31 January 2015

Pengamat bicara tanpa buku

Begitu banyak pengamat di Indonesia. Pengamat politik, pengamat budaya, pengamat bola, pengamat artis, pengamat telematika, pengamat mode, pengamat psikososial, pengamat hukum, kriminolog, pengamat garis tangan, pengamat tulisan tangan... dan masih banyak lagi. Setiap saat bisa kita saksikan pengamat-pengamat ini di televisi. Juga baca di koran atau internet.

Ada pengamat yang sangat laku sehingga bisa berpindah-pindah televisi dengan begitu cepat. Pukul 06.00 di Metro TV, dua jam kemudian di tvOne, dua jam lagi di televisi lain. Malamnya nongol lagi di televisi. Bahas politik koalisi, geger KPK vs Polri, 100 hari Jokowi-JK, dan sebagainya. Pengamat-pengamat Indonesia memang serbabisa. Dia bisa bicara apa saja dengan lancar mengalir kayak sungai.

Televisi-televisi, khususnya yang berbasis berita, memang butuh pengamat. Dan pengamat pun butuh televisi. Sebab bicara di televisi itu honornya jauh lebih besar ketimbang menulis artikel di surat kabar. Karena itu, sejak reformasi 1998 pengemat-pengamat ini lebih banyak bicara, bicara, bicara, bicara... ketimbang menulis analisis ilmiah populer.

Era audiovisual ini memang melahirkan pengamat-pengamat gaya baru yang cocok dengan tuntutan televisi. Bicara lancar, cepat, bisa otak atik gathuk politik dengan lincah ala pendekar silat dari Tiongkok. Ini berbeda dengan pengamat-pengamat sebelum reformasi yang semuanya berlatar belakang dosen perguruan tinggi terkemuka atau peneliti lembaga kajian yang berbobot.

Pengamat-pengamat politik di televisi sekarang nyaris tidak kita kenal dari universitas mana dia berasal. Lebih banyak yang berafiliasi dengan lembaga survei yang melayani survei-survei pesanan. Karena itu, arah analisis mereka pun sangat tergantung pada arah angin kepentingan sang pemesan. Tapi secara umum lebih banyak yang analisisnya bisa diterima akal sehat.

Mengapa begitu banyak pengamat atau komentator sosial di Indonesia? Yang instan, tanpa kajian akademis yang berbobot? Tanpa buku yang kualitasnya dalam dan bisa dipertanggungjawabkan? Jawabannya sederhana: Indonesia ini belum normal.

Di negara-negara normal, yang namanya pengamat itu peneliti atau akademisi spesialis macam William Liddle, Benedict Andersson, Geertz yang sebelumnya sudah malang melintang dalam kajian mendalam tentang sebuah fak yang sangat spesial. Sebab standar profesi di negara-negara normal itu sangat tinggi. Peneliti-peneliti Barat menghabiskan waktu di laboratorium, lapangan, gali data, wawancara sumber pertama, mengalami langsung di lokasi, bikin kajian, menulis di jurnal, terbitkan buku.

Di Indonesia, mengutip jurnal Kalam, "Seseorang menjadi intelektual publik dengan bekal utama jurus-jurus dalam kelisanan. Tanpa sebiji pun karya keilmuan yang berarti. Kalau dia menerbitkan buku, itu pun sekadar kumpulan kolom."

Di era internet dan Mbah Google ini, situasinya lebih parah lagi. Saya sering terkecoh ketika membeli buku-buku karya 'intelektual publik' yang sering muncul di televisi. Isinya ternyata banyak copas (copy paste) dari internet. Foto-foto untuk ilustrasi pun dicontek mentah-mentah dari internet.

26 January 2015

Zainal Abidin ketua KPU Sidoarjo




Baru saja saya ngobrol dengan M Zainal Abidin di ruang kerjanya. Mas Zainal ini ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Sidoarjo. Lama banget saya tak sua komisioner yang juga dosen di STAI Al-Khoziny, Buduran, ini.

Mas Zainal masih seperti yang dulu. Masih asyik merokok meski ruang kerjanya ber-AC. Semakin merokok semakin banyak dapat inspirasi. Apalagi ditambah kopi kental panas. "Saya agak kurangi kopi untuk kontrol gula darah. Tapi nggak bisa lepas dari kopi," katanya santai.

Zainal Abidin adalah satu-satunya komisioner KPU Sidoarjo yang bertahan lebih dari dua periode. Dus, ini periode ketiganya. Mas Bhima sudah lengser. Sekarang malah jadi salah satu direktur PDAM Sidoarjo. Mas Ansori jadi hakim tipikor di luar Jawa. Mas Nanang tidak lolos dalam seleksi kemarin.

"Pekerjaan apa pun kalau dinikmati mesti enak. Disyukuri saja," kata santri senior yang sering jadi pembawa acara di Pesantren Al-Khoziny itu. Sebagai komisioner kawakan, pria yang murah senyum ini kudu ngemong teman-temannya komisoner baru. Dia juga paling bertanggung jawab atas pemilihan kepala daerah Sidoarjo tahun 2015 atau Februari 2016.

Zainal dan KPU di seluruh Indonesia masih menunggu pembahasan perppu pilkada di Senayan, Jakarta. Sebab perppu itulah yang akan menjadi acuan dalam pilkada. Tahapan-tahapan pilkada belum bisa dilakukan selama belum ada aturan main yang disahkan wakil rakyat. "Mudah-mudahan segera selesai agar kami bisa membuat perencanaan," harapnya.

Bekerja sebagai komisioner KPU Sidoarjo, dari anggota biasa hingga dipercaya menjadi ketua, bagi Zainal adalah amanah sekaligus kehormatan. Maklum, di seluruh kabupaten hanya ada lima komisioner. Ketika ada pemilihan umum, entah pileg, pilpres, atau pilkada, KPU menjadi jujukan banyak pihak yang berkepentingan.

"KPU ini kalau saat pemilu benar-benar dibutuhkan orang. Tapi setelah pemilu seperti dilupakan orang," kata Zainal dengan guyonan khasnya.

Bisa jadi benar. Saat ini kantor KPU Sidoarjo di pinggir jalan raya Cemengkalang itu sepi. Hampir tak ada pengunjung atau tamu. Halaman parkir pun lengang. Sebaliknya, saat pileg dan pilpres lalu, mobil dan sepeda motor terlihat meluber hingga ke jalan raya.

"Yah, disyukuri sajalah! Anggap saja istirahat sebelum kerja keras menjelang pilkada nanti," kata saya.

"Oh, jangan dikira KPU sekarang nganggur (tapi tetap dibayar)! Sekarang ini justru kami selalu dapat kerjaan dari KPU pusat. Ada-ada saja tugas yang harus dibayar," tegasnya.

Zainal juga mengaku mulai aktif melakukan sosialisasi pilkada lewat RSPK, radio milik Pemkab Sidoarjo. Dia juga lagi merancang media center di kantor KPU. "Sekarang ini media center yang ada tidak aktif. Saya ingin hidupkan lagi," ucapnya.

Cukup lama saya lepas kangen dengan Mas Zainal yang dulu biasa makan dan ngopi bareng di warung hijau dekat KPU. Warung itu, yang putri pemiliknya cantik nian, sudah tak ada lagi. Obrolan seputar pilkada melebar ke mana-mana. Hingga datanglah tamu dari bagian humas pemkab Sidoarjo. Obrolan malah makin seru tapi tetap santai.

Kopi pahit pesanan Mas Zainal ternyata tak mampu menahan kantukku. Saya pun pamit ke Pasar Seni untuk istirahat sejenak di kompleks ruko yang jadi jujukan seniman lukis itu. Capek deh!

22 January 2015

Apresiasi Paduan Suara Barok di PMS

Mungkin baru kali ini Pertemuan Musik Surabaya (PMS) diisi dengan bedah paduan suara atau kor (choir). Kor barok. Slamet Abdul Sjukur, komponis yang juga pendiri PMS, menghadirkan Gracioso Sonora Choir dari Malang. Paduan suara pimpinan Budi Susanto Yohanes, dirigen, dan arranger terkemuka ini dinilai paling mumpuni membawakan komposisi-komposisi barok.

Kor yang dibentuk Mas Budi pada 1999 ini sudah memenangi berbagai penghargaan di dalam dan luar negeri. Mas Slamet ingin Mas Budi tak hanya memberi penjelasan teoretis, tapi kasih contoh kor gaya barok itu seperti apa. Ini jarang ada di Surabaya, bahkan Indonesia. Ikut kuliah musik bersama sambil nonton konser plus diskusi. Kor dan dirigennya pun kaliber dunia.

Selama ini Mas Slamet Abdul Sjukur yang belum lama ini dirayakan ulang tahun ke-79 oleh para pengagumnya di Surabaya dianggap lebih suka musik yang bukan nyanyi-nyanyi. Suara manusia diolah sedemikian rupa menjadi bunyi-bunyian yang unik. Mas Slamet bahkan pernah mengumpulkan orang-orang bersuara sengai (bindeng) untuk dilatih dalam sebuah paduan suara.

Ide nyeleneh khas Mas Slamet itu gagal terwujud. "Saya kesulitan menemukan orang bindeng yang mau ikut latihan paduan suara. Ada beberapa yang sempat saya latih tapi mereka ketawa sendiri mendengar suara temannya yang bindeng," cerita Mas Slamet suatu ketika.

Hobi Slamet Abdul Sjukur yang doyan membongkar kemapanan ini tak berarti dia antipaduan suara konvensional yang taat pakem itu. Dalam sebuah tulisannya, Mas Slamet menceritakan sistem pendidikan musik di Hungaria yang dirancang "untuk membentuk manusia yang cerdas dan beradab".

"Penekanannya pada pendidikan paduan suara," tulis Mas Slamet di buku Virus Setan.

Mengapa paduan suara? Untuk bernyanyi, kita harus bernapas yang betul. Bernapas lebih terarah. Paru-paru, sel-sel darah, sistem hormon, jaringan saraf yang berpangkal di otak bisa bekerja dengan baik. Mas Slamet melanjutkan:

"Bernyanyi dalam paduan suara membuat kita merasakan perlunya kebersamaan. Tidak ada yang ingin lebih menonjol dari yang lain. Semua untuk semua. Kebersamaan juga membuat percaya diri dan melupakan egosentris yang berlebihan."

Musik, khususnya paduan suara, membuat pendengaran kita bersikap lateral (menyebar). Tidak satu arah (linear). Kalau dalam sebuah rapat orang-orang bicara bergantian agar setiap gagasan dapat ditangkap dengan jelas. Di dalam sebuah orkes, instrumen-instrumennya berbunyi bersamaan dan telinga kita tetap bisa mencernanya.

"Pendengaran lateral seperti ini juga berpengaruh dalam cara berpikir," kata Mas Slamet.

Maka, jangan sekali-sekali meremehkan paduan suara. Ikut paduan suara itu ternyata punya manfaat begitu banyak. Itulah sebabnya, para pelajar SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi seyogianya diwajibkan ikut paduan suara. Seperti di Hungaria itu.

Teater kampung di Lembata kian surut

Sebelum tahun 2000, sandiwara atau teater atau drama sangat populer di pelosok Nusatenggara Timur, khususnya Kabupaten Flores Timur dan Lembata. Anak-anak desa yang sekolah di kota biasanya mengisi liburan dengan main sandiwara. Di tengah adegan, biasanya diisi dengan menyanyi vocal group, tarian, atau lawakan sederhana.

Waktu itu belum ada televisi. Ada memang beberapa televisi tapi tak ada gambar karena pemancar tidak ada. Maka orang-orang desa sangat antusias menyaksikan teater amatiran khas remaja itu. Saya masih ingat, gereja di Atawatung penuh sesak oleh warga dua desa (Atawatung dan Mawa) yang menonton sandiwara. Judulnya: Cinta dan Pengkhianatan.

Sandiwara keliling ala pelajar di NTT ini mirip ludruk tobong di Jawa Timur. Pentasnya keliling beberapa desa atau kampung. Karena itu, momen liburan panjang selalu ditunggu orang-orang desa di kampung saya. Ceritanya apa? Siapa yang jadi pelakon utama? (Kata pelakon lebih populer ketimbang pemeran atau pemain atau bintan atau aktror/aktris. Yah, namanya aja orang desa.)

Sayang, masuknya listrik PLN ke desa-desa, yang disusul televisi + parabola, membuat rakyat sederhana di kampung-kampung tak lagi haus hiburan. Bisa menonton sinetron, konser musik, film, berita, dan program apa saja di TV. Kalau mau bisa 24 jam nonstop. Akibatnya, kebiasaan main sandiwara pun perlahan-lahan menghilang.

Saat berlibur di kampung halaman selama beberapa tahun terakhir, saya jarang mendengar para pelajar main sandiwara. Mereka bahkan tidak tahu kalau abang-abang atau om-omnya dulu selalu membawa sandiwara ke kampung saat berlibur. Bahkan, Gereja Atawatung yang dulu paling sering jadi panggung teater kampung pun tak ada lagi.

