delayed, yang sudah memang tabiat Lion Air, tapi penumpang-penumpang yang kehilangan uang banyak karena tiket connecting flight-nya hangus. Misalnya, Lion Air dijadwalkan tiba di Bandara Eltari, Kupang, pukul 08.00. Anggap saja delayed tiga jam sehingga baru landing di Kupang molor tiga jam. Padahal, si John sudah membeli tiket SusiAir ke Pulau Komodo. Hanguslah tiket itu! Sebab, SusiAir, Wings, atau TransNusa tidak akan menunggu Lion Air dari Surabaya.

"Naik Lion Air itu seperti berjudi. Kalau menang ya syukur, kalah sudah pasti," kata Frans, teman asal Lembata, NTT.

Penumpang yang ratusan, bahkan ribuan itu, pasti kalah sama Lion Air. Mau telat berapa jam pun, kita hanya bisa marah-marah di ruang tunggu tanpa solusi. Tak akan ada pengurus resmi Lion Air yang menjelaskan secara jujur, apa adanya, penyebab delayed, kapan pesawat tiba, solusi apa jika telatnya di atas 4-5 jam.

Karena itu, jujur aja, sejak dulu para penumpang Lion Air rute Indonesia timur yang kecewa berat selalu mendoakan agar suatu saat Lion Air beroleh kesulitan. Kualat! Kena batunya gara-gara manajemennya yang tak mampu mengatasi krisis dalam waktu cepat.

"Saya jengkel karena tiket saya hangus gara-gara telat check-in lima menit. Uang tidak bisa kembali. Sebaliknya, Lion Air telat tiga jam, empat jam, no problem," kata Frans yang dua kali tiketnya hangus. Gara-gara sepeda motor ojek di Kupang pecah ban saat hendak ke bandara di kawasan Penfui itu.

"Saya dalam hati berdoa agar Tuhan kasih pelajaran kepada manajemen Lion Air. Supaya sadar bahwa ribuan, bahkan jutaan penumpang, sudah dikecewakan," kata Frans.

Kalau jengkel sama Lion Air, mengapa tidak pilih maskapai lain? Bukankah manajemennya bobrok? Pramugarinya ketus, tidak ramah?

"Sulit Bung! Kita tidak punya banyak pilihan. Lion Air punya jadwal paling banyak. Airline yang lain sedikit, bahkan sudah banyak yang mati, kayak Batavia Air, StarAir, Awair, dan sebagainya. Suka tidak suka, bae sonde bae (baik tidak baik), kita terpaksa pakai Lion Air," katanya seraya tersenyum.

Semua orang NTT macam Bung Frans justru menganggap Lion Air ini sebagai pahlawan meskipun raja delayed, manajemen brengsek, pramugari cakep tapi ketus. Bukan apa-apa. Lion Air yang membuat penerbangan dari/ke Kupang, NTT, menjadi sangat lancar. Lion Air membuat orang NTT di perantauan bisa pulang cuti ke kampung halaman dengan mudah dan terkalkulasi.

Sejelek-jeleknya Lion Air, setelat-telatnya Lion Air, masih lebih cepat daripada naik kapal laut! Naik kapal laut Pelni dari Surabaya ke Kupang paling cepat dua hari. Normalnya tiga hari. Harus putar ke Makassar, singgah dulu di pelabuhan-pelabuhan kecil. Terbang dengan Lion Air Surabaya-Kupang cuma makan waktu 100 menit saja!

"Jangan lupa, Bung, orang tua kita dulu ke Surabaya butuh waktu lima hari atau satu minggu. Masak, telat empat jam saja sama Lion Air kita marah-marah," begitu kata-kata penghiburan khas orang NTT. Orang yang sudah lumayan mampu, apalagi kaya, sering lupa betapa beratnya penderitaan di masa lalu. Kemudian bersumpah serapah, ngamuk, hanya karena terlambat pesawat tiga empat jam. Padahal ruang tunggu di bandara sejuk, nyaman, ada TV, camilan, wanita cantik, dsb.

Sejelek-jeleknya Lion Air, maskapai inilah yang berjasa membuat tiket penerbangan Surabaya-Kupang menjadi sangat terjangkau. Dulu, harga tiket di atas Rp 2,5 juta. Sampai sekarang pun Garuda masih jual tiket Surabaya-Kupang Rp 3 juta. Ketika masih dalam masa promosi, pengenalan rute baru, Lion Air berani jual tiket Rp 300 ribu. Bisnis penerbangan kemudian menjadi sangat hidup di NTT.

Tebih murah ke Kupang daripada Jakarta. Sejak itulah, orang-orang NTT yang lama tidak mudik ke kampung mulai mengunjungi kampung halamannya yang ditinggal sangat lama. Tiket dinaikkan pelan-pelan. Saat ini tiket Surabaya-Kupang sekitar Rp 600 ribu. Itu pun setelah tragedi AirAsia.

Karena itu, tugas manajemen Lion Air sebetulnya hanya membenahi jadwal penerbangan, layanan konsumen, keterbukaan informasi. Dengan armada pesawat yang ratusan, paling banyak di Indonesia, Lion Air sulit disaingi maskapai mana pun. Wong berstatus raja delayed saja tetap dirindukan penumpang, khususnya ke Indonesia timur, apalagi tidak delayed.

Kita sih tidak menuntut on time schedule standar internasional. Telat satu jam saja, buat Lion Air, saya anggap tepat waktu. Telat dua jam masih okelah. Tapi jangan lagi terlambat tiga jam! Dan, kalau sudah telat tiga jam lebih, silakan manajemen menyampaikan informasi yang jujur, apa adanya. Kalau memang mesin rusak, gangguan serius, siapa pun pasti menerima dengan ikhlas. Ketimbang ada apa-apa di perjalanan.

Orang Jawa punya pepatah bagus: Tega larane ora tega patine! Kita ingin manajemen Lion Air mendapat pelajaran dan sanksi berat dari pemerintah, dimaki-maki orang, citranya hancur, raja delayed, tapi jangan sampai dibunuh. Jangan sampai izin Lion Air dicabut. Berikan kesempatan kepada Rusdi Kirana dan manajemennya untuk memperbaiki diri.

20 February 2015

Rabu Abu drive thru dan pengakuan di jalan

Berita satu alinea di koran Kompas pagi ini (20/2/2015) sangat menggelitik. Di USA, New Orleans, umat kristiani menerima abu pada hari Rabu Abu di pinggir jalan. Pastor membuka layanan pemberian abu tanda pertobatan, awal puasa 40 hari, di pinggir jalan. Soalnya orang Amerika terlalu sibuk untuk datang ke gereja pada hari Rabu.

Setelah terima abu, umat bahkan dapat bonus secangkir kopi. Hehehe... Unik juga terobosan gereja di negara maju yang makin sekuler itu. Jemaat sudah cuek dengan kebaktian, liturgi, dsb sehingga pihak gereja terpaksa jemput bola ke pinggir jalan. Mungkin suatu ketika para pastor di sana buka konter abu di mal atau plaza.

Terobosan ala Amrik ini rasanya belum saatnya ditiru gereja-gereja di Indonesia. Sebab semangat beribadah di tanah air masih sangat tinggi. Saking semangatnya yang overdosis, orang Kristen di Indonesia, khususnya di Jawa, seakan berlomba-lomba bikin gereja baru meski gereja-gereja lama masih kosong. Bila perlu bikin gereja di ruko, garasi, convention hall, dsb.

Membaca berita Rabu Abu di jalanan New Orleans ini, saya teringat kebiasaan lama di kampung-kampung di Flores, NTT, sebelum 1990an. Hampir semua orang di kampung beragama Katolik. Tapi pastornya sangat kurang karena harus melayani begitu banyak desa. Naik turun gunung, jalan desa yang sangat buruk.

Pastor-pastor kongregasi SVD asal Belanda macam Pater Geurtz SVD dan Pater Van de Leur SVD di kampung saya terpaksa jalan kaki ditemani kuda putihnya. Si kuda itu membawa banyak sekali barang bawaan sang romo seperti perlengkapan misa, logistik, obat-obatan, pakaian, radio canggih. Biasanya ekaristi atau misa hanya diadakan dua bulan sekali. Paling cepat sebulan sekali. Hari Minggu lainnya diisi ibadat sabda tanpa imam pakai buku UAB: Umat Allah Beribadat. Buku tata cara kebaktian tanpa pastor ini kebetulan disimpan di rumah saya. Bahan homili (khotbah) pun ada bukunya sendiri yang tebal.

Nah, karena pastor sangat langka, umat Katolik di kampung saya di Lembata, Flores Timur, dulu biasa mencegat pastor di jalan. Begitu melihat Pater Geurtz lewat di jalan dengan kuda kesayangannya itu, umat bersalaman dan meminta romo memberikan sakramen tobat atau pengakuan dosa. Mengaku dosa di jalan! Atau minta Tuan Buraken (misionaris putih) untuk memberkati rosario, kalung, atau apa saja yang dianggap perlu diberkati.

