04 January 2015

Air Asia Jadi Justifikasi Delayed

Pesawat-pesawat di Indonesia tergolong paling tidak disiplin di dunia. Ketepatan jadwal atau on time schedule biasanya cuma indah di kertas. Karena itu, pesawat yang telat 60 atau 70 menit masih dianggap biasa saja. Tahun lalu, saya naik pesawat Lion Air dari Bandara Juanda ke Kupang. Telatnya hampir TIGA jam. Calon penumpang protes, ramai-ramai, tapi tidak bisa apa-apa.

Ada 7 atau 8 alasan maskapai soal telat atau batal. Mulai teknis, cuaca, dan sebagainya. Kita hanya bisa menerima karena kitalah yang butuh dia. Bayangkan kalau si maskapai mogok terbang ke NTT karena penumpangnya rewel soal delayed. "Yang penting, katong sampai di Kupang. Sebentar malam juga sonde (tidak) apa-apa," kata seorang bapak dari Kupang.

Kecelakaan Air Asia rute Surabaya-Singapura tampaknya membuat maskapai-maskapai makin di atas angin. Mereka makin punya justifikasi yang kuat soal delayed satu, dua, bahkan tiga jam lebih itu. Cuaca buruk! Mau bilang apa kalau sudah disebut alasan cuaca.

"Wong cuaca bagus, musim kemarau saja suka delayed. Apalagi musim hujan, ditambah baru saja ada kecelakaan Air Asia. Kita mau apa," kata seorang pemuda di terminal Bandara Eltari, Kupang, pasrah. Pesawat yang akan ditumpanginya batal terbang karena cuaca buruk.

Kemarin, 3 Januari 2014, banyak sekali pesawat di Kupang yang batal terbang gara-gara... cuaca. Kalau biasanya calon penumpang mencak-mencak, kali ini mereka senyum-senyum. "Kita satu malam lagi di Kupang. Semoga besok bisa terbang," kata seorang bapak dari Ende.

Kalau besok batal lagi? "Janganlah. Uang mau habis di Kupang," katanya.

Alasan cuaca buruk juga membuat Trans Nusa terlambat landing di Bandara Wunopito, Lembata, NTT. Saya ketar-ketir karena sudah pegang tiket Lion Air jurusan Kupang-Surabaya di tangan pukul 15.00. Kalau delayed terlalu lama, tiket mahal itu hangus. Ini memang risiko sekaligus perjudian para perantau NTT yang mudik ke kampung halaman. Kalau tiket hangus ya begitulah risiko membeli tiket pesawat di Indonesia.

Pesawat Fokker 50 Trans Nusa itu akhirnya terbang setelah kami menunggu dua jam lebih. Tak ada penjelasan apa pun dari pramugari, pilot, atau pihak maskapai soal keterlambatan itu. "Syukur, masih banyak waktu mengejar Lion Air di Kupang," saya membatin.

Di dalam pesawat, saya terkejut karena maskapai yang sangat berjasa di NTT itu ternyata tidak langsung ke Kupang. Mampir dulu di Bandara Mali, Kabupaten Alor. Butuh waktu 30 menit. Ambil penumpang, lalu terbang ke Kupang selama 50 menit. Saya tak habis pikir, mengapa pihak maskapai tidak menjelaskan kepada konsumen bahwa pesawatnya transit dulu di Alor. Di tiket tertulis penerbangan langsung Lewoleba-Kupang sekitar 40 menit.

Yah, mau bilang apa, beginilah hidup di Indonesia. Syukur, tiba di Kupang masih ada waktu 50-an menit untuk check-in di Lion Air. Puji Tuhan, tiket tak jadi hangus! 

Setelah menunggu sekitar 1,5 jam di terminal bandara yang makin bagus itu, tiba-tiba terdengar pengumuman. Lion Air Kupang-Surabaya terlambat karena cuaca buruk! Tunda lagi 2,5 jam. Hehehe....

Syukurlah, tragedi Air Asia masih di depan mata. Ratusan calon penumpang jurusan Surabaya, Jakarta, dan beberapa kota lain itu pun menjadi sangat maklum. Tak ada yang menggerutu meskipun delayed sangat lama. Biar lambat asal selamat! 

Semoga saja maskapai-maskapai kita jujur soal cuaca buruk ini. Jangan sampai cuaca hanya dijadikan kedok untuk menutupi manajemen waktu airline yang bobrok. 

No comments:

Post a Comment