02 January 2015

Natal Gregorian ala Benediktin di Kupang

Kehabisan tiket Susi Air rute Kupang-Lewoleba membuat saya tak bisa ikut misa malam Natal di kampung halaman, Lembata, NTT. Padahal, tahun ini liturgi Natal dipusatkan di Stasi/Desa Mawa, tempat lahir dan sekolah dasar saya dulu. Apa boleh buat, saya nyantol dulu di Kupang dan baru bisa terbang pada Kamis, 25 Desember 2014, pagi. Tak apalah, toh bisa ikut misa di Stasi Mawa yang baru dimulai pukul 10.00 Witeng.

Justru di Kupang inilah untuk pertama kalinya saya mengikuti misa malam Natal di gereja milik Biara Benediktin. Sebuah kongregasi yang kontemplatif dan masih konsisten melestarikan tradisi liturgi gereja lama, khususnya lagu-lagu gregorian. Beda dengan biarawati biasa, suster-suster Benediktin ini tidak bebas pergi ke mana-mana. Kita pun tidak bisa sembarangan bertemu mereka. Termasuk orang tua atau kakak/adik kandung.

Orang-orang Katolik di Kupang, khususnya Sikumana dan sekitarnya, rupanya sudah sangat paham keunikan Benediktin ini. Maka, banyak sekali yang datang ikut misa malam Natal ala biarawati tempo doeloe itu. Suasana misa yang dimulai pada pukul 19.00 itu sangat teduh, tenang, tak ada aksesoris layaknya sebuah perayaan hari besar.

Musik pun tidak ada karena para suster ini mempraktikkan a capella dalam arti sebenar-benarnya. Yakni, menyanyikan lagu-lagu gregorian hanya dengan modal suara. Vokal suster-suster yang berlatih setiap hari menghadirkan musik gerejawi berkualitas tinggi. Jauh lebih bermutu ketimbang band rock ngak-ngik-ngok yang menggelegar di kebaktian kebangunan rohani gereja-gereja tertentu.

Karena biaranya kontemplatif, para suster Benediktin ini berada di belakang altar. Ada pembatas pula. Umat duduk di bangku menghadap altar layaknya gereja biasa. Pastor malah membelakangi paduan suara biarawati Benediktin ini. Adapun beberapa suster lain yang bukan Benediktin duduk di bangku umat.

"Ini kapel Benediktin, bukan gereja umum. Jadi, kita sebenarnya hanya nebeng ikut misa malam Natal," kata seorang bapak asli Flores yang sudah bertahun-tahun tinggal di Kupang.

Maka, tidak heran, misa malam Natal ini, bagi saya, seperti menyaksikan konser gregorian para suster Benediktin yang bermutu tinggi. Semuanya dalam bahasa Latin. Kecuali lagu-lagu ordinarium Misa VIII, yang dikenal luas di kalangan umat Katolik di Indonesia, hampir semua lagu yang dibawakan para Benediktin ini belum pernah saya dengar. Padahal, lagu-lagu itu sudah menjadi aset penting Gereja Katolik sejak ratusan tahun silam.

Apa boleh buat, kami, umat awam, hanya bisa jadi penonton karena lagu-lagu gregorian ala Benediktin di Kupang ini terlalu sulit. Toh, kor para suster ini ibarat suara malaikat yang bergembira menyamut kelahiran sang Almasih. Ada pelajaran berharga malam itu, setidaknya buat saya. Paduan suara a capella yang dilatih dengan baik, dibawakan secara sungguh-sungguh, dengan musikalitas yang tinggi tak kalah paduan suara besar yang diiringi orkes simfoni.

6 comments:

  1. Tahun 1968 saya diajak oleh teman sekamar-asrama nonton bioskop " If " yang
    dibintangi oleh Malcolm Mc Dowell. Di film itu ada lagu2 yang enak didengar.
    Coba Bung Hurek ketik di You Tube ; Missa Luba. Selamat mendengarkan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. kamsia Xiangshen... referensi bagus dari Youtube mengenai seni suara gerejawi model kuno tapi enak dihayati. selamat minum jamu cungkuo.

      Delete
  2. Berbahagialah Bung Lambertus yang dapat menikmati misa Gregorian pas nyangkut di Kupang. Kekeliruan jadwal membawa hikmah positif. Pada hari Minggu epiphany ini saya ucapkan Selamat Natal dan Tahun Baru 2015.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kamsia mas Amrik Jowo. Seperti berkat tersembunyi dari habisnya tiket ke Lembata (karena rute pendek di NTT biasanya baru dijual 4-5 hari sebelumnya). Biara Benediktin dengan tradisi lamanya ini sangat berkesan dan unik. Di Jawa kalau gak salah di Rawaseneng, Jawa Tengah, yang punya tradisi kontemplatif seperti Benediktin ini. Selamat Natal dan Tahun Baru juga, semoga tetap sehat, kritis, semangat, dan makmur.

      Delete
    2. Sebenarnya saya bulan lalu ke Surabaya tetapi waktunya sangat teramat sempit krn sakit dsb, shg tdk sempat copy darat dengan bung Lambertus. Setelah itu saya pergi ke Siem Reap krn ada misi istri saya dan melancong di Angkor Wat dan sekitarnya.

      Delete
    3. Gak apa2 mas Amrik, saya juga biasanya Desember agak sibuk krn bersiap mudik ke NTT. kapan2 aja kalau ada sumur di ladang lah... GBU n matur suwun sudah sering nulis komentar.

      Delete