11 January 2015

Koran masih favorit di Surabaya

Pagi ini, di sebuah warung kopi di Gedangan, Sidoarjo, duduk lima laki-laki. Empat orang asyik baca koran Jawa Pos. Satu orang main HP. Sementara SCTV menayangkan berita gosip Nazar dan Musdalifah.

"Nanti malam seru. Barca lawan Atletico. Kayaknya Atletico menang," kata Cak Anto usai membaca preview pertandingan di Jawa Pos.

"Kotak hitam belum ketemu," komentar yang lain. "Kok ada PNS korupsi di Sidoarjo baru ketahuan sekarang. Bupatinya baru tahu sekarang," sambung yang lain.

Bukan main Surabaya dan Sidoarjo. Di dua kota bertetangga ini hampir semua warung berlangganan koran entah Jawa Pos, Surya, atau Radar Surabaya. Koran disiapkan si pemilik warung agar dibaca pengunjung. Jadi bahan diskusi yang sangat hidup.

Karena itu, analisis bola, politik, artis, hingga penerbangan di warung-warung kopi di Surabaya dan Sidoarjo sangat bermutu. Orang-orang saling melengkapi pendapat. Mereka pun tak segan-segan mencibir KMP yang dulu sangat ngotot mengunci pemerintahan Jokowi-JK.

Suasana warkop yang hidup, minat baca koran yang tinggi, ini jarang saya temukan di kota-kota lain. Apalagi di luar Jawa. Apalagi di NTT, khususnya Flores, yang sama sekali tak terlihat koran-koran baru. Orang di luar Jawa lebih banyak bicara ngalor-ngidul tanpa referensi. Karena memang tidak ada koran.

Siapa nama wakil gubernur NTT? Siapa nama bupati Lembata? Bisa dipastikan sebagian besar orang tidak tahu. Apalagi tidak ada siaran televisi lokal yang populer macam JTV dengan acara Pojok Kampung yang sangat unik itu.

Antusiasme warga Jawa Timur membaca surat kabar jelas kabar gembira buat industri media cetak. Ketika internet berkembang luar biasa, breaking news televisi nyaris 24 jam, masyarakat ternyata masih membutuhkan koran. Rela menyisihkan duit untuk berlangganan atau membeli koran eceran.

1 comment:

  1. Ya, daripada belangganan koran sendiri, mending ke warkop beli secangkir kopi dengan bonus bisa baca koran sepuasnya (walau harus gantian dengan antar pembeli). Beberapa warung malah menyediakan lebih dari satu jenis koran. Misalnya, selain Jawa Pos, juga ada Surya atau Memorandum.

    ReplyDelete