Syukurlah, di Desa Bungamuda tradisi pelajar main sandiwara alias teater ini masih ada. Bahkan sudah jadi semacam agenda tetap setiap malam tahun baru. Orang-orang kampung ramai-ramai berkumpul di namang (semacam alun-alun) untuk menonton sandiwara di panggung terbuka.

Yang menarik, cerita yang dimainkan anak-anak muda Bungamuda ini tidak lagi soal percintaan, perjuangan, atau naskah-naskah lama yang ditulis orang lain. Mereka bikin skenario sendiri berdasar isu aktual di kampung. Maka, tahun lalu sandiwaranya tentang kepala desa di negeri antah berantah yang tidak aspiratif. Sindirannya sangat tajam.

Warga tertawa-tawa menyaksikan ulah pak kades yang konyol di atas panggung. Sandiwara jadi ajang katarsis, pelepas unek-unek, karena selama ini rakyat kecil sulit mengkritik pemimpinnya secara langsung. Teater tentang bak penampung air hujan ini pun lekas menjadi buah bibir di seluruh kecamatan.

Malam tahun baru kemarin, anak-anak Bungamuda mementaskan drama tentang kebiasaan buruk menenggak minuman keras. Ini juga sangat relevan karena diangkat dari kisah nyata di kampung. Remaja yang doyan mabuk bikin ulah di kampung kecil itu.

Teater yang sederhana ini pun jadi buah bibir masyarakat setempat. Ini juga menunjukkan bahwa teater atau sandiwara sebetulnya masih mendapat tempat di hati masyarakat desa-desa di Kabupaten Lembata. Sayang, tradisi yang baik ini sudah hilang di banyak desa.

Mengapa orang-orang desa di Flores dan Lembata sangat suka nonton sandiwara? Selain karena kurang hiburan, menurut saya, tidak lepas dari jasa Bung Karno. Ketika diasingkan di Ende, Flores, 1934-38, Bung Karno mendirikan Toneel Kelimutu. Sebuah kelompok teater amatir yang rajin pentas di salah satu gereja katolik di Ende. Bung Karno sendiri yang menulis naskah-naskah sandiwaranya.

Kita bisa membaca di buku-buku betapa warga Ende, Flores umumnya, saat itu begitu gandrung menonton sandiwara alias tonil. Kebiasaan ini kemudian diteruskan sekolah seminari, yang kemudian diadopsi sekolah-sekolah umum di Pulau Flores dan sekitarnya. Anak-anak kampung yang bersekolah di kota kemudian memanfaatkan seni peran ini untuk menghibur warga saat liburan. Sekaligus menyentil sejumlah kebijakan penguasa yang dianggap melenceng.

20 January 2015

Selamat Jalan Romo Yoseph Reko Boleng




Sekitar seribu umat Katolik dari Sidoarjo, Surabaya, dan sejumlah kota di Jawa Timur Senin, 19 Januari 2015, mengantar jenazah Romo Yoseph Reko Boleng ke tempat pemakaman khusus para romo di Puhsarang, Kediri. Sebelumnya digelar misa requiem yang dipimpin Uskup Surabaya Monsinyur Vincentius Sutikno Wisaksono.

Tak hanya Uskup Sutikno, puluhan romo dan suster tampak khusyuk mengikuti misa khusus untuk mendoakan Romo Reko Boleng, 60. Satu per satu jemaat diberi kesempatan untuk memberikan penghormatan terakhir di depan jenazah mendiang Romo Reko yang ditempatkan di depan altar Gereja Katolik Santa Maria Annuntiata, Jalan Monginsidi 13 Sidoarjo.

Mendiang pastor berdarah campuran Flores-Jawa ini memang bertugas sebagai romo di Paroki Sidoarjo. "Saya tidak menyangka kalau Romo Reko meninggalkan kita secepat ini.
Jumat malam (16/1) beliau terlihat sehat, biasa saja, tidak ada keluhan apa pun," ujar Romo Justisianto, kepala Paroki St Maria Annuntiata Sidoarjo.

Sabtu pagi, 17 Januari 2015, menurut Romo Jus, sapaan akrab Romo Justisianto, Romo Reko tidak terlihat sarapan dan melakukan aktivitas seperti biasa. Dia mengira sang romo punya kesibukan di luar dan lupa memberi pesan baik lewat nota maupun SMS. Ketika kiriman jus buah datang, seorang koster (pembantu di pastoran) mengetuk kamar Romo Eko. Tak ada jawaban. Siang hari, sang koster kembali mengetuk pintu. Juga tak ada jawaban.

Penasaran dengan situasi yang tak lazim, koster itu mencoba mengintip ke dalam kamar. Betapa terkejutnya dia melihat tubuh Romo Reko sudah terbujur kaku. "Pak Koster turun memberi tahu saya kalau Romo Reko sudah nggak ada," tuturnya.

Dibanding sejumlah pastor lain, menurut Romo Jus, selama ini Romo Reko dikenal paling sehat dan bugar. Tak pernah ada riwayat penyakit berat atau keluhan apa pun. "Tapi ternyata Romo Reko yang lebih dahulu dipanggil Tuhan pada usia 60 tahun. Sementara beberapa romo sepuh yang kita sangka dapat antrean di depan malah masih segar bugar," kata Romo
Jus.

Romo Jus mengaku tak pernah mengira rekan kerjanya itu terkena serangan jantung mendadak. Begitu mendadaknya sehingga tak ada seorang pun di pastoran yang tahu. Diduga kuat, Romo Reko sudah meninggal dunia lebih dari 10 jam sebelum jenazahnya diketahui oleh koster gereja.

"Inilah misteri kematian itu. Kacamata manusia selalu berbeda dengan kacamata Tuhan. Tuhan punya rencana sendiri. Ia memanggil kita kapan saja sesuai dengan kehendak-Nya," kata Romo Jus.

Tak ada firasat atau pesan khusus sebelum Romo Reko menghadap Sang Pencipta. Namun, romo yang murah senyum ini pernah meminta keluarganya untuk tidak memikirkan dirinya. "Sebab, sudah ada yang ngurus," kata Romo Jus menirukan kata-kata Romo Reko.

Benar saja. Mendengar kabar kematian Romo Reko Boleng, umat Katolik terus berdatangan untuk memberi penghormatan serta mengurus berbagai keperluan hingga pemakaman di kompleks Gua Maria Lourdes, Puhsarang, Kediri.

Selamat jalan Romo Reko! Resquescat in pace!

19 January 2015

Merpati merintis, SusiAir dan TransNusa menikmati

Setiap kali melihat Bandara Gewayantanah di Larantuka dan Bandara Wunopito di Lembata, Nusatenggara Timur, saya selalu ingat Merpati. MNA: Merpati Nusantara Airline nama lengkap maskapai plat merah itu. Maskapai yang terus merugi sehingga tak lagi terbang di udara Indonesia.

Dulu, tahun 1980an, Menteri Perhubungan Rusmin Nuryadin getol membuka banyak lapangan terbang (lapter) perintis di seluruh Indonesia. NTT sebagai provinsi kepulauan kebagian lapter-lapter itu. Termasuk di Larantuka dan Lewoleba itu. Selain Bandara Eltari di Kupang, 13 bandara di NTT itu memang berstatus lapangan terbang perintis.

Namanya juga perintis, kondisi Gewayantanah dan Wunopito dulu benar-benar memprihatinkan. Rumput-rumput liar begitu tinggi. Seperti padang rumput untuk beternak kambing atau sapi. Kantornya juga sangat jelek. Belum ada penerbangan berjadwal.

Tapi, syukurlah, sesekali pesawat Merpati mendarat di lapter yang penuh rumput itu. Tentu saja pesawat baling-baling macam TO dan sejenisnya. Sebab pesawat macam ini tidak butuh landasan pacu yang panjang. Merpati benar-benar berjasa memperkenalkan moda transportasi udara kepada warga NTT yang masih terbelakang itu.

Sepanjang masa Orde Baru, Merpati bisa hidup karena kebijakan pemerintah yang membatasi maskapai penerbangan hanya lima biji: Merpati, Garuda, Bouraq, Mandala, dan Sempati. Merpati dapat misi khusus melayani penerbangan perintis seperti ke NTT. Syukurlah, saya pernah sekali merasakan penerbangan Merpati yang penuh goncangan sebelum tahun 2000.

Setelah Orde Baru jatuh, kebijakan pemerintah pun berubah. Bisnis penerbangan dibuka selebar-lebarnya. Merpati yang tidak punya pengalaman bersaing di pasar bebas kelimpungan. Garuda juga goyang, sebelum kini bangkit lagi sebagai maskapai plat merah yang berhasil. Bouraq tutup. Sempati lebih dulu gulung tikar. Mandala sempat berjaya tapi akhirnya kolaps juga.

Praktis, maskapai-maskapai yang bermain bisnis di udara merupakan pemain-pemain baru. Kecuali Garuda. Lantas, bagaimana nasib bandara-bandara kecil yang dirintis dengan susah payah oleh Merpati sejak 1980an itu? Nah, rupanya pemain-pemain baru ini jauh lebih jeli, cerdas, dan efisien dalam melihat pasar.

Bandara-bandara di NTT memang kecil, landasan pacu kurang dari 2 kilometer. Tapi bisa dimanfaatkan untuk pesawat-pesawat berukuran kecil dan sedang. Maka berdirilah TransNusa, maskapai milik pengusaha asal Alor, NTT. Dia memanfaatkan belasan lapangan terbang perintis yang dibuat pemerintah-pemerintah daerah dan dirintis Merpati itu.

Merpati sendiri sudah sempoyongan karena mismanajemen. Rugi terus! "Padahal, tiketnya jauh lebih mahal daripada TransNusa dan SusiAir. Aneh, yang jual mahal malah bangkrut, sementara yang jual murah malah untung terus," kata beberapa orang Lembata yang tinggal di dekat Bandara Wunopito.

Masuknya TransNusa membuat dunia penerbangan di NTT sangat bergairah. 14 bandara kecil di NTT tiap hari ada penerbangan. Ada yang sekali sehari, dua kali, ada yang tiga kali. Dulu di era Merpati, penerbangan sekali seminggu saja sudah dianggap luar biasa. Dan, yang penting, tiketnya pun lebih terjangkau ketimbang Merpati di era monopoli.

Sukses TransNusa segera menarik pemain-pemain lain ke NTT. SusiAir yang tadinya bermain di Papua dan Maluku masuk juga ke NTT. Ada juga Wings Air dan beberapa maskapai lagi yang mengandalkan pesawat-pesawat kecil.

Kompetisi di antara airlines ini jelas menguntungkan konsumen. Si maskapai tak bisa lagi seenaknya mematok tarif yang mahal. Maskapai yang dulu pasang tarif Rp 900 ribu rute Lembata-Kupang kini jual tiket Rp 600 ribu. Sebab, saingannya muncul dengan tiket Rp 650 ribu.

Sayang, Merpati Nusantara Airlines tidak ikut menikmati kue penerbangan di NTT, juga wilayah lain di Indonesia timur, yang makin gurih itu. Capek-capek merintis dari NOL, bahkan minus, tapi tak bisa memetik hasilnya. Tapi, yang pasti, jasa baik Merpati sebagai maskapai penerbangan perintis akan tetap dicatat dalam sejarah. (*)

18 January 2015

Siaran eksekusi mati sambil senyum

Sejak pesawat AirAsia dinyatakan hilang, 28 Desember 2014, televisi-televisi nasional berlomba bikin siaran langsung. Berjam-jam. Tiap hari. Lama-lama kita bosan karena durasinya terlalu panjang dan analisis pengamat cuma diulang-ulang saja. Kalaupun suatu ketika ada tragedi serupa, analisisnya pun akan sama. Pengamatnya juga mungkin sama aja.

Tapi breaking news AirAsia QZ 8501 ini punya nilai human interest yang tinggi. Kita bisa lihat kerja keras penyelam, basarnas, hingga para dokter yang mengidentifikasi korban di RS Bhayangkara Surabaya. Kita jadi akrab dengan istilah black box, ante mortem, post mortem, DVI, LCC, dan sebagainya. Banyak ilmu yang kita serap setelah menyaksikan liputan AirAsia selama hampir tiga minggu ini.

Setelah AirAsia tidak lagi menarik, masyarakat mulai bosan, beberapa televisi swasta gantian membuat siaran langsung eksekusi mati. Human interest-nya jelas tinggi. Tapi bagi sebagian masyarakat, seperti saya, siaran langsung eksekusi mati ini sangat mengerikan. Apalagi si presenter menghitung mundur 4 jam lagi 6 terpidana akan ditembak mati.

