08 January 2015

Akhirnya ketemu Virus Setan SAS

Sudah bertahun-tahun saya mencari buku Virus Setan karangan komponis Slamet Abdul Sjukur. Di Gramedia tak ada. Mas SAS sendiri pun tak punya. Beberapa orang dekat SAS pun tak tahu kalau ada buku esai ringan nan jenaka ala guru piano senior asli Surabaya itu.

Di internet cuma ada resensinya. Yang bahas Mas Erie Setiawan, pemusik + penulis yang juga pengagum SAS. Cukup banyak respons di internet yang rata-rata mengagumi kenyelenehan SAS. Saya termasuk pengagum berat SAS. Tuturan lisan, kuliah umum, pelajaran musik, pertemuan musik... selalu enak tapi nyelekit.

Pagi tadi secara kebetulan saya mampir ke C2O, perpustakaan yang didirikan Kathleen di Jalan Cipto 20 Surabaya. Dulu saya sering mampir kalau Mas SAS kasih ceramah musik. Kathleen gak ada, kata mas lulusan Unesa yang jaga perpustakaan.

Saya pun iseng melihat buku-buku koleksi C20. Wow, makin banyak, tebal dan berbobot. Ternyata ada buku terbaru SAS yang di-launching di Surabaya beberapa bulan lalu saat hari jadi SAS ke-79. Buku itu sudah saya baca dan ingat isinya.

Ada Virus Setan? Saya bertanya kepada penjaga C20. Saya cari dulu, jawabnya. Tidak lama kemudian dia bilang ADA. Terima kasih banget! Akhirnya... buku terbitan awal 2000an itu muncul di hadapan saya. Cukup membayar sewa Rp 4000 sudah bisa dipinjam selama dua minggu.

Virus Setan itu membahas berbagai persoalan musik di Indonesia. SAS sangat geram pada guru-guru piano di Surabaya yang dinilai terlalu mabuk penghargaan Muri dan pengakuan lembaga-lembaga Barat. Kita kehilangan identitas. Menunduk-nunduk pada bule layaknya inlander tempo doeloe.

Tapi bukan SAS kalau tidak nyentil sana nyentil sini. Bahas musik tapi larinya ke trotoar di Surabaya hingga sistem akustik yang jelek di bandara Makassar. SAS menulis:

"Saking bagusnya trotoar (di Surabaya), motor justru nggak lewat jalan tetapi lewat trotoar. Sering kali anak kecil tertabrak. Itu biasa. Saya sudah lapor ketua RT. Itu kesadaran masing-masing, katanya. Apakah kita peduli kesadaran? Nggak. Kita ini serakah. Mau menang sendiri."

Membaca tulisan SAS di Virus Setan, saya senyum-senyum sendiri dan... malu sendiri. SAS memang tak henti-hentinya menularkan virus setan dengan caranya sendiri. Matur nuwun!

No comments:

Post a Comment