26 January 2015

Zainal Abidin ketua KPU Sidoarjo




Baru saja saya ngobrol dengan M Zainal Abidin di ruang kerjanya. Mas Zainal ini ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Sidoarjo. Lama banget saya tak sua komisioner yang juga dosen di STAI Al-Khoziny, Buduran, ini.

Mas Zainal masih seperti yang dulu. Masih asyik merokok meski ruang kerjanya ber-AC. Semakin merokok semakin banyak dapat inspirasi. Apalagi ditambah kopi kental panas. "Saya agak kurangi kopi untuk kontrol gula darah. Tapi nggak bisa lepas dari kopi," katanya santai.

Zainal Abidin adalah satu-satunya komisioner KPU Sidoarjo yang bertahan lebih dari dua periode. Dus, ini periode ketiganya. Mas Bhima sudah lengser. Sekarang malah jadi salah satu direktur PDAM Sidoarjo. Mas Ansori jadi hakim tipikor di luar Jawa. Mas Nanang tidak lolos dalam seleksi kemarin.

"Pekerjaan apa pun kalau dinikmati mesti enak. Disyukuri saja," kata santri senior yang sering jadi pembawa acara di Pesantren Al-Khoziny itu. Sebagai komisioner kawakan, pria yang murah senyum ini kudu ngemong teman-temannya komisoner baru. Dia juga paling bertanggung jawab atas pemilihan kepala daerah Sidoarjo tahun 2015 atau Februari 2016.

Zainal dan KPU di seluruh Indonesia masih menunggu pembahasan perppu pilkada di Senayan, Jakarta. Sebab perppu itulah yang akan menjadi acuan dalam pilkada. Tahapan-tahapan pilkada belum bisa dilakukan selama belum ada aturan main yang disahkan wakil rakyat. "Mudah-mudahan segera selesai agar kami bisa membuat perencanaan," harapnya.

Bekerja sebagai komisioner KPU Sidoarjo, dari anggota biasa hingga dipercaya menjadi ketua, bagi Zainal adalah amanah sekaligus kehormatan. Maklum, di seluruh kabupaten hanya ada lima komisioner. Ketika ada pemilihan umum, entah pileg, pilpres, atau pilkada, KPU menjadi jujukan banyak pihak yang berkepentingan.

"KPU ini kalau saat pemilu benar-benar dibutuhkan orang. Tapi setelah pemilu seperti dilupakan orang," kata Zainal dengan guyonan khasnya.

Bisa jadi benar. Saat ini kantor KPU Sidoarjo di pinggir jalan raya Cemengkalang itu sepi. Hampir tak ada pengunjung atau tamu. Halaman parkir pun lengang. Sebaliknya, saat pileg dan pilpres lalu, mobil dan sepeda motor terlihat meluber hingga ke jalan raya.

"Yah, disyukuri sajalah! Anggap saja istirahat sebelum kerja keras menjelang pilkada nanti," kata saya.

"Oh, jangan dikira KPU sekarang nganggur (tapi tetap dibayar)! Sekarang ini justru kami selalu dapat kerjaan dari KPU pusat. Ada-ada saja tugas yang harus dibayar," tegasnya.

Zainal juga mengaku mulai aktif melakukan sosialisasi pilkada lewat RSPK, radio milik Pemkab Sidoarjo. Dia juga lagi merancang media center di kantor KPU. "Sekarang ini media center yang ada tidak aktif. Saya ingin hidupkan lagi," ucapnya.

Cukup lama saya lepas kangen dengan Mas Zainal yang dulu biasa makan dan ngopi bareng di warung hijau dekat KPU. Warung itu, yang putri pemiliknya cantik nian, sudah tak ada lagi. Obrolan seputar pilkada melebar ke mana-mana. Hingga datanglah tamu dari bagian humas pemkab Sidoarjo. Obrolan malah makin seru tapi tetap santai.

Kopi pahit pesanan Mas Zainal ternyata tak mampu menahan kantukku. Saya pun pamit ke Pasar Seni untuk istirahat sejenak di kompleks ruko yang jadi jujukan seniman lukis itu. Capek deh!

No comments:

Post a Comment