Tim tvOne bahkan tampak begitu semangat blusukan ke lapangan tembak di Nusakambangan yang katanya akan dipakai untuk menembak narapidana kasus narkoba itu. Kemudian kamera menyorot Danish, terpidana yang mati-matian menolak dibawa ke Nusakambangan karena tidak mau ditembak mati. Dia ingin dihukum seumur hidup saja.

Ya, semua orang akan mati! Tapi kematian yang sudah ditentukan jadwalnya, tempatnya, caranya... pasti sangat menakutkan. Mengerikan! Tapi sang presenter televisi terlihat senyam-senyum melihat ulah bandar narkoba asal Afrika yang tidak siap mental untuk ditembak mati oleh tim Brimob itu. Dua komentator yang mendampingi presenter pun beberapa kali tersenyum.

Saya sendiri ikut petisi menolak eksekusi mati Fabianus Tibo dkk beberapa tahun lalu. Sejak itu saya konsisten menentang eksekusi mati di Indonesia. Tapi saya menghargai sikap pemerintah Indonesia, dan sebagian besar warga Indonesia, yang sangat mendukung hukuman mati. Dengan seribu satu alasan.

Saya yakin banyak orang Indonesia yang juga menolak hukuman mati. Termasuk Komnas HAM dan banyak LSM. Termasuk sebagian agamawan. Karena itu, eksekusi mati ini sebetulnya masih kontroversial di Indonesia. Dan, saya yakin banyak negara yang tidak senang melihat Indonesia masih menerapkan pidana mati.

Karena itu, televisi-televisi atau media massa seharusnya punya tenggang rasa. Empati. Mau mencoba berbela rasa dengan keluarga terpidana dan masyarakat yang menentang hukuman mati. Bukan malah membuat siaran langsung eksekusi mati sambil guyon atau bercanda layaknya siaran langsung resepsi pernikahan artis atau event hiburan.

Saya tidak tahu bagaimana televisi-televisi di Eropa atau Amerika membuat liputan eksekusi mati. Tapi rasa-rasanya tidak ada siaran langsung berjam-jam, mulai persiapan, wawancara keluarga, mengikuti ambulans yang membawa peti mati, lapangan tembak, hingga jenazah diserahkan kepada keluarga korban.

Yang saya ingat, ketika Sadam Husein, mantan penguasa Irak, dieksekusi, tidak ada siaran langsung di televisi barat. Apalagi laporan menit per menit, komentar hakim agung, dsb. Warga dunia baru terkejut mendengar berita bahwa Sadam Husein sudah dieksekusi. Gambar yang beredar pun hanya rekaman foto/video amatir yang mungkin dibocorkan orang dalam.

Indonesia memang beda!

17 January 2015

Wong sing nampa akeh ora turah

Sudah lama saya tidak membaca Alkitab yang dari buku. Biasanya saya cuma menengok bacaan kitab suci di internet yang akan dibahas saat misa hari Minggu. Yang pakai versi bahasa Inggris sederhana.

Kok pagi ini tiba-tiba saya ingin sekali baca Alkitab. Kebetulan ada kitab suci bahasa Jawa yang nganggur sangat lama. Saya buka secara acak. Ketemu ayat ini: "Wong sing nampa akeh ora turah. Wong sing nampa sethithik ora kurang" (2 Korintus 8:15).

Saya tertegun lama. Di otak saya langsung terbayang rekening gendut. Isinya miliaran rupiah. Mungkin triliunan. Duit yang luar biasa banyaknya. Dan itu milik aparat keamanan yang gaji resminya sekitar Rp 10 juta atau paling banyak Rp 25 juta. Gaji resminya sedikit, kok penghasilannya miliaran rupiah? Dari mana uang itu? Kayak hujan duit dari langit aja!

Tak lama kemudian memori saya menghadirkan unjuk rasa ratusan guru honorer di Sidoarjo belum lama ini. Para guru ini minta agar penghasilannya dinaikkan. Kalau bisa sih disamakan dengan UMK buruh yang Rp 2,2 juta sebulan. Asal tahu saja, guru-guru tidak tetap di Kabupaten Sidoarjo ini dibayar Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta per bulan. Tak ada yang dibayar Rp 2 juta.

Kok bisa guru-guru tidak tetap ini bisa hidup dengan gaji segitu! Punya istri, anak, cicil ini itu dan sebagainya. Sementara yang gajinya Rp 10 juta, Rp 20 juta, bahkan Rp 50 juta sebulan masih kurang. Masih terus dipasok uang puluhan juta, ratusan juta, secara rutin. Ajaib memang hidup ini.

Wong sing nampa akeh, ora turah!
Wong sing nampa sethithik, ora kurang!

Saya kemudian membuka Kitab Pangentasan (Keluaran) yang dirujuk perikop 2 Korintus 8 ini. Cerita tentang Tuhan memberikan roti dari surga dan burung gemak (puyuh) kepada bangsa Israel yang sedang eksodus dari Mesir. Mereka takut mati kelaparan. Yahwe bersabda:

"Aku bakal nekakake pangan kaya udan saka ing langit kanggo kowe kabeh. Saben dina kowe kudu padha nglumpukake pangan kuwi sacukupe kanggo sedina." (Keluaran 16:4).

Luar biasa! Makanan berlimpah dicurahkan seperti hujan dari langit. Tapi, namanya juga manusia, apalagi bangsa Israel yang memang ndablek, ada saja yang khawatir kaliren alias kelaparan. Orang berlomba mengumpukan manna dan puyuh sebanyak-banyak. Seakan-akan kapasitas perut manusia itu tak terbatas.

"Wong sing nampa akeh, ora turah!
Wong sing nampa sethithik, ora kurang!"

Betapa dalamnya petikan ayat kitab suci ini. Betapa Tuhan sejak awal sudah mengingatkan manusia agar tidak tamak, serakah, penuh nafsu untuk mengumpulkan kekayaan sebanyak-banyaknya, bahkan dengan jalan korupsi, jualan narkoba, jualan PSK, dan aneka tindak kejahatan lainnya.

Berkah dalem!

16 January 2015

Jokowi... oh Jokowi...

Siapa menabur angin akan menuai badai! Jokowi, presiden kita yang gebrakannya sangat meyakinkan di awal masa jabatan, bikin keputusan yang aneh bin ajaib bin konyol. Mencalonkan Komjen Budi Gunawan sebagai kapolri.

Jokowi rupanya lupa kalau menabur angin itu bakal dapat badai. Dia lupa AirAsia baru saja celaka gara-gara ditelan badai. Dia lupa bahwa rakyat terus mengawasi gerak-geriknya. Dia lupa salah satu program prioritasny: memberantas korupsi!

Jokowi lupa bahwa pada Oktober 2014 Komjen Budi Gunawan sudah dapat rapor merah dari KPK dan PPTAK. Isinya sangat gamblang: Budi tak layak dijadikan menteri karena rapornya merah! Ada rekening gendut. Transaksi mencurigakan.

Eh, kok bisa-bisanya dicalonkan jadi kapolri. Opo tumon! Kepriye?

Bukankah kompolnas yang menyodorkan nama-nama calon ke presiden? Bukankah semuanya layak dipilih? Bukankah kompolnas sudah menyatakan rekening gendut itu tidak bermasalah?

Pak Presiden, rakyat Indonesia tidak bodoh bin goblok! Rakyat tahu betul kualitas investigasi KPK dan PPTAK serta kompolnas + kepolisian di sisi lain. Rakyat sangat percaya investigasi KPK, Bung! Maka mengabaikan putusan KPK yang menetapkan BG sebagai tersangka sama saja dengan bunuh diri.

Betapa konyol kalau seorang tersangka, apalagi kasus korupsi, malah dijadikan kapolri! Dan kekonyolan itu akibat kenekatan Jokowi yang ngotot mengusulkan nama BG. Akibatnya jadi runyam dan kacau seperti sekarang.

Badai makin dahsyat karena ternyata DPR RI kompak mendukung usulan Presiden Jokowi. Aneh bin ajaib, koalisi merah putih yang selama ini cenderung oposan dan menjegal Jokowi dengan semangat menyetujui Budi Gunawan sebagai kapolri. Mereka tak lagi menghiraukan status tersangka, rekening gendut, dan penolakan sebagian besar rakyat Indonesia.

Jangan senang dulu Jokowi! Dewan, khususnya koalisi merah putih, tentu punya hitung-hitungan sendiri. Dengan menerima bola panas BG yang dilempar Jokowi, maka presiden dipaksa untuk segera melantik BG. Dan ujung-ujungnya Jokowi akan dimaki-maki rakyat. Martabat dan popularitas Jokowi langsung ambrol. Itulah bola muntah yang disambar KMP di parlemen dengan senang hati.
Suka tidak suka, Jokowi merupakan presiden yang sangat diberkati. Begitu teman saya yang kristen karismatik. Harga minyak dunia turun dratis. Sehingga di era Jokowi kita bisa membeli bensin dengan harga terjangkau... tanpa subsidi. Inilah sejarah baru di Indonesia. Mulai menikmati bensin/premium tanpa subsidi.

Sayang, berkat dari Yang Mahakuasa itu tidak dimaksimalkan Jokowi untuk membangun sistem hukum yang lebih baik. Jokowi malah menyodorkan BG sebagai kapolri. Padahal sebelumnya Jokowi mencoret BG sebagai salah satu calon menteri kabinet kerja.

Jokowi... Oh, Jokowi! Anda sudah menabur angin dan sekarang badai sudah terjadi. Nasi sudah jadi bubur!

15 January 2015

Babi + kambing berkeliaran di Lewoleba

Lewoleba itu ibukota Kabupaten Lembata, Nusatenggara Timur. Kabupaten hasil pemekaran Flores Timur sejak tahun 2000an. Anehnya, sampai sekarang Lewoleba belum ditata layaknya ibukota kabupaten.

Betapa terkejutnya saya melihat hewan ternak masih berkeliaran di pekarangan, lapangan, dan lahan-lahan kosong. Lapangan bola di Lewoleba bahkan seakan jadi tempat peternakan kambing. Begitu banyak kambing yang memanfaatkan rumput hijau di lapangan yang seharusnya paling baik di seluruh kabupaten itu.

"Dari dulu lapangan bola itu memang dimanfaatkan untuk menggembala kambing," kata seorang warga Lewoleba datar.

Tak ada rasa aneh atau janggal kalau stadion sepak bola di ibukota Kabupaten Lembata disalahgunakan seperti itu. Bagaimana mungkin sepak bola di Lembata maju kalau lapangan bola terbaiknya dibiarkan seperti itu. Anehnya, pengurus sepak bola, KONI kabupaten, pelatih bola senior, pemain-pemain bola diam saja. Menganggap sebagai hal biasa di Lembata.

Para polisi yang markas polresnya berada di samping lapangan bola pun cuek bebek. Mungkin karena beternak kambing di Stadion Lewoleba bukan tindak pidana. Mungkin dianggap kearifan lokal orang Lembata, NTT, yang memang sejak dulu diwajibkan memelihara kambing dan babi (pao witi wawe) untuk urusan adat Lamaholot.

Yang paling aneh, dan harusnya tidak boleh ada di Kota Lewoleba, adalah kebiasaan memelihara babi dan/atau kambing di belakang atau samping rumah. Saya perhatikan secara acak, sebagian besar rumah di Lewoleba dilengkapi kandang babi. Atau kambing. Halaman rumah tidak dimanfaatkan untuk menanam sayur atau buah tapi... PAO WITI WAWE. Memelihara kambing + babi.

"Beternak babi dan kambing itu hasilnya banyak. Harganya selalu naik dan bisa kita pakai untuk urusan adat. Hidup di Lembata kalau tidak pao witi wawe susah," kata seorang Ina (mama) di Lewoleba.

Kata-kata beberapa warga Lewoleba ini sangat benar. Sangat khas suku Lamaholot yang mendiami Kabupaten Lembata, Kabupaten Flores Timur, dan Kabupaten Alor -- tiga kabupaten besar di Provinsi NTT. Sebagai orang etnis Lamaholot, saya pun pernah menjalani ritual pao witi wawe di kampung halaman, sekitar 25 km dari Kota Lewoleba.

Persoalannya, Lewoleba ini ibukota kabupaten. Bukan lagi desa atau kampung di pelosok. Setiap hari ada penerbangan berjadwal, punya pelabuhan feri, pelabuhan kapal penumpang, bongkar muat di pelabuhan juga lumayan bagus. Maka Lewoleba tidak bisa dibiarkan begitu saja seperti desa-desa di Lembata pada era 1980an dan 1990an.

Saat berlibur di kampung halaman, Kecamatan Ileape, tetangganya Lewoleba, akhir 2014, saya melihat perubahan yang luar biasa. Budaya pao witi wawe memang masih hidup dan berkembang, tapi tak ada lagi kandang babi dan kambing di dalam kampung.

