04 January 2015

Puasa Internet di Pelosok NTT

Mudik ke kampung halaman di pelosok NTT, kampung kecil di pesisir Laut Flores, itu banyak suka dukanya. Bagi kita di kota yang biasa main internet, blogging, fesbukan, cari informasi sepak bola Eropa... berat rasanya karena sinyal seluler sangat lemah. Hanya Telkomsel yang bikin BTS tapi itu pun masih sangat terbatas.

Di Kabupaten Lembata, misalnya, sampai sekarang sinyal untuk Simpati dan kartu AS (hanya dua ini di NTT) hilang timbul. Lebih banyak hilangnya dari timbulnya. Karena itu, banyak anak muda yang suka mendaki bukit tinggi hanya untuk menangkap sinyal yang sangat lemah itu.

Maka, liburan di kampung halaman di pelosok NTT, kawasan Lembata, berarti libur dulu dari dunia maya. Tidak posting naskah baru di blog. Tidak moderasi komentar teman-teman pembaca. Maunya sih komentar-komentar itu tidak perlu dimoderasi. Tapi, belajar dari pengalaman, terlalu banyak spam yang masuk ketimbang komentar-komentar beneran untuk menanggapi tulisan tertentu.

Rasa tidak enak karena kehilangan akses seluler, internet, juga listrik (hampir tiap hari listrik PLN yang baru masuk sekitar 10 tahun itu padam) itu sangat terasa di dua tiga hari pertama. Setelah itu kita merasakan suasana baru yang sangat berbeda meskipun itu suasana lama yang hilang gara-gara kesibukan kita di kota besar. 

Begitu banyak kita ketemu teman lama, kerabat, bapak ini, mama itu, ngobrol langsung face to face. Jalan kaki, mendaki bukit ke kampung lama, panen mangga yang memang sedang musim... dan kegiatan-kegiatan lain ala orang kampung. Dapat bibit jati dan mahoni dari pemerintah, kita ikut tanam ramai-ramai. Siapa tahu NTT jadi hijau dan subur dalam 20 tahun ke depan. Kemudian membahas kiprah caleg-caleg setelah pemilu, kinerja bupati, ikan segar, dsb.

Hanya dua hari saja, saya akhirnya merasakan bahwa pada hakikatnya tidak semua manusia itu membutuhkan internet atau sinyal seluler yang luar biasa. Ada pengalaman-pengalaman indah, kegembiraan yang besar bicara langsung, kerja bakti, makan dan ngopi bersama... yang membuat kita senang. 

Saat kembali ke kota, di ruang tunggu Bandara Kupang, barulah muncul sinyal internet gratis yang kencang. Di saat itulah saya mulai menghidupkan kembali laptop yang sempat libur cukup lama. Bukan apa-apa. Saya tak punya teman ngobrol sehingga terpaksa menyimbukkan diri dengan main-main internet. Ngobrol lagi dengan manusia-manusia modern kota yang tak pernah saya jumpai di dunia nyata. 

Selamat tahun baru!

No comments:

Post a Comment