Luar biasa iman orang-orang sederhana di kampung itu. Layanan liturgi spontan di jalanan ini perlahan-lahan berkurang, kemudian habis, karena pastor mulai tersedia. Kalau dulu cuma orang-orang Eropa saja yang jadi romo, belakangan banya pula anak-anak muda asli lewotanah (kampung) yang masuk seminari dan ditahbiskan jadi pastor. Sementara pastor-pastor Eropa kian menua dan kembali ke pangkuan-Nya satu per satu.

Situasi unik yang pernah saya saksikan di pelosok NTT itu kini tinggal kenangan. Antusiasme umat Katolik untuk mengaku dosa di hadapan pastor makin berkurang. Padahal, pastor di Surabaya, Sidoarjo, Gresik ini saya anggap sangat lebih dari cukup. Satu gereja (pastor) dilayani tiga pastor, bahkan ada yang empat. Bandingkan dengan di pelosok Flores macam tempat saya: satu pastor harus melayani SEPULUH gereja!

Karena jarang ada umat Katolik di Jawa yang minta pengakuan, saya lihat banyak pastor yang nganggur. Kamar pengakuan sepi jali. "Nggak enak ngaku dosa, malu," begitu alasan banyak orang.

Benar-benar terbalik dengan umat Katolik jadul di pelosok yang berebut menemui pastor di pinggir jalan agar bisa terima sakramen tobat. Begitulah. Zaman memang sudah jauh berbeda. Perubahan besar ini pun terjadi di dalam gereja.

18 February 2015

Parade Lampion Anugerah School



Sekitar 500 siswa Anugerah School Selasa, 17 Februari 2017, menggelar perayaan tahun baru Imlek dengan cara unik. Para pelajar mulai playgroup, TK, SD, hingga SMP ini mengadakan pawai lampion di kompleks sekolah hingga ke Pondok Jati. Berbusana cheongsham khas Tionghoa, parade lampion anak-anak sekolah tiga bahasa (Indonesia, Inggris, Mandarin) itu pun menjadi tontonan warga dan pengendara yang melintas.

Yang menarik, lampion-lampion yang dibawa para siswa ternyata hasil kreasi sendiri. "Mereka bikin lampion dengan cara daur ulang. Angpao-angpao dan kertas-kertas bekas dikreasi jadi lampion," ujar Ivana Supit, guru bahasa Mandarin Anugerah School.

Setiap tahun sekolah ini menggelar perayaan tahun baru Imlek secara meriah. Meski tidak semua siswa berlatar belakang Tionghoa, menurut Ivana, pihaknya ingin mengajak anak-anak untuk mengenal dan memahami aneka kebudayaan yang hidup di tanah air. "Kalau tidak kenal maka tidak sayang," kata gadis murah senyum ini.

Selepas jalan kaki sekitar 1,5 kilometer, para siswa bersama-sama menyaksikan film tentang asal muasal 12 shio dalam tradisi Tionghoa. Termasuk shio kambing yang akan dimulai pada 19 Februari. "Sebelum parade lampion ini, anak-anak juga belajar makan dengan memakai sumpit. Banyak siswa kesulitan karena belum biasa," tuturnya.

17 February 2015

Cik Maya Pantang BB - Rabu Abu

Tidak terasa sudah Rabu Abu, 17 Februari 2015. Awal masa pantang dan puasa selama 40 hari bagi umat Katolik. "Saya pantang rokok selama 40 hari. Kamu pantang apa?" tanya Koh Ricky di Jenggolo, Sidoarjo.

Gak nyangka tenglang yang satu ini Katolik beneran. Selama ini saya mengira di bukan nasrani, apalagi Katolik. Soalnya omongan-omongannya tak pernah menyinggung urusan gerejawi. Kok tiba-tiba ngomong Rabu Abu. Benar-benar kejutan.

Sebelumnya Cik Maya, juga Tionghoa Surabaya, bikin pengumuman di status BB-nya. "BB off forever," tulisnya. Aneh, bos Jejak Petjinan ini kok aneh. Ada apa? Saya pun kirim SMS bertanya soal ini.

Paulina Mayasari menjawab, "Ini kan mau pantang, Rabu Abu, kepengin off. Sampai Paskah!"

Kok gitu sih? Lalu diskusi-diskusi komunitas Petjinan bagaimana? Saya juga mau off BB tapi dipakai diskusi kerjaan. Sulit pantang BB! Kata saya di SMS lanjutan.

"Saya juga pake untuk kerjaan. Tapi sejauh ini kayaknya BB lebih banyak buang waktu saya daripada benar-benar berguna. Jadi biar ini jadi percobaan juga. Lagian ada email dll," kata kawan yang ngajar di UK Petra itu.

Wah, luar biasa si Maya ini. Gak nyangka kalau dia ini Katolik dan punya pemahaman tentang pantang, prapaskah, seperti ini. Baru kali ini saya dengar ada orang Katolik pantang BB. Yang paling umum itu pantang rokok (Ricky) atau kopi (saya). Atau pantang TV dan hiburan. Duit untuk rokok, kopi, hiburan disisihkan untuk APP (aksi puasa pembangunan).

Kok Maya pantang BB, telepon pintar yang makin sulit dilepaskan dari dunia kerja? Ya, ini pilihan Maya. BB ada gunanya, ada main-mainnya, iseng, dsb. Selama ini BB hanya buang-buang waktu, kata Maya.

Begitulah, pantang dan puasa selalu menyesuaikan perkembangan zaman. Para penyusun buku katekese tempo doeloe tentu tak pernah membayangkan bahwa suatu ketika ada masa di mana manusia begitu tergantung pada gawai (gadget) macam BB dan sejenisnya.

Di bangku SD di Lembata, NTT, saya masih ingat pelajaran agama Katolik tentang 5 perintah gereja. "Jangan makan daging pada hari pantang!" Lha, wong kampung tidak pernah makan daging kok disuruh tidak makan daging? Rumusan ini mungkin hanya cocok untuk orang Katolik di Eropa atau Amerika yang konsumsi dagingnya tinggi.

Apa pun pilihan kita, selamat memasuki masa prapaskah! Berkah Dalem!

16 February 2015

Mata Ganti Mata - Eksekusi Mati ala Indonesia

Syukurlah, pemerintah Australia, yang didukung rakyatnya, memprotes keras eksekusi mati warga negaranya di Indonesia. Syukurlah, menlu Australia bicara sangat keras plus pakai ancaman segala. Syukurlah, PBB juga dengan tegas mengirim pesan kepada Indonesia bahwa hukuman mati, eksekusi manusia, apa pun alasannya, sudah lama ditolak di banyak negara.

Sudah lama hukuman mati ini ditolak di mana-mana. Di Indonesia sendiri pun banyak orang yang menentang. Termasuk Komnas HAM, komisi bikinan pemerintah untuk mengurus hak asasi manusia (HAM). Komnas HAM sudah berkali-kali meminta pemerintah menghentikan hukuman mati. Tapi berkali-kali pula ditolak.

Kita sudah hafal alasan pemerintah Indonesia, khususnya Jokowi-JK, menerapkan hukuman mati di Indonesia. Agar ada efek jera! Agar penjahat kapok! Alasan klise ini juga dipakai di negara-negara lain yang kini menolak hukuman mati. Tapi harus diakui bahwa sampai sekarang mayoritas mutlak orang Indonesia sangat pro eksekusi mati.

Saya ikut barisan yang menolak hukuman mati! Saya ikut gerakan Pro Life yang membela kehidupan. Termasuk jabang-jabang bayi yang tidak dikehendaki kelahirannya oleh ibunya. Lha, manusia-manusia yang belum lahir saja kita bela, apalagi manusia-manusia dewasa. Mencabut nyawa manusia, apa pun alasannya, termasuk euthanasia, harus ditolak.

Karena itu, saya gembira melihat pemerintah dan rakyat Australia sangat keras menentang hukuman mati. Saya juga gembira PBB juga tegas mengingatkan Indonesia akan betapa berharganya nyawa manusia. Termasuk manusia-manusia yang dulunya penjahat besar, bandar narkoba, teroris, dan sebagainya.

Prinsip "mata ganti mata, gigi ganti gigi" itu sudah lama tidak berlaku. Tapi rupanya Indonesia masih menganut prinsip hukum besi ini, mata ganti mata, bahkan dengan bunganya sekalian. Pemerintah Indonesia malah bangga karena menunjukkan kepada dunia bisa sangat tegas terhadap penjahat-penjahat narkoba.

Biarin aja Australia protes. Ini kan urusan hukum dan kedaulatan Indonesia. Ngapain PBB ikut protes, begitu kira-kira suara yang terdengar di televisi. Jaksa Agung HM Prasetyo pun malah menambah terdakwa yang akan dieksekusi mati. Kalau sebelumnya enam, sebentar lagi bisa 10 atau lebih.