Silakan pao witi wawe, tapi bikinlah kandang jauh di luar kampung. Ini bukan sekadar imbauan. Semua desa bikin perdes, peraturan desa, yang mengatur tata cara beternak babi dan kambing. Kalau ayam kampung sih masih berkeliaran karena boleh dipelihara di dalam kampung.

Perdes tentang ternak babi + kambing ini memang menimbulkan konsekuensi yang berat buat penduduk. Mereka harus mendaki setiap hari menuju kandang babi + kambing karena kampung-kampung di Ileape memang berada di bukit yang cukup tinggi. Ngos-ngosan. Capek. Tapi demi kesehatan dan kebersihan, warga sudah melakoni kebiasaan baik ini selama 10 tahun lebih.

Lantas, mengapa justru Kota Lewoleba masih membiarkan kandang babi dan kambing di pinggir rumah-rumah penduduk? Bukankah tingkat pendidikan penduduk Lewoleba jauh lebih tinggi dari orang-orang kampung di Ileape, Atadei, Nagawutung, atau Kedang? Mengapa orang-orang kampung yang sering dianggap udik itu justru mampu menerapkan budaya pao witi wawe yang jauh lebih modern? Ada baiknya orang kota belajar dari orang desa!

14 January 2015

KPK Selamatkan Jokowi

Betapa lega rasanya hati ini mendengar kabar Komjen Budi Gunawan ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK. Alhamdulillah! Puji Tuhan! Akhirnya doa saya terkabul.

KPK yang dipimpin Abraham Samad ibarat malaikat penolong yang menyelamatkan bangsa ini. Sebelum sang komjen yang sudah lama diisukan punya rekeningan gendut, punya tumpukan harta mencurigakan, itu dilantik sebagai orang nomor satu di lingkungan kepolisian.

Presiden Jokowi layak dipuji ketika menyeleksi calon menteri-menterinya. Nama-nama calon disetor ke PPATK dan KPK untuk diperiksa. Dengan begitu, para menteri kabinet kerja bisa dipastikan tak punya transaksi mencurigakan. Juga tak terlibat kasus korupsi.

Sayang, Jokowi ternyata tidak konsisten dengan pola rekrutmen pembantunya. Saat menentukan jaksa agung, HM Prasetyo, Jokowi tak mendengar suara publik. Tahu-tahu saja mantan jaksa yang juga politisi Nasdem itu ditunjuk jadi jaksa agung. Rekam jejak Prasetyo kurang meyakinkan publik.

Yang paling kontroversial adalah calon kapolri ini. Jokowi yang baru dua bulan lebih jadi presiden makin cuek aja. Budi Gunawan yang sudah lama jadi sorotan malah dipilih. Dan, ketika dipersoalkan wartawan di Surabaya, Jokowi berlindung di balik hak prerogatifnya.

"Kalau ada yang dekat, kenapa pilih yang jauh," katanya tentang Komjen Budi Gunawan.

Saya pun gregetan. Jokowi ternyata sudah berubah dalam waktu yang sangat singkat. Kesan pertama yang sangat meyakinkan langsung patah dalam kasus penunjukkan jaksa agung dan kapolri. Padahal dua posisi ini justru sangat-sangat penting untuk memperbaiki karut-marut penegakan hukum di Indonesia.

Syukurlah, sekali lagi, kita punya KPK. Abraham Samad muncul di injury time untuk menyelamatkan Jokowi dari jurang politik yang bisa menggerus legitimasinya. Betapa leganya hati ini.

Semoga Jokowi segera siuman dan insaf. Jangan sekali-kali mengabaikan suara rakyat dengan berlindung di balik asas praduga tak bersalah. Terima kasih kepada KPK yang sudah menampar wajah Jokowi!

13 January 2015

Jumaadi Curhat soal Wisata Kuliner

Belasan tahun tinggal di Sydney, Australia, rajin melalanglang buana untuk bikin pameran seni rupa, Jumaadi akhirnya kembali ke kampung halamannya di Sidoarjo. Menyepi bersama istrinya, wanita kulit putih Australia, di rumah kayu yang antik di Desa Sekardangan, tak jauh dari lingkar timur.

Sekardangan sudah jauh berubah. Beda jauh dengan era 1980-an dan 1990-an. Kampung petani, sawah-sawah luas, tinggal kenangan. Penduduk asli Sekardangan boleh dikata sudah kalah banyak ketimbang penghuni perumahan-perumahan yang banyak itu. Tapi Mas Jumaadi rupanya masih punya kenangan kuat pada masa lalu. 

"Bau tanah di sini masih sama," kata sang pelukis yang baru gelar pameran di Amerika Serikat ini.

Di kediaman Jumaadi, yang dulu pernah jadi rumah budaya Pecantingan, sang ibunda setiap hari memasak. Menyediakan makanan untuk Jumaadi dan pengunjung Pecantingan. Yah, warung sederhana dengan sajian ikan dari kolam di samping rumah joglo berusia tua. Ikan nila di Pecantingan ini besar-besar dan enak.

Semakin lama di Sidoarjo, jalan-jalan ke berbagai kota di Jawa, sesekali lihat televisi, Jumaadi menemukan wisata kuliner yang makin marak di Indonesia. Orang seperti berpesta makan enak. Acara-acara televisi penuh dengan kuliner, dipandu koki plus presenter yang tidak takut gemuk dan kolesterol.

Saya pun tertegun membaca tulisan pendek Jumaadi:

"Dengan semakin maraknya wisata kuliner, apakah menunjukkan bahwa secara ekonomi kita lebih mempunyai kekuatan untuk berbelanja? Apakah waktu utk memasak semakin sedikit? Apakah selera lidah kita semakin beragam? Bagaimana dengan kesehatan, gizi, dan cara penanganan masakan siap saji? Sama halnya dengan masakan di rumah?"

Yah, rasanya semua ada benarnya. Orang Indonesia makin mampu makan di restoran atau tempat-tempat makan enak yang mahal. Waktu memasak memang makin sedikit. Jumaadi rupanya tidak tahu bahwa saat ini makin sedikit wanita Indonesia yang bisa memasak. Kecuali masak air dan mi instan. 

Bagaimana dengan kesehatan? Gak ngurus, Mas. Pembeli yang doyan makan enak tak ambil pusing meski si pengusaha kuliner itu menggunakan MSG yang banyak. Belum lagi makanan-makanan siap saji yang sejak dulu dianggap junk food.

Mas Jumaadi, Sidoarjo memang sudah berubah banyak sekali. Makin modern. Makin sibuk orangnya. Makin sulit mencari teman-teman yang punya waktu untuk ngobrol lama, ngalor-ngidul, tanpa dikejar-kejar waktu. Mungkin itu pulalah yang membuat sanggar-sanggar seni, kantong-kantong kesenian, padepokan, di Kabupaten Sidoarjo kini mangkrak.

Syukurlah, Mas Jumaadi mau kembali ke Sekardangan, menikmati rumah tua, kolam ikan, rimbun pohon bambu, yang dikepung berbagai perumahan. Semoga sampean mendapat banyak inspirasi sebelum kembali lagi ke negeri kanguru. 

12 January 2015

Misionaris Korea di AirAsia QZ 8501

Park Seong-beom, 37 tahun, misionaris asal Korea Selatan, tercatat sebagai salah satu korban pesawat AirAsia QZ8501. Pendeta yang tinggal di Malang sejak September 2014 itu meninggal bersama istrinya, Lee Kyung-hwa, serta seorang bayi mereka. 

Park dan keluarga sedianya akan mengurus visa. Namun, takdir berkata lain. AirAsia kecemplung ke laut dan menewaskan semua penumpang dan awak pesawat yang berjumlah 162 orang itu.

Tak banyak yang tahu, termasuk orang Kristen sendiri, bahwa Korea ternyata merupakan negara Asia yang paling banyak mengirim misionaris ke 169 negara di dunia. Korea Selatan hanya kalah dari Amerika Serikat yang masih tercatat sebagai pengirim misionaris Kristen nomor satu di dunia. Kecuali misionaris Katolik yang sejak zaman Belanda hampir tidak ada yang datang dari USA.

"Saat ini ada lebih dari 26 ribu misionaris Korea di seluruh dunia," demikian Korea World Missions Association, asosiasi gabungan berbagai denominasi gereja di Korea Selatan. Di Indonesia tercatat sekitar 700 misionaris Korea Selatan. Korea Utara tentu tidak masuk data karena negara komunis itu sangat tertutup dan sangat anti kegiatan keagamaan, khususnya nasrani.

Mengapa para misionaris Korea itu begitu getol bermisi di berbagai negara? Bukankah Indonesia sendiri sudah kelebihan stok pendeta, khususnya gereja-gereja aliran begituan? Bukankah banyak pendeta di Indonesia tak kebagian jemaat, sehingga nekat merebut domba-domba dari gereja lain? 

Masih banyak pertanyaan dan gugatan seperti itu. Tapi Korea Selatan ini memang lain dari lain. Sejak 1980-an negara ginseng ini mengalami kebangunan rohani atau revivalisme yang luar biasa, khususnya kekristenannya. Terlepas dari komentar miring banyak pihak tentang kegetolan New Born Christian, orang-orang Kristen yang lahir baru, di Korea Selatan yang getol bikin mega-mega church alias gereja-gereja berukuran raksasa. 

Orang-orang Korea yang lahir baru ini, yang sebetulnya tidak punya tradisi nasrani seperti orang Eropa atau Amerika, merasa perlu memberitakan Injil ke seluruh dunia seperti tertulis di Matius 28:19-20. Ketika misionaris-misionaris tua dari Eropa sudah tiada, yang hidup pun kini ringkih di panti jompo, sementara orang-orang Kristen lama di Indonesia pun cenderung malas dan apatis, misionaris-misionaris Korea muncul dengan gairah baru. 

Berbeda dengan pastor-pastor Barat yang kelihatan bulenya, mudah dicurigai, mengundang seribu tanya dari pribumi, misionaris-misionaris Korea ini bisa melebur (dan menyamar) dengan mudah. Posturnya mirip Tionghoa. Orang-orang Korea pun sangat banyak di Indonesia karena memang perusahaan-perusahaan Korea tidak sedikit. 

Kita, orang Indonesia, pun selama ini menganggap bangsa Korea itu beragama Buddha atau kepercayaan ala Tionghoa. Mana ada orang Korea yang nasrani? Saya sendiri pernah mengenal orang Korea yang berdomisili di Jawa Timur selama hampir lima tahun. Selama itu pula saya tidak tahu kalau dia itu Kristen. 

"Oh, ternyata orang Korea ada yang Kristen juga," kata saya setelah mengetahui Mr Lee itu kristiani. 

Park Seong-beom, yang meninggal di AirAsia bersama istri dan anaknya itu, pun sehari-hari tak dikenal sebagai misionaris di Kota Malang. Sebelumnya dia bertugas selama lima tahun di Kambodia. Bahasa Indonesianya masih terbata-bata. Setiap hari dia mengajar bahasa Korea dan komputer di kota apel itu. 

Orang baru tahu kalau dia evangelis, misionaris awam (yang tidak tertahbis), setelah namanya disebut-sebut sebagai korban tragedi AirAsia.

11 January 2015

Koran masih favorit di Surabaya

Pagi ini, di sebuah warung kopi di Gedangan, Sidoarjo, duduk lima laki-laki. Empat orang asyik baca koran Jawa Pos. Satu orang main HP. Sementara SCTV menayangkan berita gosip Nazar dan Musdalifah.

"Nanti malam seru. Barca lawan Atletico. Kayaknya Atletico menang," kata Cak Anto usai membaca preview pertandingan di Jawa Pos.

"Kotak hitam belum ketemu," komentar yang lain. "Kok ada PNS korupsi di Sidoarjo baru ketahuan sekarang. Bupatinya baru tahu sekarang," sambung yang lain.

Bukan main Surabaya dan Sidoarjo. Di dua kota bertetangga ini hampir semua warung berlangganan koran entah Jawa Pos, Surya, atau Radar Surabaya. Koran disiapkan si pemilik warung agar dibaca pengunjung. Jadi bahan diskusi yang sangat hidup.

Karena itu, analisis bola, politik, artis, hingga penerbangan di warung-warung kopi di Surabaya dan Sidoarjo sangat bermutu. Orang-orang saling melengkapi pendapat. Mereka pun tak segan-segan mencibir KMP yang dulu sangat ngotot mengunci pemerintahan Jokowi-JK.

Suasana warkop yang hidup, minat baca koran yang tinggi, ini jarang saya temukan di kota-kota lain. Apalagi di luar Jawa. Apalagi di NTT, khususnya Flores, yang sama sekali tak terlihat koran-koran baru. Orang di luar Jawa lebih banyak bicara ngalor-ngidul tanpa referensi. Karena memang tidak ada koran.

Siapa nama wakil gubernur NTT? Siapa nama bupati Lembata? Bisa dipastikan sebagian besar orang tidak tahu. Apalagi tidak ada siaran televisi lokal yang populer macam JTV dengan acara Pojok Kampung yang sangat unik itu.

