05 January 2015

Sekolah Katolik Berasrama Favorit Pejabat NTT

Di Jawa, khususnya Jawa Timur, para bupati dan wali kota suka memasukkan anak-anaknya ke SMP/SMA negeri favorit. Mau pakai sistem penerimaan murid baru kayak apa pun, anak-anak pejabat biasanya lolos. Apakah anak-anak pejabat itu berotak encer sehingga bisa dengan mudah menembus bangku sekolah negeri favorit? Ehm.. perlu penelitian khusus.

Yang pasti, bupati, wali kota, atau kepala dinas pendidikan itu punya kuasa untuk memindahkan semua kepala sekolah dan guru-guru sekolah negeri di wilayahnya. Dus, mana ada kepala sekolah yang berani menolak titipan anak pejabat? Bisa-bisa sang kasek itu besoknya dimutasi atau dilempar ke SKPD tertentu yang kering.

Pejabat-pejabat di Nusa Tenggara Timur (NTT) agak beda dengan di Jawa. Meskipun punya otoritas penuh atas semua sekolah negeri, mereka lebih suka menyekolahkan anak-anak mereka ke sekolah swasta. Khususnya sekolah-sekolah swasta favorit, Katolik, yang berasrama. Khususnya lagi di Jawa.

Kebiasaan lama para pejabat NTT ini saya nilai positif. Patut dibanggakan. Sebab, mereka tidak merusak tatanan dan standar mutu peserta didik baru yang disyaratkan di sekolah-sekolah negeri. Mereka juga tidak mungkin menekan pengelola sekolah swasta Katolik yang berasrama di Jawa itu. Toh, pengelola sekolah berasrama itu tidak tahu kalau yang diterima itu anak pejabat, pengusaha, pegawai negeri, dan sebagainya.

Setiap awal tahun, saat pulang mudik ke Surabaya, saya selalu menemui beberapa pejabat di lapter (lapangan terbang) alias bandar udara. Mereka mengantar anaknya yang harus kembali di Jawa. Akhir pekan lalu, misalnya, saya bertemu Victor Mado Watun, tetangga kampung sebelah di Ile Ape, Lembata, yang tak lain wakil bupati Lembata. "Saya antar anak saya yang mau ke Malang," kata Bung Victor, sapaan akrabnya.

Putri Bung Victor yang hitam manis ini sekolah di SMAK Cor Jesu, Malang. Sekolah berasrama di kawasan Celaket, Kota Malang, yang dikelola suster-suster Ursulin. Tak hanya Intan, putrinya Bung Victor, banyak anak pejabat, pengusaha, dan pegawai tinggi yang sekolah di situ. "Saya merasa aman, tenang, kalau anak saya tinggal di asrama. Apalagi kualitas sekolahnya juga sangat baik," kata Bung Victor.

Tradisi menyekolahkan anak-anak kelas atas-menengah NTT di sekolah berasrama di Jawa ini bukan barang baru. Sejak zaman Hindia Belanda, beberapa anak NTT yang otaknya cerdas sudah digembleng di Van Lith, sekolah berasrama terkenal di Muntilan, Jawa Tengah. Saya pun sering bertemu remaja-remaja NTT yang ternyata pelajar Van Lith. "Saya harus kembali ke Jawa karena liburan sudah selesai," ujar seorang nona manis asal Atambua, Kabupaten Belu.

Sebagus apa pun kos-kosan, dengan fasilitas super mewah, bagi pejabat-pejabat NTT, tidak akan sama dengan asrama yang dikelola suster, frater, bruder, atau pastor. Hidup di kos, jauh dari orang tua, apalagi anak perempuan, dianggap sangat riskan. "Di asrama itu anak-anak punya jadwal ketat sejak bangun pagi sampai tidur malam. Mereka juga harus ibadat pagi, misa, belajar bekerja, sosialisasi, membaca, dan sebagainya. Ini yang tidak ada di kos-kosan," kata Bung Victor.

"Biaya yang kami keluarkan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kualitas pendidikan yang didapat anak kami," Bung Victor menambahkan.

Salah satu "kelemahan" menitipkan anak di asrama Katolik, kalau bisa disebut "kelemahan", adalah sang anak menjadi cepat mandiri dan cepat melepaskan diri dari orang tua. Masa tinggal bersama ayah, ibu, kakak, adik, di rumah sangat terbatas. Karena itu, para pejabat NTT ini biasanya cepat-cepat mengirim duit agar anaknya segera kembali ke rumah jika ada kesempatan berlibur. Apalagi di era low cost flight ini, setiap saat ada jadwal pesawat yang menjangkau pelosok NTT macam Kabupaten Lembata.