Saya yakin permintaan Australia, PBB, atau negara mana pun tak akan mengubah posisi Indonesia. Pokoke ditembak mati, titik! Bandit-bandit narkoba kudu modar, titik! (Tapi koruptor kok ora dipateni!) Pokoke Indonesia bebas nembaki wong-wong jahat yang sudah divonis dan berkekuatan hukum tetap!

Nasi sudah jadi bubur. Sebelumnya pemerintaan Paus Benediktus XVI di Vatikan tentang pentingnya pengampunan terhadap terdakwa yang akan dieksekusi mati pun ditolak mentah-mentah. Bahkan dijadikan bahan guyonan. Bahkan justru jadi momentum untuk mempercepat eksekusi mati Tibo dkk di Poso beberapa tahun lalu.

Ya, sudahlah, biarkan Presiden Jokowi melakukan apa saja yang menurutnya terbaik. Bukankah itu hak prerogatif presiden? Anehnya, Jokowi sangat berani memutuskan untuk mencabut nyawa terpidana mati, tapi gak wani menetapkan kapolri. Membiarkan negara ramai dengan perdebatan KPK vs Polri yang gak ada juntrungannya.

Ke depan, setelah rangkaian eksekusi mati ini, Indonesia tak punya hak lagi untuk memperjuangkan warga negara Indonesia di luar negeri (TKI) yang dihukum mati. Baik di Arab Saudi, Malaysia, Taiwan, Hongkong, dan sebagainya. Negara tak perlu lagi membayar diyat dsb demi menyelamatkan nyawa manusia Indonesia di luar negeri. Sebab, kebijakan mata ganti mata gigi ganti gigi (plus bunganya) sudah dipilih Jokowi!

14 February 2015

Paus di Lembata vs Paus di Vatikan

Pulau Lembata di Nusa Tenggara Timur terkenal berkat ikan paus. Sebab kampung Lamalera di selatan pulau yang tempo doeloe disebut Lomblen itu punya mata pencarian unik: memburu ikan paus di Laut Sawu. Pakai alat sederhana sejenis tombak yang disebut tempuling. Tradisi berburu paus ini sudah berlangsung turun-temurun sejak zaman baheula.

Begitu terkenalnya Lamalera sebagai kampung paus, nama Lembata pun ikut terkenal di dunia. Apalagi misionaris Katolik asal Eropa pun pertama kali masuk Lembata lewat kampung Lamalera ini. Maka tulisan-tulisan tentang Lamalera tersebar ke Eropa. Agama Katolik juga masuk Lembata pertama kali juga via Lamalera, kampung ikan paus.

Dus, tidak heran kalau pastor pribumi pertama di Lembata juga berasal dari Lamalera. Namanya Pater Alex Beding SVD. Pater Alex pun tercatat sebagai orang NTT pertama yang bikin surat kabar lokal. Namanya DIAN terbitan kongregasi SVD yang berpusat di Ende. Orang-orang Lamalera kemudian dikenal "lebih serani" alias paling Katolik dibandingkan warga kampung saya di utara Lembata (Ile Ape) dan kampung-kampung lain di Kabupaten Lembata.

Mungkin belum ada kampung di Indonesia yang menghasilkan paling banyak pastor, suster, frater, atau bruder di Indonesia mengalahkan Lamalera. Profesor pertama juga asal Lamalera. Namanya Prof Dr Gorys Keraf ahli bahasa Indonesia legendaris itu.

Satu-satunya orang Lembata yang pernah jadi menteri juga dari Lamalera. Namanya Dr Sonny Keraf menteri lingkungan hidup kabinet Presiden Megawati Soekarnoputeri. "Orang-orang Lamalera itu hebat, pintar, karena makan paus. Otaknya encer, selalu unggul di Lembata, bahkan NTT," begitu obrolan di kampung saya dulu.

Adakah hubungan paus di Lamalera dan paus di Vatikan? Pasti tidak ada. Paus di Lembata itu mamalia laut, semacam ikan besar, yang langka. Sedangkan paus di Vatikan itu biasa disebut orang Lembata sebagai bapa suci atau santo bapa. Pemimpin tertinggi umat Katolik di seluruh dunia. Tapi bukankah kampung paus Lamalera itu juga serambi Katolik di Lembata, bahkan NTT?

Yang jelas, kata paus untuk POPE atau PAPPAS, PAPAM, atau PAPA sama sekali tak ada kaitannya dengan paus yang mamalia laut buruan orang Lamalera itu.

"Kok orang Katolik pakai kata PAUS? Kesannya kok gak enak? Kok pemimpin tertinggi Gereja Katolik yang sangat dihormati dinamakan paus? Persis nama ikan," kata Rahman, mantan redaktur surat kabar terkemuka yang sangat peduli bahasa.

Jangankan Mas Rahman yang muslim, sampai sekarang banyak umat Katolik yang belum tahu asal usul kata paus untuk pope itu. Kecuali orang-orang Indonesia lawas, tempo doeloe, yang masih bisa berbahasa Belanda. Hollands spereken! Orang Indonesia yang hidup tahun 1950an, 1960an, bahkan 1970an sedikit banyak masih kenal kosa kata bahasa Belanda. Beda dengan orang Indonesia kelahiran di atas tahun 1970, apalagi 1980an, yang benar-benar buta bahasa Belanda.

Ya, kata PAUS untuk bapa suci di Vatikan itu memang berasal dari bahasa Belanda: paus. Nama-nama dan sebagian besar istilah dalam Gereja Katolik menyerap kata-kata Belanda, bukan bahasa Inggris. Sebab sebagian besar misionaris Katolik yang bertugas di nusantara saat itu orang Belanda. Mungkin 90 persen, bahkan 95 persen. Sedikit dari Jerman dan negara-negara Eropa lain. Tidak ada yang dari USA atau Inggris.

Saya kutip penjelasan tentang paus di wikipedia bahasa Belanda;

"De PAUS draagt de titel Plaatsbekleder van Jezus Christus op Aarde, de opvolger van de heilige Petrus, de bisschop van Rome, het hoofd van de Rooms-katholieke Kerk en is het staatshoofd van Vaticaanstad."

Nama-nama kristiani di lingkungan Katolik pun selalu menyerap istilah Belanda, bukan English. Petrus bukan Peter. Jacobus bukan James. Andreas bukan Andrew. Yohanes bukan John. Matius bukan Matthew. Fransiskus bukan Francis. Benediktus bukan Benedict. Paulus bukan Paul. Lambertus bukan Lambert.

Saat ini yang bertakhta di Kota Vatikan adalah Paus Fransiskus alias Pope Francis (versi English) atau Paus Fransiscus (Belanda) atau Paus Fransiskus (Jerman). Romo Markus Solo SVD asal Flores Timur yang bertugas sebagai salah satu penasihat Sri Paus mungkin bisa menceritakan kampung paus di Lembata kepada Paus Fransiskus. (*)

13 February 2015

Wartawan Palsu Marak, Wartawan Asli Dicurigai



Ulah wartawan-wartawan gadungan yang memeras pejabat kian meresahkan. Pagi ini Jawa Pos memuat berita di halaman utama (back cover) tentang Didik Prasetyo yang mencatut nama Jawa Pos untuk minta uang ke pejabat BPN Probolinggo. Mengaku wartawan Jawa Pos, Didik minta duit untuk biaya perawatan anaknya. Untung saja sang pejabat mau klarifikasi sehingga tidak jadi korban penipuan.

Sebelumnya ada juga pria yang mengaku wartawan Memorandum mencoba memeras pengacara di Surabaya sebesar Rp 40 juta. Untung saja si pengacara cerdas. Akhirnya kedok si wartawan gadungan itu terungkap. Dimuat besar-besar di Jawa Pos. Sebagai informasi kepada masyarakat bahwa wartawan beneran tentu tidak akan memeras narasumber. Apalagi mengancam dan menakut-nakuti narasumber agar dapat uang.

Dua atau tiga minggu lalu koran Memorandum juga memuat foto dua orang yang "sudah tidak lagi bekerja di Memo". Ada apa dengan kedua laki-laki ini? Tentu saja manajemen Memo yang dipimpin Bung Koto yang paling tahu.

Yang jelas, sebelumnya Memo memuat ulah wartawan gadungan yang minta duit untuk iklan (advertorial) di Memo sebesar Rp 1 juta. Saat itu si pejabat cuma kasih Rp 500 ribu. Anggap saja uang muka atau DP. Tunggu punya tunggu, iklan itu tak kunjung tayang. Sementara si penerima DP hilang entah ke mana. HP-nya tidak aktif.

Masih banyak lagi kasus wartawan-wartawan gadungan yang termuat di media massa. Yang tidak dimuat pasti lebih banyak lagi. Sebab biasanya si pejabat atau pengusaha mendiamkan saja pemerasan yang nilainya dianggap recehan. Anggap saja buang sial.