Antusiasme warga Jawa Timur membaca surat kabar jelas kabar gembira buat industri media cetak. Ketika internet berkembang luar biasa, breaking news televisi nyaris 24 jam, masyarakat ternyata masih membutuhkan koran. Rela menyisihkan duit untuk berlangganan atau membeli koran eceran.

10 January 2015

Hilangnya koran di Lembata

Sebagai orang yang membaca lima koran tiap hari di Surabaya dan Sidoarjo, saya benar-benar gelisah ketika berada di Kabupaten Lembata, NTT. Apalagi sinyal Telkomsel, satu-satunya operator seluler sulit diandalkan. Dus, tak ada akses ke internet.

Tak ada satu pun koran atau majalah yang saya temukan di kampung halamanku itu. Memang ada televisi, parabola sudah lama masuk desa, kualitas gambar sangat prima, tapi saya butuh koran. Saya orang koran. Saya harus membaca koran rutin. Tak harus tiap hari. Mingguan pun tak apa.

Hilangnya media cetak di Kabupaten Lembata, tak hanya di kampung saya, benar-benar kemunduran yang luar biasa. Mengapa? Ketika saya masih SD di kampung Mawa, bapak saya jadi penyalur tiga media cetak: koran mingguan DIAN, majalah mingguan Katolik HIDUP, dan majalah anak-anak KUNANG-KUNANG. Selain Hidup yang diterbitkan di Jakarta, dua media cetak lain itu terbitan Ende, Flores.

"Dian dan Kunang-Kunang sudah lama tidak dikirim ke sini. Majalah Hidup juga tidak ada lagi yang urus," kata bapak saya.

Jalan hidup saya jadi begini ya karena tiga media cetak yang dulu numpuk di rumahku itu. Tulisan pertama saya dimuat di Kunang-Kunang, yakni reportase ke Seminari Hokeng. Saya pernah jadi kolumnis di mingguan Dian. Pernah jadi koresponden Hidup saat mahasiswa.

Bukan hanya tiga media cetak terbitan Katolik itu yang hilang di Lembata. Surat kabar Suara Karya yang dulu numpuk di rumah kepala desa, jadi bahan bacaan orang kampung, pun tak ada lagi. Koran-koran lokal macam Flores Pos atau Pos Kupang pun nihil.

Sambil mencari sinyal seluler di pantai, agar bisa mengintip situs berita di internet, saya merenung sendiri. Ironis! Sebab orang justru orang Lembata yang pertama kali menerbitkan surat kabar di NTT bernama DIAN pada 1973. Dialah Pastor Alex Beding SVD. Koran Dian inilah yang dulu jadi surat kabar yang paling terkenal di NTT, khususnya Flores dan sekitarnya.

Bagaimana mungkin tradisi literasi, media cetak, yang berusia cukup panjang di Flores dan Lembata justru hilang di tahun 2014. Saya masih ingat dulu anak-anak di Mawa, orang dewasa, begitu haus bacaan. Dian-Dian yang lama, majalan Kunang-Kunang, Hidup, berita-berita basi, pun dibaca dengan lahap di pinggir pantai. Sebagian anak sekolah kemudian seakan berlomba menulis cerita ringan agar bisa dimuat di Kunang-Kunang.

Saya termasuk beruntung karena karangan kecil saya paling sering dimuat di halaman 3 Kunang-Kunang. Teman-teman yang karangannya belum dimuat pun terus mencoba mengirim cerita meski tidak pernah dimuat. Luar biasa kelaparan membaca media cetak saat itu.

Kini, di Lembata, di tanah yang melahirkan wartawan legendaris sekaliber Pater Alex Beding SVD, Marcel Beding, atau Prof Gorys Keraf dengan kajian linguistiknya yang luar biasa itu surat kabar tak ada lagi. Saya pun coba mengais-ngais tumpukan kertas di atas lemari yang berdebu. Saya ketemu Jawa Pos edisi Desember 2013, koran yang saya bawa dari Surabaya setahun yang lalu.

"Buat apa baca koran kalau berita-berita sudah ada semua di televisi?" ujar seorang tokoh masyarakat di Lembata. Pendapat yang sangat tidak menguntungkan industri newspaper!

Budaya sepeda hilang di Lembata

Pagi ini saya melihat begitu banyak pesepeda di Kedungcowek, Surabaya, kaki Jembatan Suramadu. Tua muda, pria wanita, cangkrukan sembari menikmati kopi hangat bikinan ibu asal Madura yang buka kedai sederhana di bawah pohon bidara.

Ramai banget obrolan para penggowes itu. Peristiwa AirAsia jadi tema utama. Soal manajemen maskapai yang amatiran, izin terbang, hingga mafia penerbangan. "Kalau gak ada izin, masak bisa terbang ke Singapura? Berbulan-bulan? Wong angkot aja ada izin trayeknya," kata seorang bapak yang mendominasi obrolan.

Saya asyik membaca berita utama Jawa Pos: 61 Penerbangan Dibekukan! Lion Air paling banyak melanggar: 35 kali. Bukan main! Ke mana saja pejabat kemenhub selama ini? Kita baru ribut setelah pesawat jatuh, menewaskan semua penumpang. Andai AirAsia tidak nyungsep ke laut, kita tak akan tahu kebobrokan di kemenhub.

Ah, tapi saya tak mau bahas AirAsia. Bosan. Sudah hampir dua minggu berbagai media membahas panjang lebar. Saya bahkan sampai tak tertarik lagi melihat prosesi kedatangan jenazah korban di Lanudal Juanda atau sekadar mampir di RS Bhayangkara.

Saya justru tertarik dengan sepeda pancal yang begitu banyak di Suramadu itu. Ada yang kelas bakul bumbu, Rp 200 ribu, hingga yang di atas Rp 10 juta. Ada juga sepeda tua zaman perang yang masih sangat terawat. Semuanya melebur begitu saja di komunitas nggowes dadakan itu.

Saya lantas ingat Lembata, kabupaten kecil di NTT, tempat saya cuti akhir tahun kemarin. Kabupaten yang SPBU-nya hanya SATU biji. Bensin botolannya mahal banget. Kabupaten yang dulu begitu banyak sepeda pancal lalu lalang di jalan raya kelas perdesaan. Saya pun aktif bersepeda menyusuri jalan-jalan antarkampung. Bahkan meluncur dari Mawa sampai ke Lewoleba sekitar 25 kilometer.

Itu semua tinggal kenangan. Akhir Desember 2014 saya sengaja duduk di pinggir jalan raya Desa Lamawara. Wow, cukup banyak sepeda motor, pikap ada beberapa, warga yang jalan kaki ke kebun masih banyak. Tapi tidak ada satu pun sepeda angin!

"Sepeda itu kendaraan masa lalu. Orang Lembata sekarang lebih suka naik Honda," kata adik saya sembari tersenyum. Di kampung saya, semua sepeda motor disebut Honda apa pun mereknya.

Dua sepeda pancal merek Rhaleigh dan Phoenix di rumah saya sudah dimakan hantu. Padahal sepeda itu enteng dan kuat. Beda dengan sepeda yang sering saya pakai olahraga pagi di Surabaya.

Di Lewoleba, ibu kota Kabupaten Lembata, pun saya tak melihat orang naik sepeda. Sekadar ke tempat kerja yang jaraknya kurang dari satu km pun warga Lewoleba pakai sepeda motor. Baik ojek maupun antar jemput keluarga. "Heku ti nete sepeda?" kata adik saya yang lain yang kerja di RSUD Lembata. Tiap hari si Erni ini naik motor matic.

Begitulah. Sepeda memang benar-benar tinggal sejarah di Lembata dan sejumlah kabupaten di NTT. Tren orang kota ramai-ramai nggowes, naik sepeda pancal, bahkan bike to work sama sekali tidak berefek di Lembata. Anak-anak muda, pelajar, pun terkesan malu bersepeda angin ke sekolah.

Sayang sekali. Budaya bersepeda yang pernah sangat meluas di Pulau Lembata itu tenggelam dalam waktu kurang dari 15 tahun. Hanya karena orang gandrung kredit Honda, eh sepeda motor. Orang kampung rupanya lupa bahwa bensin itu mahal dan langka. Orang lupa bersepeda itu jauh lebih efisien dan sehat.

08 January 2015

Pramugari yang ketus dan galak


Sambil menunggu pesawat TransNusa, yang telat dua jam lebih di Bandara Wunopito, Lembata, NTT, Romo Adrian Ola banyak cerita pengalamannya ke banyak negara. Tentang maskapai-maskapai asing yang service oriented. Romo yang bertugas di Timor Leste ini secara khusus memuji Singapore Airlines.

"Singapura memang luar biasa," kata pastor asal Adonara ini.

Begitu konsennya pada pelayanan, penumpang itu raja, maskapai SQ jadi salah satu yang terbaik di dunia. Kehebatan layanan SQ makin terasa ketika kita terbang bersama maskapai Indonesia, yang pramugarinya ketus. Kurang senyum. Kalaupun senyum, kelihatan tidak wajar. Terpaksa.

Saya menyimak cerita Romo Adrian dengan antusias. Oh, ternyata mirip pengalaman saya selama ini. Kualitas pelayanan maskapai kita, ketepatan waktu, senyum dan sapa pramugari... memang masih jauh dari SQ.

"Baru lima menit lalu saya tahu bahwa kita tidak langsung ke Kupang tapi singgah dulu di Alor," kata romo yang sering melanglang buana itu.

Suatu ketika, katanya, dia dan penumpang lain baru tahu pesawat belok ke bandara lain untuk ambil penumpang setelah di dalam pesawat. Penumpang tak bisa apa-apa. Mau protes, si maskapai bisa ngambek dan tidak terbang lagi ke Lembata. Dulu TransNusa pernah ngambek cukup lama gara-gara pohon kelapa di sekitar bandara. Kalau gak salah dengar!

"Oh ya, romo! Saya malah baru tahu kalau pesawat ini mampir di Alor dulu. Mudah-mudahan masih ada waktu untuk mengejar Lion Air. Kalau terlambat tiket saya hangus. Mohon doanya romo!" kata saya.

TransNusa akhirnya landing di Lembata. Akhirnya, saya, romo, teman Adonara dan penumpang lain boarding. Ada dua nona pramugari yang rupanya orang NTT bagian selatan dari namanya. Lumayan cakep, kulit bening, mulus, padat berisi.

"Betul romo, orangnya ketus, tidak ramah. Tidak seperti pramugari SQ yang diceritakan tadi," ujar saya dalam bahasa daerah Lamaholot agar si pramugari itu tidak mengerti.

Sang romo tersenyum sambil geleng kepala. Nona pramugari lagi celometan karena ada penumpang yang tasnya kebesaran sehingga sulit dimasukkan ke tempat barang di atas kepala penumpang itu.

"Kok besar banget? Mestinya di bagasi," ujarnya ketus. Wajahnya yang cantik pun berubah jadi jelek. Orang-orang etnis Lamaholot kayak saya ikut ngoceh dalam bahasa daerah menyindir nona manis yang sejatinya dibayar mahal untuk melayani penumpang itu. Hehehe....

Tiba di Alor, namanya Bandara Mali, si pramugari minta segera boarding. Tapi rupanya petugas bandara tidak cekatan. Salah satu nona pramugari pun celometan dengan suara agak keras dan kasar. "Jangan keras-keras! Nanti didengar penumpang," ujar pramugari yang lain.

"Biar aja didengar penumpang. Jengkel aku!" kata si nona yang tidak manis lagi.

"Romo, pramugarinya marah-marah lagi," bisik saya kepada romo yang duduk tak jauh dari saya.

Yah, mau bagaimana lagi? Soal pelayanan, keramahtamahan, service sudah lama dibahas di tanah air. Tapi maskapai-maskapai kita rupanya menganggap angin lalu. Sulit sekali mendidik nona-nona manis menjadi pramugari yang ramah, senyum, melayani, menganggap konsumen sebagai raja.

Aneh, katanya orang Indonesi itu ramah, murah senyum, humble... Kok pramugari-pramugarinya (kebanyakan) ketus dan galak?

Akhirnya ketemu Virus Setan SAS

Sudah bertahun-tahun saya mencari buku Virus Setan karangan komponis Slamet Abdul Sjukur. Di Gramedia tak ada. Mas SAS sendiri pun tak punya. Beberapa orang dekat SAS pun tak tahu kalau ada buku esai ringan nan jenaka ala guru piano senior asli Surabaya itu.

Di internet cuma ada resensinya. Yang bahas Mas Erie Setiawan, pemusik + penulis yang juga pengagum SAS. Cukup banyak respons di internet yang rata-rata mengagumi kenyelenehan SAS. Saya termasuk pengagum berat SAS. Tuturan lisan, kuliah umum, pelajaran musik, pertemuan musik... selalu enak tapi nyelekit.

