17 January 2015

Wong sing nampa akeh ora turah

Sudah lama saya tidak membaca Alkitab yang dari buku. Biasanya saya cuma menengok bacaan kitab suci di internet yang akan dibahas saat misa hari Minggu. Yang pakai versi bahasa Inggris sederhana.

Kok pagi ini tiba-tiba saya ingin sekali baca Alkitab. Kebetulan ada kitab suci bahasa Jawa yang nganggur sangat lama. Saya buka secara acak. Ketemu ayat ini: "Wong sing nampa akeh ora turah. Wong sing nampa sethithik ora kurang" (2 Korintus 8:15).

Saya tertegun lama. Di otak saya langsung terbayang rekening gendut. Isinya miliaran rupiah. Mungkin triliunan. Duit yang luar biasa banyaknya. Dan itu milik aparat keamanan yang gaji resminya sekitar Rp 10 juta atau paling banyak Rp 25 juta. Gaji resminya sedikit, kok penghasilannya miliaran rupiah? Dari mana uang itu? Kayak hujan duit dari langit aja!

Tak lama kemudian memori saya menghadirkan unjuk rasa ratusan guru honorer di Sidoarjo belum lama ini. Para guru ini minta agar penghasilannya dinaikkan. Kalau bisa sih disamakan dengan UMK buruh yang Rp 2,2 juta sebulan. Asal tahu saja, guru-guru tidak tetap di Kabupaten Sidoarjo ini dibayar Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta per bulan. Tak ada yang dibayar Rp 2 juta.

Kok bisa guru-guru tidak tetap ini bisa hidup dengan gaji segitu! Punya istri, anak, cicil ini itu dan sebagainya. Sementara yang gajinya Rp 10 juta, Rp 20 juta, bahkan Rp 50 juta sebulan masih kurang. Masih terus dipasok uang puluhan juta, ratusan juta, secara rutin. Ajaib memang hidup ini.

Wong sing nampa akeh, ora turah!
Wong sing nampa sethithik, ora kurang!

Saya kemudian membuka Kitab Pangentasan (Keluaran) yang dirujuk perikop 2 Korintus 8 ini. Cerita tentang Tuhan memberikan roti dari surga dan burung gemak (puyuh) kepada bangsa Israel yang sedang eksodus dari Mesir. Mereka takut mati kelaparan. Yahwe bersabda:

"Aku bakal nekakake pangan kaya udan saka ing langit kanggo kowe kabeh. Saben dina kowe kudu padha nglumpukake pangan kuwi sacukupe kanggo sedina." (Keluaran 16:4).

Luar biasa! Makanan berlimpah dicurahkan seperti hujan dari langit. Tapi, namanya juga manusia, apalagi bangsa Israel yang memang ndablek, ada saja yang khawatir kaliren alias kelaparan. Orang berlomba mengumpukan manna dan puyuh sebanyak-banyak. Seakan-akan kapasitas perut manusia itu tak terbatas.

"Wong sing nampa akeh, ora turah!
Wong sing nampa sethithik, ora kurang!"

Betapa dalamnya petikan ayat kitab suci ini. Betapa Tuhan sejak awal sudah mengingatkan manusia agar tidak tamak, serakah, penuh nafsu untuk mengumpulkan kekayaan sebanyak-banyaknya, bahkan dengan jalan korupsi, jualan narkoba, jualan PSK, dan aneka tindak kejahatan lainnya.

Berkah dalem!

2 comments:

  1. Zitat yang Anda kutip dari Korintus sangat mirip dengan aphorismen yang saya baca dibuku Tao-te-king ( Lao-tze ). Jika seandainya pemerintah bisa mengurus kesejahteraan ( papan-sandang-pangan-kesehatan ) bagi seluruh rakyatnya, sesuai dengan UUD 1945 pasal 33, saya yakin sifat serakah manusia bisa berkurang. Untuk mewujudkan itu, Syukur Alhamdulillah, ada KPK di Indonesia, dan ada Xi Jin-ping di China.
    Sulit jadi orang jujur, sebab bukannya dipuji, melainkan malah diolok, distempel sebagai Loser. Paling memuakkan adalah para Mantan Petinggi yang sekarang pura2 bersih, sok2-an berkomentar kasus Komjend. BG. Mereka perlu Cermin !

    ReplyDelete
  2. itulah misteri hidup yang Tuhan kasih pada umatnya..... dan yang dpt sedikit gak pernah kurang karena mensyukuri berkat Tuhan dan ahli membagi rejeki untuk hidup.... Muklaikan Tuhan Karena Nya

    ReplyDelete