08 January 2015

Cikal Bakal Gereja di Sidoarjo: GKJW Mlaten

Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Mlaten di Desa Wonomelati, Kecamatan Krembung, tercatat sebagai gereja tertua di Kabupaten Sidoarjo. Gereja berbasis petani pribumi Jawa ini awalnya menempati sebuah kampung nasrani di sebelah barat Stasiun KA Sidoarjo sekarang.

Oleh Lambertus Hurek

Agus Susanto, tokoh GKJW Sidoarjo, menceritakan, lahan yang ditempati komunitas Kristen Jawa di Sidokare itu tempo doeloe merupakan hutan lebat. Seorang tuan tanah Belanda bernama Meneer Gunsch menghibahkan tanah itu untuk dikelola dan ditempati orang-orang Kristen Jawa asal Mojowarno, Kabupaten Jombang. Mereka tidak bisa kembali ke Ngoro karena dianggap sudah terkontaminasi dengan ajaran Kristen yang disebarkan misionaris Belanda di Surabaya.

Johanes Emde, misionaris Belanda, kemudian membangun gereja di Sidokare. Sementara itu, Meneer Gunsch membangun sebuah sekolah. Segera saja kawasan Sidokare menjadi salah satu kantong umat Kristen di Jawa Timur. Singotruno yang asli Jawa menjadi guru Injil sekaligus memimpin kebaktian rutin setiap hari Minggu.

Pada 1874, jemaat yang mengikuti kebaktian di Gereja Sidokare sekitar 200 orang, termasuk 90 warga baru. Namun, kampung nasrani di Sidokare ini ternyata tak bisa bertahan lama. Ini karena lahan yang ada tak cukup luas untuk membuka sawah bagi para penghuni yang terus bertambah. Mereka pun jatuh miskin. Meneer Gunsch kemudian mengusahakan agar orang-orang Kristen angkatan pertama ini menjadi pedagang, buka usaha kecil-kecilan. Tapi tidak gampang karena latar belakang mereka memang petani tulen. Maka, mulailah muncul ketegangan antara jemaat dan Meneer Gunsch.

Selain itu, misionaris Belanda di Surabaya kurang setuju dengan jemaat Kristen Sidokare yang melaksanakan kebaktian tanpa pendeta dan bernuansa Kejawen. Pada 1845 orang-orang Kristen di Sidokare ini mulai bedhol desa ke beberapa kawasan di Kabupaten Jombang, khususnya sekitar Mojowarno. Sejak itulah komunitas kristiani di Sidokare pun hilang tak bersisa. Tinggal catatan sejarah.

Agus Susanto, yang juga ketua Badan Musyawarah Antargereja (Bamag) Sidoarjo, mengungkapkan, migrasi besar-besaran warga Kristen Sidokare ini ternyata tidak mulus. Sebagian berhenti di kampung Wonomelati, Kecamatan Krembung. Jemaat inilah yang kemudian berkembang menjadi Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Mlaten sampai sekarang.

"Gereja di Mlaten ini didirikan tahun 1883, sedangkan baptisan pertama tahun 1875," tutur Pendeta Jonet Soedarmoko, yang pernah bertugas di GKJW Mlaten, kepada saya.

Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Mlaten yang berhadapan dengan Masjid Darussalam, Desa Wonomelati, Krembung, itu sudah mengalami beberapa kali pemugaran. Terakhir pada 1996. Bangunan asli sudah tak ada, selain kayu jati sebagai blandar di atas palfon yang masih dipakai untuk menyangga gereja berkapasitas 300-an orang ini.

Umat Kristen yang tercatat di GKJW Mlaten sekitar 300 orang. Namun, yang aktif beribadah setiap hari Minggu pukul 08.30 berkisar 125 sampai 200 orang. Sebab, banyak jemaat GKJW Mlaten yang ikut kebaktian di Sidoarjo, Surabaya, atau gereja-gereja di kota lain karena bekerja di luar Desa Wonomelati. Banyak pula yang pindah domisili.

"Mayoritas jemaat kami di Mlaten ini buruh tani atau buruh pabrik. Makanya, kolekte mingguan tidak pernah banyak," kata Pendeta Jonet Soedarmoko seraya tersenyum.

Seperti juga gereja-gereja desa yang lain di Jawa, GKJW Mlaten masih tetap mempertahankan tradisi budaya Jawa dalam kegiatan gerejawi. Kebaktian rutin, khotbah, masih dilakukan dalam bahasa Jawa. Namun, berbeda dengan jemaat Kristen Jawa tempo doeloe, gereja yang dikelilingi Pabrik Gula (PG) Krembung dan PG Toelangan ini sudah lama menggunakan alat musik Barat modern dalam kebaktiannya.

