22 January 2015

Apresiasi Paduan Suara Barok di PMS

Mungkin baru kali ini Pertemuan Musik Surabaya (PMS) diisi dengan bedah paduan suara atau kor (choir). Kor barok. Slamet Abdul Sjukur, komponis yang juga pendiri PMS, menghadirkan Gracioso Sonora Choir dari Malang. Paduan suara pimpinan Budi Susanto Yohanes, dirigen, dan arranger terkemuka ini dinilai paling mumpuni membawakan komposisi-komposisi barok.

Kor yang dibentuk Mas Budi pada 1999 ini sudah memenangi berbagai penghargaan di dalam dan luar negeri. Mas Slamet ingin Mas Budi tak hanya memberi penjelasan teoretis, tapi kasih contoh kor gaya barok itu seperti apa. Ini jarang ada di Surabaya, bahkan Indonesia. Ikut kuliah musik bersama sambil nonton konser plus diskusi. Kor dan dirigennya pun kaliber dunia.

Selama ini Mas Slamet Abdul Sjukur yang belum lama ini dirayakan ulang tahun ke-79 oleh para pengagumnya di Surabaya dianggap lebih suka musik yang bukan nyanyi-nyanyi. Suara manusia diolah sedemikian rupa menjadi bunyi-bunyian yang unik. Mas Slamet bahkan pernah mengumpulkan orang-orang bersuara sengai (bindeng) untuk dilatih dalam sebuah paduan suara.

Ide nyeleneh khas Mas Slamet itu gagal terwujud. "Saya kesulitan menemukan orang bindeng yang mau ikut latihan paduan suara. Ada beberapa yang sempat saya latih tapi mereka ketawa sendiri mendengar suara temannya yang bindeng," cerita Mas Slamet suatu ketika.

Hobi Slamet Abdul Sjukur yang doyan membongkar kemapanan ini tak berarti dia antipaduan suara konvensional yang taat pakem itu. Dalam sebuah tulisannya, Mas Slamet menceritakan sistem pendidikan musik di Hungaria yang dirancang "untuk membentuk manusia yang cerdas dan beradab".

"Penekanannya pada pendidikan paduan suara," tulis Mas Slamet di buku Virus Setan.

Mengapa paduan suara? Untuk bernyanyi, kita harus bernapas yang betul. Bernapas lebih terarah. Paru-paru, sel-sel darah, sistem hormon, jaringan saraf yang berpangkal di otak bisa bekerja dengan baik. Mas Slamet melanjutkan:

"Bernyanyi dalam paduan suara membuat kita merasakan perlunya kebersamaan. Tidak ada yang ingin lebih menonjol dari yang lain. Semua untuk semua. Kebersamaan juga membuat percaya diri dan melupakan egosentris yang berlebihan."

Musik, khususnya paduan suara, membuat pendengaran kita bersikap lateral (menyebar). Tidak satu arah (linear). Kalau dalam sebuah rapat orang-orang bicara bergantian agar setiap gagasan dapat ditangkap dengan jelas. Di dalam sebuah orkes, instrumen-instrumennya berbunyi bersamaan dan telinga kita tetap bisa mencernanya.

"Pendengaran lateral seperti ini juga berpengaruh dalam cara berpikir," kata Mas Slamet.

Maka, jangan sekali-sekali meremehkan paduan suara. Ikut paduan suara itu ternyata punya manfaat begitu banyak. Itulah sebabnya, para pelajar SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi seyogianya diwajibkan ikut paduan suara. Seperti di Hungaria itu.

No comments:

Post a Comment