Toh, banyaknya kasus wartawan gadungan di Jawa Timur ini bikin resah wartawan-wartawan beneran. Sebab banyak narasumber, khususnya yang belum kenal, jadi skeptis ketika didatangi wartawan. Jangan-jangan cuma ngaku wartawan untuk minta duit! Jangan-jangan si narasumber jadi korban!

Itulah yang sempat saya rasakan ketika menelepon Pak Puji, pengurus wushu. Kebetulan saya belum pernah ketemu dia face to face. Tapi saya sering membaca berita-berita yang narasumbernya Pak Puji. Saya terkesan karena dia sukses mengembangkan olahraga asal Tiongkok ini. Karena momennya dekat tahun baru Imlek, saya coba menelepon beliau.

"Anda siapa? Masa sih wartawan? Aku kok gak pernah lihat anda? Yang saya tahu wartawan di Sidoarjo itu ya A, B, C...," katanya. Suaranya di ujung telepon benar-benar meragukan saya sebagai wartawan.

"Saya yang ngedit berita-berita yang ditulis wartawan yang namanya anda sebut itu," kata saya mencoba meyakinkan Pak Puji.

"Oke, tapi akan saya cek dulu," katanya.

Obrolan pun tak asyik lagi. Tanpa saling percaya, trust, komunikasi tidak akan jalan. "Okelah, kita akan ketemuan lain waktu. Sekalian silaturahmi," kata saya.

Pepatah lama bilang nila setitik rusak susu sebelanga. Gara-gara ulah wartawan palsu, image para pekerja media pun makin kurang enak di mata narasumber, khususnya pengusaha dan pejabat. Ditelepon sekadar minta informasi, wawancara tentang isu tertentu, dikira ada udang di baliknya.
Selamat hari pers nasional!

12 February 2015

Mengapa Jokowi Gagap Bicara

Jokowi berubah begitu drastis. Sejak jadi presiden, Jokowi tampak gagap bicara di depan publik. Kalimat-kalimatnya selalu tersendat. Tidak lancar. Spontanitasnya ketika masih wali kota dan gubernur seperti hilang.

Presiden memang tak harus jago pidato kayak Bung Karno. Atau bicara lancar, mengalir, akademis, kayak dosen seperti Presiden SBY. Presiden Megawati pun tidak jago bicara. Tapi saya lihat kualitas public speaking Presiden Jokowi ini sangat menyedihkan. Beliau sulit mengelaborasi masalah yang sedang jadi perhatian masyarakat seperti konflik antara KPK dan Polri.

Setidaknya dua kali Jokowi gagal memanfaatkan podium untuk menjelaskan benang kusut yang membelit dirinya usai mencalonkan Komjen Budi Gunawan sebagai kapolri. Berdiri berjejer dengan para tokoh yang disebut tim enam (atau 9), Jokowi bicara terlalu pendek. Itu pun pakai kerepekan, membaca catatan di kertas. Isinya pun sangat normatif.

Penjelasan Jokowi dengan begitu tidak menyelesaikan masalah tapi justru memperumit persoalan. Polri makin gencar menyerang KPK sampai sekarang. Ketika bertemu wartawan atau di depan masyarakat, lidah Jokowi pun seperti kelu. Tidak bisa bicara lancar, enak, layaknya pemimpin negara. "Kalah sama ketua RT di kampung saya," kata Mbak Puji, warga Waru, Sidoarjo.

Ada apa dengan Jokowi? Kok tiba-tiba berubah menjadi gagap begitu? Sulit dimengerti seorang presiden negara besar kelihatan begitu gagap di depan umum. Public speaking-nya kalah jauh sama adik-adik aktivis mahasiswa yang masih bau kencur. Kalah sama aktivis buruh yang suka orasi saat unjuk rasa di alun-alun.

Tak hanya saya yang heran dengan pola komunikasi publik sang presiden yang petugas partai PDIP itu. Dosen komunikasi Universitas Brawijaya Malang Anang Sujoko seperti dikutip tempo.co menilai perubahan pola komunikasi Jokowi dipengaruhi kekuatan internal di sekitar Jokowi.

"Ada sesuatu yang hilang. Jokowi sempat tak bersedia diwawancarai wartawan saat awal polemik KPK dan Polri," kata Anang.

Makam Bunuh Diri Dikucilkan di Lembata

Dua hari lalu seorang imigran pencari suaka asal Afghanistan, Ali Muhammad, ditemukan tewas gantung diri di Rusun Puspa Agro, Jemundo, Kecamatan Taman, Sidoarjo. Pemuda 19 tahun ini diduga stres karena masa depannya gak jelas. Gak jelas kapan diberangkatkan ke Australia. Kembali ke negaranya pun nyawa terancam. Sekitar 200 imigran gelap yang ditampung di Puspa Agro memang full stres.

Melihat foto si Ali gantung diri, yang tak akan dimuat koran karena sangat mengerikan, saya jadi ingat kasus bunuh diri di Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya di Lembata. Dulu, sebelum 1990-an, gantung diri lumayan banyak di Lembata. Caranya pun pakai gantung diri macam si Ali van Afghan itu. Tapi belakangan hampir tak ada lagi orang di kampung saya, bahkan kecamatan saya, yang kendat.

Di Sidoarjo dan Surabaya, angka bunuh diri cukup tinggi. Tapi caranya tidak pakai tali gantungan, melainkan nekat jalan atau duduk di atas rel kereta api. Koran-koran sering menulis tabrakan sepur dengan korban Mr X. Saking biasanya, peristiwa bunuh diri semacam ini tidak begitu bikin geger warga. Apalagi orang-orang kota biasanya tidak mengenal pelaku bunuh diri yang disebut Mr X atau Mrs X tersebut.

Di Flores Timur dan Lembata, NTT, gantung diri selalu bikin geger seisi kampung, bahkan desa-desa lain. Maklum, warga di berbagai desa itu punya hubungan kekeluargaan melalui pernikahan. Saling kenal satu sama lain. Gantung diri selalu jadi bahan pembicaraan di mana-mana. 

Semua orang pasti mati, tapi jangan pernah mati dengan bunuh diri! Begitu prinsip adat Lamaholot yang berlaku di Flores Timur dan sekitarnya. Sebelum agama Katolik masuk, prinsip ini melekat sangat kuat di kampung halaman. Masuknya agama Katolik dan Islam (kebetulan hanya dua agama resmi ini di Lembata) membuat kepercayaan adat tentang pentingnya menghargai kehidupan makin kuat.

Saksi adat untuk pelaku gantung diri (atau bunuh diri umumnya, apa pun caranya) sangat berat. Jenazahnya tidak boleh dimakamkan di tempat makam desa. Harus disendirikan. Harus sangat jauh dari lokasi makam desa. Harus di tempat yang sulit dijangkau. Bahkan, sering dimakamkan sendiri di kebun atau lahan milik keluarga mendiang.

Dulu saya tidak habis pikir mengapa ada diskriminasi terhadap jenazah. Bukankah orang mati, apa pun caranya, sama-sama jasad tak bernyawa? Mengapa harus dibedakan? Mengapa ada diskriminasi mayat? 

"Matay beloloken. Mupul bisa hala," kata seorang tetua adat di kampung. Artinya, meninggal tidak wajar, bunuh diri, tidak bisa disatukan di makam umum desa. Itu sudah jadi ketetuan leluhur turun-temurun yang tak bisa digugat. Kita hanya bisa menjalankan ketentuan itu tanpa perdebatan. Tradisi adat Lamaholot memang tidak untuk diperdebatkan! Titik!

Sering terjadi orang-orang kampung yang lama merantau di Jawa, Malaysia, Batam, atau Papua, setelah pulang mempertanyakan sistem adat yang "mendiskriminasi" jenazah pelaku bunuh diri. Biasanya argumentasi yang dipakai mengutip ayat-ayat Alkitab atau kitab suci. Menurut para kritikus, setelah jadi Katolik (atau Islam), seharusnya kita tidak lagi mendiskriminasi jenazah. Biarlah Tuhan yang mengadili manusia yang hidup dan mati! Bukankah Tuhan maha pengampun, pengasih dan penyayang?

Argumentasi alkitabiah yang masuk akal ini sejak dulu sampai sekarang tak mempan untuk menjebol tembok tradisi adat leluhur. Warga di kampung malah balas mencibir. 

"Memangnya hanya kalian yang membaca Alkitab? Hanya kalian yang Katolik? Kami di sini Katolik semua. Beda dengan kalian yang merantau di tanah Jawa atau Malaysia. Katoliknya berapa persen sih? Kok mau ngajari kami?" begitu antara lain argumentasi balasan yang sengit.

Kalau dipikir-pikir, tradisi leluhur untuk punya pelajaran moral yang luar biasa. Bahwa manusia jangan sekali-kali bunuh diri. Bunuh diri, dengan alasan apa pun, tidak dibenarkan. Bunuh diri di Lembata tak hanya mengambil nyawa sendiri tapi juga menimbulkan aib besar bagi keluarga besar yang ditinggalkan. Sebab, makamnya terpisah jauh dari makam biasa. 

Siapa suruh pilih Jokowi?

Siapa suruh pilih Jokowi?
Sendiri suka sendiri rasa....
Edo e sayang....

Syair pelesetan dari lagu Manado lawas, Siapa Suruh Datang Jakarta, ini disenandungkan Tante Sri setiap kali saya mampir di warungnya di kawasan Pucangsewu, Surabaya. Tante ini istri pensiunan TNI AL, pendukung berat Prabowo saat pilpres lalu. Sejak kampanye pilpres, tante mengingatkan betapa bahayanya jika Jokowi yang jadi presiden.

"Prabowo itu jenderal TNI. Beliau pasti kuat. Ojo milih Jokowi, pasti gak kuat. Presiden itu harus kuat," kata wanita asal Malang ini layaknya analis politik.

"Prabowo punya banyak masalah lho. HAM dan sebagainya," pancing saya di sela menikmati gulai kambingnya yang memang wuenaak.

"HAM iku opo? Wis lah, presidennya Prabowo pasti lebih kuat dan aman. Jokowi iku gak meyakinkan. Aku gak yakin blas. Dadi presiden ya kayak wayang aja," kata sang jurkam Prabowo kelas kaki lima ini.

Gak nyangka ramalan ibu warung ini terbukti benar. Belum sampai 100 hari jadi presiden, Jokowi sudah bikin banyak masalah. Sudah tahu Komjen Budi Gunawan punya rekam jejak seperti itu malah diajukan sebagai calon kapolri. Bikin gol bunuh diri. Jokowi main api dan akhirnya bingung sendiri bagaimana memadamkannya. Api sudah telanjur merembet ke mana-mana.

Semua komisioner KPK dijadikan tersangka dan calon tersangka. Penyidik-penyidik KPK juga diancam teror pembunuhan. KPK tak lagi direken oleh para saksi dan tersangka. Polri seperti di atas angin karena merasa didukung dalam permainan cicak buaya yang gak lucu ini. Presiden Jokowi bahkan belum bisa membuat keputusan segera untuk menghentikan permainan yang tak jelas ujungnya ini.

Tante Sri bilang rakyat Indonesia yang pada 9 Juli 2014 memilih Jokowi akhirnya hanya bisa menyesal. Ngelus dada. Tapi kerusakan sudah terjadi. Nasi sudah jadi bubur. "Siapa suruh milih Jokowi? Dia itu lemah. Bukan militer. Jelas aja gak berani melawan jenderal polisi," kata tante yang pikirannya kental nuansa Orde Baru.

Seandainya Jokowi itu militer, bintang empat, kayak SBY atau Prabowo situasinya tidak seperti ini. Jenderal SBY bisa tegas menghadapi polisi karena beliau memang bintang empat TNI AD. Mana berani polisi macam-macam sama tentara, kata tante. Lha, sekarang Jokowi malah takut sama polisi!

Akankah Jokowi mendengar suara wong cilik di pasar macam ini? Sepertinya petugas partai PDIP itu cuek saja. Jokowi malah blusukan ke Malaysia, diajak jalan-jalan ke pabrik Proton, dibohongi pedagang mobil yang ingin menjadikan Proton mobil nasional Indonesia! Lha, Proton itu mobil nasional Malaysia kok dibilang mobil nasional Indonesia??? Kepriye!

Blusukan Jokowi makin garing, gak ada gunanya, selama kisruh KPK vs Polri ini dibiarkan menggantung lama tak terselesaikan. Blusukan pun sia-sia bila Jakarta makin terendam banjir. Jangan salahkan Ahok, gubernur Jakarta sebelumnya siapa?

10 February 2015

40 Hari Pilot AirAsia di Sidoarjo

Tahlilan atau doa bersama digelar di rumah Kapten Irianto, pilot AirAsia QZ 8501, yang nyungsep di laut pada 28 Desember 2014. Puluhan tetangga, keluarga, dan kenalan almarhum Irianto berdatangan ke rumah Irianto di Pondok Jati BC 12-A Sidoarjo.

Tampak Widya Sukati Putri, istri pilot, dan Angela Anggi. Keduanya tampak masih larut dalam duka meskipun kejadian tragis itu sudah berlalu sebulan lebih. Pihak keluarga pun enggan bicara kepada wartawan. "Nggak ada wawancara. Maaf, ini cuma doa bersama aja," kata Wahyu Budi Purnomo, kakak ipar sang pilot.

Berbeda dengan awal kejadian, Angela dan Widya masih sempat merespons wawancara. Apalagi saat itu berita-berita yang beredar sempat menuduh sang kapten melakukan kesalahan sehingga terjadi insiden yang menewaskan semua penumpang dan awak, 162 orang itu. Angela waktu itu meminta agar ayahnya jangan disalahkan. "Tolong hargai perasaan keluarga kami," katanya.

Belakangan muncul rilis dari KNKT bahwa pesawat AirAsia itu justru dikemudikan kopilot yang asal Prancis itu. Kapten Irianto malah cuma berperan sebagai kopilot. Bahkan sejak dari Bandara Juanda. Pernyataan KNKT setelah menganalisis kotak hitam ini setidaknya sedikit menghibur keluarga pilot di Sidoarjo. Tapi, apa boleh buat, pihak keluarga sudah telanjur tersakiti oleh pernyataan beberapa petinggi perhubungan yang dianggap menghakimi almarhum Irianto.

"Kami hanya ingin jenazah almarhum bisa segera ditemukan. Dan semoga segala dosa dan kesalahan beliau dimaafkan dan arwahnya diterima oleh Allah SWT," kata Pak Wahyu yang menjadi juru bicara keluarga pilot nahas itu.

Seperti biasa, acara tahlilan ini berlangsung dengan khusyuk. Jamaah mengirim doa untuk ketenangan almarhum Kapten Irianto di alam sana. Mereka juga memberikan dukungan moral kepada keluarga yang ditinggalkan agar tabah menghadapi cobaan ini. Bahwa semua makhluk yang hidup pasti akan kembali kepada-Nya kapan saja Tuhan menghendaki.

08 February 2015

Lamanya Perjalanan Kapal dari NTT ke Surabaya

Betapa lamanya naik kapal laut, yang tergolong bagus, milik PT Pelni, dari NTT ke Jawa Timur atau Jakarta. Bung Lewa tiba-tiba menghubungi saya karena sedang berlayar dengan KM Umsini dari Lewoleba, ibukota Kabupaten Lembata, NTT, ke Surabaya. "Tolong jemput di Tanjung Perak karena ada kiriman dari kampung," katanya lewat telepon.

Lalu, saya mengecek jadwal KM Umsini di situs PT Pelni. Situs yang sangat informatif, detail, dan selalu diperbarui. Wow, pelayaran kapal penumpang andalan orang Indonesia Timur ini mampir ke banyak pelabuhan kecil, sedang, besar.

Karena itu, waktu tempuh pun menjadi sangat lamaaaaa.... Pepatah "time is money" tidak berlaku jika kita naik kapal-kapal Pelni macam KM Umsini ini. Penumpang kapal-kapal macam ini wajib punya kesabaran ekstra. Santai, tidak buru-buru, dapat cuti panjang, tidak punya deadline. Paling bagus kalau punya usaha sendiri. Bukan karyawan atau pegawai perusahaan swasta atau PNS.

Bayangkan, KM Umsini yang bertolak dari Pelabuhan Lewoleba pada 6 Februari pukul 09.00 baru tiba di Pelabuhan Surabaya (Tanjung Perak) pada 8 Februari pukul 23.00. Artinya, butuh waktu 3 hari perjalanan. Itu pun jadwal di atas kertas atau perkiraan saja. Biasanya perjalanan selalu molor karena gangguan cuaca, teknik, adiminstrasi, koordinasi, dan sebagainya.

Mengapa begitu lama? KM Umsini harus mampir di Larantuka. Kemudian Maumere, sandar 5 jam. Kemudian mampir di Makassar. Setelah sandar 5 jam di Makassar baru bertolak ke Surabaya. Lama perjalanan 28 jam!

Meskipun lama, warga hampir semua warga NTT di perantauan lebih memilih naik kapal-kapal Pelni karena tarifnya yang terjangkau. Sekitar Rp 500 ribu, makan tiga kali, ada hiburan televisi dan (kadang-kadang) live music. Bandingkan dengan naik pesawat dari Surabaya (Bandara Juanda) ke Lembata yang rata-rata Rp 1,5 juta per orang.

Bagi yang ingin cepat, masa cuti terbatas, tentu angkutan udara jauh lebih efektif. Bayar Rp 1,5 juta, tapi lama perjalanan hanya sekitar 2,5 jam. Ketimbang menghabiskan waktu di laut selama 3 hari. "Pergi pulang butuh tujuh hari. Masa cuti kita habis di perjalanan," kata Bung Anton.

