20 January 2015

Selamat Jalan Romo Yoseph Reko Boleng




Sekitar seribu umat Katolik dari Sidoarjo, Surabaya, dan sejumlah kota di Jawa Timur Senin, 19 Januari 2015, mengantar jenazah Romo Yoseph Reko Boleng ke tempat pemakaman khusus para romo di Puhsarang, Kediri. Sebelumnya digelar misa requiem yang dipimpin Uskup Surabaya Monsinyur Vincentius Sutikno Wisaksono.

Tak hanya Uskup Sutikno, puluhan romo dan suster tampak khusyuk mengikuti misa khusus untuk mendoakan Romo Reko Boleng, 60. Satu per satu jemaat diberi kesempatan untuk memberikan penghormatan terakhir di depan jenazah mendiang Romo Reko yang ditempatkan di depan altar Gereja Katolik Santa Maria Annuntiata, Jalan Monginsidi 13 Sidoarjo.

Mendiang pastor berdarah campuran Flores-Jawa ini memang bertugas sebagai romo di Paroki Sidoarjo. "Saya tidak menyangka kalau Romo Reko meninggalkan kita secepat ini.
Jumat malam (16/1) beliau terlihat sehat, biasa saja, tidak ada keluhan apa pun," ujar Romo Justisianto, kepala Paroki St Maria Annuntiata Sidoarjo.

Sabtu pagi, 17 Januari 2015, menurut Romo Jus, sapaan akrab Romo Justisianto, Romo Reko tidak terlihat sarapan dan melakukan aktivitas seperti biasa. Dia mengira sang romo punya kesibukan di luar dan lupa memberi pesan baik lewat nota maupun SMS. Ketika kiriman jus buah datang, seorang koster (pembantu di pastoran) mengetuk kamar Romo Eko. Tak ada jawaban. Siang hari, sang koster kembali mengetuk pintu. Juga tak ada jawaban.

Penasaran dengan situasi yang tak lazim, koster itu mencoba mengintip ke dalam kamar. Betapa terkejutnya dia melihat tubuh Romo Reko sudah terbujur kaku. "Pak Koster turun memberi tahu saya kalau Romo Reko sudah nggak ada," tuturnya.

Dibanding sejumlah pastor lain, menurut Romo Jus, selama ini Romo Reko dikenal paling sehat dan bugar. Tak pernah ada riwayat penyakit berat atau keluhan apa pun. "Tapi ternyata Romo Reko yang lebih dahulu dipanggil Tuhan pada usia 60 tahun. Sementara beberapa romo sepuh yang kita sangka dapat antrean di depan malah masih segar bugar," kata Romo
Jus.

Romo Jus mengaku tak pernah mengira rekan kerjanya itu terkena serangan jantung mendadak. Begitu mendadaknya sehingga tak ada seorang pun di pastoran yang tahu. Diduga kuat, Romo Reko sudah meninggal dunia lebih dari 10 jam sebelum jenazahnya diketahui oleh koster gereja.

"Inilah misteri kematian itu. Kacamata manusia selalu berbeda dengan kacamata Tuhan. Tuhan punya rencana sendiri. Ia memanggil kita kapan saja sesuai dengan kehendak-Nya," kata Romo Jus.

Tak ada firasat atau pesan khusus sebelum Romo Reko menghadap Sang Pencipta. Namun, romo yang murah senyum ini pernah meminta keluarganya untuk tidak memikirkan dirinya. "Sebab, sudah ada yang ngurus," kata Romo Jus menirukan kata-kata Romo Reko.

Benar saja. Mendengar kabar kematian Romo Reko Boleng, umat Katolik terus berdatangan untuk memberi penghormatan serta mengurus berbagai keperluan hingga pemakaman di kompleks Gua Maria Lourdes, Puhsarang, Kediri.

Selamat jalan Romo Reko! Resquescat in pace!

2 comments:

  1. Bung Lambertus, saya juga penderita penyakit jantung koroner. Saya terkena serangan jantung pada usia 36, pas sedang tidur. Seharian sudah perut rewel, berasa akan bersendawa (heartburn), tetapi tidak bisa lega. Setelah tidur malam beberapa jam, ternyata satu saluran arteri (kata dokter Left Descending Artery) benar-benar mampet. Dadaku sakit luar biasa. Untunglah cepat dilarikan ke rumah sakit dekat rumah, dan dilakukan prosedur angioplasty (baloon), kalau tidak nasibku sama dengan romo kesayanganmu. Sekarang usiaku 44 menuju 45. Gaya hidupku berubah, lebih nyantai dalam bekerja, lebih sehat dalam makan, lebih aktif dalam bergerak, dan lebih eling dalam hal-hal spiritual. Beristirahatlah dalam kedamaian, Romo yang baik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Matur suwun sudah berbagi pengalaman pribadi soal kesehatan. serangan jantung ini memang jadi bahaya laten yg mengancam manusia kapan saja. Gak tau sakit kok tiba2 selesai. Begitulah misteri kehidupan dan kematian.

      Delete