Setiap tahun jemaat GKJW Mlaten masih memelihara tradisi unduh-unduh. Yakni, upacara syukur atas hasil panen berupa padi, buah-buahan, atau palawija di kompleks gereja. Hasil unduh-unduh di Mlaten, kata Pendeta Jonet, paling banyak hanya Rp 4 juta. "Bandingkan dengan GKJW Sidoarjo yang bisa mencapai Rp 30 juta," katanya.

Jemaat perintis GKJW sudah tak ada lagi. Sekarang ini jemaat GKJW Mlaten seluruh generasi baru yang hanya mendengar cerita dari mulut ke mulut tentang betapa beratnya perjuangan generasi pelopor yang jalan kaki dari kawasan Sidokare, kemudian babat alas membuat perkampungan,
dan mendirikan gereja komunitas Jawa di Wonomelati. "Jemaat perintis terakhir itu almarhum Pak Darmo yang meninggal tahun 2005," tutur pendeta asli Surabaya itu.

Keberadaan komunitas kristiani di Desa Wonomelati, Kecamatan Krembung, sudah lama menjadi bahan kajian para peneleti dari dalam dan luar negeri. Mereka menyoroti kehidupan masyarakat yang harmonis meskipun berbeda-beda agama. Apalagi, lokasi GKJW Mlaten bertetangga dekat dengan Masjid Darussalam.

Ika Wahyu Diyanti, peneliti dari Universitas Negeri Malang, belum lama ini mengadakan penelitian di Desa Wonomelati, Krembung. Dari riset serta wawancara dengan banyak sumber, Ika menyimpulkan bahwa hubungan umat kristiani dengan muslim di Wonomelati sejak dulu sangat harmonis. Begitu juga dengan umat Hindu dengan pura yang juga tak jauh dari
gereja dan masjid.

Menurut dia, kerukunan atau toleransi antarumat beragama bukan hanya teori atau niat baik belaka, tapi sudah lama diamalkan oleh jemaat GKJW Mlaten dan Masjid Darussalam. Kerukunan ini tak lepas dari latar belakang masyarakat yang agraris dan sudah mengenal satu sama lain secara turun temurun. Semangat gotong royong, tenggang rasa, tepa selira, masih dipelihara di kalangan warga.

Sejumlah kegiatan lintas agama pun kerap kali digelar di Masjid Darussalam maupun GKJW Mlaten. Salah satunya Youth Live-In Interfaith yang dipusatkan di GKJW Mlaten. Anak-anak muda dari berbagai agama belajar untuk berinteraksi, diskusi, membahas berbagai perkembangan sosial keagamaan, dengan mengunjungi gereja, masjid, dan pura.

Kemudian ada bakti sosial di halaman gereja yang diikuti seluruh masyarakat tanpa membeda-bedakan agama dan keyakinan. Yang menarik, tutur Ika Wahyu Diyanti, suatu ketika pernah ada kejadian Idul Fitri jatuh pada hari Minggu. Tentu saja umat Islam harus menunaikan saat Id pagi hari di Masjid Darussalam, halaman, hingga meluber ke jalan raya di depan gereja. Majelis GKJW Mlaten pun jauh-jauh hari mengantisipasi salat Idul Fitri ini dengan menunda kebaktian pada sore hari.

"Lokasinya yang berdekatan, terkadang nyanyian gereja dan adzan bisa saling bersahutan, namun tanpa pernah terjadi perseteruan. Terbukti bahwa apabila sedang ada kegiatan keagamaan bersama, pengeras suara tidak disetel keras, tetapi pelan-pelan saja," tulis Ika dalam laporan penelitiannya.

Tak hanya peneliti atau aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM). Pemkab Sidoarjo pun sudah lama menjadikan kawasan Krembung, khususnya Desa Wonomelati dan Desa Balonggarut, sebagai inspirasi kerukunan antarumat beragama di Kabupaten Sidoarjo. Sejak dulu bupati Sidoarjo selalu hadir pada event-event keagamaan yang cukup signifikan.

Kegiatan para pendeta atau Bamag Sidoarjo yang diadakan di GKJW Mlaten biasanya selalu dibuka oleh Bupati Sidoarjo Saful Ilah. Belum lama ini, ketika diadakan penahbisan pendeta baru di Pura Penataran Agung Margo Wening, pun Bupati Saiful Ilah hadir dan memberikan sambutan. Tidak ketinggalan sejumlah pengurus Bamag Sidoarjo, MUI Sidoarjo, pengurus GJKW Mlaten, dan Masjid Darussalam.

"Kita ingin Sidoarjo ini selalu rukun, damai, dan sejahtera," kata Bupati Saiful Ilah. (rek)

No comments:

Post a Comment