19 January 2015

Merpati merintis, SusiAir dan TransNusa menikmati

Setiap kali melihat Bandara Gewayantanah di Larantuka dan Bandara Wunopito di Lembata, Nusatenggara Timur, saya selalu ingat Merpati. MNA: Merpati Nusantara Airline nama lengkap maskapai plat merah itu. Maskapai yang terus merugi sehingga tak lagi terbang di udara Indonesia.

Dulu, tahun 1980an, Menteri Perhubungan Rusmin Nuryadin getol membuka banyak lapangan terbang (lapter) perintis di seluruh Indonesia. NTT sebagai provinsi kepulauan kebagian lapter-lapter itu. Termasuk di Larantuka dan Lewoleba itu. Selain Bandara Eltari di Kupang, 13 bandara di NTT itu memang berstatus lapangan terbang perintis.

Namanya juga perintis, kondisi Gewayantanah dan Wunopito dulu benar-benar memprihatinkan. Rumput-rumput liar begitu tinggi. Seperti padang rumput untuk beternak kambing atau sapi. Kantornya juga sangat jelek. Belum ada penerbangan berjadwal.

Tapi, syukurlah, sesekali pesawat Merpati mendarat di lapter yang penuh rumput itu. Tentu saja pesawat baling-baling macam TO dan sejenisnya. Sebab pesawat macam ini tidak butuh landasan pacu yang panjang. Merpati benar-benar berjasa memperkenalkan moda transportasi udara kepada warga NTT yang masih terbelakang itu.

Sepanjang masa Orde Baru, Merpati bisa hidup karena kebijakan pemerintah yang membatasi maskapai penerbangan hanya lima biji: Merpati, Garuda, Bouraq, Mandala, dan Sempati. Merpati dapat misi khusus melayani penerbangan perintis seperti ke NTT. Syukurlah, saya pernah sekali merasakan penerbangan Merpati yang penuh goncangan sebelum tahun 2000.

Setelah Orde Baru jatuh, kebijakan pemerintah pun berubah. Bisnis penerbangan dibuka selebar-lebarnya. Merpati yang tidak punya pengalaman bersaing di pasar bebas kelimpungan. Garuda juga goyang, sebelum kini bangkit lagi sebagai maskapai plat merah yang berhasil. Bouraq tutup. Sempati lebih dulu gulung tikar. Mandala sempat berjaya tapi akhirnya kolaps juga.

Praktis, maskapai-maskapai yang bermain bisnis di udara merupakan pemain-pemain baru. Kecuali Garuda. Lantas, bagaimana nasib bandara-bandara kecil yang dirintis dengan susah payah oleh Merpati sejak 1980an itu? Nah, rupanya pemain-pemain baru ini jauh lebih jeli, cerdas, dan efisien dalam melihat pasar.

Bandara-bandara di NTT memang kecil, landasan pacu kurang dari 2 kilometer. Tapi bisa dimanfaatkan untuk pesawat-pesawat berukuran kecil dan sedang. Maka berdirilah TransNusa, maskapai milik pengusaha asal Alor, NTT. Dia memanfaatkan belasan lapangan terbang perintis yang dibuat pemerintah-pemerintah daerah dan dirintis Merpati itu.

Merpati sendiri sudah sempoyongan karena mismanajemen. Rugi terus! "Padahal, tiketnya jauh lebih mahal daripada TransNusa dan SusiAir. Aneh, yang jual mahal malah bangkrut, sementara yang jual murah malah untung terus," kata beberapa orang Lembata yang tinggal di dekat Bandara Wunopito.

Masuknya TransNusa membuat dunia penerbangan di NTT sangat bergairah. 14 bandara kecil di NTT tiap hari ada penerbangan. Ada yang sekali sehari, dua kali, ada yang tiga kali. Dulu di era Merpati, penerbangan sekali seminggu saja sudah dianggap luar biasa. Dan, yang penting, tiketnya pun lebih terjangkau ketimbang Merpati di era monopoli.

Sukses TransNusa segera menarik pemain-pemain lain ke NTT. SusiAir yang tadinya bermain di Papua dan Maluku masuk juga ke NTT. Ada juga Wings Air dan beberapa maskapai lagi yang mengandalkan pesawat-pesawat kecil.

Kompetisi di antara airlines ini jelas menguntungkan konsumen. Si maskapai tak bisa lagi seenaknya mematok tarif yang mahal. Maskapai yang dulu pasang tarif Rp 900 ribu rute Lembata-Kupang kini jual tiket Rp 600 ribu. Sebab, saingannya muncul dengan tiket Rp 650 ribu.

Sayang, Merpati Nusantara Airlines tidak ikut menikmati kue penerbangan di NTT, juga wilayah lain di Indonesia timur, yang makin gurih itu. Capek-capek merintis dari NOL, bahkan minus, tapi tak bisa memetik hasilnya. Tapi, yang pasti, jasa baik Merpati sebagai maskapai penerbangan perintis akan tetap dicatat dalam sejarah. (*)

No comments:

Post a Comment