15 January 2015

Babi + kambing berkeliaran di Lewoleba

Lewoleba itu ibukota Kabupaten Lembata, Nusatenggara Timur. Kabupaten hasil pemekaran Flores Timur sejak tahun 2000an. Anehnya, sampai sekarang Lewoleba belum ditata layaknya ibukota kabupaten.

Betapa terkejutnya saya melihat hewan ternak masih berkeliaran di pekarangan, lapangan, dan lahan-lahan kosong. Lapangan bola di Lewoleba bahkan seakan jadi tempat peternakan kambing. Begitu banyak kambing yang memanfaatkan rumput hijau di lapangan yang seharusnya paling baik di seluruh kabupaten itu.

"Dari dulu lapangan bola itu memang dimanfaatkan untuk menggembala kambing," kata seorang warga Lewoleba datar.

Tak ada rasa aneh atau janggal kalau stadion sepak bola di ibukota Kabupaten Lembata disalahgunakan seperti itu. Bagaimana mungkin sepak bola di Lembata maju kalau lapangan bola terbaiknya dibiarkan seperti itu. Anehnya, pengurus sepak bola, KONI kabupaten, pelatih bola senior, pemain-pemain bola diam saja. Menganggap sebagai hal biasa di Lembata.

Para polisi yang markas polresnya berada di samping lapangan bola pun cuek bebek. Mungkin karena beternak kambing di Stadion Lewoleba bukan tindak pidana. Mungkin dianggap kearifan lokal orang Lembata, NTT, yang memang sejak dulu diwajibkan memelihara kambing dan babi (pao witi wawe) untuk urusan adat Lamaholot.

Yang paling aneh, dan harusnya tidak boleh ada di Kota Lewoleba, adalah kebiasaan memelihara babi dan/atau kambing di belakang atau samping rumah. Saya perhatikan secara acak, sebagian besar rumah di Lewoleba dilengkapi kandang babi. Atau kambing. Halaman rumah tidak dimanfaatkan untuk menanam sayur atau buah tapi... PAO WITI WAWE. Memelihara kambing + babi.

"Beternak babi dan kambing itu hasilnya banyak. Harganya selalu naik dan bisa kita pakai untuk urusan adat. Hidup di Lembata kalau tidak pao witi wawe susah," kata seorang Ina (mama) di Lewoleba.

Kata-kata beberapa warga Lewoleba ini sangat benar. Sangat khas suku Lamaholot yang mendiami Kabupaten Lembata, Kabupaten Flores Timur, dan Kabupaten Alor -- tiga kabupaten besar di Provinsi NTT. Sebagai orang etnis Lamaholot, saya pun pernah menjalani ritual pao witi wawe di kampung halaman, sekitar 25 km dari Kota Lewoleba.

Persoalannya, Lewoleba ini ibukota kabupaten. Bukan lagi desa atau kampung di pelosok. Setiap hari ada penerbangan berjadwal, punya pelabuhan feri, pelabuhan kapal penumpang, bongkar muat di pelabuhan juga lumayan bagus. Maka Lewoleba tidak bisa dibiarkan begitu saja seperti desa-desa di Lembata pada era 1980an dan 1990an.

Saat berlibur di kampung halaman, Kecamatan Ileape, tetangganya Lewoleba, akhir 2014, saya melihat perubahan yang luar biasa. Budaya pao witi wawe memang masih hidup dan berkembang, tapi tak ada lagi kandang babi dan kambing di dalam kampung.

Silakan pao witi wawe, tapi bikinlah kandang jauh di luar kampung. Ini bukan sekadar imbauan. Semua desa bikin perdes, peraturan desa, yang mengatur tata cara beternak babi dan kambing. Kalau ayam kampung sih masih berkeliaran karena boleh dipelihara di dalam kampung.

Perdes tentang ternak babi + kambing ini memang menimbulkan konsekuensi yang berat buat penduduk. Mereka harus mendaki setiap hari menuju kandang babi + kambing karena kampung-kampung di Ileape memang berada di bukit yang cukup tinggi. Ngos-ngosan. Capek. Tapi demi kesehatan dan kebersihan, warga sudah melakoni kebiasaan baik ini selama 10 tahun lebih.

Lantas, mengapa justru Kota Lewoleba masih membiarkan kandang babi dan kambing di pinggir rumah-rumah penduduk? Bukankah tingkat pendidikan penduduk Lewoleba jauh lebih tinggi dari orang-orang kampung di Ileape, Atadei, Nagawutung, atau Kedang? Mengapa orang-orang kampung yang sering dianggap udik itu justru mampu menerapkan budaya pao witi wawe yang jauh lebih modern? Ada baiknya orang kota belajar dari orang desa!

No comments:

Post a Comment