18 January 2015

Siaran eksekusi mati sambil senyum

Sejak pesawat AirAsia dinyatakan hilang, 28 Desember 2014, televisi-televisi nasional berlomba bikin siaran langsung. Berjam-jam. Tiap hari. Lama-lama kita bosan karena durasinya terlalu panjang dan analisis pengamat cuma diulang-ulang saja. Kalaupun suatu ketika ada tragedi serupa, analisisnya pun akan sama. Pengamatnya juga mungkin sama aja.

Tapi breaking news AirAsia QZ 8501 ini punya nilai human interest yang tinggi. Kita bisa lihat kerja keras penyelam, basarnas, hingga para dokter yang mengidentifikasi korban di RS Bhayangkara Surabaya. Kita jadi akrab dengan istilah black box, ante mortem, post mortem, DVI, LCC, dan sebagainya. Banyak ilmu yang kita serap setelah menyaksikan liputan AirAsia selama hampir tiga minggu ini.

Setelah AirAsia tidak lagi menarik, masyarakat mulai bosan, beberapa televisi swasta gantian membuat siaran langsung eksekusi mati. Human interest-nya jelas tinggi. Tapi bagi sebagian masyarakat, seperti saya, siaran langsung eksekusi mati ini sangat mengerikan. Apalagi si presenter menghitung mundur 4 jam lagi 6 terpidana akan ditembak mati.

Tim tvOne bahkan tampak begitu semangat blusukan ke lapangan tembak di Nusakambangan yang katanya akan dipakai untuk menembak narapidana kasus narkoba itu. Kemudian kamera menyorot Danish, terpidana yang mati-matian menolak dibawa ke Nusakambangan karena tidak mau ditembak mati. Dia ingin dihukum seumur hidup saja.

Ya, semua orang akan mati! Tapi kematian yang sudah ditentukan jadwalnya, tempatnya, caranya... pasti sangat menakutkan. Mengerikan! Tapi sang presenter televisi terlihat senyam-senyum melihat ulah bandar narkoba asal Afrika yang tidak siap mental untuk ditembak mati oleh tim Brimob itu. Dua komentator yang mendampingi presenter pun beberapa kali tersenyum.

Saya sendiri ikut petisi menolak eksekusi mati Fabianus Tibo dkk beberapa tahun lalu. Sejak itu saya konsisten menentang eksekusi mati di Indonesia. Tapi saya menghargai sikap pemerintah Indonesia, dan sebagian besar warga Indonesia, yang sangat mendukung hukuman mati. Dengan seribu satu alasan.

Saya yakin banyak orang Indonesia yang juga menolak hukuman mati. Termasuk Komnas HAM dan banyak LSM. Termasuk sebagian agamawan. Karena itu, eksekusi mati ini sebetulnya masih kontroversial di Indonesia. Dan, saya yakin banyak negara yang tidak senang melihat Indonesia masih menerapkan pidana mati.

Karena itu, televisi-televisi atau media massa seharusnya punya tenggang rasa. Empati. Mau mencoba berbela rasa dengan keluarga terpidana dan masyarakat yang menentang hukuman mati. Bukan malah membuat siaran langsung eksekusi mati sambil guyon atau bercanda layaknya siaran langsung resepsi pernikahan artis atau event hiburan.

Saya tidak tahu bagaimana televisi-televisi di Eropa atau Amerika membuat liputan eksekusi mati. Tapi rasa-rasanya tidak ada siaran langsung berjam-jam, mulai persiapan, wawancara keluarga, mengikuti ambulans yang membawa peti mati, lapangan tembak, hingga jenazah diserahkan kepada keluarga korban.

Yang saya ingat, ketika Sadam Husein, mantan penguasa Irak, dieksekusi, tidak ada siaran langsung di televisi barat. Apalagi laporan menit per menit, komentar hakim agung, dsb. Warga dunia baru terkejut mendengar berita bahwa Sadam Husein sudah dieksekusi. Gambar yang beredar pun hanya rekaman foto/video amatir yang mungkin dibocorkan orang dalam.

Indonesia memang beda!

3 comments:

  1. Itulah kebiasaan kita, orang Indonesia, selalu cengengesan, walaupun tidak tepat pada waktunya. Ketika awal mula saya di Eropa, yo ngono kuwi, drengas-drenges koyo wong sempel, sehingga sering ditegur oleh kawan2 bule, Warum lachst du ? Was ist denn so lustig ? Yah, Bung Hurek, lacurnya mungkin kita masih ada famili dengan Rahwana, walaupun tidak bermuka sepuluh, tetapi
    paling sedikit dua.

    ReplyDelete
  2. Bang Hurek, ternyata blognya aktif terus ya....salam kenal dari saya uut(tapi cowok ya..hehe..), mendengar berita eksekusi mati saya sedih dan menangis bang....Saya non katolik, namun saya mendukung penuh gereja yang menolak hukuman mati. Hanya Tuhan yang berhak mencabut nyawa seseorang. Dan di blog ini juga termuat cerita tentang mami Rose alias ibu Sumiarsih....yang telah di ekseskusi bersama anaknya tahun 2008 lalu.....Mari kita suarakan terus gerakan anti hukuman mati. Mari kita bersilaturahmi bang, saya tunggu respon di melodiaelectone@yahoo.co.id

    ReplyDelete
  3. Berkah Dalem bang Hurek....ketika saya mendengar berita eksekusi mati, saya menangis bang.....sungguh kejam dan tak berperikemanusiaan. Sebagai orang yang non katolik, saya mendukung penuh sikap gereja yang menolak hukuman mati. Selaras dengan gereja : bahwa yang berhak mencabut nyawa seseorang hanya Tuhan.

    ReplyDelete