22 January 2015

Teater kampung di Lembata kian surut

Sebelum tahun 2000, sandiwara atau teater atau drama sangat populer di pelosok Nusatenggara Timur, khususnya Kabupaten Flores Timur dan Lembata. Anak-anak desa yang sekolah di kota biasanya mengisi liburan dengan main sandiwara. Di tengah adegan, biasanya diisi dengan menyanyi vocal group, tarian, atau lawakan sederhana.

Waktu itu belum ada televisi. Ada memang beberapa televisi tapi tak ada gambar karena pemancar tidak ada. Maka orang-orang desa sangat antusias menyaksikan teater amatiran khas remaja itu. Saya masih ingat, gereja di Atawatung penuh sesak oleh warga dua desa (Atawatung dan Mawa) yang menonton sandiwara. Judulnya: Cinta dan Pengkhianatan.

Sandiwara keliling ala pelajar di NTT ini mirip ludruk tobong di Jawa Timur. Pentasnya keliling beberapa desa atau kampung. Karena itu, momen liburan panjang selalu ditunggu orang-orang desa di kampung saya. Ceritanya apa? Siapa yang jadi pelakon utama? (Kata pelakon lebih populer ketimbang pemeran atau pemain atau bintan atau aktror/aktris. Yah, namanya aja orang desa.)

Sayang, masuknya listrik PLN ke desa-desa, yang disusul televisi + parabola, membuat rakyat sederhana di kampung-kampung tak lagi haus hiburan. Bisa menonton sinetron, konser musik, film, berita, dan program apa saja di TV. Kalau mau bisa 24 jam nonstop. Akibatnya, kebiasaan main sandiwara pun perlahan-lahan menghilang.

Saat berlibur di kampung halaman selama beberapa tahun terakhir, saya jarang mendengar para pelajar main sandiwara. Mereka bahkan tidak tahu kalau abang-abang atau om-omnya dulu selalu membawa sandiwara ke kampung saat berlibur. Bahkan, Gereja Atawatung yang dulu paling sering jadi panggung teater kampung pun tak ada lagi.

Syukurlah, di Desa Bungamuda tradisi pelajar main sandiwara alias teater ini masih ada. Bahkan sudah jadi semacam agenda tetap setiap malam tahun baru. Orang-orang kampung ramai-ramai berkumpul di namang (semacam alun-alun) untuk menonton sandiwara di panggung terbuka.

Yang menarik, cerita yang dimainkan anak-anak muda Bungamuda ini tidak lagi soal percintaan, perjuangan, atau naskah-naskah lama yang ditulis orang lain. Mereka bikin skenario sendiri berdasar isu aktual di kampung. Maka, tahun lalu sandiwaranya tentang kepala desa di negeri antah berantah yang tidak aspiratif. Sindirannya sangat tajam.

Warga tertawa-tawa menyaksikan ulah pak kades yang konyol di atas panggung. Sandiwara jadi ajang katarsis, pelepas unek-unek, karena selama ini rakyat kecil sulit mengkritik pemimpinnya secara langsung. Teater tentang bak penampung air hujan ini pun lekas menjadi buah bibir di seluruh kecamatan.

Malam tahun baru kemarin, anak-anak Bungamuda mementaskan drama tentang kebiasaan buruk menenggak minuman keras. Ini juga sangat relevan karena diangkat dari kisah nyata di kampung. Remaja yang doyan mabuk bikin ulah di kampung kecil itu.

Teater yang sederhana ini pun jadi buah bibir masyarakat setempat. Ini juga menunjukkan bahwa teater atau sandiwara sebetulnya masih mendapat tempat di hati masyarakat desa-desa di Kabupaten Lembata. Sayang, tradisi yang baik ini sudah hilang di banyak desa.

Mengapa orang-orang desa di Flores dan Lembata sangat suka nonton sandiwara? Selain karena kurang hiburan, menurut saya, tidak lepas dari jasa Bung Karno. Ketika diasingkan di Ende, Flores, 1934-38, Bung Karno mendirikan Toneel Kelimutu. Sebuah kelompok teater amatir yang rajin pentas di salah satu gereja katolik di Ende. Bung Karno sendiri yang menulis naskah-naskah sandiwaranya.

Kita bisa membaca di buku-buku betapa warga Ende, Flores umumnya, saat itu begitu gandrung menonton sandiwara alias tonil. Kebiasaan ini kemudian diteruskan sekolah seminari, yang kemudian diadopsi sekolah-sekolah umum di Pulau Flores dan sekitarnya. Anak-anak kampung yang bersekolah di kota kemudian memanfaatkan seni peran ini untuk menghibur warga saat liburan. Sekaligus menyentil sejumlah kebijakan penguasa yang dianggap melenceng.

No comments:

Post a Comment