Mumpung Presiden Jokowi lagi getol bicara tol laut, maritim, kelautan, perikanan, ada baiknya transportasi laut di Nusantara ini dibenahi. Kalau bisa kapal-kapal penumpang diperbanyak agar kapal-kapal tidak mampir di begitu banyak pelabuhan. Dan menginap sangat lamaaaa.... Syukur-syukur ada kapal cepat yang bisa mempercepat lama perjalanan di laut.

07 February 2015

Banyak Makanan Haram di Flores Timur

Di mana-mana selalu ada makanan (dan minuman) yang pantang dikonsumsi. Haram! Bisa karena alasan keagamaan, kesukuan, atau kesehatan. Yang paling jelas, kita semua tahu, orang Islam haram makan daging babi dan minum minuman beralkohol. Ada juga beberapa makanan lain yang pantang dimakan kaum muslim, tapi yang paling jelas ya babi.

Di Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya etnis Lamaholot, yang tinggal di Kabupaten Flores Timur, Lembata, dan Alor, keharaman makanan ini berbeda-beda antara satu suku (semacam marga) dengan suku lain. Ada suku yang pantang makanan babi. Ada yang haram makan RW alias krengsengan daging anjing. Dan sebagainya.

Suku kami, Hurek, misalnya, diharamkan makan si RW. Padahal, krengsengan anjing ini tergolong makanan yang sangat populer di Indonesia timur. Betapa takutnya orang-orang kampung di Kabupaten Lembata melihat satu dua orang yang nekat melanggar pamali nenek moyang ini. 

"Kutukannya luar biasa kalau kamu sampai makan daging anjing. Sudah banyak contohnya," kata Kak Lina yang paling peduli berbagai aturan adat Lamaholot. 

Contohnya? Kak Lina dengan fasih menyebut beberapa orang bermarga Hurek yang pernah makan daging anjing. Penyakit kulit gatal dan aneh tidak sembuh-sembuh. Dibawa ke bidan tidak mempan. Obat-obatan dari dokter pun tak manjur. "Belara-belara," katanya. Maksudnya: sakit dan penderitaannya luar biasa!

Akhirnya, orang-orang yang melanggar ketetuan adat ini diurus secara adat pula. Penyakit mereka pun perlahan-lahan mereda. Maka, warga setempat turun-temurun sangat yakin akan keampuhan aturan adat yang mengharamkan daging anjing itu.

Pada 1 Januari 2015 lalu, saya mendapat kiriman daging domba (sejenis kambing yang berbulu tebal). Kelihatannya sangat enak, menerbitkan selera makan. Saya pun siap menyantap makanan yang dikirim keluarga Suster Ursula itu. Kak Lina naik pitam. "Wow... wow... jangan pernah engkau makan daging itu. Sangat diharamkan suku kita," katanya dengan nada tinggi.

Saya yang meninggalkan kampung halaman sejak usia 12 tahun pun terkaget-kaget. Apa yang salah dengan domba? Bukankah domba sudah lama diternakkan d kampung? Selama ini saya hanya tahu bahwa suku Hurek hanya diharamkan makan anjing dan ikan paus.

"Domba juga haram untuk kita. Kalau suku lain makan domba tidak apa-apa," kata Kak Lina, yang sangat ketat menjaga adat Lamaholot di kampung.

Kalau Kak Lina sudah bicara adat, kita tidak bisa apa-apa. Maka, saya pun tak jadi menikmati daging domba yang kelihatannya maknyus itu. Yois yang sukunya bukan Hurek tersenyum puas karena malam itu hanya dia seorang yang boleh makan daging domba. Sukunya si Yois, Langoday, juga punya makanan-makanan haram yang lain.

Malam itu akhirnya menjadi kesempatan bagi Kak Lina untuk menceritakan beberapa legenda adat tentang latar belakang mengapa makanan ini pantang dimakan. Mengapa suku Hurek tak boleh makan anjing. Mengapa suku Hurek tak boleh makan ikan paus alias TEMU (bahasa Lamaholot). Mengapa tak boleh makan daging domba. Berikut akibat-akibatnya bagi kami yang nekat menerabas aturan adat lawas ini.

"Temu nepe sare-sare. Nolo na tolong nenek moyang titen," tutur Kak Lina. Artinya, "Ikan paus itu sangat baik. Dulu ikan paus itulah yang menolong nenek moyang kita (ketika perahunya tenggelam di laut)."

Begitulah. Dalam adat Lamaholot, yang sangat dijunjung tinggi di Kabupaten Lembata, Flores Timur, dan Alor, pantangan adat semacam ini sangat keras. Jangan sekali-sekali melanggar, apalagi sampai ketahuan para sesepuh dan penjaga adat macam Kak Lina ini. Sebab, konsekuensinya kita harus membuat semacam upacara rekonsiliasi (pertobatan) di rumah adat yang panjang. Makan biaya besar dan sangat merepotkan orang banyak.

Biasanya, tidak semua orang NTT yang merantau di Malaysia patuh pada ketentuan halal haramnya makanan ala adat suku Lamaholot itu. Malah aturan ini dianggap semacam guyonan saat temu kangen. "Saya sering makan RW (krengsengan anjing) tapi gak apa-apa. Kita harus kembali ke kitab suci kalau memang kita ini orang Katolik. Aturan di kitab suci itu lebih tinggi daripada aturan adat," kata Om Kornelis Hurek di Malang.

Paman yang satu ini memang paling rajin membaca Alkitab ketimbang orang-orang Flores lain yang pernah saya temui di Jawa Timur. Karena itu, beliau selalu menggunakan ayat-ayat suci ketika ada perdebatan soal aturan adat Lamaholot, khususnya halal haramnya makanan itu. 

"Percayalah, kita semua yang bermarga Hurek, kalau makan daging domba atau ikan paus atau RW, tidak akan sakit. Malah lebih sehat karena gizinya tinggi. Saya sudah buktikan sendiri kok," kata Sang Paman yang juga sesepuh orang Lamaholot di Kota Malang, Jawa Timur, itu.

Saya menahan senyum geli mendengar argumentasi Om Kor. Sangat masuk akal, sangat alkitabiah, sangat ilmiah, tapi pasti menimbulkan masalah besar kalau disampaikan di bumi Lamaholot di Lembata atau Flores Timur. Tapi saya yakin dia tidak akan berani makan tongseng asu, daging domba, atau ikan paus di Lembata. 

"Kalau di kampung ya kita harus menyesuaikan diri. Jangan membuat orang kampung tersinggung atau khawatir kita bakal kualat," katanya.

06 February 2015

Kantin Katedral tanpa bacaan

Setengah jam lalu saya mampir di kantin Gereja Katedral Surabaya. Ngopi. Ramai banget suasananya. Ruangan menjadi terlalu sempit untuk memuat pengunjung. Belasan anak SMA terpaksa ngalah. Semua kursi terisi.

Lama benar saya tidak singgah di kantin yang dulu jadi tempat mangkal saya ini. Maka saya pun pangling dengan suasana baru. Kantinnya berubah seperti kafe di mal atau hotel. Bersih, terawat, sistem bayar di muka. Karakter pengunjung pun jadi beda dengan dulu.

Mana tempat majalah Time, Newsweek, Tempo, Hidup, Jubileum, Gatra? Mana koran Jawa Pos, Kompas, Surya? Mana buku-buku filsafat, teologi, humaniora, katekismus, liturgi, ASG (ajaran sosial gereja)? Nggak ada lagi. Ruangan di pojok itu tidak ada lagi. Ditaruh meja, kursi, buat pengunjung.

Maka suasana kantin gereja terkenal di Surabaya ini tak lagi mirip taman bacaan atau perpustakaan. Saya tak lagi mendengar obrolan mahasiswa, mudika, aktivis ormas, tentang Gramsci, teologi pembebasan, option for the poor, ASG, ansos (analisis sosial), gereja diaspora, dan sejenisnya. Tema obrolan yang saya dengar pun hampir tidak ada yang berhubungan dengan kekatolikan atau kristianitas.

Para pengunjung kantin sibuk main HP sendiri-sendiri. Diskusi yang rada berat kayak masa lalu sepertinya hilang dari kantin yang jaraknya cuma 50an meter dari Katedral Hati Kudus Yesus itu.

Dunia literasi memang berubah drastis sejak adanya revolusi ponsel pintar. Media sosial jadi jembatan komunikasi. Kita pun ngopi sendiri-sendiri tanpa membaca majalah atau buku atau sekadar menyapa orang di sebelah kita yang sama-sama Katolik. Ya, semua informasi tentang apa saja, termasuk liturgi, katekismus, filsafat, ensiklik... bukankah sudah ada di internet? Buat apa ada buku-buku dan media cetak?

Pukul 12.00 siang tepat. Suasana kantin Katolik ini pun tak berubah. Pengunjung sibuk dengan HP-nya, ngobrol, asyik sendiri. Tak ada lagi doa angelus bersama seperti tradisi umat Katolik tempo doeloe. Padahal lonceng tanda waktunya sembahyang angelus atau malaikat Tuhan terdengar begitu keras dari Gereja Katedral.