Pagi tadi secara kebetulan saya mampir ke C2O, perpustakaan yang didirikan Kathleen di Jalan Cipto 20 Surabaya. Dulu saya sering mampir kalau Mas SAS kasih ceramah musik. Kathleen gak ada, kata mas lulusan Unesa yang jaga perpustakaan.

Saya pun iseng melihat buku-buku koleksi C20. Wow, makin banyak, tebal dan berbobot. Ternyata ada buku terbaru SAS yang di-launching di Surabaya beberapa bulan lalu saat hari jadi SAS ke-79. Buku itu sudah saya baca dan ingat isinya.

Ada Virus Setan? Saya bertanya kepada penjaga C20. Saya cari dulu, jawabnya. Tidak lama kemudian dia bilang ADA. Terima kasih banget! Akhirnya... buku terbitan awal 2000an itu muncul di hadapan saya. Cukup membayar sewa Rp 4000 sudah bisa dipinjam selama dua minggu.

Virus Setan itu membahas berbagai persoalan musik di Indonesia. SAS sangat geram pada guru-guru piano di Surabaya yang dinilai terlalu mabuk penghargaan Muri dan pengakuan lembaga-lembaga Barat. Kita kehilangan identitas. Menunduk-nunduk pada bule layaknya inlander tempo doeloe.

Tapi bukan SAS kalau tidak nyentil sana nyentil sini. Bahas musik tapi larinya ke trotoar di Surabaya hingga sistem akustik yang jelek di bandara Makassar. SAS menulis:

"Saking bagusnya trotoar (di Surabaya), motor justru nggak lewat jalan tetapi lewat trotoar. Sering kali anak kecil tertabrak. Itu biasa. Saya sudah lapor ketua RT. Itu kesadaran masing-masing, katanya. Apakah kita peduli kesadaran? Nggak. Kita ini serakah. Mau menang sendiri."

Membaca tulisan SAS di Virus Setan, saya senyum-senyum sendiri dan... malu sendiri. SAS memang tak henti-hentinya menularkan virus setan dengan caranya sendiri. Matur nuwun!

Cikal Bakal Gereja di Sidoarjo: GKJW Mlaten

Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Mlaten di Desa Wonomelati, Kecamatan Krembung, tercatat sebagai gereja tertua di Kabupaten Sidoarjo. Gereja berbasis petani pribumi Jawa ini awalnya menempati sebuah kampung nasrani di sebelah barat Stasiun KA Sidoarjo sekarang.

Oleh Lambertus Hurek

Agus Susanto, tokoh GKJW Sidoarjo, menceritakan, lahan yang ditempati komunitas Kristen Jawa di Sidokare itu tempo doeloe merupakan hutan lebat. Seorang tuan tanah Belanda bernama Meneer Gunsch menghibahkan tanah itu untuk dikelola dan ditempati orang-orang Kristen Jawa asal Mojowarno, Kabupaten Jombang. Mereka tidak bisa kembali ke Ngoro karena dianggap sudah terkontaminasi dengan ajaran Kristen yang disebarkan misionaris Belanda di Surabaya.

Johanes Emde, misionaris Belanda, kemudian membangun gereja di Sidokare. Sementara itu, Meneer Gunsch membangun sebuah sekolah. Segera saja kawasan Sidokare menjadi salah satu kantong umat Kristen di Jawa Timur. Singotruno yang asli Jawa menjadi guru Injil sekaligus memimpin kebaktian rutin setiap hari Minggu.

Pada 1874, jemaat yang mengikuti kebaktian di Gereja Sidokare sekitar 200 orang, termasuk 90 warga baru. Namun, kampung nasrani di Sidokare ini ternyata tak bisa bertahan lama. Ini karena lahan yang ada tak cukup luas untuk membuka sawah bagi para penghuni yang terus bertambah. Mereka pun jatuh miskin. Meneer Gunsch kemudian mengusahakan agar orang-orang Kristen angkatan pertama ini menjadi pedagang, buka usaha kecil-kecilan. Tapi tidak gampang karena latar belakang mereka memang petani tulen. Maka, mulailah muncul ketegangan antara jemaat dan Meneer Gunsch.

Selain itu, misionaris Belanda di Surabaya kurang setuju dengan jemaat Kristen Sidokare yang melaksanakan kebaktian tanpa pendeta dan bernuansa Kejawen. Pada 1845 orang-orang Kristen di Sidokare ini mulai bedhol desa ke beberapa kawasan di Kabupaten Jombang, khususnya sekitar Mojowarno. Sejak itulah komunitas kristiani di Sidokare pun hilang tak bersisa. Tinggal catatan sejarah.

Agus Susanto, yang juga ketua Badan Musyawarah Antargereja (Bamag) Sidoarjo, mengungkapkan, migrasi besar-besaran warga Kristen Sidokare ini ternyata tidak mulus. Sebagian berhenti di kampung Wonomelati, Kecamatan Krembung. Jemaat inilah yang kemudian berkembang menjadi Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Mlaten sampai sekarang.

"Gereja di Mlaten ini didirikan tahun 1883, sedangkan baptisan pertama tahun 1875," tutur Pendeta Jonet Soedarmoko, yang pernah bertugas di GKJW Mlaten, kepada saya.

Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Mlaten yang berhadapan dengan Masjid Darussalam, Desa Wonomelati, Krembung, itu sudah mengalami beberapa kali pemugaran. Terakhir pada 1996. Bangunan asli sudah tak ada, selain kayu jati sebagai blandar di atas palfon yang masih dipakai untuk menyangga gereja berkapasitas 300-an orang ini.

Umat Kristen yang tercatat di GKJW Mlaten sekitar 300 orang. Namun, yang aktif beribadah setiap hari Minggu pukul 08.30 berkisar 125 sampai 200 orang. Sebab, banyak jemaat GKJW Mlaten yang ikut kebaktian di Sidoarjo, Surabaya, atau gereja-gereja di kota lain karena bekerja di luar Desa Wonomelati. Banyak pula yang pindah domisili.

"Mayoritas jemaat kami di Mlaten ini buruh tani atau buruh pabrik. Makanya, kolekte mingguan tidak pernah banyak," kata Pendeta Jonet Soedarmoko seraya tersenyum.

Seperti juga gereja-gereja desa yang lain di Jawa, GKJW Mlaten masih tetap mempertahankan tradisi budaya Jawa dalam kegiatan gerejawi. Kebaktian rutin, khotbah, masih dilakukan dalam bahasa Jawa. Namun, berbeda dengan jemaat Kristen Jawa tempo doeloe, gereja yang dikelilingi Pabrik Gula (PG) Krembung dan PG Toelangan ini sudah lama menggunakan alat musik Barat modern dalam kebaktiannya.

Setiap tahun jemaat GKJW Mlaten masih memelihara tradisi unduh-unduh. Yakni, upacara syukur atas hasil panen berupa padi, buah-buahan, atau palawija di kompleks gereja. Hasil unduh-unduh di Mlaten, kata Pendeta Jonet, paling banyak hanya Rp 4 juta. "Bandingkan dengan GKJW Sidoarjo yang bisa mencapai Rp 30 juta," katanya.

Jemaat perintis GKJW sudah tak ada lagi. Sekarang ini jemaat GKJW Mlaten seluruh generasi baru yang hanya mendengar cerita dari mulut ke mulut tentang betapa beratnya perjuangan generasi pelopor yang jalan kaki dari kawasan Sidokare, kemudian babat alas membuat perkampungan,
dan mendirikan gereja komunitas Jawa di Wonomelati. "Jemaat perintis terakhir itu almarhum Pak Darmo yang meninggal tahun 2005," tutur pendeta asli Surabaya itu.

Keberadaan komunitas kristiani di Desa Wonomelati, Kecamatan Krembung, sudah lama menjadi bahan kajian para peneleti dari dalam dan luar negeri. Mereka menyoroti kehidupan masyarakat yang harmonis meskipun berbeda-beda agama. Apalagi, lokasi GKJW Mlaten bertetangga dekat dengan Masjid Darussalam.

Ika Wahyu Diyanti, peneliti dari Universitas Negeri Malang, belum lama ini mengadakan penelitian di Desa Wonomelati, Krembung. Dari riset serta wawancara dengan banyak sumber, Ika menyimpulkan bahwa hubungan umat kristiani dengan muslim di Wonomelati sejak dulu sangat harmonis. Begitu juga dengan umat Hindu dengan pura yang juga tak jauh dari
gereja dan masjid.

Menurut dia, kerukunan atau toleransi antarumat beragama bukan hanya teori atau niat baik belaka, tapi sudah lama diamalkan oleh jemaat GKJW Mlaten dan Masjid Darussalam. Kerukunan ini tak lepas dari latar belakang masyarakat yang agraris dan sudah mengenal satu sama lain secara turun temurun. Semangat gotong royong, tenggang rasa, tepa selira, masih dipelihara di kalangan warga.

Sejumlah kegiatan lintas agama pun kerap kali digelar di Masjid Darussalam maupun GKJW Mlaten. Salah satunya Youth Live-In Interfaith yang dipusatkan di GKJW Mlaten. Anak-anak muda dari berbagai agama belajar untuk berinteraksi, diskusi, membahas berbagai perkembangan sosial keagamaan, dengan mengunjungi gereja, masjid, dan pura.

Kemudian ada bakti sosial di halaman gereja yang diikuti seluruh masyarakat tanpa membeda-bedakan agama dan keyakinan. Yang menarik, tutur Ika Wahyu Diyanti, suatu ketika pernah ada kejadian Idul Fitri jatuh pada hari Minggu. Tentu saja umat Islam harus menunaikan saat Id pagi hari di Masjid Darussalam, halaman, hingga meluber ke jalan raya di depan gereja. Majelis GKJW Mlaten pun jauh-jauh hari mengantisipasi salat Idul Fitri ini dengan menunda kebaktian pada sore hari.

"Lokasinya yang berdekatan, terkadang nyanyian gereja dan adzan bisa saling bersahutan, namun tanpa pernah terjadi perseteruan. Terbukti bahwa apabila sedang ada kegiatan keagamaan bersama, pengeras suara tidak disetel keras, tetapi pelan-pelan saja," tulis Ika dalam laporan penelitiannya.

Tak hanya peneliti atau aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM). Pemkab Sidoarjo pun sudah lama menjadikan kawasan Krembung, khususnya Desa Wonomelati dan Desa Balonggarut, sebagai inspirasi kerukunan antarumat beragama di Kabupaten Sidoarjo. Sejak dulu bupati Sidoarjo selalu hadir pada event-event keagamaan yang cukup signifikan.

Kegiatan para pendeta atau Bamag Sidoarjo yang diadakan di GKJW Mlaten biasanya selalu dibuka oleh Bupati Sidoarjo Saful Ilah. Belum lama ini, ketika diadakan penahbisan pendeta baru di Pura Penataran Agung Margo Wening, pun Bupati Saiful Ilah hadir dan memberikan sambutan. Tidak ketinggalan sejumlah pengurus Bamag Sidoarjo, MUI Sidoarjo, pengurus GJKW Mlaten, dan Masjid Darussalam.

"Kita ingin Sidoarjo ini selalu rukun, damai, dan sejahtera," kata Bupati Saiful Ilah. (rek)

07 January 2015

Mozes Misdy Penggerak Pasar Seni Sidoarjo

Sebagai pelukis senior, Mozes Misdy dengan senang hati berbagi pengalaman dan ilmu kepada pelukis-pelukis pemula. Namun, pria 73 tahun ini tak suka memberikan ceramah atau membuka kursus seni rupa. Dia ingin anak-anak muda langsung praktik dan terus belajar dari hari ke hari.

"Saya sendiri tidak pernah ikut lomba. Tidak ikut kursus dan sebagainya. Waktu anak-anak saya melukis di pasir atau tanah," ujar Mozes Misdy kepada saya di Pasar Seni Sidoarjo, kawasan Pondok Mutiara.

Setiap hari ada saja pelukis-pelukis muda asal Sidoarjo atau kota lain mampir ke galeri milik Mozes Misdy di Pasar Seni. Tidak setiap hari pria yang senang melukis perahu nelayan dan pemandangan itu ada di Sidoarjo. Sebab, dia sering blusukan ke mana-mana untuk mencari inspirasi lukisan-lukisannya. Kadang ke Banyuwangi, Bali, Jakarta, dan kota-kota lain di tanah air. 

"Saya harus bergerak, bergerak, dan berkarya," katanya.

Hanya saja, keteguhannya memegang prinsip sebagai seniman senior itu sering kali sulit diikuti pelukis-pelukis muda. Mereka justru kesulitan mengikuti irama kerjanya yang cepat dan serius. Dia menilai saat ini banyak pelukis junior yang setengah-setengah mencemplungkan diri ke jagat seni rupa. 

