20 December 2014

Selamat Natal Itu Tidak Penting



Seminggu terakhir begitu banyak debat soal halal haram mengucapkan selamat Natal kepada umat Kristen. Ramai sekali di Facebook seorang pengacara lokal yang saya ikuti. Debat seru. Pro kontra, kutip ayat, fatwa MUI tahun 1981, dan sebagainya. 

Saya sempat terpancing mengikuti debat lawas yang tidak produktif itu. "Isu lama, 33 tahun lalu, tapi dulang-ulang setiap tahun pada bulan Desember. Kita harga saja orang yang pro dan kontra karena keyakinan orang memang berbeda," kata saya.

Isu selamat Natal ini tidak laku di Indonesia Timur. Orang-orang di wilayah NTT, khususnya Pulau Timor dan Pulau Flores, yang mayoritas nasrani, sejak dulu tidak terpancing dengan isu ini. Hidup jalan terus dengan segala kesulitannya. Kalau Natal ya ke gereja, misa malam Natal dan pagi hari, kumpul-kumpul sebentar, ngopi, makan bersama sekadarnya... selesai. Besoknya berangkat ke kebun atau laut untuk cari ikan.

Orang-orang sederhana di kampung saya bahkan tidak pernah tahu bahwa sejak 1980-an ada fatwa MUI yang melarang umat muslim mengucapkan selamat Natal kepada orang Nasrani. Tidak jelas apakah ada fatwa juga tentang hari raya Nyepi, Waisak, Imlek, dan sebagainya. Kalaupun tahu ada fatwa itu, ya, orang-orang kampung itu akan biasa-biasa saja. "Gak ngaruh," kata orang kota.

Di Jawa, yang masyarakatnya jauh lebih maju dan modern, masalah fatwa larangan selamat Natal juga tidak lagi berpengaruh. Orang Kristen (Katolik, Protestan, Pentakosta, Baptis, dsb) sudah kebal dengan isu rutin di akhir tahun itu. Gak ngurus! Yang penting, perayaan ekaristi atau kebaktian Natal berlangsung dengan damai, aman, lancar. Tidak diganggu teroris seperti peristiwa bom Natal tahun 2000 dulu.

Saya masih ingat benar kasus teror bom di banyak gereja tahun 2000 itu. Seorang sahabat kita, anggota Banser, bernama Riyanto meninggal di halaman Gereja Katolik Mojokerto ketika sedang mengamankan paket mencurigakan. Paket itu ternyata bom yang meledak. Almarhum Riyanto, anggota Banser, yang sudah pasti Islam, meninggal ketika ikut menjaga keamanan di seputar Gereja Katolik Mojokerto saat misa malam Natal. 

Waktu itu kami, rombongan umat Katolik dari Surabaya, bersama Bapak Uskup Hadiwikarta (sekarang almarhum) dan beberapa romo berkunjung ke rumah duka keluarga almarhum Riyanto. Sungguh, Riyanto ini seorang pahlawan bagi kami! Dia meninggal ketika mengamankan umat Katolik yang akan mengikuti misa malam Natal. Riyanto tewas gara-gara ulah teroris.

Peristiwa tragis yang menimpa Riyanto ini semakin menyadarkan kita bahwa manusia-manusia Indonesia pada dasarnya sangat toleran dan moderat. Riyanto dan sahabat-sahabat Banser, yang selalu berpartisipasi menjaga keamanan saat misa Natal di Jawa Timur, membuktikan bahwa mereka sudah bergerak jauh menembus sekat-sekat primordial. Orang boleh beda agama, agamamu ya agamamu, agamaku agamaku, tapi bukan halangan untuk bersahabat dan bekerja sama.

Maka, setiap kali ada debat panjang soal fatwa larangan mengucapkan selamat Natal, saya selalu teringat almarhum Riyanto di Mojokerto. "Sia-sia kalau waktu kita habis untuk berdebat soal haram halalnya mengucapkan selamat Natal," kata teman saya, mantan aktivis mahasiswa Islam di Jawa Timur.

Betul Bung!

Daripada capek berdebat soal ini, lebih baik kita menekan KPK agar menangkap lebih banyak koruptor. Mendesak pemerintah agar menenggelamkan lebih banyak lagi kapal-kapal pencuri ikan. Memaksa pemerintah membuat jalan-jalan di pelosok NTT yang sejak zaman Belanda sampai sekarang tidak pernah diaspal. Menciptakan banyak lapangan kerja agar manusia-manusia Indonesia tidak jadi babu dan kuli di luar negeri.

Preeet! 

4 comments:

  1. Halo ama... saya ada share/reblog ini artikel di Kompasiana, sorry kalau ijinnya belakangan... judulnya tidak saya rubah kalo ama mau cari di kompasiana...

    ReplyDelete
  2. masalah sensitip krn menangkut keyakinan orang. ada yg tidak masalah tapi yg lain punya sikap berbeda. biasa dalam demokrasi.

    ReplyDelete
  3. orang indonesia lagi demennya berdebat, apalagi di sosmed

    ReplyDelete
    Replies
    1. Welcome back Bay. Selamat natal dan tahun baru. Semoga tetap sehat, semangat, dan selalu diberkati Tuhan.

      Delete