10 January 2015

Hilangnya koran di Lembata

Sebagai orang yang membaca lima koran tiap hari di Surabaya dan Sidoarjo, saya benar-benar gelisah ketika berada di Kabupaten Lembata, NTT. Apalagi sinyal Telkomsel, satu-satunya operator seluler sulit diandalkan. Dus, tak ada akses ke internet.

Tak ada satu pun koran atau majalah yang saya temukan di kampung halamanku itu. Memang ada televisi, parabola sudah lama masuk desa, kualitas gambar sangat prima, tapi saya butuh koran. Saya orang koran. Saya harus membaca koran rutin. Tak harus tiap hari. Mingguan pun tak apa.

Hilangnya media cetak di Kabupaten Lembata, tak hanya di kampung saya, benar-benar kemunduran yang luar biasa. Mengapa? Ketika saya masih SD di kampung Mawa, bapak saya jadi penyalur tiga media cetak: koran mingguan DIAN, majalah mingguan Katolik HIDUP, dan majalah anak-anak KUNANG-KUNANG. Selain Hidup yang diterbitkan di Jakarta, dua media cetak lain itu terbitan Ende, Flores.

"Dian dan Kunang-Kunang sudah lama tidak dikirim ke sini. Majalah Hidup juga tidak ada lagi yang urus," kata bapak saya.

Jalan hidup saya jadi begini ya karena tiga media cetak yang dulu numpuk di rumahku itu. Tulisan pertama saya dimuat di Kunang-Kunang, yakni reportase ke Seminari Hokeng. Saya pernah jadi kolumnis di mingguan Dian. Pernah jadi koresponden Hidup saat mahasiswa.

Bukan hanya tiga media cetak terbitan Katolik itu yang hilang di Lembata. Surat kabar Suara Karya yang dulu numpuk di rumah kepala desa, jadi bahan bacaan orang kampung, pun tak ada lagi. Koran-koran lokal macam Flores Pos atau Pos Kupang pun nihil.

Sambil mencari sinyal seluler di pantai, agar bisa mengintip situs berita di internet, saya merenung sendiri. Ironis! Sebab orang justru orang Lembata yang pertama kali menerbitkan surat kabar di NTT bernama DIAN pada 1973. Dialah Pastor Alex Beding SVD. Koran Dian inilah yang dulu jadi surat kabar yang paling terkenal di NTT, khususnya Flores dan sekitarnya.

Bagaimana mungkin tradisi literasi, media cetak, yang berusia cukup panjang di Flores dan Lembata justru hilang di tahun 2014. Saya masih ingat dulu anak-anak di Mawa, orang dewasa, begitu haus bacaan. Dian-Dian yang lama, majalan Kunang-Kunang, Hidup, berita-berita basi, pun dibaca dengan lahap di pinggir pantai. Sebagian anak sekolah kemudian seakan berlomba menulis cerita ringan agar bisa dimuat di Kunang-Kunang.

Saya termasuk beruntung karena karangan kecil saya paling sering dimuat di halaman 3 Kunang-Kunang. Teman-teman yang karangannya belum dimuat pun terus mencoba mengirim cerita meski tidak pernah dimuat. Luar biasa kelaparan membaca media cetak saat itu.

Kini, di Lembata, di tanah yang melahirkan wartawan legendaris sekaliber Pater Alex Beding SVD, Marcel Beding, atau Prof Gorys Keraf dengan kajian linguistiknya yang luar biasa itu surat kabar tak ada lagi. Saya pun coba mengais-ngais tumpukan kertas di atas lemari yang berdebu. Saya ketemu Jawa Pos edisi Desember 2013, koran yang saya bawa dari Surabaya setahun yang lalu.

"Buat apa baca koran kalau berita-berita sudah ada semua di televisi?" ujar seorang tokoh masyarakat di Lembata. Pendapat yang sangat tidak menguntungkan industri newspaper!

1 comment: