04 January 2015

Dan Sebagainya vs Dan Lain-Lain

Ada seorang frater alias calon pastor di Surabaya yang tulisannya sangat bagus. Isinya dalam, banyak referensi, dan tata bahasanya nyaris sempurna. Tulisan bagus macam ini memang tidak perlu diedit lagi. Sebab, bisa jadi kemampuan si frater ini jauh lebih bagus daripada editor atau redaktur senior sekalipun.

Namun, ada satu kebiasaan calon romo ini yang sulit dihilangkan. Dia selalu memakai frase "dan lain sebagainya". Aneh juga, pikir saya. Bukankah "dan lain sebagainya" (dlsb) itu sudah dilarang oleh guru bahasa Indonesia di sekolah menengah pertama (SMP)? Saya ingat guru bahasa Indonesia saya di Larantuka, Flores Timur, dulu yang melarang "dan lain sebagainya" karena tidak baku.

"Pakailah dan sebagainya (dsb), dan lain-lain (dll), atau dan seterusnya (dst), sesuai dengan konteks kalimat," kata Pak Aldo, guru bahasa Indonesia asli Adonara, yang entah di mana sekarang. Pak Aldo ini dianggap guru bahasa Indonesia paling top di kota pesisir di ujung timur Pulau Flores itu. Pelajarannya selalu nyantol di otak saya... sampai sekarang.

Lalu, kapan kita memakai dsb (dan sebagainya)?

Begini. Frase dan sebagainya di akhir kalimat itu untuk rincian SEJENIS.

Contoh: Di halaman sekolah ada pohon mangga, jambu, pisang, jeruk, dan sebagainya. Sama-sama buah-buahan.

Adapun dll (dan lain-lain) untuk rincian yang BERAGAM jenis.

Contoh: Anak-anak menerima hadiah berupa baju, celana, HP, durian, buku tulis, camilan, dan lain-lain. Durian dan buku tulis jelas berbeda jenis.

Bagaimana pula dengan dst (dan seterusnya)? Sama-sama untuk rincian, tapi berjenjang atau berkelanjutan.

Contoh: Para frater di Surabaya rajin membaca Alkitab mulai Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan, dan seterusnya.

Semoga Mas Frater yang cemerlang itu membaca tulisan pendek ini. Dan tidak lagi menggunakan frase "dan lain sebagainya" alias dlsb.

3 comments:

  1. kaka BERNI HUREK apedikenen kaka ra jawhan bahasa indonesia raen pe baku hala moan hae di ra rang NGGA pada hal Maksudtnya TIDAK ,,, kalau di upacara resmi berarti salah to kaka ,,, harus pake TIDAK bukan NGGA ... neganai kaka menurut mo kaka ....

    ReplyDelete
  2. Kaka goen senarhen ,,, Kaka BERNI HUREK ... apedikenen kaka ... ra jawhan pe rang bahasa indonesia baku hala kaka ,,,, TIDAK di mari NGGA biar diacara resmi nepe berarti salah to kaka ...goen senarhen ... YANI ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bahasa tulisan dan lisan memang berbeda. Bahasa lisan, spoken language, memang cenderung luwes dan informal. Karakter bahasa Jawa yang luwes dan khas memang paling cocok pakai NDAK atau NGGAK untuk TIDAK. Kalau bicara pakai TIDAK rasanya kaku seperti bahasa buku. Dulu saya juga heran mengapa orang Jawa selalu pakai kata NGGAK/NDAK/ENGGAK. Tapi setelah bertahun-tahun di Jawa, saya akhirnya bisa mengerti dan menikmati permainan kata ala orang Jawa. Terima kasih atas komentar bung John.

      Delete