"Saya justru senang kalau anak-anak cepat mandiri. Di Jawa, dia jadi anak asrama biasa. Tidak ada yang tahu kalau bapaknya pejabat," katanya.

8 comments:

  1. Bung Hurek yang baik, Nepotisme ada di-mana2, diseluruh dunia. Karena itu selalu ada untungnya jika mempunyai teman baik. Contoh :
    1. Amerika Serikat : Tahun 1967 sampai tahun 1970, ketika rame2-nya perang
    Vietnam, banyak teman2-saya diasrama berasal dari Amerika, mereka kuliah
    ke Eropa untuk menghindari dikirim ke Vietnam sebagai GI. Orangtua mereka
    semuanya berduit dan berpengaruh. Misalnya Bill Clinton.
    2. Di Tiongkok istilahnya guan xi. Saya di China tidak pernah mendapat
    kesukaran, sebab semua tetek bengek diurus dan dibantu oleh pejabat tinggi
    kantor kabupaten dan oleh kapolres. Saya hanya minta tolong urusan birokrasi
    izin tinggal, SIM, dll. Saya tidak pernah mau jika diajak ber-business.
    3. Saya waktu kuliah mondok diarama Katolik, jadi jongos asrama ( ngeruk salju,
    satpam, dll. tugas seorang jongos lumrahnya ), dengan demikian saya
    dibebaskan dari pembayaran uang sewa kost.
    Nah, suatu hari seorang mahasiswa Minang ikut kakaknya yang ditugaskan
    menjadi Sekretaris satu di KBRI. Dia perlu tempat kost diasrama, lalu minta
    tolong kepada saya. Saya ajak dia menghadap pengurus pusat asrama.
    Nyonya pengurus asrama bilang kepada kami; Semua kamar sudah penuh !
    Saya bantah; tidak benar ! Masih ada 3 kamar yang kosong, lha wong saya
    khan jongos-mu, tahu keadaan sebenarnya.
    Nyonya bilang ; Herr ..., ketiga kamar tersebut memang sengaja kita
    kosongkan, jaga2 kalau ada mahasiswa pribumi yang datang dan
    membawa surat rekomendasi dari Kardinal, Uskup atau Gubernur.
    Saya jawab: Begini saja, selama masih kosong, izinkanlah teman-saya ini
    tinggal disana, kalau sungguh ada pribumi keponakannya Kardinal, Uskup,
    atau Gubernur membutuhkan kamar tsb., saya berjanji akan menyuruh si-
    Minang ini untuk pindah ketempat lain.
    Ya, kami berhasil mendapat tempat kost-asrama.
    4. Di Indonesia Nepotisme disalah gunakan untuk ajang korupsi !
    Quo vadis Ibu Pertiwi ?


    ReplyDelete
    Replies
    1. Sedikit koreksi untuk engkong. Bill Clinton ke Inggris sebagai Rhodes scholar di Oxford University, bukan karena orangtuanya kaya / berpengaruh. Seperti Obama dan Jokowi, dia berasal dari keluarga pas2an, tetapi otaknya cemerlang. Di jaman Perang Vietnam, mereka yang otaknya cemerlang oleh pemeriksa kesehatan sengaja ditidakluluskan atau tidak dikirim ke garis depan.

      Delete
  2. Wah gara2 sampeyan nulis Cor Jesu, Celaket, Malang, membuat saya kangen,
    memutar balik waktu 50 tahun silam. Masih ingat tiap hari minggu nonik2 Cor Jesu yang manis2 defile waktu eukaristi menyambut Hosti. Saiki kulo wis tuwek bin loyo, Mas !
    Mas !

    ReplyDelete
  3. Bung Hurek, apa yang saya tulis adalah pengalaman hidup seorang yang sudah jadi engkong, bukan karangan fantasi. Mungkin ini tulisan saya terachir di Blog Anda, sebab saya isin, koq nyerocos terus, wis ngono kathek nyelekit.
    Ini ada ungkapan yang sangat menarik :
    Jedes Ding hat zwei Seite, jeder Mensch hat zwei Gesichter; das eine zur Schau
    gestellt, das zweite im Innersten verborgen.
    Maaf jika saya terjemahkan secara bebas ke Bahasa Indonesia, mungkin Anda seorang Polyglott sudah paham maknanya.
    Tiap benda punya dua sisi, tiap manusia punya dua muka; yang satu untuk dipamerkan, yang kedua tersembunyi dalam sanubarinya.
    Nepotisme, Guan-xi, Koneksi, Beziehung ( Vitamin B ), tidak selalu harus berbau negativ, semuanya tergantung sifat manusianya.
    Ketika saya ingin melamar pekerjaan menjadi Assisten di Universitas Negeri, syaratnya harus memiliki kewarganegaraan negeri tersebut, sebab status saya
    akan resmi menjadi PNS. Yah, terpaksa mengajukan surat permohonan.
    Sudah setahun tidak ada jawaban dari kantor Gubernuran. Engkoh saya bilang,
    Pak Gubernur, tiap hari Kamis pukul 15 sampai 18, selalu meluangkan waktunya untuk menerima keluhan warga secara langsung dikantornya. Lu pergi saja kekantornya. Saya pergi menghadap Pak Gubernur ( Perdana Menteri Negara Bagian ). Beliau tanya ada urusan apa ? Urusan Surat Warga Negara.
    Sudah berapa tahun tinggal dan bekerja disini ? 9 tahun ( 6 tahun kuliah, 3 tahun bekerja, bayar pajak ). Ya, Anda tunggu saja setahun lagi, sebab syaratnya harus jadi penduduk minimum 10 tahun dan bayar pajak.
    Pak saya mau melamar jadi Assisten Universitas, saya butuh surat itu secepat mungkin.
    Nama mu siapa ? Saya sebut nama saya, komplett dengan Surname. Lantas Pak Gubernur bertanya; si-Yong apa mu ? Dia abang saya, Pak !
    Langsung Pak Gubernur angkat telepon, memerintahkan kepada bawahannya:
    Selesaikan urusannya secepatnya, dia adiknya teman baik-ku !
    Setelah seminggu saya dipanggil Pak Bupati ; Selamat, ini surat warganegara anda. ( Engkoh-saya adalah dokter pribadinya Pak Gubernur ). Ya, Nepotisme !
    Setelah itu saya masuk wajib militer, jadi tentara. Pangkat prajurit !!
    Selesainya dinas militer dan dinas di Universitas, saya berdikari, punya satu istri, empat anak, 5 karyawan bule, utang modal di Bank. Suatu hari mendadak dapat surat tercatat dari Kementerian Pertahanan, isinya perintah : Anda tanggal ini harus menghadap ke Komando Militer untuk ikut latihan manover selama 3 minggu. Sialan ! Saya wadhul ke Pak Camat. Pak Camat-nya menggerutu : Apakah mereka itu sudah gila ? Kamu lebih dibutuhkan masyarakat, daripada
    ikut perang2-an di manover ! Jangan kuatir, gua telpon ke Gubernur, dan Gubernur telpon ke Pangdam. Sekarang lu tulis sepucuk surat keberatan ke Kodam, kepala perekrutan, Kolonel S., adalah teman baik-gua, gua akan telpon kepadanya. Dia akan mengabulkan keberatan-mu, sebab alasannya masuk akal.
    Achirnya saya dapat surat pembebasan dari Kodam dan surat ucapan selamat dari Pak Gubernur. Yah, lagi-lagi NEPOTISME !

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gak boleh kapok Xiangshen. Saya justru senang dengan komentar2 sampeyan yg informatif dan memperkaya blog ini. Makanya, jangan berhenti menulis komentar untuk memperkaya sekaligus mengoreksi fakta2 di artikel saya yg dibuat secara spontan, tanpa riset mendalam. Saya sangat sedih kalau Xiangshen berhenti komentar meskipun isinya sering membuat orang lain tersinggung. Selamat menulis dan minum jamu.

      Delete
  4. Wah Selamat Natal dan Tahun Baru dulu kk, Semoga rahmat Tuhan selalu beserta kk, btw sekarang blognya ada iklan ni ye, semoga tulisannya bagus terussssssss :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iklan kecil2 buat iseng aja... buat hiasan blog. met tahun baru juga.

      Delete
  5. Bung Hurek, saya minta no telp boleh, klo ada waktu ke Surabaya ingin bersua, ini alamat email saya sunny.jangkang@gmail.com, ditunggu :)

    ReplyDelete