08 January 2015

Pramugari yang ketus dan galak


Sambil menunggu pesawat TransNusa, yang telat dua jam lebih di Bandara Wunopito, Lembata, NTT, Romo Adrian Ola banyak cerita pengalamannya ke banyak negara. Tentang maskapai-maskapai asing yang service oriented. Romo yang bertugas di Timor Leste ini secara khusus memuji Singapore Airlines.

"Singapura memang luar biasa," kata pastor asal Adonara ini.

Begitu konsennya pada pelayanan, penumpang itu raja, maskapai SQ jadi salah satu yang terbaik di dunia. Kehebatan layanan SQ makin terasa ketika kita terbang bersama maskapai Indonesia, yang pramugarinya ketus. Kurang senyum. Kalaupun senyum, kelihatan tidak wajar. Terpaksa.

Saya menyimak cerita Romo Adrian dengan antusias. Oh, ternyata mirip pengalaman saya selama ini. Kualitas pelayanan maskapai kita, ketepatan waktu, senyum dan sapa pramugari... memang masih jauh dari SQ.

"Baru lima menit lalu saya tahu bahwa kita tidak langsung ke Kupang tapi singgah dulu di Alor," kata romo yang sering melanglang buana itu.

Suatu ketika, katanya, dia dan penumpang lain baru tahu pesawat belok ke bandara lain untuk ambil penumpang setelah di dalam pesawat. Penumpang tak bisa apa-apa. Mau protes, si maskapai bisa ngambek dan tidak terbang lagi ke Lembata. Dulu TransNusa pernah ngambek cukup lama gara-gara pohon kelapa di sekitar bandara. Kalau gak salah dengar!

"Oh ya, romo! Saya malah baru tahu kalau pesawat ini mampir di Alor dulu. Mudah-mudahan masih ada waktu untuk mengejar Lion Air. Kalau terlambat tiket saya hangus. Mohon doanya romo!" kata saya.

TransNusa akhirnya landing di Lembata. Akhirnya, saya, romo, teman Adonara dan penumpang lain boarding. Ada dua nona pramugari yang rupanya orang NTT bagian selatan dari namanya. Lumayan cakep, kulit bening, mulus, padat berisi.

"Betul romo, orangnya ketus, tidak ramah. Tidak seperti pramugari SQ yang diceritakan tadi," ujar saya dalam bahasa daerah Lamaholot agar si pramugari itu tidak mengerti.

Sang romo tersenyum sambil geleng kepala. Nona pramugari lagi celometan karena ada penumpang yang tasnya kebesaran sehingga sulit dimasukkan ke tempat barang di atas kepala penumpang itu.

"Kok besar banget? Mestinya di bagasi," ujarnya ketus. Wajahnya yang cantik pun berubah jadi jelek. Orang-orang etnis Lamaholot kayak saya ikut ngoceh dalam bahasa daerah menyindir nona manis yang sejatinya dibayar mahal untuk melayani penumpang itu. Hehehe....

Tiba di Alor, namanya Bandara Mali, si pramugari minta segera boarding. Tapi rupanya petugas bandara tidak cekatan. Salah satu nona pramugari pun celometan dengan suara agak keras dan kasar. "Jangan keras-keras! Nanti didengar penumpang," ujar pramugari yang lain.

"Biar aja didengar penumpang. Jengkel aku!" kata si nona yang tidak manis lagi.

"Romo, pramugarinya marah-marah lagi," bisik saya kepada romo yang duduk tak jauh dari saya.

Yah, mau bagaimana lagi? Soal pelayanan, keramahtamahan, service sudah lama dibahas di tanah air. Tapi maskapai-maskapai kita rupanya menganggap angin lalu. Sulit sekali mendidik nona-nona manis menjadi pramugari yang ramah, senyum, melayani, menganggap konsumen sebagai raja.

Aneh, katanya orang Indonesi itu ramah, murah senyum, humble... Kok pramugari-pramugarinya (kebanyakan) ketus dan galak?

