10 January 2015

Budaya sepeda hilang di Lembata

Pagi ini saya melihat begitu banyak pesepeda di Kedungcowek, Surabaya, kaki Jembatan Suramadu. Tua muda, pria wanita, cangkrukan sembari menikmati kopi hangat bikinan ibu asal Madura yang buka kedai sederhana di bawah pohon bidara.

Ramai banget obrolan para penggowes itu. Peristiwa AirAsia jadi tema utama. Soal manajemen maskapai yang amatiran, izin terbang, hingga mafia penerbangan. "Kalau gak ada izin, masak bisa terbang ke Singapura? Berbulan-bulan? Wong angkot aja ada izin trayeknya," kata seorang bapak yang mendominasi obrolan.

Saya asyik membaca berita utama Jawa Pos: 61 Penerbangan Dibekukan! Lion Air paling banyak melanggar: 35 kali. Bukan main! Ke mana saja pejabat kemenhub selama ini? Kita baru ribut setelah pesawat jatuh, menewaskan semua penumpang. Andai AirAsia tidak nyungsep ke laut, kita tak akan tahu kebobrokan di kemenhub.

Ah, tapi saya tak mau bahas AirAsia. Bosan. Sudah hampir dua minggu berbagai media membahas panjang lebar. Saya bahkan sampai tak tertarik lagi melihat prosesi kedatangan jenazah korban di Lanudal Juanda atau sekadar mampir di RS Bhayangkara.

Saya justru tertarik dengan sepeda pancal yang begitu banyak di Suramadu itu. Ada yang kelas bakul bumbu, Rp 200 ribu, hingga yang di atas Rp 10 juta. Ada juga sepeda tua zaman perang yang masih sangat terawat. Semuanya melebur begitu saja di komunitas nggowes dadakan itu.

Saya lantas ingat Lembata, kabupaten kecil di NTT, tempat saya cuti akhir tahun kemarin. Kabupaten yang SPBU-nya hanya SATU biji. Bensin botolannya mahal banget. Kabupaten yang dulu begitu banyak sepeda pancal lalu lalang di jalan raya kelas perdesaan. Saya pun aktif bersepeda menyusuri jalan-jalan antarkampung. Bahkan meluncur dari Mawa sampai ke Lewoleba sekitar 25 kilometer.

Itu semua tinggal kenangan. Akhir Desember 2014 saya sengaja duduk di pinggir jalan raya Desa Lamawara. Wow, cukup banyak sepeda motor, pikap ada beberapa, warga yang jalan kaki ke kebun masih banyak. Tapi tidak ada satu pun sepeda angin!

"Sepeda itu kendaraan masa lalu. Orang Lembata sekarang lebih suka naik Honda," kata adik saya sembari tersenyum. Di kampung saya, semua sepeda motor disebut Honda apa pun mereknya.

Dua sepeda pancal merek Rhaleigh dan Phoenix di rumah saya sudah dimakan hantu. Padahal sepeda itu enteng dan kuat. Beda dengan sepeda yang sering saya pakai olahraga pagi di Surabaya.

Di Lewoleba, ibu kota Kabupaten Lembata, pun saya tak melihat orang naik sepeda. Sekadar ke tempat kerja yang jaraknya kurang dari satu km pun warga Lewoleba pakai sepeda motor. Baik ojek maupun antar jemput keluarga. "Heku ti nete sepeda?" kata adik saya yang lain yang kerja di RSUD Lembata. Tiap hari si Erni ini naik motor matic.

Begitulah. Sepeda memang benar-benar tinggal sejarah di Lembata dan sejumlah kabupaten di NTT. Tren orang kota ramai-ramai nggowes, naik sepeda pancal, bahkan bike to work sama sekali tidak berefek di Lembata. Anak-anak muda, pelajar, pun terkesan malu bersepeda angin ke sekolah.

Sayang sekali. Budaya bersepeda yang pernah sangat meluas di Pulau Lembata itu tenggelam dalam waktu kurang dari 15 tahun. Hanya karena orang gandrung kredit Honda, eh sepeda motor. Orang kampung rupanya lupa bahwa bensin itu mahal dan langka. Orang lupa bersepeda itu jauh lebih efisien dan sehat.

No comments:

Post a Comment