"Belum apa-apa sudah mengaku seniman. Padahal, lukisan yang dibuat masih sangat sedikit. Setelah itu tidak melukis lagi, tapi masih suka mengaku seniman," kritiknya.

Karena mentalitas seniman yang dianggap kurang tangguh, Mozes Misdy tidak kaget melihat perkembangan seni rupa di Jawa Timur, khususnya Kabupaten Sidoarjo, yang cenderung stagnan. Pameran lukisan, khususnya pemeran tunggal, hampir tidak ada lagi di Sidoarjo. Pameran bersama pun sangat jarang. "Lha, kalau Anda nggak melukis, terus mau pamer karya yang mana?" tukasnya prihatin.

Mozes Misdy sudah ratusan kali mengadakan pameran tunggal sejak 1967. Belum lagi ratusan pameran bersama pelukis-pelukis lain. Bagi pelukis dengan metode palet ini, pameran tunggal sangat perlu dilakukan seorang pelukis sebagai pertanggungjawaban profesi kepada masyarakat. "Jadi, pameran itu tidak semata-mata karena mencari uang atau jualan lukisan," katanya.

Mozes masih mengenang pengalaman pertama saat mengadakan pameran lukisan di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 1969. Saat usianya masih 28 tahun, belum banyak makan garam di seni rupa. "Waktu itu modal saya cuma 5 dolar. Saya tidak punya uang sama sekali. Sponsor juga tidak ada. Tapi, alhamdulillah, dengan modal semangat dan keyakinan berkarya sepenuh hati, saya bisa pameran di Malaysia," tuturnya.

Pengalaman di Malaysia itu semakin membuat Mozes Misdy mantap memilih jalan hidup sebagai seniman lukis. Dia terus bergerak, blusukan ke mana-mana dan berkarya. Akhirnya, dia kembali melanglang dunia antara lain ke beberapa kota di Australia seperti Perth, Darwin, dan Casuarina pada 1974. "Saya juga sempat pameran di Bangkok. Modal saya ya semangat," katanya. (rek)

05 January 2015

Sekolah Katolik Berasrama Favorit Pejabat NTT

Di Jawa, khususnya Jawa Timur, para bupati dan wali kota suka memasukkan anak-anaknya ke SMP/SMA negeri favorit. Mau pakai sistem penerimaan murid baru kayak apa pun, anak-anak pejabat biasanya lolos. Apakah anak-anak pejabat itu berotak encer sehingga bisa dengan mudah menembus bangku sekolah negeri favorit? Ehm.. perlu penelitian khusus.

Yang pasti, bupati, wali kota, atau kepala dinas pendidikan itu punya kuasa untuk memindahkan semua kepala sekolah dan guru-guru sekolah negeri di wilayahnya. Dus, mana ada kepala sekolah yang berani menolak titipan anak pejabat? Bisa-bisa sang kasek itu besoknya dimutasi atau dilempar ke SKPD tertentu yang kering.

Pejabat-pejabat di Nusa Tenggara Timur (NTT) agak beda dengan di Jawa. Meskipun punya otoritas penuh atas semua sekolah negeri, mereka lebih suka menyekolahkan anak-anak mereka ke sekolah swasta. Khususnya sekolah-sekolah swasta favorit, Katolik, yang berasrama. Khususnya lagi di Jawa.

Kebiasaan lama para pejabat NTT ini saya nilai positif. Patut dibanggakan. Sebab, mereka tidak merusak tatanan dan standar mutu peserta didik baru yang disyaratkan di sekolah-sekolah negeri. Mereka juga tidak mungkin menekan pengelola sekolah swasta Katolik yang berasrama di Jawa itu. Toh, pengelola sekolah berasrama itu tidak tahu kalau yang diterima itu anak pejabat, pengusaha, pegawai negeri, dan sebagainya.

Setiap awal tahun, saat pulang mudik ke Surabaya, saya selalu menemui beberapa pejabat di lapter (lapangan terbang) alias bandar udara. Mereka mengantar anaknya yang harus kembali di Jawa. Akhir pekan lalu, misalnya, saya bertemu Victor Mado Watun, tetangga kampung sebelah di Ile Ape, Lembata, yang tak lain wakil bupati Lembata. "Saya antar anak saya yang mau ke Malang," kata Bung Victor, sapaan akrabnya.

Putri Bung Victor yang hitam manis ini sekolah di SMAK Cor Jesu, Malang. Sekolah berasrama di kawasan Celaket, Kota Malang, yang dikelola suster-suster Ursulin. Tak hanya Intan, putrinya Bung Victor, banyak anak pejabat, pengusaha, dan pegawai tinggi yang sekolah di situ. "Saya merasa aman, tenang, kalau anak saya tinggal di asrama. Apalagi kualitas sekolahnya juga sangat baik," kata Bung Victor.

Tradisi menyekolahkan anak-anak kelas atas-menengah NTT di sekolah berasrama di Jawa ini bukan barang baru. Sejak zaman Hindia Belanda, beberapa anak NTT yang otaknya cerdas sudah digembleng di Van Lith, sekolah berasrama terkenal di Muntilan, Jawa Tengah. Saya pun sering bertemu remaja-remaja NTT yang ternyata pelajar Van Lith. "Saya harus kembali ke Jawa karena liburan sudah selesai," ujar seorang nona manis asal Atambua, Kabupaten Belu.

Sebagus apa pun kos-kosan, dengan fasilitas super mewah, bagi pejabat-pejabat NTT, tidak akan sama dengan asrama yang dikelola suster, frater, bruder, atau pastor. Hidup di kos, jauh dari orang tua, apalagi anak perempuan, dianggap sangat riskan. "Di asrama itu anak-anak punya jadwal ketat sejak bangun pagi sampai tidur malam. Mereka juga harus ibadat pagi, misa, belajar bekerja, sosialisasi, membaca, dan sebagainya. Ini yang tidak ada di kos-kosan," kata Bung Victor.

"Biaya yang kami keluarkan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kualitas pendidikan yang didapat anak kami," Bung Victor menambahkan.

Salah satu "kelemahan" menitipkan anak di asrama Katolik, kalau bisa disebut "kelemahan", adalah sang anak menjadi cepat mandiri dan cepat melepaskan diri dari orang tua. Masa tinggal bersama ayah, ibu, kakak, adik, di rumah sangat terbatas. Karena itu, para pejabat NTT ini biasanya cepat-cepat mengirim duit agar anaknya segera kembali ke rumah jika ada kesempatan berlibur. Apalagi di era low cost flight ini, setiap saat ada jadwal pesawat yang menjangkau pelosok NTT macam Kabupaten Lembata.

"Saya justru senang kalau anak-anak cepat mandiri. Di Jawa, dia jadi anak asrama biasa. Tidak ada yang tahu kalau bapaknya pejabat," katanya.

04 January 2015

Dan Sebagainya vs Dan Lain-Lain

Ada seorang frater alias calon pastor di Surabaya yang tulisannya sangat bagus. Isinya dalam, banyak referensi, dan tata bahasanya nyaris sempurna. Tulisan bagus macam ini memang tidak perlu diedit lagi. Sebab, bisa jadi kemampuan si frater ini jauh lebih bagus daripada editor atau redaktur senior sekalipun.

Namun, ada satu kebiasaan calon romo ini yang sulit dihilangkan. Dia selalu memakai frase "dan lain sebagainya". Aneh juga, pikir saya. Bukankah "dan lain sebagainya" (dlsb) itu sudah dilarang oleh guru bahasa Indonesia di sekolah menengah pertama (SMP)? Saya ingat guru bahasa Indonesia saya di Larantuka, Flores Timur, dulu yang melarang "dan lain sebagainya" karena tidak baku.

"Pakailah dan sebagainya (dsb), dan lain-lain (dll), atau dan seterusnya (dst), sesuai dengan konteks kalimat," kata Pak Aldo, guru bahasa Indonesia asli Adonara, yang entah di mana sekarang. Pak Aldo ini dianggap guru bahasa Indonesia paling top di kota pesisir di ujung timur Pulau Flores itu. Pelajarannya selalu nyantol di otak saya... sampai sekarang.

Lalu, kapan kita memakai dsb (dan sebagainya)?

Begini. Frase dan sebagainya di akhir kalimat itu untuk rincian SEJENIS.

Contoh: Di halaman sekolah ada pohon mangga, jambu, pisang, jeruk, dan sebagainya. Sama-sama buah-buahan.

Adapun dll (dan lain-lain) untuk rincian yang BERAGAM jenis.

Contoh: Anak-anak menerima hadiah berupa baju, celana, HP, durian, buku tulis, camilan, dan lain-lain. Durian dan buku tulis jelas berbeda jenis.

Bagaimana pula dengan dst (dan seterusnya)? Sama-sama untuk rincian, tapi berjenjang atau berkelanjutan.

Contoh: Para frater di Surabaya rajin membaca Alkitab mulai Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan, dan seterusnya.

Semoga Mas Frater yang cemerlang itu membaca tulisan pendek ini. Dan tidak lagi menggunakan frase "dan lain sebagainya" alias dlsb.

Air Asia Jadi Justifikasi Delayed

Pesawat-pesawat di Indonesia tergolong paling tidak disiplin di dunia. Ketepatan jadwal atau on time schedule biasanya cuma indah di kertas. Karena itu, pesawat yang telat 60 atau 70 menit masih dianggap biasa saja. Tahun lalu, saya naik pesawat Lion Air dari Bandara Juanda ke Kupang. Telatnya hampir TIGA jam. Calon penumpang protes, ramai-ramai, tapi tidak bisa apa-apa.

Ada 7 atau 8 alasan maskapai soal telat atau batal. Mulai teknis, cuaca, dan sebagainya. Kita hanya bisa menerima karena kitalah yang butuh dia. Bayangkan kalau si maskapai mogok terbang ke NTT karena penumpangnya rewel soal delayed. "Yang penting, katong sampai di Kupang. Sebentar malam juga sonde (tidak) apa-apa," kata seorang bapak dari Kupang.

Kecelakaan Air Asia rute Surabaya-Singapura tampaknya membuat maskapai-maskapai makin di atas angin. Mereka makin punya justifikasi yang kuat soal delayed satu, dua, bahkan tiga jam lebih itu. Cuaca buruk! Mau bilang apa kalau sudah disebut alasan cuaca.

"Wong cuaca bagus, musim kemarau saja suka delayed. Apalagi musim hujan, ditambah baru saja ada kecelakaan Air Asia. Kita mau apa," kata seorang pemuda di terminal Bandara Eltari, Kupang, pasrah. Pesawat yang akan ditumpanginya batal terbang karena cuaca buruk.

Kemarin, 3 Januari 2014, banyak sekali pesawat di Kupang yang batal terbang gara-gara... cuaca. Kalau biasanya calon penumpang mencak-mencak, kali ini mereka senyum-senyum. "Kita satu malam lagi di Kupang. Semoga besok bisa terbang," kata seorang bapak dari Ende.

Kalau besok batal lagi? "Janganlah. Uang mau habis di Kupang," katanya.

Alasan cuaca buruk juga membuat Trans Nusa terlambat landing di Bandara Wunopito, Lembata, NTT. Saya ketar-ketir karena sudah pegang tiket Lion Air jurusan Kupang-Surabaya di tangan pukul 15.00. Kalau delayed terlalu lama, tiket mahal itu hangus. Ini memang risiko sekaligus perjudian para perantau NTT yang mudik ke kampung halaman. Kalau tiket hangus ya begitulah risiko membeli tiket pesawat di Indonesia.

Pesawat Fokker 50 Trans Nusa itu akhirnya terbang setelah kami menunggu dua jam lebih. Tak ada penjelasan apa pun dari pramugari, pilot, atau pihak maskapai soal keterlambatan itu. "Syukur, masih banyak waktu mengejar Lion Air di Kupang," saya membatin.

Di dalam pesawat, saya terkejut karena maskapai yang sangat berjasa di NTT itu ternyata tidak langsung ke Kupang. Mampir dulu di Bandara Mali, Kabupaten Alor. Butuh waktu 30 menit. Ambil penumpang, lalu terbang ke Kupang selama 50 menit. Saya tak habis pikir, mengapa pihak maskapai tidak menjelaskan kepada konsumen bahwa pesawatnya transit dulu di Alor. Di tiket tertulis penerbangan langsung Lewoleba-Kupang sekitar 40 menit.

Yah, mau bilang apa, beginilah hidup di Indonesia. Syukur, tiba di Kupang masih ada waktu 50-an menit untuk check-in di Lion Air. Puji Tuhan, tiket tak jadi hangus! 

Setelah menunggu sekitar 1,5 jam di terminal bandara yang makin bagus itu, tiba-tiba terdengar pengumuman. Lion Air Kupang-Surabaya terlambat karena cuaca buruk! Tunda lagi 2,5 jam. Hehehe....

