16 January 2015

Jokowi... oh Jokowi...

Siapa menabur angin akan menuai badai! Jokowi, presiden kita yang gebrakannya sangat meyakinkan di awal masa jabatan, bikin keputusan yang aneh bin ajaib bin konyol. Mencalonkan Komjen Budi Gunawan sebagai kapolri.

Jokowi rupanya lupa kalau menabur angin itu bakal dapat badai. Dia lupa AirAsia baru saja celaka gara-gara ditelan badai. Dia lupa bahwa rakyat terus mengawasi gerak-geriknya. Dia lupa salah satu program prioritasny: memberantas korupsi!

Jokowi lupa bahwa pada Oktober 2014 Komjen Budi Gunawan sudah dapat rapor merah dari KPK dan PPTAK. Isinya sangat gamblang: Budi tak layak dijadikan menteri karena rapornya merah! Ada rekening gendut. Transaksi mencurigakan.

Eh, kok bisa-bisanya dicalonkan jadi kapolri. Opo tumon! Kepriye?

Bukankah kompolnas yang menyodorkan nama-nama calon ke presiden? Bukankah semuanya layak dipilih? Bukankah kompolnas sudah menyatakan rekening gendut itu tidak bermasalah?

Pak Presiden, rakyat Indonesia tidak bodoh bin goblok! Rakyat tahu betul kualitas investigasi KPK dan PPTAK serta kompolnas + kepolisian di sisi lain. Rakyat sangat percaya investigasi KPK, Bung! Maka mengabaikan putusan KPK yang menetapkan BG sebagai tersangka sama saja dengan bunuh diri.

Betapa konyol kalau seorang tersangka, apalagi kasus korupsi, malah dijadikan kapolri! Dan kekonyolan itu akibat kenekatan Jokowi yang ngotot mengusulkan nama BG. Akibatnya jadi runyam dan kacau seperti sekarang.

Badai makin dahsyat karena ternyata DPR RI kompak mendukung usulan Presiden Jokowi. Aneh bin ajaib, koalisi merah putih yang selama ini cenderung oposan dan menjegal Jokowi dengan semangat menyetujui Budi Gunawan sebagai kapolri. Mereka tak lagi menghiraukan status tersangka, rekening gendut, dan penolakan sebagian besar rakyat Indonesia.

Jangan senang dulu Jokowi! Dewan, khususnya koalisi merah putih, tentu punya hitung-hitungan sendiri. Dengan menerima bola panas BG yang dilempar Jokowi, maka presiden dipaksa untuk segera melantik BG. Dan ujung-ujungnya Jokowi akan dimaki-maki rakyat. Martabat dan popularitas Jokowi langsung ambrol. Itulah bola muntah yang disambar KMP di parlemen dengan senang hati.
Suka tidak suka, Jokowi merupakan presiden yang sangat diberkati. Begitu teman saya yang kristen karismatik. Harga minyak dunia turun dratis. Sehingga di era Jokowi kita bisa membeli bensin dengan harga terjangkau... tanpa subsidi. Inilah sejarah baru di Indonesia. Mulai menikmati bensin/premium tanpa subsidi.

Sayang, berkat dari Yang Mahakuasa itu tidak dimaksimalkan Jokowi untuk membangun sistem hukum yang lebih baik. Jokowi malah menyodorkan BG sebagai kapolri. Padahal sebelumnya Jokowi mencoret BG sebagai salah satu calon menteri kabinet kerja.

Jokowi... Oh, Jokowi! Anda sudah menabur angin dan sekarang badai sudah terjadi. Nasi sudah jadi bubur!

2 comments:

  1. Kepriye marine Mas Hurek ? Wero ngene, enakan kulo tetep dadi lurah ning Surokarto. Sing bok tolak iki duwe rekening gendut. Calon2 sing liyane duwe omah ning Pondok Indah, duwe apartemen ning Singapur, nyekolahke anak ning Amerika, tumpakane Mercedes, bojone nyangkol tas hermes, kupinge ndlower kabotan anting2 berlian. Tolong carikan seorang Kamituwo dari desa kluthuk, mungkin beliau masih bersih, tak angkat dadi Kapolri.

    ReplyDelete
  2. saya piker, memang pak presiden jokowi itu memang masih kampungan! sedikit norak! TAPI, apakah mudah mencari presiden yang jujur seperti dia? itu alasan saya memilih dia pada pemilu tempo lalu. kalau calon presiden yang pintar memang banyak! tapi,calon yang jujur itu sangat sulit ditemukan! ( blum lagi org indonesia kebanyakan masih memilih calonnya berdasarkan latar belakang, suku,& agama!).
    Saya melihat presiden jokowi ini masih bisa dibilang jujur, tapi rakyat harus menjaga presiden yang satu ini dari pada pembisik2 di sekitarnya! ingat tidak semua partai di KIH itu punya record yang mulus! bahkan di dalam partai jokowi sendiri!. seyogyanya kita sebagai rakyat ikut melaksanakan demokrasi pancasila secara aktif !

    ReplyDelete