4 comments:

  1. Abang-saya yang menjabat sebagai direktor disebuah perusahaan multinational Amerika Serikat, dulunya selalu menggunakan jasa penerbangan PanAm. Setelah PanAm bangkrut, dia beralih keperusahaan penerbangan Singapore Airlines. Dia itu hidupnya lebih banyak dipesawat dan di Airport daripada dirumahnya sendiri. Dia ditugaskan keliling dunia, selalu naik First Class atau Business Class. Suatu ketika dia dipindah ke Jakarta, sebagai Presdir., untuk membenahi cabang perusahaannya yang selalu merugi. Tindakan pertama yang dilakukan adalah penghematan biaya; semua pegawai bule diganti dengan tenaga ahli orang Indonesia. Semua perjalanan dinas hanya boleh menggunakan jasa penerbangan Economy Class, termasuk dia sebagai Presdir, sehingga anak buahnya tidak berani protes, dan selalu menggunakan SQ.
    Suatu ketika dia harus terbang dari Jakarta ke Singapura, dipesawat dia kebelet kencing, lacurnya semua WC di ecomomy class tidak ada yang free dan yang antree masih banyak. Terpaksa dia pergi ke WC di business class. Maklumlah lelaki yang telah berusia diatas 60 tahun, kalau kebelet tidak bisa menahan air kencing, kalau ditahan pasti bocor, gejala prostata. Nah, sewaktu dia keluar dari WC, seorang pramugara SQ menghadang dia didepan pintu, langsung ngomel, mencaci maki dengan bahasa Singlish. Mungkin Cina-singapur ini menganggap
    abang-saya sebagai orang Indonesia kampungan. Kakak ber-kali2 minta maaf, namun Cina-singapur itu tetap ngomel tak hentinya. Lalu kakak mencatat namanya pramugara tsb. Setelah kembali di Jakarta, kakak menulis surat aduan kekantor pusat SQ di Singapura, menjelaskan kejadian dan alasannya, dan mengancam akan memboikot SQ, termasuk seluruh karyawan perusahaan yang berjumlah ratusan ribu diseluruh benua. Setelah seminggu dia mendapat surat jawaban dari SQ; minta maaf atas ketidak sopanan pramugaranya dan menyatakan, bahwa si-pramugara telah di-grounded, gara2 peristiwa diatas.
    Saya sendiri 17 tahun silam pernah dua kali di-canceled oleh Garuda dalam penerbangan Jakarta ke Amsterdam, walaupun saya sudah punya ticket pulang-pergi dan sudah reconfirm 3 hari sebelum berangkat, tempat duduk saya dijual kepada orang lain oleh pegawai Garuda, padahal saya kan harus kerja. Untung kakak-saya masih menunggu didepan terminal. Saya ngomel dan misuh, namun abang-saya cuma tertawa; salahmu dewe ! Saya tanya balik; koq iso ?
    Lu tahu sendiri perusahaan negara Indonesia bagaimana, kenapa tidak beli ticket di Lufthansa atau KLM.

    ReplyDelete
  2. Wow. Untuk masalah koper saya rasa bisa pakai common sense ya. Upperhead bin itu terbatas. Kebayang nggak kalau semua penumbang bawa bawaan lebih dari 7kg dan semuanya minta ditaruh di atas. Muat? Apalagi kalau penumpang yang marah kalau kopernya tidak di atas dia. Takut hilanglah. Kalau tempat di atas kursinya sudah penuh mau bagaimana? Terpaksa kami carikan ke seluruh kabin tempat yang masih kosong, pun tak jarang dengan omelan penumpang. Konsumen memang raja, tetapi tidak seharusnya penumpang berkata tidak sopan pada pramugarinya (atau siapapun) dan menganggap layaknya pembantu. Ingat, prioritas kami adalah safety, service nomor dua. Dan tidak ada di job description kami harus mengangkat barang-barang penumpang. Hanya jika ada yang membutuhkan seperti orang tua, wanita hamil, orang sakit, dan sebagainya, tentu kami bersedia membantu. Atau kalau Anda belum mampu membayar tiket sekelas Garuda Indonesia dan Singapore Airlines, silakan nikmati saja layanan pramugari-pramugari judes itu.
    Salam :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih mbak Gerimis pramugari Garuda yg sudah komen. Tulisan ini cuma uneg2 setelah melihat dan merasakan pengalaman gak enak di maskapai kecil di NTT. Tentu saja saya tidak melakukan generalisasi, gebyah uyah, bahwa semua pramugari di Indonesia itu judes jutek tidak sopan dsb. Semoga semua awak kabin di Indonesia sopan dan ramah seperti sampean dkk di Garuda.

      Delete
  3. Pramugari2 kita itu banyak yg stres karena menghadapi penumpang yg karakternya macam2. Khususnya pesawat2 LCC. Kalau bayar murah ya memang begitu lah...

    ReplyDelete