Syukurlah, tragedi Air Asia masih di depan mata. Ratusan calon penumpang jurusan Surabaya, Jakarta, dan beberapa kota lain itu pun menjadi sangat maklum. Tak ada yang menggerutu meskipun delayed sangat lama. Biar lambat asal selamat! 

Semoga saja maskapai-maskapai kita jujur soal cuaca buruk ini. Jangan sampai cuaca hanya dijadikan kedok untuk menutupi manajemen waktu airline yang bobrok. 

Natal di Lembata - Potong Babi dan Kambing

Hari Natal selalu dirayakan umat kristiani dengan meriah. Gereja penuh sesak sehingga perlu dibuatkan tenda-tenda di halaman. Itu pun biasanya sulit menampung luberan umat di berbagai paroki di Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Malang, dsb. Maklum, banyak orang Katolik yang sejak tahun 1980-an dijuluki umat Napas dan kapal selam. 

Umat Napas (Natal Paskah) berarti hanya nongol di gereja saat Natal dan Paskah saja. Kapal selam juga sama: keluyuran terus di dalam laut dan hanya muncul saat Natal + Paskah. Liturgi Natal dan Paskah di Jawa pun sangat bagus karena dipersiapkan secara khusus dan lama. Hanya kor-kor jawara yang dapat tugas saat misa malam Natal atau malam Paskah. Kalau paduan suara lingkungan/wilayah Anda jelek, jangan harap dapat tugas pada event sepenting Natal dan Paskah.

Lain Surabaya/Sidoarjo, lain pula umat Katolik di Kabupaten Flores Timur dan Lembata yang memang mayoritas. Liturgi juga dipersiapakan khusus, tapi tidak seintensif di Jawa. Kualitas pelatih, organis, dsb pun tidak mungkin sehebat di Jawa yang memang mendalami musik klasik, gregorian, dan sebagainya. Tapi suasana meriah ala Lembata (NTT) beda dengan meriahnya Natal di Surabaya. 

Berapa banyak sih jemaat yang Anda kenal saat misa di gereja? Sepuluh? Dua puluh? Atau cuma lima orang? Nah, di pelosok-pelosok NTT, kita mengenal hampir semua jemaat di dalam gereja. Kecuali anak-anak dan remaja yang baru lahir tahun 2000-an. Tanya saja nama ayah atau ibunya dan... oh, kita masih keluarga dekat. 

Karena kenal dekat, bahkan terlibat ikatan kekerabatan karena pernikahan, bahkan dengan warga desa-desa tetangga, maka Natal menjadi ajang silaturahmi antarjemaat. Itulah yang saya rasakan ketika mengikuti misa Natal di Gereja Stasi Mawa, Lembata, pada 25 Desember 2014 pagi. Misa Natal pagi di Flores memang selalu lebih ramai ketimbang misa malam Natal. Beda dengan di Jawa yang misa malam Natal selalu sangat ramai dan heboh, sementara misa paginya kurang meriah.

Misa di Stasi Mawa ini membawa kenangan khusus bagi saya. Sebab, saya lahir di kampung kecil ini, sekolah di SDK Mawa, yang bertetangga dengan gereja. Bapak saya pun ikut merintis stasi kecil ini dengan risiko "disanksi" oleh pastor paroki saat itu karena belum dapat izin dari Uskup Larantuka Mgr. Darius Nggawa SVD. Kalau biasanya sebuah gereja stasi dibangun setelah turun izin dari uskup, Gereja Stasi Mawa ini dibangun dulu baru minta izin dan pegesahan dari bapa uskup.

"Kalau tunggu izin, mungkin kita tidak akan pernah punya gereja di Desa Mawa. Padahal, hampir semua penduduk Mawa itu Katolik. Masjidnya sudah ada kok gereja tidak ada," begitu argumentasi para perintis gereja pada tahun 1980-an. 


Nah, misa Natal di Stasi Mawa kali ini dipimpin Romo Elias Pally Werang. Pastor asal Solor ini baru saja menggantikan Romo Blasius Keban yang pindah ke Paroki Mingar. Suasana misa tetap meriah, cuaca cerah, sejuk berkat angin dari Laut Flores, didukung kor yang bagus dari stasi tetangga. Tahun ini Stasi/Desa Mawa mendapat giliran menjadi tuan rumah Natal. Umat Katolik dari 8 desa tumplek blek mengikuti perayaan ekaristi mengenang kedatangan sang Kristus.

Romo Elias ini ternyata humoris. Dia membuat cerita lucu saat homili (khotbah) tentang hubungan akrab antara Kewa dan seekor babi. Umat tertawa-tawa menyimak khotbah penuh humor dan mendalam itu. Agak beda dengan style khotbah romo -romo lama yang cenderung mengandung sindiran tajam sehingga sulit membuat orang tersenyum. 

Sesuai tradisi lama di berbagai desa di Flores, setelah misa umat tidak langsung balik ke desa atau rumah masing-masing. Sebab, panitia sudah menyiapkan perjamuan istimewa untuk semua jemaat yang ikut misa Natal maupun tidak. Termasuk warga yang beragama Islam. (Kebetulan di daerah saya hanya ada dua agama ini). Warga delapan desa ini diundang masuk ke tenda-tenda yang sudah disiapkan. Ngopi, minum teh, menikmati jajanan kampung. Kemudian makan siang ramai-ramai.

Kalau tidak salah, tuan rumah (umat Stasi Mawa) memotong lima ekor babi dan satu ekor kambing. Ibu-ibu dan para wanita sibuk menyiapkan makanan untuk para tamu dari 7 desa/stasi yang natalan di kampung masa kecil saya itu. Makan bersama, ngobrol ngalor-ngidul sampai sore, lalu pulang ke kampung masing-masing.

Perayaan Natal dan Paskah (pekan suci) ala paroki-paroki desa di Flores memang seperti arisan. Tahun ini Stasi Mawa tuan rumah, menjamu umat dari desa-desa lain yang datang ikut misa. Tahun depan giliran desa/stasi lain yang ketempatan. Kemudian diputar lagi terus-menerus. Jemaat dari desa-desa yang agak jauh biasanya menginap di rumah penduduk desa tuan rumah. 

Suasana macam inilah yang membuat banyak orang mudik ke desa untuk natalan. "Di Bandung mah kagak ada acara potong babi, kambing, makan bersama. Habis misa di gereja, ya udah.. pulang, nonton TV, makan sama keluarga saja. Tidak ada apa-apanya," kata Kak Ina, warga Bandung asal Adonara, yang setiap tahun mudik ke kampung halamannya untuk natalan di Adonara Timur. 

Puasa Internet di Pelosok NTT

Mudik ke kampung halaman di pelosok NTT, kampung kecil di pesisir Laut Flores, itu banyak suka dukanya. Bagi kita di kota yang biasa main internet, blogging, fesbukan, cari informasi sepak bola Eropa... berat rasanya karena sinyal seluler sangat lemah. Hanya Telkomsel yang bikin BTS tapi itu pun masih sangat terbatas.

Di Kabupaten Lembata, misalnya, sampai sekarang sinyal untuk Simpati dan kartu AS (hanya dua ini di NTT) hilang timbul. Lebih banyak hilangnya dari timbulnya. Karena itu, banyak anak muda yang suka mendaki bukit tinggi hanya untuk menangkap sinyal yang sangat lemah itu.

Maka, liburan di kampung halaman di pelosok NTT, kawasan Lembata, berarti libur dulu dari dunia maya. Tidak posting naskah baru di blog. Tidak moderasi komentar teman-teman pembaca. Maunya sih komentar-komentar itu tidak perlu dimoderasi. Tapi, belajar dari pengalaman, terlalu banyak spam yang masuk ketimbang komentar-komentar beneran untuk menanggapi tulisan tertentu.

Rasa tidak enak karena kehilangan akses seluler, internet, juga listrik (hampir tiap hari listrik PLN yang baru masuk sekitar 10 tahun itu padam) itu sangat terasa di dua tiga hari pertama. Setelah itu kita merasakan suasana baru yang sangat berbeda meskipun itu suasana lama yang hilang gara-gara kesibukan kita di kota besar. 

Begitu banyak kita ketemu teman lama, kerabat, bapak ini, mama itu, ngobrol langsung face to face. Jalan kaki, mendaki bukit ke kampung lama, panen mangga yang memang sedang musim... dan kegiatan-kegiatan lain ala orang kampung. Dapat bibit jati dan mahoni dari pemerintah, kita ikut tanam ramai-ramai. Siapa tahu NTT jadi hijau dan subur dalam 20 tahun ke depan. Kemudian membahas kiprah caleg-caleg setelah pemilu, kinerja bupati, ikan segar, dsb.

Hanya dua hari saja, saya akhirnya merasakan bahwa pada hakikatnya tidak semua manusia itu membutuhkan internet atau sinyal seluler yang luar biasa. Ada pengalaman-pengalaman indah, kegembiraan yang besar bicara langsung, kerja bakti, makan dan ngopi bersama... yang membuat kita senang. 

Saat kembali ke kota, di ruang tunggu Bandara Kupang, barulah muncul sinyal internet gratis yang kencang. Di saat itulah saya mulai menghidupkan kembali laptop yang sempat libur cukup lama. Bukan apa-apa. Saya tak punya teman ngobrol sehingga terpaksa menyimbukkan diri dengan main-main internet. Ngobrol lagi dengan manusia-manusia modern kota yang tak pernah saya jumpai di dunia nyata. 

Selamat tahun baru!

02 January 2015

Natal Gregorian ala Benediktin di Kupang

Kehabisan tiket Susi Air rute Kupang-Lewoleba membuat saya tak bisa ikut misa malam Natal di kampung halaman, Lembata, NTT. Padahal, tahun ini liturgi Natal dipusatkan di Stasi/Desa Mawa, tempat lahir dan sekolah dasar saya dulu. Apa boleh buat, saya nyantol dulu di Kupang dan baru bisa terbang pada Kamis, 25 Desember 2014, pagi. Tak apalah, toh bisa ikut misa di Stasi Mawa yang baru dimulai pukul 10.00 Witeng.

Justru di Kupang inilah untuk pertama kalinya saya mengikuti misa malam Natal di gereja milik Biara Benediktin. Sebuah kongregasi yang kontemplatif dan masih konsisten melestarikan tradisi liturgi gereja lama, khususnya lagu-lagu gregorian. Beda dengan biarawati biasa, suster-suster Benediktin ini tidak bebas pergi ke mana-mana. Kita pun tidak bisa sembarangan bertemu mereka. Termasuk orang tua atau kakak/adik kandung.

Orang-orang Katolik di Kupang, khususnya Sikumana dan sekitarnya, rupanya sudah sangat paham keunikan Benediktin ini. Maka, banyak sekali yang datang ikut misa malam Natal ala biarawati tempo doeloe itu. Suasana misa yang dimulai pada pukul 19.00 itu sangat teduh, tenang, tak ada aksesoris layaknya sebuah perayaan hari besar.

Musik pun tidak ada karena para suster ini mempraktikkan a capella dalam arti sebenar-benarnya. Yakni, menyanyikan lagu-lagu gregorian hanya dengan modal suara. Vokal suster-suster yang berlatih setiap hari menghadirkan musik gerejawi berkualitas tinggi. Jauh lebih bermutu ketimbang band rock ngak-ngik-ngok yang menggelegar di kebaktian kebangunan rohani gereja-gereja tertentu.

Karena biaranya kontemplatif, para suster Benediktin ini berada di belakang altar. Ada pembatas pula. Umat duduk di bangku menghadap altar layaknya gereja biasa. Pastor malah membelakangi paduan suara biarawati Benediktin ini. Adapun beberapa suster lain yang bukan Benediktin duduk di bangku umat.

"Ini kapel Benediktin, bukan gereja umum. Jadi, kita sebenarnya hanya nebeng ikut misa malam Natal," kata seorang bapak asli Flores yang sudah bertahun-tahun tinggal di Kupang.

Maka, tidak heran, misa malam Natal ini, bagi saya, seperti menyaksikan konser gregorian para suster Benediktin yang bermutu tinggi. Semuanya dalam bahasa Latin. Kecuali lagu-lagu ordinarium Misa VIII, yang dikenal luas di kalangan umat Katolik di Indonesia, hampir semua lagu yang dibawakan para Benediktin ini belum pernah saya dengar. Padahal, lagu-lagu itu sudah menjadi aset penting Gereja Katolik sejak ratusan tahun silam.

Apa boleh buat, kami, umat awam, hanya bisa jadi penonton karena lagu-lagu gregorian ala Benediktin di Kupang ini terlalu sulit. Toh, kor para suster ini ibarat suara malaikat yang bergembira menyamut kelahiran sang Almasih. Ada pelajaran berharga malam itu, setidaknya buat saya. Paduan suara a capella yang dilatih dengan baik, dibawakan secara sungguh-sungguh, dengan musikalitas yang tinggi tak kalah paduan suara besar yang diiringi orkes simfoni.