04 January 2015

Natal di Lembata - Potong Babi dan Kambing

Hari Natal selalu dirayakan umat kristiani dengan meriah. Gereja penuh sesak sehingga perlu dibuatkan tenda-tenda di halaman. Itu pun biasanya sulit menampung luberan umat di berbagai paroki di Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Malang, dsb. Maklum, banyak orang Katolik yang sejak tahun 1980-an dijuluki umat Napas dan kapal selam. 

Umat Napas (Natal Paskah) berarti hanya nongol di gereja saat Natal dan Paskah saja. Kapal selam juga sama: keluyuran terus di dalam laut dan hanya muncul saat Natal + Paskah. Liturgi Natal dan Paskah di Jawa pun sangat bagus karena dipersiapkan secara khusus dan lama. Hanya kor-kor jawara yang dapat tugas saat misa malam Natal atau malam Paskah. Kalau paduan suara lingkungan/wilayah Anda jelek, jangan harap dapat tugas pada event sepenting Natal dan Paskah.

Lain Surabaya/Sidoarjo, lain pula umat Katolik di Kabupaten Flores Timur dan Lembata yang memang mayoritas. Liturgi juga dipersiapakan khusus, tapi tidak seintensif di Jawa. Kualitas pelatih, organis, dsb pun tidak mungkin sehebat di Jawa yang memang mendalami musik klasik, gregorian, dan sebagainya. Tapi suasana meriah ala Lembata (NTT) beda dengan meriahnya Natal di Surabaya. 

Berapa banyak sih jemaat yang Anda kenal saat misa di gereja? Sepuluh? Dua puluh? Atau cuma lima orang? Nah, di pelosok-pelosok NTT, kita mengenal hampir semua jemaat di dalam gereja. Kecuali anak-anak dan remaja yang baru lahir tahun 2000-an. Tanya saja nama ayah atau ibunya dan... oh, kita masih keluarga dekat. 

Karena kenal dekat, bahkan terlibat ikatan kekerabatan karena pernikahan, bahkan dengan warga desa-desa tetangga, maka Natal menjadi ajang silaturahmi antarjemaat. Itulah yang saya rasakan ketika mengikuti misa Natal di Gereja Stasi Mawa, Lembata, pada 25 Desember 2014 pagi. Misa Natal pagi di Flores memang selalu lebih ramai ketimbang misa malam Natal. Beda dengan di Jawa yang misa malam Natal selalu sangat ramai dan heboh, sementara misa paginya kurang meriah.

Misa di Stasi Mawa ini membawa kenangan khusus bagi saya. Sebab, saya lahir di kampung kecil ini, sekolah di SDK Mawa, yang bertetangga dengan gereja. Bapak saya pun ikut merintis stasi kecil ini dengan risiko "disanksi" oleh pastor paroki saat itu karena belum dapat izin dari Uskup Larantuka Mgr. Darius Nggawa SVD. Kalau biasanya sebuah gereja stasi dibangun setelah turun izin dari uskup, Gereja Stasi Mawa ini dibangun dulu baru minta izin dan pegesahan dari bapa uskup.

"Kalau tunggu izin, mungkin kita tidak akan pernah punya gereja di Desa Mawa. Padahal, hampir semua penduduk Mawa itu Katolik. Masjidnya sudah ada kok gereja tidak ada," begitu argumentasi para perintis gereja pada tahun 1980-an. 


Nah, misa Natal di Stasi Mawa kali ini dipimpin Romo Elias Pally Werang. Pastor asal Solor ini baru saja menggantikan Romo Blasius Keban yang pindah ke Paroki Mingar. Suasana misa tetap meriah, cuaca cerah, sejuk berkat angin dari Laut Flores, didukung kor yang bagus dari stasi tetangga. Tahun ini Stasi/Desa Mawa mendapat giliran menjadi tuan rumah Natal. Umat Katolik dari 8 desa tumplek blek mengikuti perayaan ekaristi mengenang kedatangan sang Kristus.

Romo Elias ini ternyata humoris. Dia membuat cerita lucu saat homili (khotbah) tentang hubungan akrab antara Kewa dan seekor babi. Umat tertawa-tawa menyimak khotbah penuh humor dan mendalam itu. Agak beda dengan style khotbah romo -romo lama yang cenderung mengandung sindiran tajam sehingga sulit membuat orang tersenyum. 

Sesuai tradisi lama di berbagai desa di Flores, setelah misa umat tidak langsung balik ke desa atau rumah masing-masing. Sebab, panitia sudah menyiapkan perjamuan istimewa untuk semua jemaat yang ikut misa Natal maupun tidak. Termasuk warga yang beragama Islam. (Kebetulan di daerah saya hanya ada dua agama ini). Warga delapan desa ini diundang masuk ke tenda-tenda yang sudah disiapkan. Ngopi, minum teh, menikmati jajanan kampung. Kemudian makan siang ramai-ramai.

Kalau tidak salah, tuan rumah (umat Stasi Mawa) memotong lima ekor babi dan satu ekor kambing. Ibu-ibu dan para wanita sibuk menyiapkan makanan untuk para tamu dari 7 desa/stasi yang natalan di kampung masa kecil saya itu. Makan bersama, ngobrol ngalor-ngidul sampai sore, lalu pulang ke kampung masing-masing.

Perayaan Natal dan Paskah (pekan suci) ala paroki-paroki desa di Flores memang seperti arisan. Tahun ini Stasi Mawa tuan rumah, menjamu umat dari desa-desa lain yang datang ikut misa. Tahun depan giliran desa/stasi lain yang ketempatan. Kemudian diputar lagi terus-menerus. Jemaat dari desa-desa yang agak jauh biasanya menginap di rumah penduduk desa tuan rumah. 

Suasana macam inilah yang membuat banyak orang mudik ke desa untuk natalan. "Di Bandung mah kagak ada acara potong babi, kambing, makan bersama. Habis misa di gereja, ya udah.. pulang, nonton TV, makan sama keluarga saja. Tidak ada apa-apanya," kata Kak Ina, warga Bandung asal Adonara, yang setiap tahun mudik ke kampung halamannya untuk natalan di Adonara Timur. 

No comments:

Post a Comment