13 January 2015

Jumaadi Curhat soal Wisata Kuliner

Belasan tahun tinggal di Sydney, Australia, rajin melalanglang buana untuk bikin pameran seni rupa, Jumaadi akhirnya kembali ke kampung halamannya di Sidoarjo. Menyepi bersama istrinya, wanita kulit putih Australia, di rumah kayu yang antik di Desa Sekardangan, tak jauh dari lingkar timur.

Sekardangan sudah jauh berubah. Beda jauh dengan era 1980-an dan 1990-an. Kampung petani, sawah-sawah luas, tinggal kenangan. Penduduk asli Sekardangan boleh dikata sudah kalah banyak ketimbang penghuni perumahan-perumahan yang banyak itu. Tapi Mas Jumaadi rupanya masih punya kenangan kuat pada masa lalu. 

"Bau tanah di sini masih sama," kata sang pelukis yang baru gelar pameran di Amerika Serikat ini.

Di kediaman Jumaadi, yang dulu pernah jadi rumah budaya Pecantingan, sang ibunda setiap hari memasak. Menyediakan makanan untuk Jumaadi dan pengunjung Pecantingan. Yah, warung sederhana dengan sajian ikan dari kolam di samping rumah joglo berusia tua. Ikan nila di Pecantingan ini besar-besar dan enak.

Semakin lama di Sidoarjo, jalan-jalan ke berbagai kota di Jawa, sesekali lihat televisi, Jumaadi menemukan wisata kuliner yang makin marak di Indonesia. Orang seperti berpesta makan enak. Acara-acara televisi penuh dengan kuliner, dipandu koki plus presenter yang tidak takut gemuk dan kolesterol.

Saya pun tertegun membaca tulisan pendek Jumaadi:

"Dengan semakin maraknya wisata kuliner, apakah menunjukkan bahwa secara ekonomi kita lebih mempunyai kekuatan untuk berbelanja? Apakah waktu utk memasak semakin sedikit? Apakah selera lidah kita semakin beragam? Bagaimana dengan kesehatan, gizi, dan cara penanganan masakan siap saji? Sama halnya dengan masakan di rumah?"

Yah, rasanya semua ada benarnya. Orang Indonesia makin mampu makan di restoran atau tempat-tempat makan enak yang mahal. Waktu memasak memang makin sedikit. Jumaadi rupanya tidak tahu bahwa saat ini makin sedikit wanita Indonesia yang bisa memasak. Kecuali masak air dan mi instan. 

Bagaimana dengan kesehatan? Gak ngurus, Mas. Pembeli yang doyan makan enak tak ambil pusing meski si pengusaha kuliner itu menggunakan MSG yang banyak. Belum lagi makanan-makanan siap saji yang sejak dulu dianggap junk food.

Mas Jumaadi, Sidoarjo memang sudah berubah banyak sekali. Makin modern. Makin sibuk orangnya. Makin sulit mencari teman-teman yang punya waktu untuk ngobrol lama, ngalor-ngidul, tanpa dikejar-kejar waktu. Mungkin itu pulalah yang membuat sanggar-sanggar seni, kantong-kantong kesenian, padepokan, di Kabupaten Sidoarjo kini mangkrak.

Syukurlah, Mas Jumaadi mau kembali ke Sekardangan, menikmati rumah tua, kolam ikan, rimbun pohon bambu, yang dikepung berbagai perumahan. Semoga sampean mendapat banyak inspirasi sebelum kembali lagi ke negeri kanguru. 

No comments:

Post a Comment