Lama-lama manusia modern di kota besar ini lupa berdoa karena toh sudah ada jutaan macam doa di... internet!

05 February 2015

Babu dan Kuli di Malaysia

Banyak orang Indonesia, khususnya pengguna internet, marah lagi sama Malaysia. Gara-garanya perusahaan alat pembersih RoboVac yang memasang iklan bertulisan 'Fire Your Indonesian Maid Now!'. Kedutaan Besar Republik Indonesia kemudian meminta perusahaan itu meminta maaf kepada publik melalui media massa di Malaysia.

Mengapa harus minta maaf? Salahnya si pembuat iklan itu di mana? Kalau mau jujur, sebetulnya pihak Malaysia tidak salah. Si penulis kata-kata iklan itu cuma mengangkat realitas yang ada di Malaysia. Bahwa di sebagian besar rumah ada warga negara Indonesia yang bekerja sebagai pembantu alias MAID alias babu alias batur. 

Itu fakta. Kita di Indonesia pun sudah bertahun-tahun mahfum akan kenyataan ini. Bahwa tenaga kerja Indonesia (TKI) yang ada di Malaysia memang (hampir) semuanya bekerja sebagai tenaga kasar. Mulai dari babu, kuli bangunan, pemetik kelapa sawit, sopir, dan sebagainya. Tapi hampir semua TKI yang wanita alias TKW bekerja di rumah sebagai pembantu, baby sitter, atau apa pun namanya.

Karena itu, kita tidak perlu malu kalau orang Malaysia mengidentifikasi orang Indonesia sebagai babu. Memang fakta di rumah tangga warga Malaysia sejak dulu begitu. Kalau butuh pembantu, babi sitter, ya pakailah tenaga manusia Indonesia. Ini sejalan dengan istilah lawas yang sering dikutip Bung Karno: Een natie van koelias en een koelie onder da naties!

Bung Karno, sang proklamator, presiden pertama, jauh hari sebelum kemerdekaan, sudah berangan-angan agar Indonesia yang merdeka kelak janganlah menjadi bangsa kuli. Jadilah majikan di rumah sendiri. Apalagi menjadi kuli di Malaysia, negara tetangga yang mau diganyang oleh Bung Karno dengan program dwikora tahun 1960-an. Saya bayangkan betapa hancurnya hati Bung Karno bila melihat jutaan orang Indonesia ramai-ramai bekerja di Malaysia sebagai kuli dan babu di Malaysia.

Sayang, rupanya visi besar Bung Karno dan para bapak/ibu bangsa pada 1930-an itu gagal mewujud setelah kemerdekaan. Malaysia yang pada tahun 1970-an masih negara berkembang, bahkan banyak mahasiswanya kuliah di Indonesia, kini sudah maju pesat. Jadi negara maju. Jadi negara yang kekurangan tenaga kerja kasar kuli dan babu. Sementara Indonesia masih terseok-seok dengan keterbelakangannya.

Malaysia berkembang menjadi negara majikan, sementara orang Indonesia jadi kulinya jiran itu. Lantas, kita marah, cepat naik pitam, ketika orang Malaysia menyampaikan kenyataan di negaranya secara jujur, apa adanya. Kalau nggak mau digojlok sama wong Malaysia ya jangan lagi kirim kuli dan babu ke Malaysia atau negara mana pun. Bikinlah pekerjaan sebanyak-banyaknya di Indonesia. 

Janganlah pemerintah Indonesia, politisi, parlemen, media massa, rakyat umum, sibuk kisruh terus membahas kisruh KPK vs Polri, koalisi merah putih vs Indonesia hebat, perppu pilkada, dan isu-isu lain yang tak akan membuat negara ini maju. Kalau begini terus, ya, Indonesia tetap jadi bulan-bulanan Malaysia. Bukan Malaysia yang kita ganyang, seperti diinginkan Bung Karno, tapi Indonesia yang diganyang terus-menerus.

Saya ingat kata-kata Alkitab, Wulang Bebasan (Amsal) 11:29, versi bahasa Jawa: "Wong bodho kuwi dadi bature wong pinter."

Artinya, bagi yang tidak paham bahasa Jawa: "Orang bodoh itu jadi babunya (kulinya) orang pintar."

04 February 2015

Suara Gereja Dianggap Angin Lalu

Belum lama ini 6 terpidana dieksekusi mati di Pulau Nusakambangan, Jawa Tengah. Begitu banyak orang Indonesia yang gembira dan memuji keberanian Presiden Jokowi dalam menegakkan hukum. Protes beberapa pemimpin negara yang warganya ditembak mati dianggap angin lalu.

"Silakan protes, tapi eksekusi mati jalan terus!" begitu kira-kira sikap pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla. 

Eksekusi mati dianggap cara efektif untuk membuat jera para penjahat, khususnya bandar narkoba. Kita lihat saja apakah setelah eksekusi mati yang masif ini peredaran narkoba akan berkurang di Indonesia. Syukur-syukur bisa hilang. Meskipun di luar negeri eksekusi mati yang rutin, kayak di Tiongkok, tidak otomatis menghilangkan kejahatan yang sama.

Orang Indonesia rupanya sangat pro hukuman mati. Karena itu, suara-suara minoritas yang menentang hukuman mati dianggap aneh bin konyol. "Ngapain membela bandar narkoba? Mereka itu merusak masa depan bangsa. Ingat, Indonesia sudah darurat narkoba," kata seorang teman yang sangat pro eksekusi mati. 

Begitu sengitnya suara yang mendukung eksekusi mati, sehingga kita yang menentang eksekusi mati tidak diberi kesempatan bicara. Apa pun argumentasi yang menolak eksekusi mati, misalnya Prof Dr Franz-Magnis Suseno SJ, yang sangat filosofis dan mendalam pun tidak digubris. Romo Magnis seperti bicara di padang pasir saja. Teriak-teriak sendiri sampai habis suaranya tak ada yang dengar.

Kalau tak salah, saat ini masih ada 58 terpidana yang antre eksekusi mati. Antre dieksekusi mati itu beda dengan antre beras, antre zakat, antre duit BLT, antre sembako, atau antre ngurus paspor di imigrasi. Antre menuju ajal itu benar-benar penderitaan batin yang luar biasa. Biarpun si terpidana sudah menyiapkan diri dengan ibadah yang intensif selama bertahun-tahun. Maaf, kondisinya mirip sapi-sapi yang antre disembelih di RPH Krian, Sidoarjo. Sapi-sapi aja ketakutan dan stres luar biasa!

Jaksa Agung Pak Prasetyo dan Ketua BNN Pak Anang sudah sepakat untuk segera mengeksekusi bandar-bandar madat itu. Lebih cepat lebih baik! Mungkin tiap bulan, atau tiap minggu, ada eksekusi mati. "Diprotes negara asing ya biarin aja! Kalau ada orang Indonesia di luar negeri digantung ya biarain aja. Salah sendiri melanggar hukum!" begitu sikap orang Indonesia, khususnya pemerintahan Jokowi-JK.

Kalau sudah begini, pokoke dead, pokoke dead... maka suara Gereja Katolik niscaya lenyap begitu saja. Tak ada ruang bagi pemerintah untuk mau mendengar pendapat berbeda yang disampaikan kalangan gereja, khususnya Katolik, dan insan-insan beragama apa pun yang menentang hukuman mati. Bahkan, suara Paus Fransiskus sebagai pemimpin tertinggi Gereja Katolik sedunia pun tak akan pernah jadi pertimbangan negara Indonesia. 

"Ngapain dengerin minoritas? Wong umatnya cuma segelintir! Dengerin aja yang mayoritas! Yang 98 persen! Yang punya kekuatan politik!" begitu kira-kira sikap rezim sekarang.

Yah... saya cuma ingin mengingatkan kata-kata Paus Fransiskus tentang perlunya menghapus hukuman mati di seluruh dunia. Sri Paus berkata (dalam bahasa Italia, kemudian diterjemahkan ke bahasa Inggris di situs Vatikan, tapi malas saya terjemahkan ke bahasa Indonesia):

"All Christians and people of goodwill are called today to fight not only for the abolition of the death penalty be it legal or illegal, in all of its forms, but also for the improvement of prison conditions in the respect of the human dignity of those who have been deprived of freedom. 

I link this to the death sentence. In the Penal Code of the Vatican, the sanction of life sentence is no more. A life sentence is a death sentence which is concealed."

Paus sebelumnya, Paus Benediktus XVI, pada pertengahan Agustus 2006 pernah mengirim surat kepada Presiden SBY agar tidak mengekskusi mati Fabianus Tibo dan kawan-kawan. Bukannya menunda ekskusi, hening sebentar untuk merenungkan isi surat Sri Paus, pemerintah Indonesia saat itu justru mempercepat eksekusi mati Tibo dkk. Surat Sri Paus ini malah dianggap intervensi bagi penegakan hukum di Indonesia.

Namun, rupanya belakangan Presiden SBY dan kabinetnya diam-diam sengaja menunda-nunda eksekusi alias moratorium eksekusi mati. Bahkan, sempat ada keinginan untuk meniadakan hukuman mati secara bertahap. Kalaupun ada eksekusi mati, harus benar-benar sangat selektif. Itu yang saya tangkap dari pernyataan Denny Indrayana, mantan menteri hukum dan HAM, kabinet SBY.

Lain SBY, lain Jokowi. Presiden Jokowi rupanya tidak pernah membaca, atau setidaknya dibisiki keberatan Sri Paus dan negara-negara lain, soal death penalty ini. Jokowi justru ingin puluhan (mungkin ratusan) narapidana itu sesegera mungkin dieksekusi mati. Tak ada ampun! Tak ada grasi!

Padahal, Tuhan yang kita sembah itu maharahim, mahapengampun, mahakasih, mahapenyayang.... Selalu ada ruang pengampunan, ruang untuk memperbaiki diri, bagi manusia. Rakyat Indonesa pun selalu memberikan ruang bagi Jokowi untuk memperbaiki kesalahannya. Termasuk kesalahan fatal menunjuk seorang tersangka sebagai kapolri.

03 February 2015

Abuna Kristen Koptik Mesir Kunjungi Surabaya

Orang Indonesia, khususnya kristiani, sudah sering mendengar Gereja Kristen Koptik di Mesir. Tapi jarang ada orang Indonesia yang mendalami Koptik. Gereja macam apa itu? Liturginya? Doktrinnya? Hubungannya dengan pemerintah dan umat Islam di Mesir yang mayoritas? Kontribusi Gereja Koptik di Mesir?

Syukurlah, belum lama ini Abuna Armia Al-Anba Baula Ishaq Aziz Luis mengunjungi Kota Surabaya. Abuna atau pastor Gereja Kristen Koptik Mesir ini bahkan berdialog dengan para romo dan frater (calon pastor) di Seminari Tinggi Providentia Dei, Surabaya. Para rohaniwan dan awam Katolik sangat antusias bertanya tentang banyak hal. Abuna menjelaskan bahwa Gereja Koptik itu sudah menjadi bagian dari sejarah masyarakat Mesir. 

Umat nasrani Koptik ini bahkan lebih dulu ada sebelum masuknya agama Islam pada abad ke-6. Karena itu, warga dan pemerintah Mesir sangat menghargai keberadaan gereja yang punya akar sejarah sangat kuat itu. Suara orang Kristen, yang minoritas, tetap didengar pemerintah. Orang Kristen di Mesir, yang sebagian besar Koptik, tidak dianggap warga negara kelas dua.

Kok bisa umat Kristen jadi minoritas di Mesir, padahal sejarahnya sangat panjang? "Sebab, orang Kristen itu hanya dibolehkan punya satu istri," jawab Abuna Armia disambut tawa hadirin di seminari milik Keuskupan Surabaya itu. Jangan lupa, para abuna ini (sebagian) juga hidup selibat alias tidak berkeluarga seperti para biarawan-biarawati Katolik.

Tentu saja Abuna Armia cuma bercanda. Beliau hanya menekankan bahwa kekuatan orang Kristen itu sebaiknya jangan dilihat dari jumlah, kuantitas, melainkan iman akan Yesus Kristus. Tantangan terbesar umat Kristen Koptik di Mesir dan umat kristiani di tempat lain, menurut Abuna, bukan dari pemerintah atau umat nonkristiani, tetapi justru dari dalam gereja sendiri. 

"Tantangan kita di masa sekarang adalah kelemahan iman," katanya. Lalu, Abuna mengutip ayat Alkitab tentang iman sebesar biji SESAWI yang dapat memindahkan gunung. Di masa lalu, menurut dia, jemaat kristiani Koptik ternyata bisa memindahkan Gunung Moakattam di kawasan Kairo. "Kalau kita punya iman, kita bisa melakukan apa saja sesuai kehendak Tuhan."

Yang juga sangat menarik, dan kayaknya perlu jadi pelajaran bagi gereja-gereja di Indonesia, bangunan gereja di Mesir itu bersifat lintas denominasi. Artinya, sebuah bangunan gereja bisa dipakai oleh beberapa gereja dari aliran atau sekte yang berbeda-beda. Gereja Koptik, meski mayoritas, tidak merasa lebih tinggi ketimbang gereja-gereja lain. "Hubungan kami dengan Gereja Katolik di Mesir sangat baik," kata Abuna.

Blusukan Jokowi Makin Garing

Kerja blusukan ala Presiden Jokowi terasa hambar. Makin garing saja. Orang Indonesia, paling tidak sebagian besar, dulu antusias melihat pejabat tinggi suka blusukan, turun ke bawah, melihat langsung keadaan rakyat kecil yang susah. Betapa bedanya Jokowi dengan bupati, gubernur, atau presiden kebanyakan.

Dulu, sebelum reformasi, seorang bupati Flores Timur, NTT, hanya duduk manis di kantornya di Larantuka. Tidak pernah mengunjungi kecamatan-kecamatan di Adonara, Solor, atau Lembata. Selama lima tahun menjabat, bahkan 10 tahun, yang namanya bupati Flores Timur itu tidak pernah mengunjungi Kecamatan Ile Ape, tempat kelahiran saya. 

Padahal, dulu pernah ada orang Ile Ape yang jadi bupati. Ini juga salah satu alasan mengapa warga Lembata menuntut kabupaten sendiri. Syukurlah, sekarang sudah ada Kabupaten Lembata. Bupati dan wakil bupatinya pun mulai ketularan gaya blusukan ala Jokowi dan Bu Risma di Surabaya. Sehingga desa-desa kecil di Lembata, bahkan kampung lama di dekat gunung, pun didatangi. Dan dibuatkan jalan raya untuk truk dan mobil. Kaget juga melihat perkembangan positif di Lembata ini.

Kembali ke Jokowi. Setelah dilantik jadi presiden pada 20 Oktober 2014, saya sering memantau blusukan Jokowi di TVRI. Asyik, dialogis, merakyat, turun ke bumi (down to earth). Gaya pidatonya pun cair, sederhana, tanpa kata sulit atau gaya kuliahan ala Presiden SBY. Naskah pidato tertulis dibaca sebentar kemudian Jokowi meninggalkan naskah itu. Lalu bicara santai layaknya seorang teman warga. Lalu ada semacam kuis berhadiah sepeda pancal dan sejenisnya. 

"Pak Ahmad, tolong sebutkan nama lima ikan yang ada di sini," begitu pertanyaan Presiden Jokowi yang masih saya ingat. Lucu juga karena si nelayan menyebut nama-nama ikan dalam bahasa daerah di Kalimantan. Tapi ya tetap dapat hadiah sepeda.

Sayang, Jokowi menghancurkan popularitasnya sendiri. Blusukan yang sangat menyentuh rakyat, khususnya bagi warga daerah terpencil macam NTT, yang pejabat-pejabatnya hampir tidak pernah turun ke kampung-kampung, ini makin kehilangan pesona. Hanya karena Jokowi ceroboh bin ngawur dalam memilih pimpinan penegak hukum di tingkat pusat. HM Prasetyo, politikus Nasdem, anggota DPR RI, tiba-tiba ditunjuk jadi jaksa agung. Padahal, jauh sebelumnya Jokowi memberi isyarat akan menunjuk Yunus Husein dari PPATK sebagai jaksa agung. 

Yang lebih parah lagi adalah penunjukkan Komjen Pol Budi Gunawan sebagai calon kapolri. Jagat politik gonjang-ganjing. BG sudah lama disoroti gara-gara rekening gendut. Rapornya sudah merah. Akhirnya KPK menetapkan BG sebagai tersangka. Geger KPK vs Polri pun tak terelakkan. Akar penyebab kisruh ini siapa lagi kalau bukan si raja blusukan yang sempat dipuja-puja itu... Jokowi.

Maka, saya tidak heran kalau popularitas Jokowi tinggal 61 persen. Padahal, awalnya melejit hingga 74 persen versi LSI. Lumayanlah belum di bawah 50 persen. Tapi hasil survei LSI ini sudah lampu merah untuk Jokowi. "Jokowi memberikan pesan yang keliru kepada rakyat," kata Azyumardi Azra. 

Kerja blusukan ala Jokowi pun jadi garing. Apalagi sang presiden membiarkan konflik KPK vs Polri berkepanjangan. Semua komisioner KPK ditangkap. KPK macet. Polri yang punya ribuan anggota di seluruh Indonesia itu hanya dipimpin pelaksana tugas Komjen Badrodin yang dari Jember itu. Pesan itu lebih keliru lagi bila Jokowi ngotot melantik BG. Atau memilih orang dekat BG sebagai kapolri.